
Setelah mereka ke perpustakaan, mereka memutuskan untuk pergi ke kantin. Kini kantin lumayan ramai karena ada pedagang dan anak-anak yang kabur dari pelajaran, dan anak-anak yang selesai olahraga serta ada makhluk tentunya.
Fiya bersikap biasa saja karena para makhluk tersebut tidak menganggunya. Fiya dan Aldi duduk di bangku yang tersedia lalu meletakkan paper bag di bawahnya.
"Khanza, kamu mau makan apa?"
"Biar aku yang pesankan saja. Kamu makan apa?"
"Biar aku yang belikan."
"Kamu kan baru di sini."
"Nggak papa."
"Ya udah deh, aku nggak bisa maksa. Bakso aja sama es tehnya satu."
"Iya baiklah."
Aldi pun memesan bakso dan juga es teh. Sementara itu Fiya memilih untuk membaca novel yang di pilihnya tadi. Baru beberapa halaman, Aldi pun kembali sambil membawa nampan berisikan pesanan mereka.
"Kenapa kamu yang bawa, kan bisa diantarkan."
"Kan kasian tukang baksonya, pasti kecapean."
"Iya juga si. Ya udah terserah kamu aja, ini makasih ya."
"Sama-sama."
Aldi mengembalikan nampannya dan kemudian kembali lagi untuk makan bersama dengan Fiya. Fiya meletakkan buku novelnya dan mulai memakan baksonya. Aldi yang melihat rambut panjangnya hampir terjatuh segera menaruhnya di belakang telinganya.
"Terimakasih."
"Lain kali bawa ikat rambut, gimana kalau rambut kamu jatuh ke makanan?"
"Iya baiklah, besok akan aku bawa."
"Emm.. Khanza, besok kamu ada waktu kan?"
"Besok, insyaallah ada. Memangnya ada apa?"
"Besok aku mau ke rumah kamu belajar bareng."
"Hari ini sekalian mau? Sekalian belajar bareng Dimas."
"Kebetulan sekali, ya sudah."
"Aku ijin dulu sama ortu, kita langsung saja ke rumah Dimas."
"Terserah kamu saja, aku ikut."
"Hmm.."
Fiya mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di ponselnya. Setelahnya dia kembali memakan bakso lagi. Setelah mereka memakan bakso, mereka memutuskan untuk ke kelas setelah bel istirahat berbunyi.
Anak-anak yang berpapasan dengan Fiya dan Aldi saling berbincang satu sama lain bersama gerombolannya, namun mereka tak menggubrisnya dan tetap berjalan seperti biasa. Feni sudah menunggu mereka di kelas dan Feni pun menatap mereka.
"Kamu mimpi apa si Za, kok selalu bisa deket sama murid baru."
"Diam kau, aku bawa 3 novel terbaru nih di perpus, kamu mau baca."
"Boleh Za, aku pinjam satu ya."
"Hmm.. Eh Feni, kamu nanti ke rumah Dimas yuk sekalian belajar bareng."
"Emm.. Boleh deh Za, langsung kan?"
"Iya Fen, Aldi, aku sama Feni nanti naik taksi. Kamu ikut di belakangnya ya nanti."
__ADS_1
"Terserah kamu saja."
"Aku berharap, kita ada kesempatan hanya untuk berdua." batin Aldi.
*****
Bel pulang sekolah pun berbunyi, seperti yang dikatakan Fiya, mereka bertiga pergi ke rumah Dimas. Sebelum mereka sampai, mereka membeli beberapa camilan dan juga oleh-oleh untuk Dimas.
Sekitar setengah jam mereka pun sampai di rumah Dimas. Fiya membayar terlebih dahulu taksi tersebut. Feni membantu membawakan buku Dimas dan kemudian mereka bertiga pun masuk ke rumah Dimas.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, kak Fiya, sini masuk kak."
"Iya, yuk."
Mereka bertiga pun masuk, tak lama mama Lastri juga ikut keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
"Wah ada tamu, sini masuk."
"Mama Dimas udah lebih baik kan."
"Udah kok. Silahkan duduk."
"Iya mah, oiya, ini sedikit oleh-oleh dari kami."
" Ngrepotin aja Za. Ini temen-temen Dimas ya."
"Iya mah."
Mereka yang tadinya hanya diam pun akhirnya bersalaman dengan mama Lastri.
"Feni tante."
"Aldi tante."
"Iya mah."
Mereka bertiga pun duduk. Fiya meletakkan tasnya dan kembali berdiri.
"Mau kemana Za?"
"Aku mau ke dapur ambil piring buat menyajikan makanan yang kita bawa."
"Baiklah."
"Aku tinggal sebentar."
Mereka berdua mengangguk, dan Fiya meninggalkan mereka ke dapur. Di saat Fiya ke dapur, Dimas datang dan menghampiri mereka.
"Satya, sini." ucap Feni.
"Fiya dimana?"
"Lagi ke dapur."
"Oh.. Bentar ya.."
Dimas juga meninggalkan mereka berdua dan menuju ke dapur dimana Fiya berada. Feni yang tak ingin lama menunggu pun akhirnya membuka jajanan yang tadi di beli mereka.
"Itu Satya?" tanya Aldi tiba-tiba.
"Iya kenapa?"
"Nggak papa kok."
"Oohh.. Jadi itu Satya. Dimas sendiri dimana?" batin.
__ADS_1
"Rumah Khanza dimana Fen?"
"Rumah Khanza ada di komplek depan."
"Jadi ini rumah Dimas?"
"Iya, ini rumahnya. Nama lengkapnya kan Satya Dimas Adriansyah, nah dia lebih sering di panggil Satya."
"Oohh begitu..."
Sementara itu, Fiya sedang membuatkan minuman untuk teman-temannya. Sebenarnya mama Lastri yang ingin membuatnya namun Fiya memaksa. Tiba-tiba Dimas datang dan langsung merangkulnya.
"Udah sembuh?"
"Udah kok, kamu tenang aja. Besok aku udah bisa berangkat. Kita besok berangkat bersama oke."
"Terserah kamu, tapi jangan kesiangan, awas loh."
"Iya nona.."
"Kamu minggir, aku mau nyajiin ini sama temen-temen."
"Biar aku aja sini.. Kamu duduk aja. Kamu kan tamu." ucapnya sambil mengambil nampan yang di pegang Fiya.
"Tamu darimana orang kita sahabat juga masih di bilang tamu."
"Tamu yang tinggal di hati aku."
Fiya langsung terbengong dengan ucapan Satya. Pipinya sedikit memerah setelah mendengar ucapannya.
"Kenapa diam? Loh.. Muka kamu kok merah, panas ya.."
"E-eh iya.."
"Tunggu Khanza, ini bawa juga taruh di ruang tamu."
"Eh.. Iya mah baiklah. Terimakasih."
Mama Lastri mengangguk dan tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Sesampainya di ruang tamu, mereka langsung menyajikannya di meja ruang tamu.
"Oiya Dimas, ini adalah siswa baru juga. Namanya adalah Aldi, dan Aldi ini dia Dimas, orang yang tadi siang kita bicarakan itu. Kamu bisa memanggilnya Satya."
Aldi tersenyum dan mengulurkan tangannya, namun Dimas tak paham. Fiya yang melihatnya akhirnya menyikut bahu Dimas dan Dimas pun mengerti lalu menerima uluran tangannya.
"Satya."
"Aldi."
"Baiklah, perkenalan selesai dan kita langsung saja belajar hari ini."
Dimas dan Aldi pun menarik tangan masing-masing. Fiya mengeluarkan buku yang ada di paper bagnya, lalu membuka buku pelajaran bahasa Indonesia.
"Kita mulai dengan mapel bahasa Indonesia, lalu nanti kita beralih ke mapel matematika. Kalian siapkan bukunya dulu.
Mereka menuruti apa perkataan Fiya. Setelah semua siap, Fiya langsung menjelaskan tentang materi yang tadi di sampaikan dengan penuh ketelitian dan pemahamannya. Namun, Dimas tidak memperhatikan tentang apa yang sedang di ajarkan olehnya, namun dia sedang memandang Fiya sambil tersenyum.
"Bagaimana aku bisa fokus kalau dia yang menjadi gurunya." batin.
"Eh Dimas.. Ditanya sama Khanza itu, malah bengong."
"Eh iya apa?"
"Kamu paham kan? Dan Aldi juga kan?"
"Iya, aku paham kok." jawab Aldi dengan semangatnya.
Fiya pun melanjutkan lagi penjelasannya dan menyuruh mereka untuk mencatat materi dari yang di sampaikan Fiya dan menyalin materi yang di tulis Fiya. Dan waktu belajar mereka pun berlanjut hingga sore tiba.
__ADS_1
//**//