Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
33. Paskibra


__ADS_3

...Kebersamaan dengan orang yang kita cintai adalah sebuah kebahagiaan yang harus kita miliki. Jadi, jangan pernah menyimpan perasaan yang ada di dalam hati, sebelum sebuah penyesalan datang menghampiri....


...~Satya Dimas Adriansyah~...


____________________


Fiya tidur yang nyenyaknya, Fiya merasa tubuhnya di guncang. Dia pun terpaksa terbangun dan mengedipkan matanya. Dia terkejut saat melihat Dimas sudah berada di depannya.


"Loh, Dimas. Kamu ngapain di kamar aku?"


"Ayo berangkat, malah baru bangun. Sana mandi."


"Oiya."


Fiya langsung beranjak bangun dari ranjangnya dan tak lupa membawa handuknya. Dimas memilih keluar dari kamar Fiya dan turun ke lantai bawah.


"Dimas, bagaimana? Khanza bangun?"


"Iya bangun mah."


"Udah mau pukul 7, mama titip ini. Kamu bawa mobil Khanza saja, biar Khanza makan di perjalanan."


"Iya mah."


"Ini kunci mobilnya. Mama pamit ya, mau ke pasar. Bulanan rumah habis."


"Iya mah, mama hati-hati."


"Mama berangkat. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mama Ova meninggalkan Dimas setelah bersalaman dengannya. Dimas memutuskan untuk keluar dan mengeluarkan mobilnya Fiya. Fiya yang baru turun langsung ke meja makan dan tidak ada apapun yang tergeletak. Dia mencari mamanya dan hanya keheningan yang ia dapatkan. Dia mendengus kesal dan keluar dari rumahnya.


"Loh, mobil aku kok di luar."


"Fiya, sini masuk."


"Kok pake mobil aku, motor kamu mana?"


"Di suruh mama kamu tadi."


Dengan segera Fiya masuk ke mobilnya dan memakai sabuk pengamannya.


"Mama kemana? Kamu tau?"


"Pergi ke pasar tadi. Nih sarapan kamu, sarapan dulu, nggak usah keburu-buru."


Fiya mengangguk dan menerima kotak makan yang dipegang oleh Dimas dan memakannya. Dimas hanya diam dan fokus mengemudikan mobil Fiya. Fiya merobek sedikit rotinya dan memberikannya untuk Dimas.


"Kamu pasti belum makan kan? Makan nih."


"Peka banget ternyata."


Dimas hendak mengambil roti tersebut namun di tarik kembali oleh Fiya.


"Em... Em.. Em.. " Sambil menggeleng. "Kamu fokus aja nyetirnya, aku suapin."


Tanpa menunda lagi, Dimas memakan roti dari tangan Fiya.


"Peka juga kamu."


"Tentulah.. Nih makan lagi."


Fiya menyobekan roti lagi dan memberikannya kepada Dimas. Tak lupa juga dia memberikan minum kepadanya.

__ADS_1


Tak terasa mereka telah sampai di sekolah yang mereka tempati. Fiya turun dan melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya.


"Loh, jam aku mati."


"Kok masih di sini, buruan ayo."


Dimas segera menarik tangan Fiya hingga sampai di kelas. Sayangnya, mereka terlambat dan sudah mendapati bu Vina yang sedang mengajar.


"Permisi bu, maaf kami telat."


Semua murid dan bu Vina melihat ke arah pintu. Bu Vina langsung menurunkan tangannya yang sedang menulis dan menatap mereka sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalian tau ini udah jam berapa?" tanya bu Vina tegas.


Dimas dan Fiya hanya menggeleng sambil menunduk. Bu Vina mendengus kasar dan kemudian melihat para muridnya yang lain dan melihat ke arah mereka berdua lagi.


"Kenapa kalian terlambat? Barengan pula."


"Saya bangun kesiangan bu" jawab Fiya jujur.


"Dan kamu Dimas?"


"Saya menjemput Fiya tadi."


"Baiklah kalau begitu. Masalahnya ada di Fiya. Hari ini, ibu memaafkan kalian. Besok-besok kalau telat lagi akan ibu hukum. Sekarang masuk dan ikuti pelajaran."


Mereka berdua lekas masuk dan duduk di bangkunya masing-masing.


"Akhirnya."


"Kalian berdua kok bisa telat?" tanya Feni.


"Gue kesiangan, Dimas ikutan kesiangan juga deh."


Tanpa bertanya lagi, mereka pun mengikuti pelajaran. Tapi tak lama, ada siswa OSIS yang datang ke kelas mereka. Salah satu anggota OSIS tersebut pun berdiri.


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." jawab seluruh siswa.


"Panggilan kepada Aldi dan Dimas. Nanti pulang sekolah di harapkan tidak pulang dulu. Silahkan kalian nanti kumpul di aula OSIS. Terimakasih, wasalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Aldi dan Dimas mengangguk dan anggota OSIS itu pun pamit dan meninggalkan kelas mereka. Fiya menetap Dimas dengan bingung.


"Kamu ikut kan?"


"Males ah. Bentar lagi mau Tes setengah semester kan?"


"Hehehe, ya kali Dim. Sekarang bulan Agustus tengah semester nanti bulan September."


"Kata kamu bentar lagi ada UTS."


"Biar kamu rajin Dim. Nanti ikutan aja ya, aku bakal nungguin kok."


"Kamu nggak papa."


"Iya nggak papa lah. Sekalian lihat UKS ada yang piket atau nggak."


"Iya udah, aku nurut."


...*****...


Pulang sekolah tiba, Fiya dengan santai menunggunya sambil mengecek keadaan di UKS. Dia masuk ke UKS dan melihat beberapa anak sedang membersihkannya.


"Syukurlah ada yang membersihkan."


"Kak Khanza."

__ADS_1


"Lanjutkan saja."


"Kakak belum pulang." tanya salah satu anggota.


"Belum. Kalau sudah, jangan lupa di kunci ya. Kakak cuma ngecek. Ya sudah, kakak tinggal ya."


Fiya meninggalkan UKS dan menunggu di samping ruang aula OSIS. Tak lama, Aldi yang duluan keluar, mendapati Fiya tengah berdiri dari jarak yang tak jauh darinya. Dia pun menghampirinya.


"Khanza, kamu. Belum pulang?."


"Lagi nunggu Dimas."


Tak lama Dimas menghampiri mereka berdua.


"Kamu tadi bahas apa?"


"Menjelang 17 Agustus, akan ada upacara. Jadi, aku di pilih jadi anggota paskibra."


"Oohh."


"Fiya, ayo pulang."


"Oh..iya ayo. Aldi kami duluan ya."


Dimas merangkul Fiya dan meninggalkan Aldi. Aldi melihat mereka berdua sambil mengepalkan tangannya sendiri dengan kesal.


"Aku harus melakukan sesuatu agar Khanza menjadi milikku." batin.


...*****...


Di hari hari berikutnya, Fiya selalu membawa 2 bekal makan siang untuknya dan Dimas. Setiap harinya dia selalu gunakan untuk melihat Dimas berlatih sekaligus menemaninya.


Selesai berlatih, Dimas menghampiri Fiya yang duduk di tempat duduk samping lapangan. Di saat Dimas berjalan langkahnya selalu terhenti karena para siswi selalu menghalanginya, namun dia selalu berusaha untuk menghampiri Fiya. Setelah berhasil, Dimas menghampiri Fiya dengan sedikit berlari.


Dengan senang hati, Fiya menyiapkan handuk kecil dan menyeka keringat yang menetes di dahinya sehingga membuat para penggemar Dimas mundur. Fiya juga memberikan minum kepadanya dengan penuh perhatian.


"Semenjak kamu ikut paskibra, kamu selalu di rebutin cewe cewe tuh. Pada antri pengen lap keringat kamu."


"Memangnya kenapa? Kamu cemburu?"


"Cemburu karena hal apa? Ya nggak lah Dim, buat apa si aku cemburu."


Dimas mengacak rambutnya dan matanya tak sengaja melihat pergelangan tangan kiri Fiya yang tidak menggunakan jam tangannya lagi.


"Jam tangan kamu mana?"


"Jam tangan aku mati, jadi aku tinggal di rumah."


Pandangan mereka teralihkan kepada seseorang yang duduk di sisi yang lain sambil menggerakkan kepalanya sehingga membuat keringatnya terjatuh. Semua siswi yang melihat, matanya berbinar dan berteriak. Fiya hanya menggeleng melihat para siswi yang bereaksi berlebihan.


"Apa istimewanya Farhan si Dim, kok para siswi pada ngejar dia?"


"Coba kamu lihat aku. Beri pendapat tentang aku."


"Ganteng, perhatian, baik hati dan tentunya sahabat setia dari Safiya Khanza Ayunindya."


"Kata-kata pertama yang kamu ucapkan apa?"


"Ganteng."


"Nah tuh."


Fiya mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Farhan dengan tatapan tidak sukanya.


"Farhan? Ganteng? Masih gantengan kamu Dim, daripada dia. Udah yuk pulang, kamu pasti cape."

__ADS_1


Dimas mengangguk dan menggendong tasnya dan tak lupa menggandeng tangan Fiya.


//**//


__ADS_2