Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
69. Tuyul


__ADS_3

Fiya pun turun dan terlebih dahulu menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dia pun mengelapnya menggunakan sapu tangan yang ada di sakunya. Dan dia pun berbalik. Dan dia kaget pada saat melihat Farhan sudah tepat berada di depannya.


"Eh.. Alibaba.." ucap Fiya kaget.


"Kenapa kaget begitu? Gue bukan hantu."


"Kan lo arwah yang raganya di rumah sakit. Ya.. Sama aja lo hantu."


"Dasar."


"Minggir, gue mau ke kelas."


"Udah kelar urusan sama Dimas?"


Pertanyaan Farhan membuat Fiya berhenti tepat di depannya.


"Memang kenapa? Lo cemburu atau cuma sekedar kepo?"


"Dih.. Gue cemburu sama lo? Nggak bakalan mungkin lah.."


"Emang lo dukun... Menyebalkan..."


Fiya pun meninggalkannya dan membanting pintu kamar mandi dengan keras dan berlari menuju ke kelasnya.


"Gue dukun? Dia kali.. Dasar gila." umpatnya.


Kemudian dia pun pergi ke atap lagi untuk menemui Dimas. Dimas masih di sana dan duduk di pinggiran sekolah. Aldo juga mendatangi mereka. Farhan melihatnya dan kemudian memberikan isyarat agar menemani Dimas.


Aldo dan Farhan pun duduk di sampingnya dan membuat Dimas berada di tengah. Dimas menghela nafas panjang dan mengayunkan kaki kanan kirinya ke depan dan ke belakang.


"Kenapa sedih begitu bro?" tanya Farhan.


"Lo masih punya harapan untuk hidup. Gue punya permintaan ke lo, jaga Fiya untuk gue ya."


Dimas memegang pundak Farhan. Farhan melihatnya dan membuang tangan Dimas dari pundaknya dan menghela nafas panjang. Aldo mulai merasa tidak nyaman dan kemudian memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


"Maaf, gue nggak bisa suka sama dia. Lagian, dia udah jadi milik lo. Khanza nggak bakal bisa jatuh cinta ke orang lain, apalagi kalau membagi cintanya dengan sahabatnya. Memang, lo udah tiada di mata orang biasa. Namun, Khanza bisa liat lo dengan mata istimewanya. Dan, itu merupakan anugerah yang tidak biasa."


"Bener yang lo katakan, gue nggak bisa dilihat orang lain, namun dapat dilihat di mata Fiya. Namun, bagaimana bisa gue yang seorang arwah biasa, bisa menjaganya dengan sepenuhnya. Yang ada, dirinya yang akan terancam. Dia pasti bisa mencintai orang lain, namun tidak akan pernah bisa melupakan gue sebagai sahabatnya. Dia bisa menerima orang lain untuk bersama dengannya. Gue di sini juga hanya untuk menemaninya hingga dia mendapatkan lelaki pengganti gue. Gue belum bisa pergi, sebelum tujuan gue terpenuhi di sini."


"Gue nggak bisa dan nggak mau. Lagian.. Khanza bukan tipe gue, dan... Kehadiran gue menjadi arwah, hanya jadi gangguan buat kalian berdua. Gue akan kembali ke diri gue, jadi jaga diri lo baik-baik."


Farhan hendak pergi dan menghilang, Dimas mencegahnya dan memegang pundaknya.


"Pasti yang lo pikirkan adalah lo yang kedua mendapatkan Fiya. Gue liat semuanya saat di apartemen lo, dan di saat handphone lo terjatuh. Dan... Lo bukan yang kedua, itu adalah hal pertama bagi Fiya, asal lo tau itu."


Farhan langsung mengingat-ingat kejadian dimana ia pernah mencium Fiya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya saat menangkap bayang-bayang Fiya di dalam pikirannya.


"Lo liat itu semua?"


"Gue liat semuanya karena tujuan gue ngelindungi Fiya dan mencarikannya teman baru. Gue nggak marah soal kejadian itu, tetapi entah jika Fiya tau." ucap Dimas.


"Lo jangan coba-coba bilang sama dia." ancam Farhan.


"Itu tergantung. Gue pergi dulu."


"Eh.. Lo mau kemana?"


Sedangkan Dimas pergi ke jembatan dimana dia pergi bersama dengan Fiya saat merasuki raga Farhan. Dimas menghela nafas dan menunduk, mengingat kebersamaannya bersama dengan Fiya.


Sementara itu, Farhan sampai di rumah sakit dia langsung berada di ruangan dimana raganya yang terbaring tanpa nyawa. Sungguh aneh rasanya bisa melihat dirinya sendiri terbaring lemah di atas ranjang kasur rumah sakit. Farhan berdiri di sampingnya dan memegang lengan dan wajahnya.


"Sungguh, aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa melihat diriku sendiri terbaring lemah di sini dan aku pun bisa merasakan diriku yang tak bernyawa."


Tiba-tiba, di saat dia memandangi raganya, ada yang memegang kakinya. Dengan gemetaran, dia melihat ke bawah dan ada dia melihat tangan pucat memegangi kakinya. Perlahan yang dia keluar dan ternyata adalah tuyul kepala botak dengan mata yang menghitam. Farhan ketakutan dan mulai bingung harus melakukan apa.


"T-t-tu-tu-yullll!!!!!......." Farhan berteriak dan berlari menembus ruangan tersebut.


Farhan melihat ke kanan dan kirinya. Dan dia pun bisa bernafas lega. Dia memejamkan matanya dan lagi-lagi ada yang memegangi kakinya. Dia membuka matanya dan perlahan melihat ke bawah.


"Yaaaakkkkk.... Tuyulllll!!!!....."

__ADS_1


Tuyul tersebut hanya cekikikan melihat Farhan yang ketakutan. Dan Farhan pun memutuskan untuk pergi kembali ke sekolah. Kali ini dia ada di kelasnya. Dia mendengar suara seseorang yang berlari di lapangan sekolah, dia pun keluar dan melihatnya. Dia terkejut saat Fiya tengah berlari di tengah lapangan bersama dengan Dimas yang setia menemaninya. Akhirnya dia pun turun untuk melihatnya. Dari kejauhan, banyak siswa dan siswi yang menertawakannya. Aldi dan Feni tengah panik dan cemas karena keringat Fiya sudah mulai bercucuran dari dahinya. Farhan juga tak tega melihatnya dan akhirnya pun ikut menemaninya berlari.


Sudah 10 putaran, akhirnya Fiya pun terhenti. Aldi yang melihat Fiya terduduk di pinggir lapangan, memberikan minuman kepadanya. Feni pun juga memberikan handuk kecil dari UKS. Fiya meminum minuman yang diberikan oleh Aldi hingga setengah botol. Lalu, ia pun mengelap dahinya dengan handuk yang dibawa oleh Feni. Fiya pun mencoba mengatur nafasnya dan jantungnya yang tidak beraturan secara normal. Bahkan dia juga menepuk-nepuk bahunya. Farhan dan Dimas hanya diam dan berdiri di belakang Fiya.


"Kalau sakit, ke UKS aja." pikir Aldi, namun Fiya menggeleng.


"Gue nggak papa kok... Huh... Udah yuk kita ke kelas." jawabnya sambil berdiri.


Aldi dan Feni juga berdiri. Feni yang sifatnya pengertian juga membantunya untuk berdiri.


"Terimakasih."


"Mending lo ke UKS. Lo kecapean, terlihat di wajah lo juga memerah banget."


"Nggak Fen, gue nggak papa beneran... Kalian jangan khawatir ya.. Em.. Gue ke kamar mandi dulu mau cuci tangan. Kalian ke kelas duluan aja." ucap Fiya.


Tanpa mereka sadari, ibu Mara tengah memperhatikan mereka. Bu Mara meletakkan tangan di pinggangnya dan menatap mereka tajam.


"Kalian bertiga sini... Cepat masuk ke kelas."


"Iya bu..." Mereka menjawab dengan kompak.


Aldi dan Feni hendak pergi untuk menaiki tangga, namun Fiya malah berlari ke sisi ibu Mara.


"Maaf bu, saya ijin ke kamar mandi terlebih dahulu." ucap Fiya ragu.


"Iya sudah sana, tapi jangan kabur loh.."


Fiya mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Aldi dan Feni hendak ikut bersama dengannya, namun ibu Mara menghadangnya.


"Mau kemana kalian?" tanyanya dengan tegas.


"Mau menemani Khanza bu." jawab Aldi.


"Dia bisa sendiri. Sekarang kalian balik ke kelas sekarang!!"

__ADS_1


Dengan terpaksa mereka berdua menurut. Aldi merasa kasihan kepada Fiya karena terlambat masuk pagi ini.


//**//


__ADS_2