Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
73. Persiapan acara untuk esok hari


__ADS_3

Teman memang kebanyakan penghianat. Namun, jangan pernah kau tinggalkan teman-temanmu yang selalu ada di sisimu dikala kau susah. Dan ingatlah selalu mereka yang berusaha menghiburmu agar kau tertawa dan juga membantumu dalam menyelesaikan masalah.


~Safiya Khanza Ayunindya~


_____________


Keesokan harinya Fiya berangkat bersama Feni menggunakan mobil Fiya. Seperti biasanya, kedua bodyguard gaib Fiya selalu mengikutinya dan menduduki di kursi belakangnya.


Begitu Fiya sampai di koridor sekolahnya, Jennie dan Bianka langsung menghadangnya. Mereka berdua menyilangkan tangannya di dada mereka sambil menatap mereka tak suka.


"Mau bikin masalah lagi lo?" tanya Feni tegas.


Jennie tak menghiraukan ucapan Feni dan Jennie pun maju selangkah mendekati Fiya.


"Gara-gara lo, gue jadi kena juga kesialan dari lo. Bener kan, orang-orang yang deket sama lo kena kesialan. Lo pasti seneng banget kan gue di siram tepung kemarin... Lo puas kan."


Fiya memutar bola matanya dan dua langkah mendekati Jennie. Jennie pun perlahan mundur menjauhinya.


"Itu bukan kesialan dari gue. Itu karma ringan yang Allah berikan ke lo supaya lo itu sadar dan nggak semena-mena sama gue. Mereka yang terkena hukuman kemarin adalah hasil dari apa yang mereka perbuat ke gue. Dan... Satu hal lagi, gue nggak pake dukun ya... asal lo tau itu."


Fiya pun mendahuluinya hingga sengaja menabrak bahunya. Feni yang melihatnya pun mengangkat tangannya saat hendak memukulnya, namun dia lebih memilih untuk mengejar Fiya. Sedangkan Jennie sendiri kesal karena merasa kesialan datang kepadanya.


"Kemarin gue habis dimarahin, sekarang gue juga yang kena ceramah. Sial banget si gue hari ini!!" gerutu Jennie.


FLASHBACK ON


Mamanya sangat kaget karena Jennie pulang ke rumahnya dengan keadaan kotor penuh dengan tepung.


"Ya ampun Jennie, kenapa seragam kamu kotor? Siapa yang melakukan ini kepadamu Hah??!!"


"Aku di hukum sama guru olahraga dan guru agama, karena udah beri pelajaran sama tuh dukun. Emang aku salah ya mah, aku kan coba beri dia air sama tepung biar dia sadar kalau orang orang di sekeliling dia itu jadi celaka gara-gara dia." keluh Jennie.


"Lain kali di luar sekolah kalau beri pelajaran sama dia. Percuma aja di dalam sekolah, kamu bakal kalah sama guru kamu. Cepetan sana mandi, lantainya jadi kotor tuh."

__ADS_1


"Ah mama nih, nggak ada pengertiannya!"


Jennie pun kesal dan akhirnya langsung naik ke kamarnya. Sedangkan mamanya sendiri hanya menggelengkan kepalanya dan menyuruh pembantunya untuk membersihkan jejak tepung yang ditinggalkan Jennie.


FLASHBACK OFF


Setelah menceritakan kejadian tersebut kepada Bianka, ia hanya tertawa dan meledek Jennie.


"Kasian amat lo, hehehe..."


"Lo ngledek gue, sembarangan lo."


Dan terjadilah pertengkaran diantara keduanya. Walaupun begitu, Bianka selalu bisa menenangkan amarahnya begitu juga sebaliknya.


Sementara itu, Fiya bersama dengan Aldi dan Feni di utus oleh guru olahraga untuk mempersiapkan acara yang akan diadakan esok hari. Yang tak lain adalah pertemuan wali murid dan juga bimbingan yang sudah direncanakan kemarin.


Tak hanya mereka berdua saja, para anggota PMR yang lain juga membantunya. Pengurus OSIS juga ikut menimbrung hal tersebut walaupun tak terlalu dipercaya oleh sang guru olahraga.


"Gue sebagai perwakilan juga minta maaf atas perlakuan anggota-anggota gue ke lo. Memang disini lo nggak salah, sikap kamilah yang kekanak-kanankan." lanjutnya.


"Iya, nggak papa. Santai aja kali, lagipula kita satu angkatan. Gue juga udah biasa diperlakukan seperti itu. Sakit si memang, tetapi gue bersyukur karena masih ada yang selalu nyemangatin gue." jawab Fiya.


"Mungkin, gue harus lebih deket ke lo, supaya gue kenal lo dengan baik dan nggak ngikutin omongan orang yang nggak-nggak tentang lo."


"Santai aja pak ketos. Gue selalu menerima siapapun yang mau menemani gue, kalau pun nggak nyaman sama gue juga gue nggak ngelarang mereka untuk pergi dari gue. Karena gue orangnya simpel, menerima orang yang datang dan membiarkan orang yang pergi. Udah ya, gue masih ada pekerjaan."


Fiya pun meninggalkan sang ketua OSIS untuk membantu yang lain dan juga mengecek ruangan yang akan digunakan untuk digunakan esok hari.


"Aku selalu peduli dengan siapapun yang ada di sekelilingku. Tetapi aku akan lebih peduli dengan siapapun yang menemaniku di setiap keadaanku. Dan aku akan lebih menghargai orang yang tidak meninggalkanku ketika aku sedang ada masalah." batin Fiya.


Pulang sekolah tiba, namun Fiya dan yang lainnya masih sibuk di sekolah. Fiya pun akhirnya menghubungi orang rumah, karena ia tau pasti orangtuanya khawatir karena pulang terlambat.


"Mama, aku hari ini pulang lebih sore. Aku masih sibuk di sekolah untuk persiapan besok."

__ADS_1


"Iya nak, ajaklah pula Feni dan Aldi ke rumah untuk makan malam ya..."


"Em..mah sebenarnya..... Apa aku boleh makan di luar bersama dengan teman-temanku yang lain. Soalnya, banyak yang ingin Khanza ajak ke rumah, namun terlalu ramai."


"Terserah kamu saja kalau begitu. Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu, dan jangan pulang terlalu larut."


"Iya mah, aku tau kok. Ya udah, aku tutup. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Fiya langsung menutup teleponnya dan kemudian kembali melakukan aktivitasnya.


Kini antara anggota OSIS yang tersisa, begitu juga dengan anggota PMR yang masih ada, mengadakan rapat bersama untuk menentukan rangkaian acara dan juga persiapan yang dilakukan saat acara berlangsung. Mereka rapat hingga pukul setengah lima sore. Seperti yang direncanakan, Fiya mengajak teman-teman anggota PMRnya pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama.


"Kakak, rasanya lama banget kita nggak kumpul kaya begini. Kita juga jarang ketemu di sekolah selain ada acara." ucap Ayu di sela-sela makannya.


"Emm.. Kakak, aku benar-benar minta maaf soal masalah dulu. Kakak emang baik dan nggak sepantasnya diperlakukan seperti itu. Maaf juga, kami tidak membantu kakak saat itu, karena di jam itu kami ada kelas." ucap Daisy.


"Iya, nggak papa. Udah, jangan kaya nggak enakan gitu. Makan aja, kalau kurang nambah aja nggak papa. Jangan ragu-ragu."


"Kak Feni pasti seneng banget punya bestie kaya kak Khanza. Baik, cantik, dan misterius. Kak Khanza juga pemberani."


Feni yang ada di samping Fiya pun tersenyum dan langsung merangkulnya dengan senang.


"Pastinya iya dong, asik punya teman istimewa kaya dia, berasa punya tantangan dan punya hobi baru."


Fiya pun melepaskan tangannya dari pundaknya dan melihat ke arahnya tajam.


"Makan dulu, nanti lagi ceritanya. Udah yuk cepetan dimakan, nanti cepet pulang."


Mereka mengangguk dan kemudian kembali fokus terhadap makanan sesekali selalu diganggu oleh Feni.


//**//

__ADS_1


__ADS_2