
Safiya Khanza Ayunindya
.
.
.
Hari berikutnya, aku berjalan di koridor sekolahku sambil mendengarkan musik melalui earphone kesayangaku. Tepat saat di tangga saat akan naik menuju ke kelasku, tiba-tiba tubuhku di siram dengan air, namun ada seseorang yang melindungiku.
"Dimas." pikirku dan ucapku dalam hati.
Namun, saat aku mendongak ke atas orang yang menyelamatkanku adalah Farhan.
"Farhan." ucapku lirih.
Di melihat ke arahku dan langsung melihatku. Bajunya basah, begitu juga bajuku. Kebetulan, pada saat jadwal itu, aku tidak menggunakan almamater. Dan, dia melepaskan jaketnya yang basah dan memasangkannya di punggungku.
"Lo nggak papa kan?" tanyanya khawatir.
Tatapan yang sama, perhatian yang sama dan rasa yang sama yang selalu Dimas berikan kepadaku terasa kembali dalam tubuh Farhan seolah olah Dimas bersarang dalam tubuhnya.
"Sebaiknya lo pulang, gue antar. Kalau masalah bapak ibu guru, nanti biar gue yang urus, sekarang lo ikut gue ke parkiran."
Dia menggandeng tanganku, rasanya seperti Dimas yang menggandeng tanganku. Sungguh aku merindukan hal itu. Akhirnya, kami sampai di parkiran, dan Farhan memberikan satu helm kepadaku. Dan setelahnya kami pergi dari sekolah tersebut.
...*****...
Jennie yang mengetahui kepergian Farhan dengan Fiya langsung mengikutinya sampai ke parkiran.
"Gila tuh si Farhan, kok dia nolongin si dukun itu si, padahalkan tunangan lo benci banget sama tuh dukun. Si dukun itu pake jampi-jampi apa si?" cerocos Bianka.
"Mana gue tau si.. Ahh.." gerutunya sambil menghentakan kaki kanannya karena kesal.
Fiya yang masih di jalan, sudah merasa kedinginan, padahal dirinya menggunakan jaket Farhan. Farhan melihat dari spionnya dan melihat wajah Fiya yang hampir memucat.
"Rapatkan jaketmu, kita akan sampai sebentar lagi."
Fiya menurut sambil berfikir betapa perhatiannya Farhan kepadanya. Hingga tak sadar mereka sudah sampai di depan rumah Fiya.
Fiya turun dan kemudian hendak melepaskan jaketnya, namun di hentikan oleh Farhan.
"Jangan, nanti kamu sakit."
Fiya lagi-lagi hanya diam, menumpuk semua pertanyaan yang ingin dia tanyakan di dalam hatinya. Farhan mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum." teriaknya.
Tak lama seseorang keluar dan tak lain adalah mama Ova. Mama Ova langsung melihat Farhan.
"Loh Farhan." pandangannya teralihkan pada Fiya yang menggunakan jaket Farhan dan langsung menarik tangannya.
"Khanza... Kenapa kamu basah. Dan Farhan kamu juga, sini masuk dulu."
__ADS_1
"Tidak tante, saya langsung permisi saja."
"Tidak, ayo masuk ayo, nanti kalian masuk angin."
Mama Ova memaksa Farhan masuk dan Farhan hanya diam. Mama Ova mempersilahkan Farhan duduk dan melihat Fiya.
"Fiya, kamu masuk ke kamar, langsung mandi saja biar nggak masuk angin, wajah kamu sudah pucat. Ayo cepat."
Fiya hanya mengangguk, Farhan yang memperhatikan merasa kasihan kepadanya.
"Farhan, kamu di sini saja, jangan pergi kemana-mana."
"I-iya tante."
Perhatiannya mama Ova sungguh tak terlupakan bagi siapapun, termasuk Dimas yang sekarang sedang memakai tubuh Farhan sebagai tamengnya agar bisa selalu menjaga Fiya sedari dekat tanpa diketahuinya.
FLASHBACK ON
Dimas melihat dari kejauhan, saat Fiya akan di jahili oleh orang yang membencinya. Tak jauh darinya pula, Dimas melihat Farhan yang sedang memperhatikan ke arah Fiya secara fokus.
Dimas memiliki kesempatan untuk memasuki tubuh Farhan dan lekas berlari saat air itu jatuh bersamaan dengan ia memeluk Fiya.
FLASHBACK OFF
Tak lama mama Ova kembali sambil membawa handuk dan baju untuknya.
"Farhan, ini mama bawakan baju papa Khanza yang sudah tidak muat, siapa tau muat di kamu. Dan ini handuk untuk ngeringin rambut kamu, kalau mau sekalian mandi, kamar mandi ada di sebelah sana ya.." jelasnya.
"Farhan, apa kamu suka susu jahe?" tanya mama Ova.
"Suka tante." jawabnya senang.
"Nih, kamu ke ruang tamu dulu saja. Oiya, sinikan baju kamu, biar tante yang cuci." Mama Ova menarik bajunya namun di tarik kembali olehnya.
"E-enggak usah tante."
"Udah nggak papa. Tante akan ke atas nganterin susu jahe buat Khanza juga."
Dimas yang memasuki tubuh Farhan mengangguk. Dirinya paling suka susu jahe buatan mama Ova dan akhirnya dia bisa meminumnya dan merasakannya kehangatan di tubuh yang dirasukinya. Tak lama, Fiya juga keluar dari kamarnya dan menemuinya di ruang tamu.
"Farhan, lo jangan bilang soal gue di siram air ya. Bilang aja kita kecemplung, gue mohon." pinta Fiya.
"Jadi, selama ini lo memendam bahwa selama lo sekolah lo di bully? Nggak bisa, gue harus bilang sama orang tua lo."
"Jangan, gue mohon." pintanya.
"Apa, kamu di bully Khanza.. Mama nggak bisa biarin, dan siapa yang melakukan ini kepada kalian berdua." tanya mama Ova.
Mereka berdua hanya terdiam, dan Mama Ova yang sudah geram langsung memanggil supirnya.
"Pak...pak...pak Narto...." teriaknya.
"Jangan mah, jangan..." Fiya memelas.
__ADS_1
"Antar saya ke sekolah Fiya sekarang. Farhan, cegat dia di rumah."
Farhan mengangguk dan memegang tangan Fiya. Mama Ova langsung keluar dan pergi dengan supirnya. Mendengar suara mobil yang sudah menjauh, Farhan melepaskannya.
Fiya marah melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Farhan yang memegangnya. Fiya berlari ke luar rumah dan Farhan kembali mengejarnya. Farhan mengeluarkan motornya dan mengejar Fiya. Tepat di depannya, Farhan sengaja berhenti.
"Naik ayo, gue antar."
Fiya memandangnya marah. Farhan sedikit tersenyum dan memberikan tangannya. Fiya dengan pasrah pun naik ke motornya dan mereka segera meninggalkan tempat tersebut.
"Bawa gue ke sekolah, atau gue nekat lompat."
Dimas yang masih bersarang di tubuh Farhan mengangguk karena tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Mereka akhirnya sampai dan langsung ke ruangguru. Mama Ova tengah protes kepada guru-guru yang ada di ruangan tersebut. Di sana juga sudah ada Jennie dan Bianka sebagai pembuat ulah tersebut.
"Saya tidak terima anak saya di perlakukan seperti. Dan kalian, saya tau kalian cantik, tapi hati kalian busuk." ucapnya dengan marah.
"Mama, sudahlah nggak papa. Itu cuma bercandaan kok." ucap Fiya sambil memegang tangannya.
"I-iya tante, kami nggak sengaja."
Farhan atau Dimas, ahh... Yang jelas Dimas tak tinggal diam dan langsung ikut perdebatan tersebut.
"Bohong!! Aku melihat semuanya. Kalian sengaja menyiram Khanza, saya saksinya." ucap Farhan dengan tegas.
"Farhan, kok lo bela dia si bukannya bela aku.." keluhnya.
"Gue bukan Farhan... B*g*." batin.
"Karena sudah ada saksi, bapak sebagai wakil kepala sekolah akan memberikan kamu skors selama 3 hari dari hari ini. Dan sekarang kamu pulang."
Jennie dan Bianka kesal dan pergi dari ruang guru tersebut.
"Kok Farhan jadi bela dia si..." keluh Bianka.
"Mana gue tau lah..."
"Awas aja lo Farhan, gue aduin ke papa kamu nanti." ancam dalam hati.
Dimas juga merasa lega karena tugas pertama untuk melindungi Fiya selesai dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari tubuh Farhan. Farhan linglung dan melihat ke sekelilingnya karena dia sudah berada di ruang guru.
"Kok gue di ruang guru." batin.
"Kamu antar Fiya dan mamanya pulang dan istirahatlah. Kamu bapak izinkan untuk libur."
Farhan hanya mengangguk dan keluar dari ruang guru. Mama Ova yang melihatnya melamun, menepuk pundaknya.
"Kamu kok bengong. Oiya, tante dan Fiya akan pulang sendiri, kamu juga pulang dan istirahatlah."
Farhan mengangguk dan berjalan ke parkiran. Pikirannya kalut dan bingung karena tiba-tiba posisinya sudah ada di ruang guru.
"Gue kenapa?" batin Farhan.
//**//
__ADS_1