
Farhan meletakkan tubuhnya pelan di atas ranjang dan kemudian dia mengusap badannya sendiri seperti sedang menghilangkan debu.
"Ahh.. Kenapa pula gue yang gendong. Sialan." gerutunya.
Dia terus mengusapnya sampai berkali-kali. Tak lama Jennie datang ke UKS.
"Farhan, kamu nggak papa kan?"
Dia memutar-mutar tubuh Farhan dan mengelap pundaknya.
"Nggak kotor, kenapa di tepuk tepuk."
"Minggir."
Farhan menghempaskan tangan Jennie yang memegang tangannya dan kemudian merapikan dasinya. Pandangan Jennie teralihkan kepada seseorang yang sedang berbaring di atas kasur.
"Kenapa.. Dia ada di sana?" dengan nada bingung, Jennie bertanya kepada Farhan.
"Kenapa? Dia terjebak sama gue di dalam lift. Sungguh dukun yang menyebalkan."
Setelah dia mengatai Fiya menyebalkan, dia pun pergi dari ruang UKS. Jennie membuntutinya seperti ekor kucing. Farhan risih, dan menatap tajam Jennie.
"Bisakah kau juga pergi duluan. Tidak dukun tidak kau sama-sama menyebalkan."
Jennie geram dengan apa yang dilontarkan oleh Farhan. Dia mengepalkan tangannya dan kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
Sementara itu..
Aldi sedang menunggu Fiya di kelas dengan perasaan cemas. Tak tinggal diam, dia pun bangkit dari tempat duduknya dan kemudian pergi dari kelas. Dimas yang melihatnya pun berdiri dan memegang pundaknya.
"Lo, mau kemana?"
Aldi melirik ke pundaknya dan menggerakkan pundaknya untuk memberikan pertanda Dimas melepaskannya. Dimas yang mengerti pun melepaskan tangannya dari pundak Aldi.
"Lo mau kemana?" tanya Dimas sekali lagi.
"Bukan urusan lo."
"Lo pasti mau cari Fiya."
Aldi tak mempedulikannya dan berjalan meninggalkannya. Dimas yang paham pun juga ikut keluar kelas.
"Kenapa lo ikutan keluar?"
"Gue juga mau cari Fiya."
Tatapan mereka seperti pisau yang ingin saling menusuk.
"Ehm.. Ehm.."
Suasana yang tadinya ingin berperang menjadi tenang kembali karena guru datang dan berdehem kepada mereka berdua. Merekapun melihat ke arah sumber suara.
"Kenapa kalian masih di luar? MASUK!!"
__ADS_1
Guru yang di kenal galak itu membentak mereka. Dimas dan Aldi dengan berani tetap diam di tempat.
"Saya mau menjemput Fiya bu? Fiya dimana?" tanya Dimas tanpa ragu.
"Fiya sedang di UKS. Dia sedang beristirahat. Biarkan dia istirahat dan kalian masuk ke kelas sekarang juga. Jangan ada yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Kalau dari kalian ada yang kabur kalian akan adukan dan akan di skors selama satu minggu. Sekarang. MASUK!!"
Mereka berdua langsung masuk dan Aldi dan Dimas kembali duduk di bangkunya masing-masing. Tatapan para siswa dan siswi tak lepas melihat guru tersebut. Guru yang biasa di panggil bu Mara meletakkan bukunya. Aldi yang merasa bingung dengan tingkah para siswa yang diam seperti patung langsung bertanya kepada Feni.
"Fen, kok anak-anak langsung pada diem?"
"Dia tuh galak, namanya aja bu Mara, ya udah jelas suka marah marah dan galak."
"Oohh..."
Pandangan bu Mara teralihkan kepada Feni dan Aldi yang seperti orang sedang berbisik.
"Feni, sekarang kamu pergi temani Fiya di UKS."
"I-iya bu."
Feni segera keluar dan membuang nafas lega setelah dia keluar dari ruang kelas dan buru-buru pergi ke UKS. Di saat dia sampai, dia masih tertidur pulas. Feni seger mendekatinya dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
"Berkat lo pingsan gue selamat Za. Makasih ya." Dia memegang tangan kanan Fiya.
Fiya yang sudah sadar pun akhirnya membuka matanya sambil melotot. Feni yang melihatnya pun kaget dan melempar tangannya kasar.
"Astagfirullah. Khanza.."
Khanza yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Feni jengkel dan menunduk lesu.
"Udah tau, pake ngerjain segala lagi."
"Iya, maap-maap. Seneng karena bu Mara yang masuk terus dia suruh lo buat nemenin gue?"
"Kok lo tau? Pantes aja di panggil dukun."
"Kan tadi aku nggak liat motor pak Bagus di parkiran guru, jadi yang gantiin mapel Fisika bu Mara dong. Siapa lagi kalau bukan dia yang gantiin guru waktu guru nggak berangkat?"
Feni menciutkan bibirnya dan Fiya hanya tersenyum saat melihatnya.
"Eh.. Udah mendingan belum lo."
"Udah kok."
"Geser gih.. Gue pengen tiduran."
"Kan ada banyak tempat tidur." Fiya sambil menggeser tubuhnya sedikit ke arah tembok.
"Takut ada yang lagi nidurin."
"Hmm.. Tau aja lu."
"Apa lo bilang."
__ADS_1
"Nggak kok, canda. Udah mending tidur yuk."
Fiya membenarkan posisinya dan tidur membelakangi Feni. Feni pun juga berbaring membelakangi Fiya dan berbagi satu selimut dengan Fiya.
"Za.."
"Hmm..."
"Kenapa lo bisa di sini?"
"Gue ke jedug dinding lift gara-gara Farhan nopang tubuh gue, terus gue di dorong sama dia."
"Farhan lagi? Ya ampun Za, kenapa idup lo apes banget si deketan sama Farhan."
"Mana gue tau. Udah nasib gue kali apes kalau deket sama dia."
"Jangan gitu Za, lo bilang gini tapi kan nggak tau yang di atas. Siapa tau lo malah jadi bini dia."
"Lah.. Kan lo yang bilang apes deket dia ya gue iyain aja. Terus apa tadi, gue jadi bini Farhan. Gue nggak tau gue bakal gimana? Pasti gue disiksa, diperes kaya kain jemuran terus dibuang kaya sampah."
"Ya, sebenci-bencinya lo sama dia atau pun sebaliknya, jangan lah maki dia. Seburuk apapun pria pasti di dalam hatinya masih ada hati nurani kok."
"Amiiinnn.. Semoga aja kalau dia nyadar."
"Hedehh... Terserah dah Za. Gue tidur aja dah."
"Aneh.. Dia yang bilang, dia yang nasehati juga." ucapnya dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Feni.
"Gue denger Khanza."
"Ck.. Iya-iya.."
Fiya segera menutup matanya untuk kembali beristirahat begitu juga dengan Feni yang ikut menutup matanya untuk tidur menyusul Fiya ke alam mimpi walaupun mimpi mereka berbeda.
Di sisi lain, Dimas tidak fokus saat belajar di kelas. Pikirannya seperti terhalang kabut tebal di tengah hutan yang begitu luas dan tertutup oleh pohon yang menjulang tinggi. Bu Mara yang sedari tadi memperhatikan Dimas yang melamun, melempar penghapus papan tulis ke arahnya. Dimas kaget saat ada benda melayang di depannya yang hampir mengenai wajah tampannya.
"Dimas, perhatikan. Jangan mikirin yang di UKS, tau-tau kesambet nanti."
Semuanya hanya cekikikan kecil dan tersenyum seperti sedang menonton pertunjukan drama.
"Duh.. Bel kapan bunyinya."
Baru saja Dimas bergumam. Bel pun berbunyi dan dengan cepat Dimas keluar dari kelasnya sebelum bu Mara menutup kelasnya di susul oleh Aldi.
"Eh.. Eh.. Mau kemana kalian? Ibu kan belum tutup."
"Ibu tutup sendiri. Sa-saya mau ke belakang bu."
Dimas berlari dengan cepat keluar kelas dan Aldi membuntutinya di belakang.
"Kamu Aldi?"
"Saya mau berak bu. Maaf ya bu."
__ADS_1
Aldi lari terbirit-birit meninggalkan kelas. Bu Mara yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
//**//