
Safiya Khanza Ayunindya
.
.
.
Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah karena paksaan dari orang tuaku dengan tampilan yang baru. Membuat orang-orang di sekitarku bingung melihatku. Bahkan ada yang menjauhiku, namun aku tak mengacuhkannya dan kemudian aku berjalan cepat ke kelasku karena mendapat gunjingan-gunjingan pedas dari mulut banyak orang. Sesampainya di kelas, Feni langsung memelukku dan mengintrogasiku.
"Lo Khanza?" tanyanya sambil melihatku.
Dia memeluk ku sambil menangis. Sangat terdengar jelas di telingaku dengan isak tangisnya. Sungguh aku sangat bersalah karena kabur, dan tak ku sadari banyak orang yang menungguku.
"Gue udah nunggu lo, gue khawatirin lo, takut lo nekat, dan lo beneran nekat dengan ngerubah penampilan lo kaya gini."
Dia terus menangis di pelukanku. Aku melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. Aku juga sedih sebenarnya, namun selalu aku tahan.
"Gue udah balik, gue perlu waktu untuk menenangkan diri. Gue minta maaf yang sebesar-besarnya karena membuat kalian khawatir, maafin gue ya.."
Kami pun melepaskan pelukan kami dan kembali ke bangku yang tersedia. Aku mau berjalan ke bangkuku, namun ada yang menarikku dan langsung memelukku.
Ternyata adalah Aldi yang memelukku secara tiba-tiba. Aku yang tidak terbiasa pun melepaskannya.
"Aldi.."
"Kamu kemana aja? Aku cemas semenjak kemarin. Aku juga mencari kamu kemana-mana. Kamu dari mana aja?"
Aku melepaskan pelukannya."Gu-gue.. Akan gue jelasin nanti." dan meninggalkannya di tempat.
Aku duduk di bangkuku dan melihat ke arah kananku yang kosong. Aku teringat kembali kenangan bersama dengan Dimas saat berangkat ke sekolah bersama-sama. Aku membiarkan tempat itu kosong dan menaruh tas ku di tempat duduk kosong itu. Tak lama guru pun datang dan langsung bertanya kepadaku.
"Khanza... Syukurlah kau pulang" ucap Ibu Vina.
"Iya bu."
Tak bertanya apa-apa lagi, bu Vina pun melanjutkan pembelajarannya. Dan aku hanya terdiam sambil mendengarkan. Sungguh bosan rasanya, ditinggalkan oleh orang yang selalu ada untuk kita.
Tak terasa waktu istirahat tiba, seperti biasa kami selalu makan bakso di kantin. Kali ini yang memesan adalah Aldi. Dia datang dan langsung duduk di sampingku.
Aku merasa tak nyaman pun berpindah ke samping tempat duduk Feni sambil menyajikan bakso untuknya.
"Lo sebenarnya nginep dimana si Za?" tanya Feni.
__ADS_1
Namun ketika aku akan menjawab, pandanganku teralihkan kepada seseorang yang berada di seberang meja kami. Aku pun bangkit kembali dan berjalan ke arahnya.
Sebenarnya aku sudah menyiapkan uang sekitar 10 juta dalam kantong almamaterku. Aku langsung meletakkannya di meja tepat di depannya.
"Nih... Uang buat bayar apartemen lo." aku berucap ketus kepadanya dan dia memegang tanganku dengan erat sehingga aku berhenti melangkah.
"Gue nggak butuh, lo pasti lebih butuh."
Dia membalikkan tanganku dan mengambil amplop itu kembali dan meletakkannya di tanganku.
"Nggak, gue nggak bakal terima. Gue waktu itu nggak bawa uang dan sekarang gue bawa. Ini bayaran gue karena nginep di apartemen lo."
Aku meninggalkannya dan mengembalikan amplop itu ke tangannya. Aku kembali ke mejaku dan duduk kembali di mejanya. Tak peduli semua siswi melihatku dan dengan cekatan Feni langsung mengintrogasiku.
"Loh, jadi lo selama ini nginep di apartemen Farhan, kok bisa?" tanyanya tanpa jeda.
Aku yang baru menusukkan garpu ke bakso terpaksa kembali ku letakkan dan melihat ke arah Feni.
"Gue pingsan di jalan, terus Farhan nemuin gue, terus di bawa ke apartemennya, udah singkat bukan."
Aku menjawab dengan sesingkat singkatnya dan akhirnya bisa memakan bakso dengan puas. Baru saja aku menusukkan garpu ke baksoku, tiba-tiba ada yang menarikku dan hendak menamparku, namun Farhan mencegah tangannya.
"Farhan... Lo kenapa bela dia si? Dia udah keterlaluan sama lo." ucapnya secara langsung.
...*****...
"Kamu tau kak dukun kan? Dia beri uang segepok amplop ke kak Farhan." ucap salah satu adik kelas.
"Benarkah?" tanya temannya.
Jennie yang sedang di perpustakaan dan mendengar hal itu langsung menuju ke kantin. Jennie langsung menarik tangan Fiya dan hendak di tamparnya, namun Farhan langsung mencegah tangannya.
"Farhan... Lo kenapa bela dia si? Dia udah keterlaluan sama lo."
Tangan Jennie langsung di hempaskan dengan keras oleh Farhan.
"Farhan..." ucap Fiya lirih.
"Kenapa lo mau nampar dia? Pasti lo salah paham nih."
"Kenapa dia ngasih uang ke lo? Atau jangan-jangan kalian udah melakukan hal haram ya.." pikir Jennie.
"Lo salah paham Jen, gue beri dia uang buat bayar apartemen tempat gue sembunyi selama gue hilang. Gue belum sempat bayar sebelumnya, dan itu adalah uang buat bayar sewaktu di apartemennya." jelas Fiya.
__ADS_1
"What!!! Lo di apartemen Farhan, kok bisa!!" Jennie kaget dengan pernyataan Fiya yang diucapkan.
"Gue ne...Aauuuhhh..... Sakit b*g*" keluh Farhan yang kakinya langsung di injak.
Dan seketika Dimas yang menghuni tubuh Farhan langsung keluar tanpa diketahui oleh Fiya karena pandangannya fokus kepada Jennie.
"Gue pergi ke sebuah apartemen, dan gue nggak tau itu milik Farhan."
"Omong kosong..."
Jennie langsung saja pergi dan Farhan pun lebih memilih kembali ke tempat duduknya dan kembali melakukan aktivitasnya.
...*****...
Fiya memandang rumah Dimas yang sudah sepi. Dengan berat hati, Fiya mengetuk pintu rumah tersebut. Namun, tak ada jawaban yang di perolehnya.
"Loh, nak Khanza..." ucap pak Rt yang tak sengaja lewat di depan rumah Dimas.
"Pak Rt..." jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu sudah pulang ternyata."
"Iya pak kemarin malam. Oiya pak, keluarga almarhum Dimas dimana ya?" tanya Fiya.
"Keluarganya udah kembali ke luar kota kemarin." terangnya yang membuat Fiya terpaku.
"Kalau begitu saya permisi nak. Assalamualaikum."
"Wa-Wa'alaikumsalam."
Fiya pun melihat pintu itu sekilas dan kemudian pergi dari halaman rumah tersebut. Berjalan perlahan seolah kenangan yang indah perlahan hilang begitu saja. Mengingat waktu-waktunya bersama dengan Dimas yang baru saja berlangsung beberapa bulan, harus mengubur kenangan indah di saat bersamanya
Begitu dia sampai di rumahnya, dia melangkah pelan ke kamarnya sambil menitikkan air mata. Niatnya untuk meminta maaf kepada orang tua Dimas harus ia simpan begitu orang tuanya kembali atau pada saat ia bertemu atau bahkan harus dia pendam selamanya.
Dia menangis sambil menekuk lututnya dan memeluknya. Duduk di atas ranjang tertunduk dan air yang mengalir deras dari matanya. Aldo yang melihatnya, mendekatinya dan memeluknya dari samping.
"Kenapa semua ini menimpaku? Hiks.. Kenapa semua orang meninggalkanku dan membuatku merasa bersalah... Hiks.. Hiks..."
"Kakak tidak bersalah, ini semua adalah takdir, kakak nggak boleh nyalahin diri sendiri. Tapi, kakak harus menyemangati diri dan jangan terlalu lemah seperti ini. Kakak adalah orang yang baik, aku tau itu. Kakak selalu memberiku nasihat dan semangat agar wajah pucatku tak terlalu pucat."
Pernyataan tersebut tak membuat Fiya diam, dan dengan pasrah Aldo hanya memilih untuk diam di sampingnya tanpa berkata-kata lagi.
//**//
__ADS_1