Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
88. Tahun baru


__ADS_3

31 Desember, merupakan satu hari dimana esoknya adalah pergantian tahun. Berharap tahun selanjutnya akan berbeda dari tahun sebelumnya dan berharap lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun, semuanya terasa sama saja seperti biasanya. Tak ada yang berubah dan tak ada yang berarti.


Malam ini, di bawah sinar rembulan yang terang dan suasana lampu kota yang menghiasi malam dan suara kembang api dan cahaya yang ikut memeriahkan malam yang gelap, terasa ramai dan indah.


Keluarga Fiya berada di belakang rumah sambil menyalakan kembang api dan juga pesta barbeque sederhana yang di adakan oleh keluarganya dan beberapa pembantunya. Di saat mereka menikmati pesta, Fiya di panggil oleh teman-temannya di balkon ruang perpustakaannya.


"Mah, pah... Aku mau foto kalian dari atas, juga aku mau liat pemandangan dari atas ya."


Begitu orangtuanya mengijinkan, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah. Fiya memotret pemandangan di malam hari menggunakan ponselnya. Dia juga berselfi ria dengan teman-teman tak kasat matanya.


Pemandangan indah masih berlanjut, entah hingga pukul berapa. Dan, yang sekarang tinggal di balkon hanya ada Fiya dan Farhan yang saling menatap langit penuh dengan cahaya dimana-mana.


"Safiya Khanza Ayunindya." panggil Farhan.


Fiya mengerutkan keningnya bingung, karena tiba-tiba Farhan memanggilnya dengan nama lengkapnya.


"Kenapa manggil nama lengkap?"


"Andaikan aku manusia, pasti aku sudah menyempatkan kamu dalam hatiku. Perilaku dan kepribadianmu, membuatku tak tahan untuk terus bersembunyi. Dan... Apabila aku sembuh nanti, maukah kamu menjadi pengisi hatiku dan cahaya matahariku yang membuatku selalu bahagia saat bersamamu." ucap Farhan begitu serius.


"Maksud kamu apa? Kok jadi bucin begini?" tanya Fiya yang memecah suasana canggung tersebut.


Farhan mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya dan kemudian menarik tangan Fiya. Di pakaikannya gelang couple berbentuk matahari.


"Kenapa matahari?" tanya Fiya.


"Karena kamu matahari yang selalu menyinari hari-hariku dengan senyuman."


"Hahaha... Bucin banget... Niruin Bastian ya.." ledek Fiya.


"Aku serius. Dan apabila kamu tau maksud aku. Pakaikan gelang ini di pergelangan tanganku di ragaku. Apabila kau tolak, kamu bisa membuang gelang ini."


Farhan memberikan gelang berbentuk bunga matahari. Fiya melihat gelang tersebut dan kembali tertawa.

__ADS_1


"Apabila aku pakaikan sekarang di jiwa kamu? Apakah bisa?" tanya Fiya iseng.


"Apabila kamu memakaikan ini sekarang, itu tandanya aku terikat oleh kematian dan apabila kamu mengikatnya di ragaku, itu akan terikat dengan kehidupan bersamamu."


"Hei sadarlah... Kamu sudah bertunangan dengan Jennie. Kamu terikat dengannya sekarang."


"Siapapun akan berkata bahwa cinta itu tidak dapat dipaksakan. Aku telah mengutarakan ini kepadamu, setidaknya aku lega. Dan, sekarang hanya tinggal dirimu yang memutuskan. Aku juga tidak akan memaksa."


Farhan hendak pergi dan dengan cepat Fiya memeluknya dari belakang.


"Akan aku usahakan besok menjenguk ragamu. Dan tolong jangan pergi."


Farhan langsung membalikkan badannya dengan cepat dan langsung memeluk Fiya dengan erat. Fiya mendongak dengan mata berkaca-kaca. Farhan pun memegang tengkuk Fiya dan langsung mencium bibirnya. Dihiasi meeiahnya malam tahun baru dan kembang api yang menghiasi langit malam.


Dimas yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa tersenyum senang dan terharu. Dia merasa lega, akan ada orang yang lebih baik darinya dan bisa menjaga Fiya selain dirinya.


...*****...


"Kak Arya, ayo kita berangkat..."


"Let's go..."


Arya langsung melajukan mobilnya menunju ke kebun binatang yang sudah di pesan sebelumnya. Begitu mereka sampai, mereka berdua membawa peralatan kamping dan Arya yang membawanya dengan tangan kirinya.


Begitu mereka sampai di tempat yang teduh, mereka pun duduk dan menata tikar yang di bawanya, mereka juga memakan beberapa camilan yang di bawanya.


"Kak Khanza, hipnotis kak Arya lagi dong."


"Baiklah. Arya... Tatap mata aku, dan dalam hitungan ketiga kamu akan terhipnotis... Satu... Dua... Tiga..."


Perlahan Farhan masuk ke raga Arya. Fiya pun menepuk tangannya di telingannya agar pura-pura tersadar.


"Sudah, sekarang apa?" tanya Fiya.

__ADS_1


"Kita jalan-jalan yuk kak.."


"Sebelum itu, kita tata dulu lagi sampahnya terus kita titipin ini ke warung itu dan baru kita jalan-jalan." pikir bijak Fiya.


"Siap tuan putri!!"


Bastian dan Farhan menjawab dengan kompak dan juga menaruh tangannya di samping alisnya dengan mode hormat kepada Fiya. Fiya tersenyum dan membalas hormat mereka. Kemudian, mereka pun membersihkan tikar yang sempat digelarnya.


Setelahnya, mereka menitipkan barang tersebut di sebuah toko kecil dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Di mata Fiya, yang menggandengnya itu bukan Arya, namun Farhan. Karena Fiya tau Farhan mencuri kesempatan dalam kesempitan, langsung memindahnya sehingga Bastian yang berada di tengah-tengah mereka.


Kebetulan di kebun binatang tersebut ada komedi putar, dan mereka pun menaikinya sejenak, namun permainan tersebut membuat Arya alias Farhan pusing dan mereka memutuskan untuk turun.


Selanjutnya, mereka menaiki kereta yang berkeliling di sekitar Kebun binatang tersebut. Setelahnya, mereka menaiki kereta gantung yang tersedia untuk menikmati pemandangan di kembun binatang dari atas.


Mereka naik wahana air yang membuat mereka basah. Mereka bertiga sangat senang dan bahagia. Setelah menaiki wahana tersebut, mereka menaiki sarang burung atau bianglala. Dari atas mereka melihat kuda yang dapat di tumpaki, sehingga setelah mereka turun, mereka pun menaiki kuda tersebut.


"Hallo, selamat datang kakak... Kami di sini akan mengajak kakak untuk menaiki kuda. Nah... Sesuai dengan tren yang sedang terkenal sekarang, kami menyediakan baju pendekar ala korea dan juga baju putri ala korea. Apakah kalian mau mencoba?" tanya sang pemandu permainan tersebut.


"Mauuuuu....." ucap Bastian semangat.


Dan tanpa berpikir panjang lagi, mereka berdua juga mengikuti kemauan Bastian. Pertama, mereka naik bersama si atas satu kuda karena hanya ada kuda itu yang tersisa. Bastian ada di bagian paling depan, Fiya di belakangnya dan Farhan berada paling belakang sendiri dan memegang tali kuda tersebut. Melihat kelucuan mereka bertiga, seorang fotografer pun memotret mereka. Dan mereka pun bergaya sesuka mereka.


"Adek mau naik sendiri, biar kakaknya ada tempat. Sini turun."


Bastian mengangguk, dan Fiya hanya bingung di tempat. Di kuda itu tersisa Fiya dan Farhan. Mereka berduapun kembali berjalan, namun lagi-lagi mereka di foto oleh sang fotografer. Terkadang mereka berdua tertawa karena merasa hal tersebut sangat lucu.


Dan setelah beberapa lama menunggu, akhirnya ada salah satu kuda yang kosong, sehingga mereka memiliki kuda masing-masing. Berkumpulnya kuda mereka di padang rumput hijau, lagi-lagi membuat sang fotografer tertarik da kembali mengambil gambar mereka.


Pada saat mereka merasa lelah, merekapun turun dan berfoto bersama sebelum mengganti bajunya. Di saat Arya aliyas Farhan menunggu Fiya selesai mengganti bajunya, Farhan meminta semua foto yang diambilnya dan membayarnya.


Setelah semua selesai, mereka merasa lelah dan memilih untuk makan siang di tempat tersebut. Setelahnya, mereka kembali berkeliling hingga sore hari dan Bastian yang sampai ketiduran. Arya yang masih dirasuki oleh Farhan dengan sekuat tenaga membopongnya hingga ke parkiran dan memutuskan untuk pulang.


//**//

__ADS_1


__ADS_2