
Fiya berbaring kembali di ruangannya dan orang tuanya menyandingkan makan malam untuk Arya dan juga papa Brian. Sedangkan untuk Fiya sendiri tentunya makanan dari rumah sakit.
Di saat makan, dia merindukan Bastian yang selalu bersamanya bahkan di saat kedua sakit. Fiya teringat di saat dia sakit dan di rawat oleh Bastian, dan sekarang pasti akan sulit lagi untuk bisa dekat dengan Bastian.
Tak lama orang yang sedang di pikirkannya datang, langsung membuka pintu. Fiya meletakkan buburnya dan membuka lebar tangannya untuk memeluk Bastian dengan sedikit kesulitan. Arya yang paham langsung membopongnya dan mendudukannya di ranjang Fiya.
"Bastian, kakak rindu."
Di peluknya dengan erat sambil menciumnya hingga beberapa kali, begitu pula dengan Bastian yang mencium pipi kanan dan kirinya.
"Aku juga rindu kakak." Bastian memeluknya lagi dengan erat.
Tak lama papa Wendi datang ke kamar Fiya dan langsung memisahkan Fiya dan Bastian.
"Ayo, sekarang ke kamar kakak kamu. Kakak kamu sudah sadar." ucap sang papa Wendi.
"Aku ingin sama kak Khanza, aku rindu kak Khanza, aku ingin main sama kak Khanza ..." rengek Bastian.
"Papa bilang nggak ya nggak, dan kamu Khanza jangan dekati keluarga saya lagi. Dan ini bayaran atas nama keluarga Wendi dan Yuda karena kamu telah menolong Farhan." ucapnya tegas dan meletakkan segepok amplop di sampingnya sambil membawa Farhan yang sedang menangis.
Fiya tak tinggal diam dan bangkit lalu lekas berdiri di belakang papa Wendi dan berbicara dengan keras.
"Om.. Tidakkah kau tau. Kasih sayang, saling membantu dan saling menolong itu tidak bisa di bayar dengan uang. Semua itu hanya butuh timbal balik pada masanya. Dan, apakah om tega membiarkan Bastian menangis keras seperti itu. Keluarga om boleh ngejauhin Khanza, dari keluarga om, tapi Khanza mohon jangan jauhkan Khanza dari Bastian. Jangan libatkan anak kecil di dalam kasih sayang yang terpisahkan, aku mohon om." pinta Fiya terus terang.
"Aku sudah menganggap Bastian sebagai adikku sendiri dan mengurusnya layaknya adikku sendiri. Ibaratkan kalau kalian ingin tau, aku sudah kehilangan dua adikku Aldo dan Sofi, tidakkah om memberiku kesempatan untuk menganggap Bastian sebagai adikku sendiri. Aku mohon om.." pinta Fiya yang menangis dan bertekuk lutut di belakangnya.
Apapun akan Fiya lakukan, yang terpenting adalah bisa dekat bersama dengan Bastian. Mamanya mencoba untuk membantu Fiya berdiri, namun Fiya memilih untuk tetap diam di tempat.
"Kak Khanza....hiks..." teriak Bastian.
Papa Wendi tak mempedulikannya dan tetap berjalan ke depan meninggalkan Fiya. Fiya sendiri masih menangis dan Mama Ova pun memeluknya dan membantunya bangkit dari tempat tersebut.
__ADS_1
Ketika Fiya bangkit, Fiya langsung mengusap air matanya dan melepaskan infus di tangannya serta mengambil uang di ranjangnya dan berlari ke ruangan Farhan. Aldi dan Dimas hendak mencegahnya namun gagal, sehingga mereka berdua memilih untuk mengejarnya.
Begitu pintu di buka, pandangan Fiya langsung tertuju kepada Farhan yang sedang terduduk dan juga sedang makan. Semua pandangan tertuju kepada pintu, Bastian yang melihat Fiya langsung berusaha turun dan berlari memeluk Fiya.
Fiya membalas pelukannya, namun pandangannya tidak teralihkan kepada Farhan. Dan yang dia lihat saat ini bukanlah Farhan seperti biasanya. Farhan lebih dingin dan sikapnya tidak mempedulikan Jennie. Orangtua Jennie yang melihat Fiya pun langsung berdiri di hadapannya, hingga pandangannya terhalangi oleh mereka.
"Ngapain lagi kamu ke sini." tanya mama Ulfa.
"Maaf tante, saya mengganggu. Tetapi, saya mau mengembalikan uang ini karena saya tidak mau menerima uang haram ini. Namun, saya minta jangan pisahkan saya dengan Bastian. Kalian boleh mencaci maki saya semau kalian, tetapi jangan pisahkan kami." pinta Fiya secara tegas.
"Khanza jangan, kamu nggak perlu ngelakuin hal itu." cegah Arya.
Farhan sedari tadi yang diam pun ikut mendekati ke arah keributan berada.
"Loh dukun, lo ngapain ke sini?" tanya Farhan.
Rasa ingin memeluk, namun harus ia pendam karena logatnya berbicara kepadanya sangatlah berbeda.
"Bawa aja kalau mau. Udah mah, pah, om, tante. Biarin aja, dia selalu mengajak keributan dimanapun kalau ada dia. Udahlah biarin aja, oiya lo nggak mau duwit itu, baiklah lumayan kan jadinya irit. Dah.. Urusan lo selesai, lo keluar sekarang dan pergi dari ruangan ini."
Farhan langsung pergi dari hadapan mereka di bantu oleh Jennie, namun Farhan menghempaskan tangan Jennie dan dia pun memilih untuk berjalan sendiri. Begitu pula dengan Fiya yang di gandeng oleh Bastian ke kamarnya.
"Kenapa di lepas kak? Kan belum sembuh?" tanya Bastian.
"Nggak papa sayang, kakak udah sembuh, besok kakak akan pulang."
"Oh ya.. Kak Farhan juga akan pulang besok." ucapnya semangat.
"Syukurlah, yuk sekarang ke kamar, akan kakak dongengkan."
Bastian mengangguk dan menggandeng tangan Fiya hingga ke ruangannya. Dokter sempat khawatir pada saat dia tau pasiennya nekat melepaskan infusnya, dan bersyukurlah Fiya baik-baik saja dan di perbolehkan untuk pulang esok hari karena permintaan yang tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun.
__ADS_1
Arya juga memilih untuk menginap di rumah sakit menemani Fiya dan orang tuanya memilih untuk pulang dan membawa perlengkapan selama tiga hari sebelumnya.
...*****...
Keesokan harinya, Fiya pulang bersama dengan Arya, sedangkan Bastian ikut orang tuanya pulang ke rumahnya terlebih dahulu dan membiarkan Fiya istirahat di rumah selama beberapa hari sebelum kembali mengajar Bastian.
"Aneh, kata dokter dia akan hilang ingatan, kenapa tidak?" tanya Fiya.
"Memang dia tidak lupa, namun dia lupa akan hal bersamamu di saat dia hanya menjadi arwah, hanya itu. Sama halnya itu semua hanya seperti mimpi bagi Farhan jika ia sedikit demi sedikit mengingatnya. Terbukti juga dengan sikapnya yang kembali dingin bukan. Namun, apabila dia menemukan orang yang tepat di hatinya, percayalah dia orang yang tulus."
"Hmm..aku pun mengetahui hal itu. Dia adalah orang yang tulus dan perhatian. Terlihat jelas dari kedua matanya."
Dimas yang duduk di kursi belakang hanya diam dan tersenyum dengan pernyataan Fiya. Dimas juga berfikir bahwa Fiya sudah bisa move on dari dirinya. Saat sampai di rumahnya, Bastian lebih dulu menyambung dengan antusias dan membawakan bunga matahari untuknya.
"Selamat datang kakak matahari. Ini bunga mataharinya selalu di sinari biar bisa tumbuh ya kak..."
"Iya sayang, akan kakak sinari dengan penuh kasih sayang, yuk masuk." Fiya menerima bunga matahari tersebut dan masuk bersama dengan Arya dan Bastian.
Mereka bertiga langsung menuju ke belakang rumah. Beruntung hari ini adalah hari minggu sehingga mereka bisa bersantai bersama dengan keluarga Fiya.
"Sarapan istimewa hari ini adalah masak barbequ, dan akan ada menu masakan lainnya di makan siang dan makan malam. Tetap stay ya di rumah Khanza." ucap papa Brian seperti sedang berpromosi.
"Om, berapa harganya untuk satu porsi?" tanya Arya.
"Dan pada hari ini, kami adakan gratis karena untuk menyambut kedatangan Khanza dan juga Bastian di rumah ini. Hahahaha..."
Mereka tertawa terbahak-bahak bersama sambil menikmati kudapan yang tersedia di meja yang telah mereka siapkan.
Memang benar, mereka bertiga betah hingga malam hari. Akibat kelelahan Bastian juga tertidur di pangkuan Fiya. Arya pun membopongnya dan mengajaknya pulang setelah berpamitan dengan keluarga Fiya.
//**//
__ADS_1