Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
36. Garis Kuning 2 ( Tersesat )


__ADS_3

...Cintailah dirimu walaupun orang membenci dan tidak menghargai kehadiran mu karena orang yang membenci mu dan tidak menghargai mu justru dialah yang akan membutuhkan bantuanmu....


...~Safiya Khanza Ayunindya ~...


...*****...


Sudah pukul setengah empat sore, masih belum ada tanda-tanda kedatangan dari kelompok 5. Fiya mulai khawatir dan resah. Dia selalu melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan Feni.


"Ih Za, tangan aku bukan sembarang tangan, jam tangan kamu kemana emangnya?"


"Rusak, belum sempat beli."


Guru-guru juga bingung, karena hari semakin sore.


"Bagaimana ini Khanza?" tanya pak guru Olahraga.


"Tidak ada cara lain, kita harus segera mencarinya."


"Apa sebaiknya kita juga minta bantuan polisi?" ujarnya.


"Jangan, percuma jika laporan belum 24 jam, laporan itu tidak akan di terima. Sebaiknya kita mencarinya sebelum gelap tiba. Kasian mereka berlima di sana. Pasti mereka ketakutan. Aku akan mencarinya walaupun itu melewati garis kuning." pikir Fiya.


"Tidak, pak guru tidak setuju. Kamu tau sendiri, jika kamu melewati garis kuning tersebut, kamu tidak akan selamat." larang pak guru.


"Percayalah pak, jika kita selalu mengingat Yang Maha Kuasa di hati kita, kita pasti akan selalu dilindungi olehnya, dan keputusan saya sudah bulat. Saya akan mencarinya sendiri." ucap Fiya dengan positifnya.


Fiya hendak pergi, namun Dimas memegang tangannya.


"Aku ikut." ucap Dimas dan Aldi bebarengan.


"Baiklah, kalian berdua tolong bawa 2 tas. Yang satu berisi peralatan P3K dan satunya isi roti yang tersedia di mobil dan kalau ada sisa ruang, isi peralatan keselamatan." saran Fiya.


Mereka berdua mengangguk dan segera menyiapkan apa yang di perintahkan oleh Fiya.


"Aku juga ikut Za" timpal Feni.


"Sebaiknya kamu di sini saja. Ubahlah suasana agar anak-anak tidak ketakutan."


"Kamu yakin Khanza." tanya bu Vina.


"Iya bu, kami mohon doanya ya bu."


"Iya kalian hati-hati." bu Vina sambil mengelus pundaknya.


Fiya mengangguk dan memutuskan untuk mencari mereka sebelum gelap malam. Di temani dengan dua orang guru beserta Aldi dan Dimas.


...*****...


Bagas, Gilang, Ayu, Daisy dan Vella berjalan kembali. Melihat ke sana dan kemari dengan perasaan ketakutan yang belum hilang.


"Lang, udah jam berapa?"tanya Daisy.

__ADS_1


"Baru jam setengah 3." jawabnya.


"Lo yakin, ini kayaknya udah lebih dari jam 3." pikir Bagas.


"Kita mau kemana sekarang. Gue cape." keluh Vella.


"Iya, aku juga." ucap Ayu.


"Sebaiknya kita istirahat dulu sebentar, untuk mengumpulkan tenaga kita. Kita duduk di sini dulu."


Mereka pun duduk dengan asal, di bawah pohon yang menjulang tinggi. Ayu juga duduk dengan sedikit ragu.


"Permisi numpang duduk." ucap Ayu lirih.


Vella mengibaskan tangannya di depannya karena merasa panas. Ayu masih celingukan kesana kemari entah apa yang ia cari.


"Yu, kamu cari apa?" tanya Bagas.


"Hah.. Nggak papa kok, siapa tau lihat garis kuning." jawab Ayu.


"Oiya ya, kita jalan sedari tadi kok nggak nemu ujung dari garis kuning. Padahal hutan ini kecil." ucap Bagas.


"Gue laper lagi. Bagas, Gilang, cari makanan sana." ucap Vella


"Kami juga lapar, nggak usah asal nyuruh dong." jawab Bagas sewot.


"Laki-laki kok sewot si, kalian berdua kalau laki-laki tuh harus bantuin para cewek cari makanan." ucap Vella.


"Bagas, sebaiknya lo tarik kata-kata lo, lo nggak inget perkataan kak Khanza kalau kita nggak boleh bicara kasar dan sembarangan di tempat ini." ucap Ayu.


"Bener tuh, awas aja kalau kita ada masalah lagi, semua lo loh ya yang mulai." ucap Daisy.


"Udah jangan ribut. Sebaiknya kita cari makanan sama-sama." ucap Gilang.


"Tapi gue cape Lang." keluh Vella.


"Kalau lo mau terus di sini ya silahkan, siapa tau saat kita mencari makanan kita mendapatkan jalan keluar. Sekarang bukan waktunya kita mengeluh, tetapi kita harus berjuang untuk keluar dari hutan ini bersama-sama. Bukan hanya lo yang laper Vel, kami juga laper, jadi tolong jangan mempermasalahkan soal makanan di saat begini Vel." ucap Gilang.


"Hedeh... Iya.. Iya.. Nyusahin banget ternyata tersesat kaya gini, jadi gue kan yang disalahin."


Mereka berempat tak mendengarkan gerutunya Vella dan memilih meninggalkannya.


"Heii.. Tungguin gue..."


Mereka berlima kembali berjalan sambil melihat ke arah kanan, kiri, atas dan bawah untuk mencari makanan yang ada.


...*****...


Di sisi lain, Fiya dan teman-temannya mencari di sepanjang luar garis kuning, namun masih belum menemukan mereka.


"Bagas.... Gilang.... Ayu..... Daisy.... Vella..... Dimana kalian... " teriak Fiya.

__ADS_1


"Bagaimana ini Khanza, kita sudah mencari, bahkan sudah hampir sampai ujung hutan ini dan mendekati garis kuning, tetapi mereka belum terlihat." ucap guru olahraga.


"Sebaiknya kita melewati garis kuning tersebut."


"Nggak jangan, bila kita melewati garis kuning itu akan berbahaya, lagi pula sekarang sudah jam 5 sore." ucap Aldi.


"Lalu, apakah kita harus diam? Iya aku tau, di sana sangat berbahaya dari yang kita ketahui sejauh ini, tetapi aku nggak bisa biarin mereka terjebak di sana. Lagipula, di tenda masih belum ada tanda-tanda kedatangan mereka."


"Fiya, kita cari besok saja, dengan bantuan polisi." saran Dimas sambil memegang tangannya, namun di hempaskan oleh Fiya.


"Nggak, aku nggak bisa biarin mereka kenapa-napa disini. Aku yang mengadakan, jadi aku yang bertanggung jawab. Jika kalian tidak mau menemaniku tak apa, aku bisa mencari mereka sendiri."


"Mencari mereka kemana lagi?" tanya Dimas.


"Melewati garis kuning."


"Nggak.. Nggak.. Nggak... FIYA!!"


Fiya berjalan melewati garis kuning tersebut. Para guru hanya bisa pasrah dan mengikutinya begitu juga Aldi dan Dimas. Begitu Fiya melewati garis kuning, Fiya merasakan aura yang begitu berbeda dari sebelumnya. Melihat sekeliling dan merasakan hawa dingin menyelimuti dirinya.


"Bismillah.. Assalamualaikum.." ucapnya.


Fiya mulai berjalan dengan hati-hati.


"Bagas... Vella... Ayu... Gilang... Daisy... Dimana kalian?" teriak Fiya.


Teman-teman dan kedua gurunya juga ikut meneriaki nama-nama mereka. Namun masih belum tanda-tanda mereka kelihatan.


"Sebaiknya kita kembali saja. Sudah hampir malam." ucap guru olahraga.


"Tidak pak, kita tidak bisa kembali sekarang. Kita harus mencari mereka hingga ketemu."


Fiya terus berjalan dan melihat ke bawah karena melihat tumbuhan obat seperti telah di cabut. Fiya juga memetik daun yang tersisa dan mencium baunya.


"Ini tanaman obat. Dan ada bekas akar di cabut, mereka berarti masuk ke sini."


Fiya pun berdiri dan melihat ke arah teman-temannya.


"Mereka ada di sini. Aku yakin itu."


"Syukurlah, mari kita lanjutkan." ucap guru olahraga.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, namun Fiya merasa ada yang tertinggal.


"Tunggu dulu, pak guru, pak Alvin mana?" tanya Fiya.


"Loh, tadi masih di sini."


"Duh jangan-jangan...."


Fiya mulai merasakan ada makhluk yang di dekat mereka. Fiya merasakan hawa yang tak enak mengerumuni mereka.

__ADS_1


//**//


__ADS_2