
Esok harinya, Feni sangat antusias dan bersemangat saat berpapasan dengan Fiya sehingga ketika ia melihatnya dia langsung memeluknya.
"Lo kenapa lagi?" tanya Fiya.
"Lo tau nggak, gue kemarin di ajak belanja sama Arya. Aku jadi punya beberapa sepatu baru deh..." ucapnya dengan senang.
"Oohh... Jadi itu alasan dia menolak pergi bersama gue dan Bastian kemarin. Pantes aja karena pengen ketemuan ama lo..."
"Memangnya kenapa?" tanya Feni penasaran.
"Nggak papa si. Oiya gue lupa nanya, lo kasih kado apa ke Bastian?" tanya Fiya.
"Dia kan umur 7 tahun, bentar lagi sekolah, jadi aku beliin dia tas sama perlengkapan sekolah. Memangnya ada apa si? Kok aku jadi penasaran."
"Nggak ada apa-apa kok, pengen tau aja kamu kasih kado apa..."
"Memangnya kamu kasih dia apa??" tanya Feni balik.
"Aku kasih dia baju koko, sarung, peci, iqra, al-quran, sajadah dan tasbih. Ya.. Intinya perlengkapan sholat."
"Hahahaha..."Feni tertawa mendengar ucapan Fiya sehingga membuatnya bingung. "Kan dia nggak nikahan Khanza, kenapa kasih seperangkat alat sholat." ledek Feni.
"Kan sholat itu wajib untuk semua muslim. Jadi, Bastian juga harus diajarkan sejak dini soal agama. Emang salah ya..."
"Bener juga si, eh... Mending kita ke perpustakaan dulu yuk, mumpung masih pagi."
Fiya mengangguk dengan semangat dan lekas pergi ke perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi. Mereka mencari-mencari buku yang sekiranya menarik untuk di baca. Feni memutuskan untuk pergi keluar terlebih dahulu lalu di susul oleh Fiya. Tak sengaja saat Fiya keluar dia tak sengaja berpapasan dengan Farhan.
Farhan yang melihat Fiya berjalan sambil membaca buku langsung menahan jidatnya untuk menghindari tabrakan kecil diantara mereka berdua. Fiya yang merasa ada yang ganjal langsung mendongak secara perlahan.
"Kalau baca buku itu sambil duduk bukan sambil berjalan. Kalau lo nabrak gue, ntar buku lo jatuh, gue yang ambil buku lo dan nggak sengaja sentuh tangan lo. Jadilah sebuah drama ala korean ayam. Untung juga gue nggak nutup pintu atau ngaraih lo ke tembok, pasti pala lo benjol."
"Hehehe...." Fiya terkekeh. "Gue nggak peduli ya.. Tuan Farhan Liam Ma'ruf."
Fiya langsung melauinya dan sengaja menabrak bahu Farhan. Farhan menganga tidak percaya dan tanpa memperpanjang masalah, dia pun masuk ke perpustakaan tersebut.
"Gadis gila..." Gerutunya.
Fiya juga langsung duduk untuk memakai sepatunya sambil meletakkan bukunya dengan kasar yang membuat Feni bingung.
"Lo PMS ya, kayaknya dikit-dikit marah." tanya Feni.
"Fuh..." Fiya meniup rambutnya yang menutupi wajahnya. "Intinya gue kesel sama Farhan." Fiya melirik ke arah sepatu milik Farhan. Dia lekas mengambilnya dan memasukkannya ke tempat sampah yang tersedia.
"Yuk cabut, males gue.."
Giliran Fiya yang kini menarik tangan Feni hingga ia berjalan tertatih-tatih hingga menuju ke kelas. Begitu Farhan keluar dari perpustakaan setelah mengambil buku yang begitu banyak ia melihat ke tempat sepatunya tadi, namun dia tak mendapati sepatunya tergeletak di tempatnya semula. Ia pun meletakkan buku yang di bawanya di lantai dan mencari-cari sepatunya tersebut.
"Aarrgghh... Dimana lagi sepatu gue... Pasti ini kerjaan si Khanza. Seharusnya kemarin gue biarin dia dibawa sama kuda." gerutunya.
Dia terus mencari hingga di sela-sela pot yang ada. Dia juga mencari di selokan namun belum juga ketemu. Dia pun akhirnya mencari di tempat sampah. Begitu dia melihat sepatunya, dia langsung mengambilnya dengan dua jarinya. Bau menyengat begitu terasa saat sepatunya keluar. Dia pun kesal dan akhirnya membuang kedua sepatunya tersebut.
__ADS_1
"Awas aja lo Khanza..." ancam Farhan.
Di kelas sendiri Fiya bercanda dengan teman-temannya yang lain. Tak lama, nama Fiya tiba-tiba di panggil oleh siswa lain.
"Khanza, lo di panggil guru BP." ucap salah seorang siswa.
Fiya bingung dan memandang teman-temannya satu persatu. "Ah ya.. Gue tau..." Tanpa pikir panjang lagi, dia bangkit dan langsung ke ruang BP.
"Eh Khanza..." teriak Feni.
Fiya tak menghiraukan nya dan berlari menuju ke ruang BP. Benar seperti dugaannya sebelumnya, ada Farhan di tempat tersebut tanpa ragu ia pun langsung masuk.
"Ada apa bu manggil saya?" tanyanya tanpa ragu.
"Apa benar kamu yang memasukan sepatu Farhan ke tempat sampah?" tanya guru BP.
"Iya bu betul, karena dia ngeselin bu. Ibu mau hukum saya hukum saja. Dan kalau ibu tau, kelakuannya di sekolah juga lebih memprihatinkan dari di sekolah, jadi kalau mau hukum, hukum dia juga ya bu." adu Fiya balik.
"Eh.. Lo jangan sembarangan nuduh dong... Mau gue gampar lo." Ancam Farhan.
"Tuh kan bu, saya di ancam mau di gampar. Kejam banget dia bu." adu balik Fiya.
"Sudah diam kalian berdua!! Kalian berdua ibu hukum. Sekarang berantem dan sama-sama saling menyalahkan, awas aja kalau kalian lulus tiba-tiba kirim undangan ke ibu. Sekarang kalian berdua ke lapangan, berdiri dan hormat sampe jam 10 siang."
Guru BP tersebut langsung menarik mereka berdua menuju ke lapangan upacara.
"Sekarang kalian berdiri dengan sikap sempurna dan hormat kepada sang merah putih. Ingat!! Sampai jam 10 ,paham!!" bentak guru BP.
Mereka berdua pasrah dan tetap dalam posisi yang tegap dan menghadap ke arah tiang bendera. Namun, begitu guru BP tersebut pergi, mereka berulah lagi.
"Lo kenapa bawa-bawa gue segala dalam penghukuman lo, heran gue."
"Kan lo yang ngundang, ya udah gue ajak sekalian lah. Masa cuma gue yang kena batunya."
"Emang gue salah apa ke lo, gue kan cuma nasihatin lo kalo baca buku tuh duduk bukan sambil jalan. Heran gue sama cewe, nasihatin gini salah, gitu salah. Maunya lo apa sebenarnya?"
"Gue kesel aja sama lo, lo tuh emang nggak inget, atau pura-pura nggak inget si. Lo selalu butuh bantuan gue waktu lo koma untuk mengusir makhluk yang menjaga tubuh lo. Lo juga yang memberi nama istimewa buat gue. Lo berbagi semuanya dengan gue, dan gue menganggap lo sahabat gue dan pengganti Dimas."
"Jadi ceritanya, gue pernah berjuang cuma di anggap sahabat. Wah... Sungguh cerita yang hebat."
"Nggak, lo waktu itu berharap lebih, bahkan lo sempet ambil ci*m*n pertama gue. Sekarang apa... Lo lupa semuanya."
Farhan kaget dan melihat ke arahnya. Dia menurunkan tangannya dan mendekatinya.
"Apa!! Gue lakuin itu ke lo? Lo mendongeng plus mimpi?" tanya Farhan ketus.
"Gue nggak dongeng, semua nyata. Cuma lo yang nggak nyata. Dasar..."
"Apa kamu bilang?"
"Nggak.. Wleee..." Fiya menjulurkan lidahnya dan membuat Farhan kesal.
__ADS_1
Terjadilah sebuah kejar-kejaran diantara keduanya. Guru BP yang melihatnya dari lantai atas hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begini sama aja mereka menambah hukuman sendiri." gumamnya.
Guru BP pun melanjutkan langkahnya. Kebetulan Jennie dan Bianka melewatinya dan menyapanya. Mata elang Bianka langsung melihat ke arah lapangan.
"Eh itu. Lo liat." Bianka menepuk bahu Jennie dan menunjuk ke arah lapangan. Jennie pun melihatnya dan kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Loh, itu Farhan sama Dukun. Mereka ngapain kejar-kejaran di lapangan?"
Tanpa bertanya lagi, dia langsung bergegas turun dan menghentikan mereka berdua.
"Kalian ngapain di sini?"tanya Jennie.
"Kami lagi di hukum. Lo mau ikut?" tanya Fiya.
"Whaatt... Di hukum? Kok bisa?"
"Ya bisa karena kami ngelanggar peraturan lah." jawab Fiya.
"Lo bisa diem nggak!! Gue lagi bicara sama Farhan, bukan sama lo.. Lo kan setan."
"Mending gue setan, dari pada lo buta ijo."
"Bentar Farhan, lo pasti capek. Gue pergi beli minum dulu."
"Ntar gue aduin kalian baru tau rasa." ancam Fiya.
"Dasar tukang adu."
"Lah lo tukang serigala berbulu domba."
"Lo tuh, keterlaluan banget sama gue... Sini lo..."
Jennie seketika langsung menarik rambutnya. Mereka berdua bertengkar hebat sambil menjambak rambut satu sama lain. Dimas kesal karena Farhan hanya diam dan akhirnya kembali memasuki raga Farhan.
"Udah stop kalian berdua. Kalian kalau berantem kenapa selalu rambut yang jadi korban. Coba deh di ring tinju sekali-kali."
"Oke, gue nggak takut. Kalau mau itu ya ayo, tanpa di ring tinju pun aku bisa. Sekarang dan di tempat ini juga bisa." jawab Fiya tanpa takut dan mengambil ancang-ancang tinju.
Guru BP kembali datang dan melerai mereka lagi. "Aduh... Kalian ini selalu menyusahkan satu sekolah dan membuat semua heboh ... Lebih baik kalian pulang dan jangan pernah ribut lagi. Kalau ibu dengar kalian ribut, ibu nggak akan segan-segan menskors kalian. Paham!!"
"Paham bu..."jawab mereka dengan kompak.
"Sekarang, kembali ke kelas.."
Mereka bertiga menurut dan saling lirik melirik dengan kesal. Dan Dimas juga keluar dari tubuh Farhan setelah semua pergi. Dan Farhan hanya kebingungan karena sudah tidak ada orang di sekitarnya.
"Kok gue sendirian? Sejak kapan?" gerutunya lirih.
//**//
__ADS_1