Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
78. Mencari kakak baik hati


__ADS_3

Farhan memegangi kepalan bagian depannya sehingga Fiya pun panik dibuatnya.


"Eh.. Lo setan mana bisa kesakitan."


"Mungkin nggak bereaksi di gue, tapi nggak tau di raga gue yang asli."


"Kebiasaan banget. Udah, mending lo sekarang ke rumah Jennie dulu. Nanti, kalau Dimas balik, gue akan beritau dia setelah dia nemuin gue."


Farhan mengangguk dan lekas menghilang dari pandangan Fiya. Sementara itu, Fiya kembali melajukan mobilnya dan pulang ke rumahnya.


...******...


Bastian yang baru sampai di rumahnya langsung di sambut baik oleh mamanya dan Bastian langsung dipeluknya.


"Kamu sudah pulang."


Bastian hanya mengangguk sambil memakan eskrim yang di pegangnya.


"Mama akan ke rumah sakit lagi?" tanya Bastian.


"Iya, kamu di rumah sama bibi ya..."


"Oiya, tadi aku lupa nggak nanya namanya. Namanya siapa ya bi?" tanya Bastian dengan polos.


"Saya juga nggak tau tuan."


"Nggak tau namanya? Kamu kenalan sama siapa?" tanya mamanya penasaran.


"Tadi, Bastian nggak sengaja lempar bola ke kakak di taman bermain, terus aku takut aku dimarahin. Tapi ternyata kakak itu tau baik hati dan aku di beliin eskrim karena kakak itu tau aku ketakutan." ucap Bastian.


"Oohh.. Mama akan mencari tahunya hanya untuk kamu. Sekarang kamu ke kamar dan mandi ya.. "


Bastian pun mengangguk dan tersenyum untuk masuk ke kamarnya. Dan mama Ifa pun keluar untuk menemani raga Farhan di rumah sakit. Sebelum ia masuk, ia pun memerintahkan Arya untuk mencari tau orang yang di maksud oleh Bastian.


"Hallo Arya, tante mau minta tolong. Carikan orang yang di maksud Bastian hari ini. Tante belum tau pasti ciri-cirinya, tetapi dia menemuinya di taman bermain tadi." ucapnya.


"Iya tante, akan segera saya laksanakan. Dan saya akan tanyakan langsung pada Bastian nanti."


Mama Ifa pun mematikan teleponnya dan masuk ke mobilnya. Arya yang mendapat perintah dari mama Ifa langsung mengambil kunci mobilnya dan menuju ke rumah Farhan untuk menemui Bastian. Sebelum ia sampai, ia menyempatkan membelikan mainan untuk Bastian agar bisa menanyakannya secara baik. Begitu ia sampai, Bastian langsung turun dari kamarnya karena terdengar jelas dari kamarnya deru mobil Arya yang berbeda. Dia langsung turun menemuinya. Bastian langsung memeluknya dengan senang karena sifatnya yang begitu lembut, tidak seperti kakaknya, Farhan.

__ADS_1


"Nih.. Buat kamu..." Arya memberikan hadiah yang sempat di belinya. Bastian langsung menerimanya.


"Waahh.... Terima kakak. Em.. Kakak pasti ke sini karena di telepon mama kan?" tebak Bastian.


"Iya, memang orang seperti apa yang kamu cari? Apa dia anak perempuan?" tanya Arya.


"Dia seumuran dengan kakak, tetapi aku lupa menanyakan namanya. Bisakah kakak menemukannya untukku?" tanya Bastian dengan penuh kepercayaan.


"Memang apa istimewanya kakak yang kamu temui itu?" tanya Arya penasaran.


"Dia baik, cantik dan lucu. Dia sepertinya gemas dengan rambutku, karena kakak itu selalu membelai rambutku."


"Bisakah kamu memberikan ciri-ciri kakak tersebut."


Bastian pun menyebutkan ciri-ciri wanita yang di maksudnya. Arya mendengarkannya dengan baik dan memahami ciri-ciri wanita yang di katakan oleh Bastian. Bastian tak yakin Arya mengerti dengan ciri-ciri orang yang ia maksud akhirnya dia menggambarkannya beserta dengan keterangannya lalu memberikannya kepada Arya. Arya tersenyum melihat orang yang di gambar Bastian.


"Kakak akan meminta bantuan dari teman kakak, karena dia perempuan, pasti teman kakak hafal dan tau dengan kakak yang kamu maksud ini."


Bastian pun tersenyum dan Arya pun lekas pamit. Kemudian dia pun menelepon Fiya kali ini untuk meminta bantuannya. Setelah menelepon, Fiya menyuruhnya untuk datang ke rumahnya, dan tanpa ragu ia pun menurutinya. Mama Ova yang ada di rumah hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kedatangan seseorang laki-laki yang lumayan tampan masuk ke rumahnya.


"Assalamualaikum tante, saya Arya teman Khanza." Arya menyalaminya dan mama Ovapun membalasnya.


Arya pun duduk di ruang tamu, dan Fiya pun membawakan sirup rasa jeruk serta beberapa camilan untuk Arya.


"Memang tidak ada tempat lain yang lebih privat gitu?" tanya Arya yang merasa kurang nyaman.


"Ada kok, mau di balkon?" tanya Fiya.


Arya mengangguk dan Fiya pun bangkit serta membawa makanannya ke balkon yang ia maksud. Begitu pintu di buka, di sisi kanan dan kirinya terdapat rak buku besar sedangkan bagian tengahnya hanya ada karpet. Dan di depannya terdapat sebuah kaca besar yang menghubungkan langsung ke balkon dan terlihat pula pemandangan dari dalam. Fiya yang kesulitan menggeser pintu, di bantu oleh Arya dan langsung menaruh barang yang di bawanya di meja yang sudah di sediakan di tempat tersebut.


Hembusan angin langsung Arya rasakan, dan pemandangan atap rumah yang ada di sekitarnya juga terlihat jelas dari tempat tersebut. Fiya duduk di meja dan menyeruput sirup yang dibuatnya sembari makan camilan yang menemani minuman tersebut.


"Lo jadi bicara ama gue atau cuma mandangin atap rumah-rumah itu?"tanya Fiya.


Arya yang mendengarnya langsung duduk di kursi yang tersisa. Arya langsung mengeluarkan kertas buku gambar yang dilipatnya yang tersimpan di dalam jaketnya lalu diberikan kepada Fiya. Fiya yang sedang minum bingung dan meletakkan gelas minumannya lalu menerima kertas tersebut. Fiya pun membuka kertas tersebut, namun Fiya bingung dengan tulisan dan gambar yang tertera di dalamnya.


"Rambut pendek, cantik, berkacamata, baik hati, penolong, suka memegang rambut. Apa ini maksudnya?" tanya Fiya.


"Ada seseorang yang mungkin kamu belum tau, dan gue butuh bantuan lo soal ini."

__ADS_1


"Seseorang yang belum tau dan bantuan? Maksud lo."


"Orang yang di gambar ini, lo harus bantu gue cari dia." Arya menunjuk gambar yang ada di dalam gambar tersebut.


"Memangnya ini gambar siapa?"


"Ini gambar adik Farhan, dan dia memintaku untuk menemukannya untuknya." jelas Arya.


"Oohh... Dari Bastian...Hehehe..." Fiya tertawa membuat Arya bingung.


"Loh, kok lo kenal?"


Fiya pun mensejajarkan gambar tersebut tepat di samping wajahnya. Arya masih bingung dan melihatnya satu persatu.


"Maksud lo apa?"


"Tidakkah gue dan orang yang ada di dalam gambar ini mirip."


Arya melihatnya dengan jeli dan kemudian menepuk jidatnya sendiri.


"Jadi lo kakak yang dia maksud. Bastian pengen tau nama lo karena nggak sempet nanya sama lo."


"Oohh... Karena itu. Gue akan nemuin dia besok, lo jangan kasih tau apapun ke dia tentang gue. Gue mau kasih dia kejutan besok. Gue yang simpan gambar ini."


"Tapi, bagaimana jika ortu Farhan tau orang yang di maksud Bastian itu lo?" tanya Arya gelisah karena takut Fiya akan disalahkan.


"Lo tenang aja, gue masih punya banyak solusi tentang itu. Dan dengan cara ini pula, gue bisa bantu Farhan."


"Maksud lo? Memangnya apa yang terjadi dengan Farhan?"


"Sebenarnya di samping raga Farhan itu ada makhluk menyeramkan yang membuat Farhan tak kunjung sadar dari komanya. Dan dengan cara gue dekat dengan adiknya, gue bisa nolongin Farhan."


"Kenapa lo nggak bilang dari awal ke gue. Gue juga bisa bantuin lo nuntasin masalah itu Khanza. Lo juga nggak bakalan bisa melawannya sendirian kalau lo pendem sendiri masalah tentang itu. Dan dengan begitu kita juga bisa langsung ngomong ke ortu Farhan."


"Kita tidak bisa langsung memberitahukannya. Keluarganya tidak akan mungkin langsung percaya dengan apa yang aku katakan kecuali dengan bukti yang kuat. Dan gue mau kita susun rencana buat esok hari."


Arya mengangguk dan menyetujui permintaan Fiya. Fiya pun menyusun rencana yang di buat bersama dengan Arya dan penuh dengan pemikiran yang matang.


//**//

__ADS_1


__ADS_2