Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
103. Membatalkan pertunangan


__ADS_3

Kini teman-teman Fiya semakin banyak. Untuk belajar kelompok pun, mereka sering kompak satu sama lain, tanpa lagi membahas tentang suatu kelebihan Fiya.


Mereka berkumpul di perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompok.


"Bentar ya, aku coba cari bukunya dulu."


Fiya bangkit dan mencari beberapa buku sebagai referensi. Fiya mengambil beberapa buku dan bertumpuk di tangannya. Jennie yang tak jauh dari sana hendak menjahilinya, namun Farhan datang dan menghalanginya.


"Mau apa kamu?" tanya Farhan dengan sedikit galak.


"Eh.. Farhan. Biasalah tuh si dukun, mau gangguin, yuk... Kamu kan juga benci sama dia."


"Itu nggak perlu, justru gue yang benci sama lo."


Farhan langsung meninggalkannya dan membantu Fiya membawa buku-buku yang ada di tangannya dan menggenggam tangannya. Jennie merasa cemburu, dan ketika mereka hendak melewatinya, Jenni menghalanginya.


"Lo kan tunangan gue, lo di pelet lagi ya sama dia."


"Itu kan perasaan lo, tapi gue nggak."


Farhan kembali menarik tangan Fiya yang hanya kebingungan. Jennie sekarang semakin geram dan semakin kesal. Farhan mengantar Fiya kembali ke tempat duduknya bersama dengan teman-temannya dan meletakkan buku yang di bawanya ke meja di depannya.


"Belajar yang rajin."


Farhan mengacak rambutnya dan membuat Fiya risih di depan teman-temannya. Farhan pun pergi dari hadapannya.


"Cie.. Yang di perhatiin raja sekolah." ledek Novi.


"Isshh.. Yang ada malah serasa jadi orang ke tiga. Dan ntar jadi bahan gunjingan." jawab Fiya.


"Eh, tapi bagaimana Farhan jadi bisa deket sama lo sampe segitunya. Dia kan cowok yang terkenal dingin dan cuek." pikir Mia.


"Ada kisah di balik semua itu, dan kalian nggak bakalan percaya kalau aku ceritain. Jadi, biarlah itu menjadi kisah misteri."


Tanpa basa basi lagi, mereka langsung membuka buku-buku yang di bawa Fiya dan mengerjakan tugas yang sempat tertundanya.


...*****...


Pulang sekolah Fiya menunggu kembali jemputan untuknya ke rumah Fiya. Mobil Farhan datang bersamaan dengan mobil jemputan Fiya. Farhan pun turun dari mobilnya dan sang supir hanya duduk diam di dalam mobilnya.


"Nindya, sama aku aja. Bapak bisa pulang duluan." ucap Farhan.


"Nggak Liam, pak supir udah datang aku nggak enak."


"Nggak papa, sama aku aja." Farhan menggandeng tangan Fiya.


"Ssaaayyaanngg...." Jennie datang dan langsung menggandeng lengannya yang sedang menggenggam tangan Fiya dengan manja sehingga Fiya melepaskan genggaman tangannya.


"Kamu pulang sama Bianka saja, aku akan pulang dengan Khanza."


"E-enggak papa, lebih baik kamu pulang dengan Jennie. Dia kan tunangan kamu. Em... Aku terburu-buru, aku duluan ya..."


Fiya langsung masuk ke mobil sang supir yang menjemputnya dan lekas jalan dari tempat tersebut. Jennie senang dan menarik tangan Farhan untuk masuk ke mobilnya.


"Sayang, kita ke mall dulu ya, habis itu makan siang." ucap Jennie dengan manja.


"Serah." jawab Farhan dengan malas.


Dia melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai di mall yang diminta oleh Jennie. Di mall sendiri, Jennie menggandengnya dengan mesra dan membawa Farhan ke sana kemari sehingga membuatnya lapar.


"Jen, gue ke belakang sebentar. Lo pilih pilih dulu aja."


Jennie mengangguk dan membiarkannya pergi. Dan Farhan bukan pergi ke kamar mandi, tetapi ia memilih untuk pergi dari mall tersebut meninggalkan Jennie sendirian.


Jennie sibuk sendiri hingga tak menyadari waktu telah berlalu sekitar setengah jam dan masih sibuk di tempat tersebut sambil menunggu Farhan datang.


"Ck.. Kok Farhan lama banget si.. Udah setengah jam. Atau jangan-jangan dia lagi makan."

__ADS_1


Dia langsung menuju ke restoran yang tersedia di mall tersebut, namun dia tidak mendapati Farhan sehingga membuatnya kesal.


"Ck.. Farhan dimana si?" gerutunya.


Dia pun mengambil handphone di tasnya dan menelepon Farhan, namun handphonenya tidak aktif sama sekali. Jennie semakin kesal dan geram dan pasrah. Dia hendak pergi dari tempat tersebut, namun Arya mencegatnya.


"Lo cari Farhan."


"Iya. Loh kok lo bisa tau?"


"Dia yang meminta gue untuk jemput lo di sini. Walaupun sebenarnya gue malas, tapi ya udah lah nggak papa. Lumayan juga gue jadi kerja."


"His.. keterlaluan banget si dia."


Jennie pun melangkah pergi dari mall tersebut dan memesan taksi sebelumnya. Arya merasa lega karena Jennie memilih pergi sendiri.


Di rumah Farhan, Farhan datang dengan keadaan merasa bersalah. Dia pun mendekati Fiya yang sedang mengajar Bastian dan duduk di sofa yang kosong.


"Nggak jalan sama Jennie?" tanya Fiya.


"Nggak, bosen."


Farhan mengeluarkan bungkus eskrim dari kresek yang di bawanya dan memberikannya kepada Bastian.


"Nih buat kamu, yang satunya buat kak Khanza. Belajar yang rajin." Farhan mengelus rambut Bastian dengan gemas dan penuh dengan kasih sayang.


Bastian sedikit kaget dan ia pun menerimanya dengan ragu-ragu. Mama Ifa juga sedikit bingung dengan sikap Farhan yang tiba-tiba berubah.


"Farhan, kamu ke sini." ucap mama Ifa dengan senang.


"Aku lapar, aku mau makan siang." jawab Farhan.


"Khanza, Bastian. Mamah ke sini juga untuk panggil kalian makan sebaiknya kalian makan terlebih dahulu, biar mama yang simpan es krim tersebut di kulkas."


Mereka berdua mengangguk dan lekas berdiri. Fiya tersenyum kepada Bastian dan menggandeng tangan Bastian menuju ke meja makan.


Di tengah mereka makan bersama dengan tenang, seketika gaduh setelah Jennie datang ke rumah Farhan.


Farhan langsung bangkit dan menggeret tangannya dengan kasar hingga menjauh dari ruang makan. Mama Ifa yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Jennie yang tidak sopan. Fiya hanya meliriknya sebentar dan memilih untuk kembali makan makanan yang tersedia di hadapannya.


"Lo apa-apaan si. Lo katanya calon menantu di keluarga ini, tapi lo nggak ada sopan-sopannya sama sekali."


"Justru karena gue calonnya, gue bebas dong. Tapi lo bawa orang lain ke rumah ini, dan gue nggak terima."


"Khanza cuma jadi guru les Bastian. Dia nggak ada hubungannya sama gue. Dan, yang buat gue jauh dari lo itu karena sikap dan tindakan lo yang nggak punya etika. Mumpung belum terlambat, gue mau pertunangan kita di batalkan ...TITIK. Lo tau pintu keluar kan.."


Mama Ifa yang mendengar perkataan tersebut langsung ke ruang tengah dan melerai perdebatan mereka berdua.


"Farhan, kamu jangan mengada-ada."


"Nggak mah, aku nggak mau bertunangan dengan dia yang nggak punya sopan santun. Mumpung belum terlambat mah."


"Tapi, bagaimana dengan nasib bisnis papah kamu yang di bangun dengan orang tua Jennie."


"Bisnis masih bisa di perbaiki. Lagipula semua miliknya adalah hasil curian bukan."


Jennie sekarang sangat kesal dan dia pun keluar dari rumah Farhan tersebut. Mama Ifa sangat khawatir dan bingung dengan apa yang di lakukannya sekarang, sehingga dia memutuskan untuk menghubungi ayahnya di kantor.


Fiya dan Bastian melihat dari kejauhan dan Fiya memutuskan untuk mengajak Bastian untuk belajar di kamarnya. Pukul setengah tiga sore, Bastian tertidur karena kelelahan. Dan Fiya pun memindahkannya ke tempat tidurnya dan membereskan meja belajar Bastian.


Fiya kemudian turun untuk pamit pulang, namun sekarang yang ia dapat hanyalah sebuah perdebatan diantara sebuah keluarga tersebut. Fiya bingung harus melakukan apa, sehingga dia pun memilih untuk mendekati mereka.


"Farhan!! Kamu harus bertanggung jawab atas hal ini. Bagaimana kalau bisnis papa bangkrut karena kamu?" tanya sang papa.


"Pah, aku tuh pusing tau nggak. Harus dihadapkan dengan sebuah pertunangan, apalagi aku masih duduk di bangku SMA. Pikiranku kacau semua karena dia selalu menggangguku, maka dari itu aku tidak pernah menjadi juara dalam kelas. Papah jangan hanya menyalahkan aku, tapi papa harus berfikir bagaimana perasaanku."


Farhan pun pergi dari hadapan mereka, begitu juga dari hadapan Fiya. Fiya melihatnya pergi dan kemudian mama Ifa langsung memegang pundaknya.

__ADS_1


"Khanza, maaf soal keributan tadi yang membuatmu tidak nyaman."


"Nggak papa tante, em.. Bastian sedang tidur di atas. Aku pamit ya tante."


"Kan udah mama bilang jangan panggil tante."


"I-iya mah, maaf. Kalau begitu Khanza pamit tante, eh.. Mah.."


"Iya udah. Hati-hati di jalan."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Fiya pun lekas pergi dan masuk ke mobil yang sudah menunggunya di depan rumah, dan ternyata itu adalah Farhan yang menunggunya.


"Loh, kok.."


Farhan segera melajukan mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Liam, kok lo yang antar?" tanya Fiya.


Farhan tak menggubrisnya dan memilih fokus kepada jalanan yang ia lalui di depannya dan membuat Fiya pasrah untuk tetap diam.


Farhan membawanya ke sebuah taman yang belum pernah mereka lewati pada masa itu dan membuat Fiya bingung.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Fiya.


"Apa yang aku lakuin udah bener belum si?" tanya Farhan.


"Nggak benar sama sekali."


"Kenapa?"


"Lo nggak bisa memutuskan secara sepihak. Itu hanya akan membuatmu semakin sulit untuk menemukan kebenaran dan bukti-buktinya nanti. Kamu harus berpikir dulu sebelum bertindak."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Datangilah ke rumahnya dan meminta maaf kepadanya. Dan satu hal lagi."


"Apa?"


"Kamu harus menjauhiku di sekolah, jangan sampai membuat Jennie dan yang lainnya curiga."


Farhan mengangguk paham dan mereka berduapun memutuskan untuk pulang. Farhan mengantar Fiya sampai ke rumahnya, kemudian setelahnya ia pergi lagi ke rumah Jennie.


Farhan melihat papanya memohon kepada orang tua Jennie, dan malah membuatnya kesal entah karena apa, namun dia merasa ada yang tidak beres dengan kedua orang tua Jennie.


"Saya mohon pak, saya akan membujuk anak saya untuk kembali kepada Jennie, anak bapak."


"Itu tidak perlu. Saya tadi bersikap seperti itu karena saya marah terhadap anak om yang kurang sopan santun dan membuatku tidak nyaman, sehingga saya memutuskan hal tersebut secara tiba-tiba dan tanpa pikir panjang."


Jennie yang mendengarnya kaget dan langsung mendekatinya hingga di depannya persis.


"Lo cuma pura-pura agar lo nggak bangkrut kan?"


Farhan membelai rambut Jennie dengan lembut. "Aku sungguh tadi aku tak bermaksud menyakitimu."


"Baiklah, aku memaafkanmu, tapi janji. Kamu nggak akan dekat dengan Khanza lagi."


Farhan tersenyum paksa dan rela di peluk oleh Jennie, padahal sebenernya ia enggan untuk dipeluknya terutama memeluknya.


...******...


Dimas merasakan hal tidak enak di dalam dirinya. Semakin hari rasanya semakin berat untuk dia jalani. Semakin hari ia juga merasakan dirinya akan menghilang.


"Jangan sampai hubungan Farhan dan Fiya semakin renggang. Aku tak mau itu terjadi. Namun kali ini, aku merasa ada yang aneh dan sepertinya akan ada seseorang yang akan kembali mengusik hidup mereka berdua melalui hal mistis."

__ADS_1


Dimas berdiam di kamar Fiya sembari menunggu Fiya pulang dan memikirkan sesuatu hal yang menurutnya menjadi sebuah misteri.


//**//


__ADS_2