Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
72. Hukuman


__ADS_3

Di sekolah sendiri guru olahraga dan guru agama memanggil seluruh siswa dan siswi kelas 11 untuk pergi ke tengah lapangan upacara. Ada yang mencuri kesempatan untuk kabur, namun kedua guru tersebut terlebih dahulu mencegahnya. Kelas 10 dan kelas 12 hanya menyaksikan dari sekitar terdekat mereka, entah itu dari balkon kelas dan bahkan di sekitar lapangan.


Seluruh anak-anak kelas 11 di bariskan kecuali dengan Feni karena sang guru percaya Feni tidak akan melakukannya kepada Fiya karena dia adalah sahabatnya. Dan kemudian yang lainnya diberikan pelanggaran untuk push up dan juga squat jump. Setelahnya mereka juga di siram air oleh sang guru olahraga melalui pipa air yang panjang.


"Loh.. Pak kok kita disiram? Ini nggak adil namanya.." protes Bianka.


"Nggak adil?! Lalu apa yang kalian lakukan kepada Khanza itu perlakuan adil? Ini bapak baru menyiram air saja kepada kalian, sedangkan Khanza apa saja yang kalian siram? Air dan tepung bukan?" ucap guru olahraga menggunakan microfon yang telah di sediakannya.


Mereka semua menunduk dan terlihat kecut. Guru olahraga pun kembali menyemprotkan tepung di bantu para siswa dan siswi kelas 10 dan 12 yang menyaksikan aktivitas tersebut menggunakan sebuah alat begitu juga dengan sang guru olahraga dari bagian atas. Beberapa kilo mereka sengaja membeli tepung dan alat untuk memberikan semua muridnya pelajaran.


Murid-muridnya mengeluh dan merengek, namun guru olahraga dan guru agama tetap melakukan apa yang mereka inginkan. Guru-gurunya yang lain yang melihatnya hanya bisa diam dan bingung harus melakukan apa, hingga mereka juga terkena semprotan tepung tersebut.


"Silahkan protes lagi... Inilah buah yang kalian dapatkan setelah apa yang kalian tanam dan perbuat kepada Khanza!! Yang kalian perbuat tidak seharusnya dan selayaknya seperti itu. Coba kalian pikir, jika kalian yang ada di posisinya. Apakah kalian akan terima? Kalian ini sudah dewasa tak seharusnya bertindak semena-mena terhadap teman kalian. Dan.. Roda itu terus berputar dan suatu saat nanti orang yang kalian pijak akan lebih tinggi derajatnya daripada kalian... Lalu, coba kalian pikir bagaimana jika sampai kalian meminta bantuannya setelah apa yang telah kalian berbuat kepadanya? Apakah kalian tidak malu meminta bantuan kepada orang yang kalian pijak tersebut? Malu bukan? Karena sesungguhnya orang yang menginjak-injak harga diri orang lain harga dirinya lebih rendah dari orang yang kalian injak. Ingat itu baik-baik." ceramah sang guru agama.


"Tapi bapak juga sama saja menginjak-injak kami, itu berarti harga diri bapak juga lebih rendah dari kami?" ucap salah satu murid di tengah-tengah barisan.


"Posisi bapak dengan kalian itu tak sama. Bapak disini berperan sebagai orang tua kalian dalam sekolah. Jika kalian berbuat suatu kesalahan, maka bapak berhak memberikan kalian pelajaran agar kalian sadar dan tidak merusak masa depan agama, bangsa dan negara yang saling berhubungan. Dan... Apabila kalian akan mengadukan hal ini kepada orang tua kalian, silahkan saja, bapak tidak akan takut. Bapak juga akan terima apapun konsekuensinya karena bapak benar mengajari kalian akhlak untuk saling menghormati satu sama lain." tambah sang guru agama.


Guru olahraga hanya mengangguk-angguk mendengarkan ceramah dari guru agama dan kemudian mengambil alih microfon yang di pegangnya.


"Kalian sekarang berdiri tegak disini hingga bel istirahat berbunyi."


Ketika mama Ova sampai di sekolah dia langsung masuk ke ruang guru, keadaanmya sepi. Aldi yang juga sampai di ruang guru juga kaget karena tidak ada guru sekalipun.


"Kemana semua guru? Apa mereka kabur?" ucapnya bingung.


Kemudian mereka berduapun mendengar keributan dari lapangan upacara dan kemudian pun mereka menuju ke arah keributan. Mereka berdua kaget karena saat mereka sampai mereka begitu kotor karena tepung dan juga sedikit basah. Guru olahraga yang melihatnya datang pun segera menyambutnya.

__ADS_1


"Saya tau maksud kedatangan ibu ke sini. Saya sudah urus semuanya, dan ibu tenang saja semua sudah beres."


"Terimakasih pak atas pengertiannya."


Feni yang melihat kedatangan mama Ova pun menghampirinya dengan senang dan langsung memeluknya.


"Mama Ova.." panggil Feni.


"Feni, sudah lama nggak main ke rumah."


"Iya mah. Sekarang mama udah nggak repot lagi, semuanya sudah beres sekarang."


"Pulang sekolah nanti, kalian berdua ke rumah mama ya.." ajak mama Ova.


"Iya, kami akan datang." jawab Feni dengan senang.


"Feni ajak beberapa anggota PMR kamu yang dari kelas 10 untuk membantu bapak, dan Aldi kamu antar ibu Khanza ya dan langsung balik ke sini, jangan mampir-mampir loh." perintah sang guru olahraga.


Aldi pun kembali mengantarkan mama Ova ke rumahnya. Karena perintah dari gurunya untuk tidak mampir, Aldi langsung kembali ke sekolah.


Feni dan Aldi kembali sibuk karena perintah dari sang guru agama untuk membuat surat undangan kepada seluruh orang tua di sekolah tersebut. Feni memerintahkan orang terpercayanya yaitu Ayu, Gilang Bagas, Vella dan Daisy untuk membantunya dan dengan senang hati mereka menurutinya.


Anak-anak kelas 11 masih diam di tempat dan sedangkan kelas 10 dan 12 memiliki jam bebas karena para gurunya sibuk membersihkan dirinya dari tepung. Sungguh hari yang begitu mengejutkan.


Sekitar pukul 11 siang, semua murid di pulangkan setelah di berikan undangan untuk orang tua masing-masing untuk datang ke sekolah pada hari yang telah ditentukan.


Aldi dan Feni pun juga langsung mampir ke rumah Fiya seperti apa yang diperintahkan oleh mama Ova. Mama Ova dan Fiya tengah menunggu di ruang keluarga sambil memakan camilan dan bercanda.

__ADS_1


"Sungguh mah... Mereka penuh dengan tepung?" tanya Fiya tak percaya dengan apa yang di ceritakan mamanya.


"Iya, guru-guru kamu juga kotor semua kecuali dua guru."


"Tapi kasian juga yang nggak ikutan bully jadi kena getahnya juga."


Tak lama kemudian, Aldi dan Feni pun datang ke rumahnya sebelum jam makan siang. Seketika rumah Fiya langsung heboh karena kedatangannya ke rumah Fiya.


"Khanza..."


Fiya yang mendengar teriakan dari Feni langsung melihat ke sumber suara dan kemudian langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke arahnya.


"Akhirnya lo datang. Tapi tumben pulangnya cepet."


"Pasti mama udah ceritakan, ya intinya begitu semuanya di hukum terus di kasih undangan terus disuruh pulang." jawabnya.


"Emang awalnya gimana si? Coba ceritain deh..."


"Udah ada sahabat lupa sama gue yang cowo sendirian." ucap Aldi iri.


"Ya maap. Ya udah kalian duduk terus ceritain ke gue gimana ceritanya."


Mereka bertiga langsung duduk di ruang keluarga dan menceritakan tentang kejadian di sekolah. Sesekali Fiya tertawa dan terkadang merasa sedih karena orang yang tidak bersalah menjadi korban dalam akibat dari perundungan yang terjadi kepadanya. Dan tak berhenti sampai disitu, Feni menceritakannya hingga makan siang berlangsung.


"Untung cuma air sama tepung. Kalau sama telur tinggal di tambah gula jadi kue dong hahahaha..."


"Telur mahal Za, makanya nggak pake telur." jawab Feni.

__ADS_1


Fiya mengiyakan sambil tersenyum dan kemudian kembali melanjutkan makan siangnya bersama dengan yang lainnya.


//**//


__ADS_2