
5 tahun berlalu, dan Farhan yang berpakaian rapi dengan jasnya, rela menunggu Fiya di bandara sambil membawa bunga untuk Fiya. Dari kejauhan, Fiya yang memakai celana jeans panjang dan sepatu hak tinggi, berkacamata dan rambutnya yang sudah panjang berjalan ke arahnya dengan membawa koper besar dan kemudian langsung di susul oleh Farhan.
Farhan mengambil koper nya dan memberikan bunga yang di pegangnya. Fiya tersenyum senang ketika melihathya. Bukan bunga yang lebih dulu ia terima, tetapi dia langsung merapikan dasi Farhan yang berantakan.
"Sekarang tuan Farhan Liam Ma'ruf sudah menjadi bos besar." ucap Fiya.
"Kamu sekertarisnya..."
Fiya mengerutkan dahinya dan memukul dadanya. "Aahhh.." rintihnya.
"Aku dokter sekarang. Aku bukan perempuan yang ada di novel. Paham."
Farhan mengangguk dan membiarkan Fiya merapikan dasi nya.
"Sudah..."
Fiya menyelesaikannya dan kemudian menerima bunga yang diberikan oleh Farhan. Setelahnya, ia pun menggandeng Farhan menuju ke mobilnya yang sudah menunggunya.
Ia terlebih dahulu membuka pintu untuk Fiya lalu meletakkan kopernya di belakang dan lekas masuk ke kursi pengemudi.
"Lama banget." protes Fiya.
Farhan gugup sambil buru-buru menarik sabuk pengamannya.
"Maaf, jangan ngambek."
Farhan menarik pipi Fiya dan kemudian lekas menjalankan mobilnya. Farhan menghela nafas panjang dan paham Fiya kesal. Dia pun mengambil sesuatu di loker mobilnya dan memberikannya kepada Fiya.
"Apa ini? Kuaci kangen?" Sambil menerima bungkus tersebut dengan terkejut.
"Kamu membelinya untukku?" tanya Fiya.
"Iya itu untukmu dan di buat khusus untukmu. Aku akan membawamu ke suatu tempat." ucap Farhan.
"Kemana?" tanya Fiya.
"Ada.."
Fiya tidak mempedulikannya dan memilih untuk membuka cemilan kuaci tersebut sambil tertawa.
"Kenapa ketawa?"
"Ini namanya kuaci kangen, pasti perusahaan yang membuat ini lagi kangen sama seseorang jadi nama produknya kuaci kangen."
"Bisa jadi seperti itu. Dan pasti itu do buat untuk seseorang yang istimewa sekaligus orang yang sedang ia rindukan."
"Ternyata ada ya perusahaan yang bucin."
__ADS_1
Fiya hanya tersenyum sambil memakan kuaci yang di berikan Farhan. Sedangkan Farhan hanya fokus mengemudi ke sebuah tempat.
Setelah melewati perjalanan panjang, mereka sampai di sebuah tempat yang Farhan tuju. Farhan pun keluar begitu pula dengan Fiya. Fiya begitu takjub dan kagum saat melihat begitu banyak bunga matahari yang tumbuh di sebuah ladang yang besar.
"Waah.... Indah sekali." ucap Fiya.
"Apakah kamu tau, kuaci yang kamu makan itu adalah milik dari perusahaanku sembari menanam bunga-bunga yang baru sekaligus menunggumu kembali ke sini. Jadi, aku menamainya kuaci kangen."
"Sungguh?? Ini milikmu?" ucap Fiya tak percaya.
"Bukan, tetapi bekal untuk kita berdua esok."
"Lalu, pengolahan biji bunga mataharinya dimana?" tanya Fiya.
"Di seberang sana, kalau di dekat sini nanti mengganggu keindahan bunga matahari itu."
"Lumayan juga. Ayo kita ke sana."
Fiya menarik tangan tangan Farhan dan berkeliling di sekitar taman bunga tersebut. Farhan tersenyum ketika ia melihat jari jemari Fiya yang masih menggunakan cincin yang di berikannya 5 tahun yang lalu. Setelah puas darl taman tersebut, mereka pun pergi ke sebuah tempat lain.
"Kita kemana lagi? Aku pengen pulang ke rumah ketemu sama mama papa, eh malah jalan-jalan dulu sama kamu. Aku cape tau..." keluh Fiya.
"Maaf sayangku.. Cape ya.. Bentar lagi sampai kok. Kamu istirahat sejenak baru nemuin mama sama papa ya. Calon mertua kamu juga kangen di rumah. Tapi aku lebih kangen sama kamu."
"Aku masih punya ortu di rumah. Kalau mereka nyariin gimana?"
"Isshh..."
Fiya lagi-lagi kesal dan memilih untuk diam sambil kembali memakan camilan kuaci keluaran dari perusahaan Farhan.
Hingga tak lama dari sana, mereka sampai ke sebuah tempat mewah. Farhan pun turun dari mobilnya dan kemudian membukakan pintu Fiya.
"Apa lagi ini?" tanya Fiya kagum.
"Ini hasil dari penjualan kuaci kangen kita. Ini tempat kita istirahat setelah kita menikah nanti." jawab Farhan.
"Sejak kapan kamu menyiapkannya. Setiap aku pulang saat libur semester, kamu tidak pernah membawaku ke sini atau ke taman bunga tadi."
"Aku menyiapkan ini dari aku lulus sekolah, masuk ke perguruan tinggi sambil bantu papa, hasilnya di tabung untuk membeli tanah dan sekaligus membeli bunga matahari. Bunga matahari yang sudah besar, aku olah menjadi kuaci, aku buat pabriknya. Otomatis tabungan aku bertambah, jadi aku sambil kan dengan membuat Vila ini untuk kamu yang selalu setia bersamaku."
Farhan mengatakannya dengan begitu serius. Fiya pun bangga di buatnya dan ia pun langsung mencium pipi Farhan.
"Aku bangga sama perjuangan kamu. Ayo kita masuk."
Fiya merasa tidak sabar dan langsung masuk ke Vila tersebut. Fiya menjelajahi seluruh ruangan tersebut hingga ke kamarnya yang luas. Balkon yang ia buka, terlihat pemandangan taman bunga matahari tepat di depan matanya.
"Waah.. Pemandangan yang indah."
__ADS_1
Farhan merangkulnya dari samping sambil melihat ke arah taman bunga matahari yang luas tersebut.
"Aku ingin istirahat sejenak dan mandi. Setelah itu, kita akan mengunjungi orang tua kita."
"Baiklah, aku akan keluar. Kamu tidak perlu mengambil koper, di sini sudah aku persiapkan pula baju-baju kamu di dalam lemari itu. Kamu bisa pilih semau kamu."
Fiya mengangguk dan melihat lemari besar yang ada di dalam kamar tersebut. Kemudian, Farhan pun langsung keluar agar Fiya tetap nyaman bersama dengan Farhan.
Sekitar setengah jam menunggu, Fiya turun dari kamarnya dan menemui Farhan yang ada di ruang televisi sambil memakan camilan. Setelah mereka siap, merekapun lekas pergi ke rumah orang tua Fiya terlebih dahulu.
Begitu Fiya masuk, ternyata rumahnya ramai dengan kedatangan orang tua Farhan yang juga sudah menunggu kedatangannya.
"Kenapa baru datang, kata Farhan kamu pulang pukul 8 pagi. Lihat, sekarang sudah masuk waktunya makan siang. Kamu sudah makan siang belum?" tanya mama Ifa.
"Belum mah, tadi habis jalan-jalan terus mampir istirahat sebentar dan langsung ke sini."
"Pasti habis mampir ke Vila sama taman bunga matahari kan?" tanya mama Ifa lagi.
"Iya mah..."
"Aduh... Udah mau ada calon mertua, sama mama sendiri lupa."
Semua tertawa mendengar ucapan mama Ova. Fiya langsung memeluknya ketika ia datang.
"Kamu sudah makan belum?" tanya mamanya.
"Belum mah."
"Karena mama masak banyak hari ini, sekalian kita makan bersama-sama."
"Benar, setelah makan siang, nanti kita akan langsung menentukan tanggal pernikahan Khanza dan Farhan." ucap sang papa Brian.
"Pah, menikah?"
"Mau nunggu kapan lagi. Kamu juga udah tunangan kan? Dan ini sedang lamaran, ya udah tinggal nentuin acara pernikahan. Untuk apa pula di tunda."
"Aku cari kerja juga belum." jawab Fiya.
"Masalah kerja, kamu tinggal duduk di ruangan rumah sakit yang Farhan buat. Farhan sudah menyiapkannya untuk kamu, jadi kamu tidak perlu bingung lagi." jawab papa Wendi.
"Hah.. Benarkah? Aku ingin ke sana sekarang.." ucap Fiya semangat.
"Makan bersama dulu, setelah tanggal pernikahannya di tetapkan baru kamu boleh pergi." jawab sang mama Ova.
Fiya mengangguk senang dan mereka pun lekas menuju ke ruang makan untuk makan bersama. Setelahnya, mereka langsung menentukan tanggal pernikahan untuk Fiya dan Farhan.
//**//
__ADS_1