Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
19. -


__ADS_3

Ketika sore hari tiba, Fiya dan Mama Lastri menyuguhkan makanan untuk mereka, walaupun belum waktunya makan malam, namun tenaga di otak mereka sudah terkuras banyak.


"Waah.. Merepotkan sekali... " ucap Aldi.


"Nggak papa, nggak repot kok, pasti kan tenaga di otak kalian terkuras, jadi mama masak buat kalian." jawab mama Lastri.


"Terimakasih banyak tante..." ucap Feni sambil membantu Fiya menaruh makanan di meja.


"Silahkan dimakan ya.. Selamat makan.."


"Mama Lastri juga ikut makan sini."


"Kalian saja, mama udah makan tadi."


"Sintya dimana?"


"Sintya juga udah makan. Dah.. Kalian makan aja, nggak usah malu-malu."


"Iya tante." jawab mereka bersaut-sautan.


Mereka mengambil nasi dan lauk secara bergantian dan tanpa keraguan. Mereka makan sambil berbincang satu sama lain. Fiya dan Dimas duduk bersebelahan, saling bercanda dan tertawa. Siapapun akan iri jika melihat mereka berdua selalu bersama layaknya pasangan.


"Kalian berdua bercanda mulu dari tadi, cepetan makannya, keburu magrib loh." keluh Feni.


"Iya, iya Feni, nanti juga selesai."


Mereka pun melanjutkan makan tanpa perdebatan dan candaan, karena dengan begitu makanan yang mereka makan habis dengan cepat. Setelah selesai makan, mereka bertiga pun pamit.


"Za, aku antar ya." ucap Aldi.


"Biar aku aja." Saut Dimas yang sudah berada di samping Fiya.


"Nggak usah Al, rumah aku deket kok dari sini. Kapan-kapan aja. Mending kamu antar Feni. Dimas, lebih baik kamu juga di rumah aja."


"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati."


"Kamu juga, titip Feni ya."


Aldi hanya mengangguk dan kemudian memakai helmnya. Aldo segera menyalakan motornya dan Feni pun menaikinya.


"Hati-hati Fen.."


"Iya Za, kamu juga.."


"Dah.."


Feni melambaikan tangannya, begitu juga dengan Fiya. Dimas sedari tadi hanya memperhatikan Fiya. Fiya yang menyadarinya pun memukul dadanya.


"Loh kenapa di pukul?" keluhnya sambil memegang dadanya yang di pukul oleh Fiya.


"Jangan liatin gitu terus, nanti suka. Aku mau pulang. Mama kamu mana?"


"Nggak tau."


Fiya meninggalkannya dan masuk kembali ke rumah Dimas untuk mencari mama Lastri. Fiya mendapatinya sedang mencuci piring bekas makan mereka. Fiya menaruh tasnya kembali dan ikut membantunya.


"Tidak usah Khanza, katanya mau pulang."


"Aku cuma bantu mah."

__ADS_1


"Sebelum magrib loh, nanti dicariin mama gimana?"


"Aku udah ijin kok mah, pulang langsung ke sini."


"Nggak baik kalau perempuan pulang terlalu malam, lebih baik kamu pulang dulu saja. Ini biar mama yang urus."


"Baiklah kalau begitu. Khanza pulang dulu ya mah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Fiya pun keluar dan sudah mendapati Dimas sedang menunggunya di teras. Fiya menepuk bahunya dan refleks dia menengok ke arahnya.


"Aku pulang duluan ya."


"Yuk.."


"Kemana?"


"Antar kamu lah."


"Nggak perlu.."


"Atau kamu mau nginep?"


"Ckk.. Isshh.."


Fiya berdecak kesal, dan dia pun akhirnya mengalah. Fiya berjalan di depan dan Dimas berjalan di belakangnya. Sungguh tak nyaman bagi Fiya. Langkah Fiya pun tiba-tiba terhenti, langkah Dimas juga terhenti. Fiya menatapnya dengan sebal namun masih sedikit menyisakan kasih sayang. Sedangkan Dimas sendiri hanya menatapnya dengan bingung dan hanya mengisyaratkan, "kenapa berhenti?" Sambil mengangkat satu alisnya.


"Jalannya deketan napa, jangan kaya ekor ikan."


"Oohh, baiklah. Mau gandeng juga."


"Isshh.."


"Dah sampai."


"Kenapa nggak di lepasin?"


"Ya udah sana masuk, kan kamu yang masih nggandeng."


"Isshh.."


Fiya terpaksa melepaskan gandengannya. Dan kemudian tersenyum kepadanya. Dimas pun juga ikut melepasnya.


"Besok berangkat kan?"


"Iya, aku jemput kamu jam berapa?"


"Jam berapapun tak apa, yang penting jangan pukul 7 pagi."


"Jam 7 malem boleh dong."


"Tergantung sama mama papa dong."


"Baiklah, sampai ketemu besok pagi.""


"Iya, mau mampir dulu?"


"Nggak, besok aja. Kan masih ada waktu banyak."

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati."


"Hmm.. Kamu juga. Dah.."


"Dah.."


Dimas melambaikan tangannya, begitu juga Fiya. Tanpa senyum manis, tentu saja terasa belum lengkap bagi mereka. Setelah cukup jauh, Fiya baru masuk ke rumahnya. Mama dan papanya hanya menggelengkan kepalanya melihat Fiya tersenyum saat menuju ke kamarnya.


"Senyam, senyum.. Salamnya mana."


"Eh.. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam..."


Fiya menyalami mereka berdua dan setelahnya dia masuk ke kamarnya. Dia menutup pintunya pelan dan menaruh tasnya di tempatnya. Dia langsung berbaring di ranjangnya tanpa membuka sepatunya. Dia teringat bahwa hadiah dari Dimas belum ia buka dan akhirnya dia bangkit lagi untuk membukanya.


"Kira-kira isinya apa ya?" batin.


Dan dengan cepat pun dia membukanya. Betapa terkejutnya saat dia melihat berbagai macam jepit rambut yang berwarna warni di taruh di sana. Bukan hanya jepit rambut saja, terdapat ikat rambut juga. Dia melihat satu per satu ikat rambutnya dan pandangannya teralihkan pada sepucuk surat kecil yang terdapat di sela-sela jepit rambut.


Semoga kamu suka, hanya ini yang dapat aku berikan. Jangan lupa dipakai, aku udah beli banyak loh..


Walaupun hanya pesan singkat, hati Fiya berbunga-bunga seperti bunga yang mekar pada waktunya. Dia pun duduk di depan cermin riasnya dan mencoba beberapa jepit rambut. Tiba-tiba Aldo sudah berada di belakangnya. Fiya tidak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, walaupun tak terpantul di cermin dia bisa merasakannya di belakangnya.


"Kenapa harus diam-diam gitu, nggak muncul di cermin pula. Kalau mau muncul, muncul aja." ucap Fiya dengan santai.


"Kakak cantik memakai jepit rambut itu. Kalau aku muncul tiba-tiba, nanti aku akan merusak kecantikan kakak."


"Ya nggak lah sayang." ucap Fiya sambil memegang pundaknya.


Tiba-tiba, adiknya Fiya datang ke kamarnya. Fiya terperanjat kaget dan langsung menghampirinya.


"Ada apa Sof?"


"Tidull.. Sama.. Ka.. Zaza.."


"Kakak nanti tidurnya, kamu sama mama dulu sana. Mau kakak buatin susu?"


Sofi mengangguk dan keluar lagi untuk menemui mamanya. Fiya yang sedari tadi memandang adiknya, kini dia memandang Aldo yang berada di belakangnya.


"Kamu mau makan? Kakak akan bawakan ke sini."


"Nggak usah kak, aku masih kenyang."


"Oiya, waktu kakak ngga di rumah kamu ngapain?"


"Aku pulang ke rumah kak, soalnya kangen sama suasana rumah."


"Oohh begitu, kalau ada waktu ajak kakak ke rumah kamu ya."


"Hmm.. Boleh kak."


"Ya udah, kakak mau mandi dulu."


"Kalau gitu aku balik ke kamar ya kak."


"Iya."


Fiya menatap Aldo yang pergi ke kamar sebelah dengan menembusnya, setelahnya dia pun bersiap untuk mandi.

__ADS_1


//**//


__ADS_2