Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
107. Ulang tahun Farhan


__ADS_3

Farhan menunggu Fiya sadar dan terus menggenggam tangannya tanpa melepaskannya dari kemarin sore setelah kejadian tersebut. Keluarganya memaksanya untuk pulang, namun ia memilih untuk tetap tinggal.


"Farhan, lo ngapain di sini? Lo udah punya tunangan.." ucap Jennie yang langsung masuk ke ruangan Fiya.


Farhan melihat sekelilingnya dan ke arah orang tua Fiya duduk. Dia pun berdiri dan langsung menarik tangan Jennie keluar dari ruangan tersebut dan berjarak agak jauh dari ruangan Fiya dirawat.


"Lo tuh harusnya tau posisi, ada pasien sakit lo malah teriak-teriak begini."


"Harusnya juga lo tuh harus inget udah punya tunangan. Lo malah main genggam tangan Khanza. Dia udah buat tangan lo jadi begini, dia udan buat lo terluka."


"Lukaku ini tak sebanding dengan luka yang aku berikan kepadanya dulu. Asal lo tau betapa depresinya dia ketika Dimas meninggal, dia juga hendak bunuh diri, dan gue melarangnya. Dia lebih sakit dan menderita di banding dengan luka ini."


Jennie hanya diam sambil menahan air matanya yang sudah mulai menggenang di kelopak matanya. Tiba-tiba, Arya mencari Farhan dan memanggilnya.


"Farhan.. Khanza..."


Farhan menoleh ke arahnya dan mengangguk paham. Lalu menatap ke arah Jennie lagi.


"Lo sebaik sebaiknya pergi dari sini! Gue nggak butuh lo dan gue juga nggak mau pulang bareng sama lo.. Lagi..."


Farhan langsung meninggalkan Jennie bersamaan dengan menetesnya air mata yang sudah tidak bisa menampung di kelopak matanya.


Farhan langsung berlari ke arah ruangan Fiya dan kembali menggenggam tangan Fiya. Air matanya tiba-tiba pecah dan lebih memilih untuk menyembunyikannya di lengannya.


Fiya yang sedang bercengkrama dengan orang tuanya heran dan kaget ketika melihat tangannya sedang di genggam oleh seseorang. Orang tuanya pun memilih untuk meninggalkan mereka berdua di ruangan tersebut.


Fiya pun melepaskan tangan kirinya yang sedang di genggamnya dan mengelusnya dengan tangan kanannya yang terdapat infusnya. Fiya pun mengelus kepala Farhan dengan lembut.


"Ternyata seorang Farhan Liam Ma'ruf bisa menangis. Kamu tidak patut menangisiku dan kamu harus kembali kepada keluargamu untuk menyelesaikan misimu."


"Aku tidak ingin sekarang, biarkan aku bersamamu."


Fiya mengangguk dan menggenggam tangan Farhan yang di balut oleh kain perban.


"Lihat, kamu pun terluka. Kamu tidak perlu menangis. Aku ingin bangun, bantu aku."


Farhan membantunya menangis setelah mengusap air matanya. Dan membantunya untuk duduk.


"Aku ingin pulang dan mengikuti pesta ulang tahunmu besok."


"Jangan, kamu masih sakit."


"Yang sakit sesungguhnya itu kamu bukan aku. Aku baik-baik saja sekarang. Tapi, dimana Dimas? Aku tidak bisa melihatnya di sini? Dia baik-baik saja kan?"


Farhan mengerutkan dahinya bingung dan melihat ke arah Dimas. Dimas yang mendengarnya pun langsung mendekatinya.


"Kamu benar-benar tidak bisa melihat Dimas?" tanya Farhan.


"Iya, memangnya dia di sini?"


Farhan melihat ke arah Dimas. "Dia di sampingku sekarang."


Fiya melihat ke arah sampingnya, namun pandangan Fiya dia tidak bisa melihat siapun di samping Farhan.


"Dia sungguh di sampingmu? Dimana? Kenapa aku tidak bisa melihatnya??" tanyanya dengan bingung.

__ADS_1


Dimas menepuk bahu Farhan. "Katakan kepada Fiya untuk menutup matanya sejenak."


"Nindya, coba tutup mata kamu sejenak."


Fiya mengangguk dan menutup matanya. Dimas pun mendekati matanya dan meniupnya.


"Sekarang buka mata kamu." perintah Dimas.


Fiya membuka matanya perlahan dan melihat Dimas sudah berada di depannya.


"Darimana saja kamu? Kenapa baru terlihat."


"Kan tadi..."


"Kamu yang kurang berkedip. Kamu harus makan dan cepat sembuh agar kamu bisa pulang dan menghadiri ulang tahun Farhan besok." jawab Dimas yang menghalangi perkataan Farhan.


"Tentu aku harus pulang, besok ada acara istimewa dan aku tidak boleh melewatkannya."


Fiya mengangguk senang dan kembali bercengkrama dengan kedua orang istimewanya.


...*****...


Setelah Jennie keluar dari rumah sakit, dia memutuskan untuk kembali pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba dia di telepon oleh ayahnya.


"Jennie, kamu ke kantor papa sekarang. Ada hal penting yang harus papa tanyakan."


Jennie pun segera memutar balikkan arah mobilnya ke arah kantor papanya berada. Begitu ia sampai, dia melihat ruangan yang berantakan dan papanya beserta kakaknya juan mencari sesuatu.


"Kakak dan papa apa yang kalian cari? Kenapa berantakan seperti ini?" tanya Jennie bingung.


"Aku tidak tau pah, aku tidak pernah mencari hal tersebut. Itu tidak penting bagiku." ucap Jennie.


"Tapi itu penting bagi papa. Karena hanya itu satu-satunya bukti papa menyadap berkas orang lain. Apabila ada orang luar yang tau, papa akan di tangkap dan kita akan bangkrut."


"APAA!!" teriak Jennie kaget.


"Kamu jangan berteriak. Bantu kami sekarang!!" ucap kak Juan.


Jennie berfikir sambil mencari berkas tersebut. Dia pun melihat ke arah CCTV yang mengarah ke meja utama. Jennie pun langsung berlari dan menuju ke tempat tampilan CCTV yang ada di meja papanya.


Dia mencari kejadian dua hari yang lalu, namun yang dilihatnya adalah ketika Jennie keluar memegang perutnya. Jennie fokus ke arah Farhan dan tidak ada pergerakan, dan yang ada Farhan seperti minum berulang kali seolah CCTV itu error.


Papanya dan kak Juan ikut melihat rekaman CCTV bersama dengan Jennie. Tak lama, tampilan itu bergerak lagi dan melihat Farhan keluar sambil memegang perutnya. Dia pun mengalihkan CCTV itu dan melihat rekaman CCTV di luar


"Bukankah itu Farhan?" tanya Juan.


"Iya, tapi sepertinya dia juga sakit perut. Jika tidak, dia pasti tidak memegang perutnya seperti itu."


"Tapi hanya dia yang ada di sana. Jangan-jangan Farhan yang mengambilnya." pikir Juan.


"Tapi, itu tidak mungkin."


Akhirnya, dengan pasrah papanya meminta bantuan dari seseorang temannya untuk menyelidiki kasus tersebut.


...*****...

__ADS_1


Fiya di pulangkan keesokan harinya. Dia bersikeras pulang karena tidak mau ketinggalan acara Farhan dan merupakan suatu acara perpisahan untuk dirinya yang akan ke luar kota bersama dengan ayahnya pekan depan.


Dia juga mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadiri acara tersebut. Acara tersebut diadakan pada sore hari karena memilih waktu yang tepat agar semua para tamu undangan dapat menghadiri di waktu yang senggang.


Fiya menitipkan kadonya kepada Arya dan turun ke tengah acara bersama dengan Feni dan duduk di meja yang masih kosong.


Pertama acara tersebut di mulai dengan sambutan-sambutan dari ayah Farhan dan kemudian langsung meniup lilin. Acara berlangsung hingga malam hari di temani dengan beberapa grup band yang menjadi tamu istimewa Farhan sekaligus memeriahkan acara Farhan.


Semuanya menari bersama. Arya mengajak Feni untuk menari bersamanya, Fiya yang melihatnya tersenyum dengan senang, sekaligus mengejeknya.


"Cie.. Cie..."


"Apaan si."


Dengan malu-malu kucing, Feni terpaksa menurutinya. Jennie mengajak Farhan untuk menari, namun Farhan pergi darinya dan menemui Fiya.


"Safiya Khanza Ayunindya, tolong temani aku menari bersamamu."


Fiya melihat teman-temannya yang duduk bersamanya. Mereka mengangguk dan Fiya pun menyetujuinya. Hingga satu lagu habis, Fiya berhenti dan melihat ke arah Farhan dengan tatapan serius.


"Liam, ikut denganku sebentar."


Fiya menggandeng tangan Farhan hingga di tempat yang tidak begitu bising. Fiya melihat sekelilingnya dan mulai menunduk ragu.


"Ada apa?" tanya Farhan.


"Maaf, mulai pekan depan aku tidak akan di sini. Aku akan ke luar kota mengikuti ayahku bekerja, sekaligus melanjutkan kuliah. Pasti, aku akan jarang bertemu denganmu. Maaf pula, aku tidak bisa memulihkan ingatanmu dan membantumu sepenuhnya."


Farhan kaget dan langsung memegang kedua pipi Fiya secara lembut.


"Jangan sekarang Nindya. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu sekarang. Ayo ikut aku."


"Ta-tapi Farhan..."


Farhan menarik tangan Fiya hingga ke panggung. Fiya bingung dan hanya diam di tempat. Semua orang bingung dan mulai melihat ke arah panggung yang mulai sedikit bising.


"Maaf mengganggu waktunya semuanya. Saya akan memberikan dua pengumuman penting. Di mohon para hadirin, mendengarkan dengan menyaksikannya secara seksama."


Semua orang tertuju kepada Farhan begitu pula dengan papanya yang menonton dari bawah panggung. Farhan mengarahkan Arya untuk menunjukkan beberapa foto yang sudah ia simpan dalam flashdisknya.


"Sekarang kita bahas yang pertama dan yang sangat penting. Di sini kita bisa lihat, beberapa foto tentang sebuah berkas penting yang di cetak 5 tahun yang lalu. Masih ingat dengan kejadian waktu pemimpin grup Michael dan istrinya yang kecelakaan?" tanya Farhan kepada semua orang.


Semua orang saling memandang satu sama lain dan saling melihat dengan bingung. Begitu pula dengan Fiya.


"Grup Michael?"


"Waktu itu diberitakan oleh media massa, terjadi kecelakaan tunggal karena rem blong, tetapi para peneliti yang saya percayakan sebelumnya, rem masih berfungsi dengan baik, namun kita lihat video ini secara baik-baik."


Mereka lihat ke video yang ditampilkan di layar lebar. Sebuah mobil melaju dengan santai di dalam sebuah jalur yan melewati sebuah terowongan, salah satu mobil menyalip dan tiba-tiba salah satu mobil tersebut kecelakaan dan menabrak tembok terowongan tersebut hingga hancur.


"Disini kalian melihat sebuah mobil melintas dengan santainya dan tiba-tiba menabrak sisi kiri terowongan tersebut. Dan tiba-tiba ada ada mobil melaju dengan kencang dari arah yang sama. Dan.. Perhatikan baik-baik.. Mobil yang melaju kencang tersebut menyenggol bagian belakang sebelah kanan mobil dan membuat mobil yang ada di depannya itu melaju kencang sehingga secara reflek, sang pengemudi kehilangan konsentrasi karena benturan yang mendadak dan menyebabkan dia menginjak gas dan bukan rem."


Semuanya sangat terkejut dengan perkataan Farhan. Terutama dengan Arya, karena perusahaan tersebut adalah milik almarhum ayahnya.


//**//

__ADS_1


__ADS_2