Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
22. UKS


__ADS_3

Mereka berempat pergi ke UKS. Keadaan sangat ramai. Para guru menyuruh para siswa untuk pergi, namun usaha para guru yang hanya beberapa tidak membuat para siswa yang begitu banyak pergi dari sana.


"Kalau kaya gini, bagaimana bisa aku lewat." keluh Fiya.


"Sebaiknya kita ke kelas Fiya." Aldi menggandeng tangan Fiya.


Fiya menatap Dimas, dan memegang tangannya lalu mengusapnya.


"Jangan khawatir Dim, aku baik-baik aja. Aku perlu memastikan mereka benar-benar baik-baik saja. Aku juga harus bertanggung jawab sebagai ketua PMR, jadi tolong mengertilah. Selagi ada kamu aku baik-baik aja kok. Hmm.."


Dimas pun tersenyum paksa dan mengangguk. Dia menggandeng tangan Fiya dan menariknya menuju ke kerumunan. Melewati begitu banyak orang. Aldi tidak bisa diam begitu saja, dia juga mengikutinya dari belakang dan berniat untuk melindunginya dari belakang. Feni hanya bingung dan pada akhirnya memilih untuk dia di tempat.


Dimas, Fiya dan Aldi berhenti di tengah-tengah kerumunan karena semakin mereka melangkah, kerumunan semakin banyak. Fiya menghela nafas panjang.


"Tidak bisa dibiarkan kalau begini." batin Fiya.


"Aldi, Dimas. Kalian berdua tolong tutup telinga kalian."


Dimas yang mengerti pun menutup telinga, sedangkan Aldi hanya menurut dan menutupi telinganya juga.


"DIAAAAAMMMMMMMMMMMMM....."


Teriakannya begitu lantang melebihi suara toa dan siapapun yang ada di dekatnya pasti telinganya berdengung.


"KALIAN SEMUA, KU PERINTAHKAN UNTUK PERGI. KALIAN MENGGANGGU KETENANGAN PASIEN DI SINI. SEKARANG, KALIAN PERGI KE KELAS KALIAN. CEEPPAATTT.."


Seluruh siswa yang berdiri di sana pun pergi. Seseorang menabrak Fiya, dan Fiya hampir terjatuh. Beruntung tangan Aldi dan Dimas menopang dirinya.


Fiya menatap mereka berdua. Dimas dan Aldi saling menatap tidak suka, dan Fiya pun berdiri sambil membenarkan rambutnya, lalu meninggalkan mereka berdua di tempat dan masuk ke ruang UKS.


"Permisi pak, bu. Saya mau memeriksa mereka."


Para guru pun melihat ke arahnya dan mempersilahkannya. Dia mengecek nadinya dan kemudian mengecek dahinya satu persatu.


"Mereka baik-baik saja."


"Syukurlah, kami percaya kepadamu. Kalau begitu kami serahkan kepadamu, kami akan mengajar lagi."


"Iya pak."


"Khanza, ibu titip mereka ya." ucap ibu Vina.


"Iya bu."


Para guru pun meninggalkan UKS. Setelah para guru pergi. Feni dan kedua temannya masuk ke ruang UKS.


"Aldi, Dimas. Kenapa kalian masuk. Kalian laki-laki. Kalau kalian mau menunggu, menunggulah di luar."


"Aku daftar jadi PMR Fi." ucap Dimas semangat.


"Aku juga." timpal Aldi.


Fiya hanya mengerutkan keningnya sambil menggeleng. Dan kemudian Fiya beralih kepada Jennie. Sedangkan Feni mengurus Bianka.

__ADS_1


"Mereka kayaknya aneh ya Za." ucap Feni saat memeriksa keadaan Bianka.


"Sepertinya begitu. Emm.. Dimas dan Aldi, tolong bawakan aku dua gelas air putih hangat ya. Inget hangat, jangan kepanasan."


Dengan segera mereka menurut. Fiya hanya melihat Jennie yang terbaring sambil menopang dagunya dengan ekspresi bingungnya.


Tak lama mereka berduapun datang dan memberikan air minumnya kepada Fiya. Fiya menerimanya dan kemudian duduk di kursi yang tersedia.


"Jangan ganggu aku." Ucap Fiya kepada teman-temannya. Merekapun mengangguk.


Fiya mulai menutup matanya dan membacakan sebuah suratan dan sedikit mantra yang pernah di ajarkan kakek buyutnya. Setelah selesai dia pun membuka matanya dan meniup kedua minuman tersebut. Dia pun berjalan ke arah Feni dan memberikan satu gelas air tersebut kepadanya.


"Usapkan pada ubun-ubunnya lalu telinganya kemudian kakinya. Lepas kaos kakinya dulu."


Feni mengangguk dan kemudian melepaskan kaos kaki Bianka. Fiya juga melepas kaos kaki Jennie. Sedangkan Dimas dan Aldi hanya diam melihat mereka berdua.


Fiya dan Feni mulai mencelupkan tangannya dan mengusapkan airnya ke ubun-ubun. Baru dia mengusap, Jennie menepis gelas yang di pegang Fiya hingga terlempar menghantam dinding. Fiya kaget dan tiba-tiba Jennie membuka matanya dengan tatapan kosongnya. Bianka juga, namun menepisnya pelan dan menangis sambil terduduk.


"Khanza bagaimana ini?"


"Tenang Fen, itu nggak masalah. Yang masalah itu Jennie. Kamu jangan apa-apakan Bianka oke.."


Feni mengangguk namun dengan ekspresi yang ketakutan. Tiba-tiba Jennie duduk lalu melihat ke arah Fiya dengan tatapan penuh kebencian.


"Fiya hati-hati." ucap Dimas panik.


Jennie masih menatap Fiya, namun tiba-tiba kotak obat yang berada jauh dari sana terjatuh.


"Assalamualaikum. Siapa ini? Ada apa ya?"


"Kenapa kau membiarkan teman-teman ku pergi?"


"Ini bukan tempatmu dan teman-temanmu tinggal. Ini tempat untuk para murid belajar, jika kalian di biarkan, semakin banyak yang akan menjadi korban untuk menjadi teman kalian di sini. Ini juga bukan tempat yang tepat untuk tempat tinggal kalian."


"Semua tempat yang ada di sini adalah kuasa kami. Apa hak mu mengusir kami?"


"Iya memang, aku tau bukan hanya manusia yang menempati tempat di setiap sudut di bumi ini, aku tau itu. Dan.. Tolong pahamilah, teman-temanmu itu juga ada yang ingin bebas dan menemukan tempat yang layak dari ini. Kalian boleh tinggal di sini, asalkan jangan ganggu manusia seperti kami. Kami tidak akan mengganggu kalian. Akan aku pastikan itu. Apakah ada hal yang mengganggu kalian sehingga kalian memasuki tubuh mereka?"


"Sedari dulu, orang yang membeli tanah ini dan membuatnya sekolah tidak meminta ijin kepada kami. Dan tentu saja membuat kami marah."


"Baiklah aku mengerti. Aku mengerti dengan apa yang kamu maksud. Sebaiknya kau keluar dari raga itu."


"Kau harus janji, mintalah mereka yang membangun tempat ini untuk meminta ijin kepada kami."


"Baik, akan aku laksanakan segera."


Tiba-tiba, Jennie pun pingsan dan dengan segera Fiya menangkapnya dan membaringkan tubuhnya. Satu lagi yang harus dia urus, tak lain adalah Bianka. Dia berjalan ke arahnya dan duduk di depannya.


"Assalamualaikum.. Kenapa nangis?"


Tiba-tiba Bianka yang tadinya menunduk dan menangis menjadi tertawa terbahak-bahak. Dan melihat ke atap lalu menerbangkan dirinya ke sana. Feni yang melihatnya ke atap berlari ke belakang Dimas dan Aldi.


"Kau tak bisa menangkapku.. Hihihihihihihi.."

__ADS_1


"Turun dari sana."


"Tidak bisa. Hihihihihi.."


Dia melihat ke arah Dimas dan Aldi yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan. Hanya Fiya yang tau apa dia berbicara apa. Feni raganya sedang bergemetaran takut dengan apa yang di hadapinya sekarang.


"Apa yang harus kami lakukan Fiya. Dia bicara apa?"


Tiba-tiba Bianka melayangkan sebuah gelas yang tergeletak di bawah ke arah Fiya. Dan Dimas yang melihatnya pun menarik Fiya sampai di dekapannya.


"Hati-hati."


Fiya mendorong tubuh Dimas pelan dan kemudian melihat ke arah Bianka lagi.


"TURUN!!" perintahnya.


Dia masih cekikikan dan Fiya pun memerintahkan ketiga temannya untuk membaca ayat kursi.


"Dimas, Aldi, Feni. Baca surah Al-fatihah, An-nas, Al-ikhlas dan ayat kursi. Sekarang dan bersama-sama."


Mereka mengangguk dan kemudian mulai melantunkan surat yang di perintahkan Fiya. Mereka pun berdoa bersama, hanya Fiya yang masih melihat Bianka yang sudah mulai kepanasan.


"APA YANG KAU LAKUKAN? HENTIKAN!!!! PANAASSS!!" keluh Bianka.


"KELUARLAH DARI TUBUH ITU SEKARANG!!"


"TIDAK MAU.. AAHHH.. PANAAASSS.. DIAAMMM...!!"


Fiya pun melangkah maju dan kemudian memegang kepalanya sambil membacakan sebuah surat dan diakhiri dengan kalimat yang lantang.


"KUN.. FAYAKUN..."


Bianka tergeletak lemas dan kemudian Fiya menangkapnya. Walaupun dengan nafas yang terengah-engah, dia menopang tubuh Bianka dengan sisa tenaganya.Dimas dan Aldi segera memegang Fiya.


"Taruh dulu dia di ranjang."


Dimas pun menurut dan membopong tubuh Bianka dibantu oleh Feni. Sedangkan dirinya dibantu oleh Aldi dan membawanya ke ranjang yang kosong.


"Tunggu sebentar di sini. Aku akan kembali."


Fiya mengangguk dan Aldi pun meninggalkan UKS. Dimas melihatnya bingung dan menuju ke arah Fiya berbaring.


"Kamu tak apa?"


"Hmm...aku tak apa."


"Kemana dia?"


"Aku tak tau."


Dimas mengelus puncak kepala Fiya dan tak lama dia pun kembali dengan membawa segelas teh hangat. Dia menepiskan tangan Dimas lalu membantu Fiya untuk duduk lalu memberikannya minum.


Tentu saja Dimas melihatnya dengan tatapan tak suka seakan-akan ingin merebut posisinya di hati Fiya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2