Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
54. Ada yang tidak beres 2


__ADS_3

...Jangan pernah mengharapkan seseorang yang bukan milikmu. Jika kau nekat yang akan tersakiti adalah seseorang yang kau sukai....


...~Satya Dimas Adriansyah~...


__________________


Fiya pun memasak tumis buncis dan sarden. Mereka berdua duduk berdampingan dan makan bersama walaupun ada sedikit rasa canggung.


Dimas yang sedari tadi bersembunyi hanya tersenyum melihat mereka berdua yang akur, walaupun ada sedikit rasa kecewa karena kejadian sebelumnya.


FLASHBACK ON


Dimas kembali ke kamar setelah keluar dari tubuh Farhan. Tak lama Farhan juga masuk ke dalam kamar dimana Fiya tertidur. Dia mendekatinya dan menjatuhkan handphonenya di samping Fiya. Dia hendak mengambilnya, namun suatu kejadian terjadi dan membuat Dimas sedikit tidak terima.


FLASHBACK OFF


Mengingat dia hanya seorang arwah, dia hanya bisa diam melihat kejadian itu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain bersembunyi dan diam. Tugasnya sekarang hanyalah menjaga Fiya saja, dengan jarak yang jauh.


Setelah mereka makan, mereka memutuskan untuk mengobrol di dalam kamar. Mereka berdua tak sengaja melihat berita tentang menghilangnya Fiya di televisi.


"Lo bener nggak ngehubungin kedua orang tua lo?" tanya Farhan.


"Buat apa gue ngehubungin orang rumah, beruntung gue nggak bawa hp, uang dan lain-lain. Udah ah.. Gue mau tidur lebih awal. Oiya, malam ini gue yang tidur di sofa." ucap Fiya.


"Nggak, lo tidur aja di ranjang gue. Selagi lo nyaman, gue nggak papa." ucap Farhan.


Fiya beranjak ke ranjang dan bersiap untuk tidur. Dia hendak menyalakan lampu tidur, 09 namun Farhan menghalanginya.


"Gue mau tanya." ucap Farhan yang sudah berbaring di sofa.


"Tanya apa?"


"Emang kalau lagi tidur atau bengong atau apapun itu lah, bisa di rasuki?" tanya Farhan.


"Lo kok tiba-tiba ngomong gitu? Lo ngerasa lo di rasuki?" tanya Fiya dengan bingung.


"Gue aneh aja, tiba-tiba kaya setengah sadar setengah nggak."


Fiya yang tadinya sudah berbaring pun akhirnya bangun dan duduk di sandaran ranjang.


"Maksud lo? Coba lo jelasin lebih detail." ucap Fiya penasaran.


"Gue tadi tanya ke lo, kok kunci cadangan gue berantakan, padahal gue nggak berasa berantakin." ucap Farhan.

__ADS_1


Fiya nampak mencerna perkataan Farhan dan melihat sekeliling.


"Satu hal lagi, waktu ada berita kematian Satya, gue bingung waktu lo nangis dan gue sadar gue meluk lo." ucap Farhan.


"Kebiasaan lo kali kalo gugup jadi nggak sadar. Dengerin cerita lo gue jadi ngantuk, gue tinggal tidur ya.."


Fiya berbaring dan menyalakan lampu tidur yang otomatis terhubung dengan lampu utama sehingga pada saat lampu itu dinyalakan, lampu utama akan mati.


...*****...


Safiya Khanza Ayunindya


.


.


.


Aku tak nyenyak tidur malam ini. Aku juga terus mencerna perkataan Farhan. Apa maksudnya? Apakah Farhan mengidap penyakit anti romantis? Mana mungkin. Apakah Farhan benar-benar kerasukan? Tapi siapa yang merasuki dirinya?


Tidak mungkin Dimas bukan? Huh... Sekarang aku harus bagaimana? Fotoku pasti terpajang di mana-mana. Aku juga tidak enak harus terus di sini. Ini bukanlah tempatku. Aku harus kemana dan bagaimana?


Aku pun bangkit dari tempat tidur dan keluar secara perlahan. Aku pun mencari sesuatu di meja rias yang tersedia di kamar. Aku membuka laci secara perlahan hingga aku menemukan barang yang aku cari.


Aku kembali menangis dan memegang gunting itu tepat di depanku. Aku melihat gunting tersebut. Dan aku pun melakukan hal yang ku mau.


...*****...


Farhan Liam Ma'ruf


.


.


.


Aku terbangun dari tidurku, karena aku terjatuh dari sofa. Sedikit sakit di bagian punggungku namun aku lekas bangun dan duduk kembali di sofa. Aku melihat ke arah tempat tidur yang kosong.


Aku kaget dan langsung ke tempat tidur tersebut. Aku melihat ke arah kamar mandi dan langsung membukanya tanpa peduli dia sedang apa. Aku kaget saat melihatnya di depan cermin dan aku pun memegang tangannya.


"Apa yang kau lakukan, dasar gila."


Aku pun memarahinya dan membentaknya. Dia menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arahku.

__ADS_1


...*****...


Dimas sedari tadi hanya diam, ingin melihat ke dalam, namun tak ingin ketahuan oleh Fiya. Perasaannya tak tenang saat mendengar Farhan berteriak.


Sementara di dalam kamar mandi. Fiya sudah memotong sebagian rambutnya dan tepat di bawah telinganya. Fiya menangis saat melihat Farhan mencegah tangannya. Di hempasnya dengan keras tangan Farhan. Farhan mengambil guntingnya dan memegangnya.


"Kenapa lo ngelakuin hal ini?" tanya Farhan dengan keras.


"Apakah lo sadar malam ini?" tanya Fiya yang balik membentaknya.


"Tentu saja gue sadar. Untuk apa lo ngelakuin semua ini?" tanya Farhan sekali lagi.


"Gue udah nggak tahan dengan rambut panjang ini. Dengan rambut panjang ini, di pikiran gue hanya Dimas, Dimas dan Dimas. Gue pengen banget potong rambut ini dan melupakan semua kenangan bersama dengan Dimas." ucap Fiya dan mengambil gunting yang di pegang oleh Farhan.


"Apa dengan memotong rambut lo, Satya bisa kembali? Apa hanya dengan memotong rambut semua kenangan lo dengan Satya menjadi hilang?" ucap Farhan dengan nada emosi.


"Buat apa lo peduli sama gue Hah.. Perlakuan lo ke gue, sama seperti yang Dimas lakuin ke gue. Dan satu hal lagi, lo udah terlambat mencegah gue."


Fiya melanjutkan memotong rambutnya yang hanya tinggal sedikit dan menjatuhkannya tepat di depan Farhan. Rambutnya berserakan di lantai kamar mandi, namun Fiya meninggalkannya dan keluar dari kamar mandi tersebut.


"Mau sampai kapan lo terus kaya gini? Lo potong rambut lo malam-malam karena lo mau nyamar dan pergi dari sini bukan?" ucap Farhan yang membuatnya terhenti.


Fiya hanya mendengarkannya dan kemudian kembali berbaring di ranjang tanpa mempedulikannya. Farhan yang merasa kesal, akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi tersebut dan juga kamarnya. Dia membanting pintu dengan keras dan kemudian duduk di sofa depan.


Farhan mengeluarkan ponselnya dan kemudian menghubungi sahabatnya beberapa kali hingga akhirnya dia berhasil menghubunginya.


"Hallo Arya , ini gue. Tolong cari alamat Safiya Khanza Ayunindya sekarang juga, dan besok pagi harus nemu dimana alamatnya." ucap Farhan tanpa basa basi.


"Khanza bos? Siapa dia?" tanyanya dengan bingung.


"Dukun, udah cepetan cariin." ucap Farhan lagi.


"Dukun? Siapa si bos? Kayaknya bos belum nyeritain semua deh ke gue." jawabnya.


"Jangan pura-pura lupa deh, gue udah pernah nyeritain dia, yang selalu nyembuhin orang kesetanan di sekolah, termasuk gue dulu." ucap Farhan.


"Oohh dia bos, kenapa cari alamat dia bos?" tanyanya lagi.


"Nggak usah banyakan nanya, pokoknya cepet cariin dan sehabis subuh gue harus dapet infonya."


Farhan lekas menutup teleponnya dan memutuskan untuk begadang semalaman untuk mencari alamat Fiya. Dimas yang duduk di sampingnya hanya tertegun saat melihatnya begitu peduli dengan Fiya.


//**//

__ADS_1


__ADS_2