Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
77. Rumah Arya dan Farhan.


__ADS_3

Begitu mereka berdua sampai mereka langsung menuju ke ruang keluarga. Arya membawa kedua kantong kresek yang di beli Fiya.


"Sepi, dimana ayah ibumu?" ucap Fiya yang langsung duduk di sofa.


"Gue yatim piatu, ini semua peninggalan ortu gue." jawab Arya dingin sambil menaruh semua barang yang dibawanya di meja.


"Terus lo makan pake apa?" tanya Fiya sambil membuka kantung kresek tersebut.


"Duit lah.." Arya membuka kantung yang satunya.


"Darimana?" tanyanya lagi sambil memberikan pop ice yang di belinya dan sudah sedikit mencair.


"Gue bodyguard Farhan, jelas dari ortu Farhan." menerima pop ice tersebut.


"Ooh begitu. Eh... Tapi gue wanita keberapa yang masuk ke rumah lo?" tanya Fiya sambil memberikan sosis bakar.


"Gue nggak ngitung."


"Berarti udah banyak wanita yang lo undang ke rumah lo." ucap Fiya datar.


"Nggak banyak juga. Pop ice lo mau di tambahin es, biar dingin lagi?" Arya mengalihkan pembicaraan sambil menaruh sosis bakar yang diberikan Fiya.


"Boleh."


Fiya menyeruput pop ice tersebut dan membuka sosis bakar yang dibelinya. Sedangkan Arya pun pergi ke dapurnya untuk membawakan permintaan Fiya.


"Lo polos banget si, Arya tuh belum bawa cewe manapun ke rumahnya."


"Oohh.. Gitu ya.. Pura-pura aja jadi cewe yang ke seratus masuk ke rumah ini. Ya kan kaga tau juga berapa makhluk cewe yang udah masuk ke rumah ini."


Fiya pun membuka snack berukuran besar untuk dimakan teman-teman tak kasat matanya. Tak lama pula, Arya datang membawa apa yang diminta Fiya.


Setelah es batu tersebut sampai di tangannya, dia langsung menuangkannya di pop icenya dan langsung menyeruputnya kembali.


"Lo bicara sama siapa?" tanya Arya penasaran.


"Bodyguard gaib gue."


"Bodyguard gaib?"


"Iya, ada tuh lagi makan snack."


Arya melihat ke arah kantung snack yang terbuka, namun yang dilihatnya adalah snack yang kosong.


"Udah abis kok.. Lo yang makan kan?"


"Bukan gue, gue baru makan ni sosis. Mungkin lo nggak liat, tapi beda dengan mata gue."


"Maksud lo, lo indigo." ucapnya tak percaya.


"Iya gue indigo, mau buktinya?"


"Nggak perlu, lihat lo bicara sendiri aku percaya."

__ADS_1


"Dan gue harap lo bisa bantuin temen gaib gue ini biar bisa kembali seperti Gilang."


"Emm..kalau masalah itu.. Lo tinggal panggil gue aja. Tapi jangan waktu sekolah."


"Iya, gue ngerti. Oiya, mana remot lo, gue pengen liat film terbaru nih."


Arya pun mengambil remot televisi dan memberikannya kepada Fiya. Fiya yang menerimanya lekas menyalakan remot televisi tersebut.


...******...


Keesokan harinya, Fiya kembali ke sekolahnya dan semuanya berjalan dengan kembali normal seperti sedia kala. Tak ada perundungan ataupun caci-makian. Sekolah juga membuat peraturan ketat bagi siswa yang membully atau merundung siswa lainnya dengan menskorsnya, bahkan mengeluarkannya dari sekolah tersebut.


Jennie dan Bianka sekarang juga tak bisa berulah karena peraturan tersebut, sehingga mereka memilih untuk diam. Dan, Fiya sendiri sekarang lebih mendapatkan perhatian dari para adik kelasnya sesama PMR.


Hari-harinya juga ia jalani bersama dengan Dimas, Farhan dan Aldo. Terkadang pula, ia juga sesekali mengecek keadaan rumah sakit dimana Farhan di rawat. Tak ada perubahan dan Farhan masih tetap terdiam bersama dengan Fiya. Bahkan Farhan lebih betah bersama dengan Fiya yang selalu membuat hari-harinya tersenyum.


Di hari ini, Fiya menyempatkan dirinya untuk bermain di taman bermain. Hanya ada dirinya dan juga Farhan, sedangkan Dimas dan Aldo pergi entah kemana. Fiya membelikannya eskrim sambil duduk di ayunan.


"Aku tidak melihat Dimas dan Aldo. Dimana mereka?" tanya Fiya.


"Entahlah, kata mereka berdua mereka pergi sebentar tapi entah kemana."


"Kebiasaan seorang hantu. Oiya, kamu juga kenapa nggak balik aja ke tubuh kamu. Kamu betah disini?"


"Iya aku nyaman. Kehidupan yang aku rasakan sendiri dan tidak diketahui orang lain, sungguh membuatku betah. Terutama, juga hanya kamu yang tau aku masih ada di sini dan membuat ku nyaman terus berada di sisimu."


"Hei, jaga bicaramu, jika kamu berbicara seperti itu sekali lagi. Kamu benar-benar akan kehilangan diri kamu. Lagipula sudah dua bulan kamu di sini. Mau berapa bulan lagi kamu terus berkeliaran tidak jelas begini?" tanya Fiya.


"Mencurigai seseorang? Siapa?" tanya Fiya penasaran.


"Keluarga Jennie. Aku mencurigai mereka sudah lama. Dan sebenarnya, keluarga Jennie lah yang membuatmu Arya kehilangan orang tuanya. Pada saat aku kecelakaan, aku hendak memberitahukannya. Namun, aku belum menemukan bukti yang kuat. Dan, takdir juga berkata lain kepadaku. Dan.. Apakah kamu juga mau membantuku dalam hal ini?" tanya Farhan yang merasa tidak enak hati.


"Hmm.. Aku akan membantumu dan Arya. Namun, jika kita hanya melakukan ini hanya bersama dengan Dimas dan Aldo, sama saja dengan aku yang menyelesaikan ini sendirian. Arya juga harus tau jika saat ini kau bersamaku agar masalah ini cepat tuntas." pinta Fiya.


"Kita tidak bisa memutuskan ini sendirian. Ini juga bergantung kepada keputusan Dimas."


"Iya, aku pun tau masalah itu. Tapi, dia dimana? Lebih baik sekarang kamu ke rumah Jennie untuk memastikannya." pikirnya.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian..." alasan Farhan.


"Tak apa, lagipula di mata orang lain, aku sendirian."


"Kamu tidak sendirian, aku akan selalu disisimu." batin Farhan.


Fiya menengok kanan dan kirinya, namun Aldo dan Dimas tetap tidak kelihatan. Tepat dari samping kirinya, Fiya terkena lemparan bola dari seorang anak kecil yang tidak sengaja mengenainya. Anak tersebut menghampiri bolanya dan menunduk. Baby sister yang mengurusnya pun mengikutinya.


"Maaf Nona, dia tidak sengaja." ucap sang baby sister anak tersebut.


"Tak apa bi." Fiya menjawab sambil tersenyum dan berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya.


"Siapa namamu?" tanya Fiya dengan penuh kelembutan.


"Bastian." jawabnya.

__ADS_1


"Oohh.. Bastian.." Fiya mengelus kepala anak tersebut yang memiliki rambut tebal dan rapi.


"Maafkan aku kakak." ucapnya lirih.


"Tidak apa, jangan cemberut begitu. Mau kakak belikan eskrim?" tanya Fiya.


"Emm.. Tidak usah nona. Itu tidak perlu."


"Tidak apa bi, aku tau anak ini takut dimarahi. Jadi, aku minta tolong ya bi.."


"Baiklah nona."


Fiya pun tersenyum dan menggandeng tangan Bastian. Mereka pun membeli es krim seperti yang tadi ia beli.


"Kenapa kakak tidak membeli es krim?" tanya Bastian.


"Kakak sudah membelinya tadi. Sekarang kamu saja yang makan. Dan kembalilah bermain." ucap Fiya.


"Aku ingin pulang, tapi dengan kakak." pinta Bastian.


Farhan sebenarnya dari tadi melarangnya untuk mengikutinya, namun Fiya mengacuhkannya.


"Dengan kakak." ucapnya tidak percaya.


"Tidak Bastian, kakak ini masih ada urusan."


"Ahhh... Tidak apa bi. Baiklah Bastian, ayo kita pulang, kakak akan mengantarmu."


Fiya menggandeng tangan Bastian dan menyuruhnya untuk masuk ke mobilnya. Sedangkan mobil yang di tumpangi Bastian mengikutinya. Mereka pun sampai di rumah Bastian, dan Fiya pun berpamitan dengannya.


"Ini rumah mu ya... Sudah sampai kan, kakak pamit dulu ya... Kapan-kapan kakak kesini lagi."


"Iya kak, kakak hati-hati ya..."


Fiya mengangguk dan tersenyum kepadanya sambil mengelus kepalanya.


"Maaf nona sudah merepotkan." ucap sang baby sister tidak enak hati.


"Iya tak apa bi. Saya pamit, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah ia pamit, ia kembali mengendarai mobilnya dan keluar dari gerbang rumah Bastian. Farhan dari tadi hanya memegang kepalanya yang di sandarkan ke jendela.


"Gue nggak perlu nunjukin rumah gue lagi setelah susah payah gue pengen ajak lo ke rumah gue." ucap Farhan.


"Maksud lo?" tanya Fiya bingung.


"Itu rumah ortu gue, dan tadi itu adik gue yang selalu menyusahkan semua orang."


Fiya kaget dan reflek menghentikan mobilnya secara mendadak dan membuat kepala Farhan terbentur benda di depannya.


//**//

__ADS_1


__ADS_2