
Satya Dimas Adriansyah
.
.
.
.
Akhirnya bel masuk pun berbunyi. Aku pun membereskan ranjang di UKS. Kemudian aku pun membawa tas ku dan keluar dari ruangan yang berbau obat seperti rumah sakit. Di saat yang sama seorang guru juga mendekati ku.
"Apakah kamu murid baru"
"Iya bu"
"Oohh, kamu jadi salah satu murid di kelas 11 IPA 1 dan kebetulan saya wali kelas kamu. Kamu mau masuk kelas. Kamu sudah siap? Kalau tidak kamu ibu perbolehkan pulang"
"Tidak bu, saya ke kelas saja"
"Kamu yakin"
"Iya bu, lagi pula ini adalah hari pertama masuk sekolah"
"Ya sudah kalau begitu ikut ibu. Hari ini juga ada mapel ibu"
"Iya bu"
Aku mengikuti wali kelasku yang aku belum tau namanya. Aku hanya terdiam sambil menunduk dan menahan rasa sedikit perih di sudut bibir ku.
"Nama kamu siapa"
"Saya Satya bu"
"Kamu kalau mau panggil ibu ke kantor, panggil saja ibu Vina ya"
"Iya bu"
Aku menaiki lantai 3 dan sudah berdiri di depan kelas 11 IPA 1. Kami pun masuk dan betapa histerisnya semua siswi di kelas itu. Namun ada seorang siswi yang tidak tertarik sama sekali.
Seorang siswi berambut coklat sepunggung yang sedang memakai earphone dan membaca buku di bangkunya. Aku di suruh bu Vina untuk memperkenalkan diriku dan dengan senang hati aku pun memperkenalkan diri.
"Senang bertemu dengan kalian. Perkenalkan namaku Satya Dimas Adriansyah, panggil saja Dimas"
Semua siswi berteriak dan ingin sekali rasanya telingaku pecah. Bu Vina mendiamkan para siswi dan mempersilahkanku duduk.
"Feni, kamu duduk di belakang. Biar kan Dimas duduk dengan Khanza"
"I-iya bu"
Feni menurut tanpa meminta ijin dari orang yang duduk di bangkunya. Aku pun berjalan menuju ke arah bangku yang kini kosong di samping anak itu. Yang tak lain adalah sahabatku sendiri.
Aku mengenal nya karena dari wajahnya yang tak jauh dari dia kecil dan aku begitu menghafalnya.
Bagaimana reaksi nya ketika dia melihat ku, apa dia mengingat ku?
Aku terus memandangi nya yang masih fokus membaca buku. Tiba-tiba temannya menepuk bahunya dan menengok ke belakang. Aku memandang nya terus dan ingin melihat reaksi nya.
__ADS_1
Akhirnya dia melihat ke arah ku dan betapa terkejut nya saat dia melihat wajah ky yang sedikit lebam.
"Astagfirullahal'azim"
Ucapnya membuat ku hampir tertawa, namun aku sebisa mungkin menahan nya. Semua para siswa kini sedang memandang Khanza dengan tatapan bingung begitu juga guru yang saat ini sedang menulis di papan tulis.
"Kamu kenapa Fiya"
"Ahh.. Nggak papa bu"
Dia melihat ke arah depan dan aku pun akhirnya menghadap ke depan dan menulis materi yang kini ibu Vina tulis.
"Heh.. Dasar aneh"
"Mimpi apa dia semalam, bisa duduk sama anak baru itu"
"Sstt... Sudah sudah, kalian lanjutkan nulisnya."
"Iya bu"
Teman-temannya sangat ingin dekat denganku, namun berbeda dengan nya yang sama sekali tak tertarik dengan ku. Namun saat berkomunikasi, dia lah yang paling cerewet. Atau karena dia mungkin belum mengenal ku.
Aku ingin dia kembali ingat kepada ku dan ingin berdua dengannya. Akhirnya aku memiliki ide untuk berdua dengan nya di jam pelajaran yang menurut nya membosankan.
"Permisi bu"
"Iya kenapa"
"Saya masih baru di sini, apakah saya boleh berkeliling dulu di sini"
"Tentu saja boleh"
Beruntung nya hari ini, karena Fiya yang disuruh oleh guru untuk menemani ku. Setelah itu kami pun keluar dari kelas tersebut. Hanya kami berdua karena sekarang waktu pembelajaran.
Aku bingung dan terlalu canggung karena kami sudah lama tak berbicara bersama. Aku pun akhirnya berdehem untuk memulai pembicaraan.
"Permisi, kita keluar untuk memperkenalkan tempat ini atau hanya berjalan-jalan."
"Terserah lo maunya apa"
"Kamu kan yang paling pinter, pasti tau dong sudut sudut sekolah ini"
Dia memutar bola mata nya malas. Biasanya dia paling senang saat di dekat ku. Dulu kami sering bergandengan kemanapun, namun sekarang dia berbeda. Dia sangat cuek, apakah karena dia tidak mengenal ku. Akhirnya aku kembali memberanikan diri untuk berbicara dengan nya lagi.
"Yah kan ngelamun lagi"
"Gue bingung mulai dari mana, coba deh lo tanya. Di sini tuh tempatnya luas gue bingung mulai dari mana jelasin nya"
"Bagaimana kalau kita berkenalan? , kita belum berkenalan kan sebelumnya"
Aku pun memberikan tangan ku kepada kepadanya untuk berniat berkenalan. Dari tatapan nya dia sedikit ragu namun dia tetap membalas nya.
"Lo siapa" tanya nya ketus.
"Dimas"
"Nama lain"
__ADS_1
"Nggak ada."
"Nggak bisa aku nggak bisa sebut nama itu"
"Apa nama itu ada masalah"
Aku menatap nya dengan tenang dan dia lagi-lagi mengerutkan dahinya seperti bingung dengan ucapan ku. Akhirnya aku pun memanggil nama lengkapnya.
"Safiya Khanza Ayunindya"
Dia membelalakan matanya kaget ketika aku menyebutkan nama lengkap nya.
Apakah aku salah jika aku bertanya kepadanya? Apa dia benar-benar tidak mengenal ku?
"B-b-bagaimana kau tau nama lengkapku"
Aku pun akhirnya memiliki ide untuk mengerjainya.
"Aku adalah seorang peramal. Kau adalah Safiya Khanza Ayunindya, anak yang memiliki kelebihan yang tidak di ketahui oleh semua orang"
"Tidak mungkin kau... "
"Apakah kau tak percaya jika aku peramal. Kau adalah anak indigo. Kau bisa melihat makhluk yang tak bisa ku lihat dengan mata biasa ku ini"
"Bagaimana mungkin kau bisa tau, selama ini aku tidak memberi tahu siapapun kecuali keluarga ku dan keluarga Dimas.... Haaaahhhh... Atau mungkin kau Dimas..."
"Haaaahhhh Dimas..... "
Dia sangat bersemangat dan dia langsung memelukku begitu dia tau namaku. Dia agak berjinjit karena dia pendek seperti dulu. Aku tak ikut memeluk nya, tetapi aku mendorong nya pelan.
"Aku bukan Dimas, aku Satya"
"Iya, kamu Satya Dimas Adriansyah, di baju kamu juga ada namanya"
"Ya kali ini nama aku, kalau aku pinjam"
"Kan kalau, berarti kamu beneran Dimas, kapan kamu pulang"
"Tadi malam sekitar pukul 10"
"Jadi kamu yang bantu aku tadi pagi. Terimakasih banyak"
"Aku akan selalu melindungi kamu mulai dari sekarang. Seperti aku melindungi kamu waktu kita kecil dulu"
Aku menautkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya seperti waktu kami kecil. Matanya berkaca-kaca kemudian dia pun tertunduk dan menangis. Aku menyelipkan rambut panjang nya di belakang telinga dan memegang kedua pipinya.
"Hei jangan nangis, kamu bukan anak kecil lagi. Ini bukan waktunya untuk sedih. Kamu ingin mengajakku keliling ke sekolah ini atau menangis di sini sembari di lihat oleh makhluk itu"
"Disini lagi belum ada karena waktu sudah siang dan sebagian lorong sekolah terkena pancaran sinar, jadi nggak banyak"
"Jadi cuma kita berdua di sini"
"Begitu lah"
"Kita kemana sekarang"
"Kita mulai dari sini"
__ADS_1
Dia menjelaskan setiap sudut sekolah ini dengan teliti dan penuh senyum terpancar di wajahnya. Aku bahagia melihat nya tersenyum seperti ini bersamaku lagi.
//**//