
Musim ulangan tengah semester dimulai. Feni duduk di depan Fiya dan Dimas duduk di depan Dimas di ruangan yang sama, sedangkan Aldi berada di ruangan yang berbeda karena berada di absen awal.
Segala cara mereka lakukan untuk bekerja sama. Entah dari saling meminta bolpoint, tukar jawaban, atau dengan jawaban nyeleneh lainnya agar mereka tidak ketahuan bekerja sama. Dan seperti yang mereka lakukan saat ini.
"Khanza, Satya ngapain kalian?" tanya bu guru karena melihat Fiya dan Dimas sedang saling menunduk.
"Anu bu, bolpoint saya jatuh dan minta tolong Dimas buat ambilkan." jawab Fiya sebagai alasan sambil menggaruk-garukan dahinya.
"Kok bisa di belakang." tanya bu guru curiga.
"Iya bu, saya tadi garuk-garuk telinga pake bolpoint, eh.. Malah kebablas jatuh bu." jawab Fiya lagi.
Bu guru itu menurunkan kacamata yang di pakainya. "Jangan kerjasama ya." ucapnya.
"Yang penting bisa lulus sama-sama bu." jawab Fiya lagi.
"Khanza...." ucap bu guru itu sambil membenarkan kacamatanya.
"Canda bu..." jawab Fiya.
Fiya kembali melanjutkan mengerjakan ulangan tersebut sambil menahan senyum bersama dengan kedua temannya yang cekikikan diam-diam.
...*****...
Satu minggu telah berlalu, bersamaan dengan PTS yang sudah usai. Dimas mengajak Fiya jalan-jalan. Mereka jalan pada malam hari. Dengan susah payahnya mereka berdua meminta ijin kepada orang tua mereka, namun orang tua mereka akhirnya mengalah karena mereka berdua bersikeras untuk jalan pada malam hari namun dengan syarat jam 8 harus sudah di rumah.
"Akhirnya, bisa keluar juga. Mungkin kita satu jam debat sama orang tua kita." ucap Dimas di tengah-tengah perjalanan.
"Kalau kita pulang larut gimana?" tanya Dimas mengerjainya dan sontak mendapat geplakan di pundaknya.
"Sakit Fiya.." rintih Dimas.
"Makannya, jangan coba-coba yang macam-macam, kalau kamu macam-macam aku nekat lompat dari ni motor." Ancam Fiya.
__ADS_1
Fiya yang memeluk pinggang Dimas mengelusnya sambil tersenyum.
"Hehehe, aku minta maaf. Sekarang kita kemana?" tanya Dimas.
"Terserah kamu saja, yang terpenting kita jalan-jalan." jawab Fiya karena bingung dan saking senangnya karena berjalan berdua bersama Dimas.
Perjalanan mereka pun terhenti di sebuah jembatan yang pernah di lalui oleh Dimas sewaktu Fiya pernah kabur dari rumah.
"Waah... Bagus banget tempatnya, kamu tau darimana?" tanya Fiya penuh semangat.
"Waktu kamu kabur, aku ke sini. Bagus kan?"
Fiya mengangguk dan tersenyum melihat pemandangan indah air sungai yang tenang dan jalan yang ramai di seberang jembatan tersebut, juga ditambah pemandangan lampu kota dan beberapa gedung yang menjulang tinggi terlihat dari arah pandang mereka.
Merekapun kembali memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Mereka memesan makanan sederhana, yaitu hanya nasi goreng dan teh manis hangat.
"Fiya, ini malam pertama dan terakhir kita jalan-jalan malam, karena pasti kedepannya pasti nggak di bolehin sama orang tua kita." ucap Dimas di sela-sela makannya.
"Mana mungkin bisa Fiya, tau sendiri kan kita mati-matian ijin ke orang tua kita, besok-besok pasti nggak akan bisa." ucap Dimas.
"Kita usahakan oke, jangan sampai ini adalah malam terakhir kita jalan malam bareng, habis ini kita kemana?" tanya Fiya.
"Ya pulang, nanti aku juga yang kena ceramahnya. Atau mau di ceramahin aja sama-sama." ledek Dimas yang mendapat geplakan lagi di pundaknya.
"Jangan lah.. Ya udah cepetan ayo.." ucap nya sambil Fiya mengguncang tubuh Dimas.
Dimas mempercepat makannya dan begitu pula Fiya yang tidak mau kalah dengan kecepatan makan Dimas hingga Fiya belepotan di sekitar mulutnya dan Dimas yang membersihkannya.
"Walaupun Dimas tak mengatakan cinta kepadaku, tetapi aku merasa aku lebih dari seorang sahabatnya. Ternyata menyenangkan memiliki sahabat sepertinya." batin Fiya.
Di saat mereka pulang, kedua keluarganya menunggu di ruang tamu di rumah Fiya. Mereka berdua hanya menunduk setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih 15 menit. Semua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya.
"Telat 15 menit, kalian dari mana aja?" tanya papa Kenzo tegas.
__ADS_1
Fiya dan Dimas masih menunduk seperti anak yang membuat kesalahan, memang mereka salah karena pulang tidak tepat waktu.
"Kenapa kalian hanya menunduk? Kalian kemana saja sampe telat 15 menit? Jawab.." ucap papa Brian yang sudah marah.
Fiya menghela nafas panjang dan mulai melihat orang orang yang di depannya dengan perasaan takut. "Mama, papa yang tercinta. Kami nggak kemana-mana. Mau buktinya?"
Fiya pun mengeluarkan ponselnya yang di simpan di kantungnya. Dan mulai menyalakan handphonenya lalu membuka galerinya yang berisikan foto bersama Dimas di tempat-tempat yang mereka lewati. Para orangtua langsung berdiri dan mengelilinginya.
"Ini di jembatan." dia pun membuka rincian gambarnya.
"Nih liat, pukul 19.18. Kita di jembatan." jelasnya dan membuka foto berikutnya.
"Ini di restoran, pukul 19.31. Dan ini waktu kami mau pulang, pukul 19.48. Terus di jalan sedikit macet, jadi telat deh pulangnya." terang Fiya dan kembali memasukan handphonenya di sakunya.
"Mama percaya kalian nggak ngelakuin hal apa-apa. Mama tau kalian sahabat dari kecil, tetapi kami juga harus mewanti-wanti kalian karena umur kalian juga sudah mulai dewasa." ucap mama Ova sambil mengelus pundak mereka berdua.
"Iya mah, maafin Dimas karena nggak bisa mengantarkan Fiya tepat waktu." ucap Dimas merasa bersalah.
"Sudah tak apa?" jawab mama Ova.
"Papa sama papa Kenzo nggak marah lagi kan. Muka papa sama-sama merah, mending dinginin yuk sama martabak, Fiya bawa martabak manis sama martabak telor. Yang cocok buat para papa martabak manis biar hatinya juga ikut manis, tapi jangan kebanyakan juga, nanti kadar gula darahnya naik." ucap Fiya sambil mencairkan suasana dan menggiring para orang tua duduk di ruang tamu.
...*****...
Dimas dan Fiya berangkat pagi seperti biasa. Tak ada istimewa hari-hari mereka, namun sekarang yang berbeda adalah sapaan dari adik-adik seangkatan Fiya yang sudah mulai menghargai mereka.
Hari ini mereka mendapatkan kabar tentang kedekatan Gilang dan Ayu. Mereka primadona kelas 10, namun kebanyakan para siswi mengejar Dimas, Aldi dan Farhan yang baru kelas 11, bahkan kelas 12 juga ada yang mati-matian mencoba menyingkirkan Fiya, namun karena Dimas orang yang setia, dia selalu menjaga Fiya.
Hari-hari Fiya begitu cerah semenjak kehadiran Dimas di sisinya hingga mereka tak sadar sudah 4 bulan melewati semuanya. Tak hanya mereka berdua, kadang Aldi juga menemui Fiya, namun waktunya masih kalah dengan waktu Dimas yang selalu di sisinya.
Hingga suatu ketika Dimas dan Aldi memutuskan untuk bertemu di atap sekolah. Dimas hanya mengikuti kemauan Aldi saja. Dia mendapati Aldi tengah menunggunya di atap sekolah.
//**//
__ADS_1