
Di rumah sakit
Fiya kaget saat mendengar keluarga Farhan kena tipu oleh dukun abal-abal. Tak hanya Fiya saja, keluarganya juga sangat kaget.
"Apa? Mereka di tipu?" ucap Fiya kaget.
"Iya, mungkin mereka berniat pakai pesugihan, jadi kena tipu deh." pikir Feni yang memberitahukan berita tersebut.
"Jangan berkata seperti itu. Lagipula kan Farhan sudah banyak membantu kamu Khanza."
"Ya kan aku nggak bilang apa-apa mah, kok aku yang ke bawa ih..." keluh Fiya.
Mama Yuna dan papa Brian hanya tertawa, begitupun juga Feni yang setia menemaninya di rumah sakit setiap pulang sekolah hingga sore hari.
...*****...
Di sisi lain..
Farhan sendiri bingung di dalam mobil. Arya yang tadinya fokus dengan tabletnya, kemudian teralihkan pada Farhan yang kebingungan dan tidak fokus menyetir. Arya pun langsung menepuk pundaknya.
"Bos, jangan bawa mati gue. Ngelamun mulu." ucapnya.
Farhan hanya tersentak dan langsung mengendalikan mobilnya kembali dan melihat ke arahnya dengan tatapan marah.
"Bos kenapa? Biar gue aja yang nyetir."
Farhan memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan. Arya yang melihat Farhan enggan bangkit, ia pun mengalah ke luar dan mengambil setir mobil yang dibawa Farhan. Setelah Arya mengambil setir, dia memberikan tablet yang di pegangnya kepada Farhan dan kemudian mobil merekapun berjalan kembali.
"Mikirin kejadian tadi kemarin bos?" tebak Arya yang di jawab anggukan oleh Farhan.
FLASHBACK ON
Farhan berteriak melihat arwah Dimas yang berdiri tepat di depannya. Arya yang berada di sampingnya hanya kebingungan saat melihat Farhan berteriak dengan keras.
__ADS_1
"Bos, dimana s-s-setannya bos?" tanya Arya yang juga mulai ikut panik sekaligus merinding.
"Gue nggak ganggu lo, gue ke sini cuma liatin diri gue ke lo. Gue cuma pesen, titip Fiya terus ya... Jaga dia, kalau perlu lindungi dia. Gue tau lo benci dia tapi, walaupun kamu benci dia, masih ada sisa untuk mencintainya yang akan meluas dengan sendirinya seiring berjalannya waktu yang tidak berhenti berjalan."
Dimas pun menghilang dari hadapan Farhan. Farhan sangat ketakutan dan tiba-tiba pingsan. Arya pun langsung panik dan penuh dengan keringat.
"Duh bos.. Bos bangun bos.."
FLASHBACK OFF
"Apa gue harus bilang sama ortu gue dan juga cerita ke Khanza kalau waktu itu bukan diri gue, tapi Dimas?" tanyanya.
"Jangan bos, nanti keluarga bos atau keluarga Jennie akan melakukan sesuatu yang nantinya akan memperparah keadaan. Maksud gue gini bos ini ada kaitannya nih dengan keluarga lo yang ketipu. Menurut penyelidikan gue ke keluarga lo tuh, mereka kena tipu oleh dukun untuk menghindari peletnya Khanza. Karena ada dari satu artikel yang menjelaskan tentang untuk apa keluarga lo datang ke dukun. Artikelnya udah gue simpen, dan lo tinggal buka aja di tablet itu."
Farhan langsung menghidupkan tablet tersebut dan langsung tertuju pada artikel yang di maksud Arya. Dia menggesernya ke bawah dan mulai membacanya.
"Kami ke rumah dukun untuk memastikan putra saya tidak terkena pelet seseorang yang membuatnya jauh dari kami." kata bapak Wendi.
"Baru tau keluarga gue bisa percaya kayak beginian."
"Pasti seseorang meracuni pikiran keluarga lo yang membuat mereka rugi besar."
Farhan mengangguk dan kembali menyecroll berita tersebut dan membaca kembali artikel yang di bukannya.
"Tunggu, orang tua Jennie kena sekitar 200 juta. Heh..."
Farhan tersenyum licik saat membaca berita tersebut dan kemudian menaruh tabletnya di tempat yang tersedia.
"Kenapa bos?" tanyanya bingung.
"Tidak apa, ayo cepat kita ke rumah papa. Gue pengen tau gimana respon keluarga Jennie yang bangkrut 200 juta."
Arya mempercepat laju mobil yang di bawanya menuju ke rumah orang tua Farhan. Begitu mereka sampai, Farhan langsung masuk ke dalam rumah orangtuanya.
__ADS_1
"Farhan, akhirnya kamu ke sini juga. Kamu nggak papa kan?" tanya mama Ifa.
Farhan melaluinya dan kemudian langsung duduk di sofa ruang tamu.
"Kalian semua kenapa bisa tertipu seperti ini? Takut Farhan di jampi-jampi orang usaha kalian bangkrut atau mau ngejampi orang yang nggak bersalah, termasuk Khanza?" tanya Farhan terus terang.
"What!! Kapan kamu mulai membela dukun itu? Kamu benar menyukainya? Sungguh tidak dipercaya." jawab Jennie yang berdiri di depannya.
"Farhan!! Kamu benar-benar sudah tidak waras dan apa benar kamu di pelet oleh Khanza?" bentak papa Wendi.
"Papah, aku nggak percaya dengan hal itu, dan jaman sekarang mustahil ada dukun. Buktinya aja kalian di tipu. Dan satu hal lagi yang harus papa tau." Farhan pun berdiri dan melihat papanya dari dekat. "Papa akan lebih parah di tipu oleh orang terdekat papa sendiri."
Farhan pun pergi meninggalkan rumah tersebut, diikuti oleh Arya dan memilih untuk pergi ke bar setelah sekian lama. Arya tak pernah mengeluh, jika pikiran Farhan sudah terlanjur kalut, pasti dia akan ke bar untuk minum.
Sekitar pukul 12 malam, Arya pun mengantar Farhan yang sudah mabuk berat. Begitu dia sampai, Arya langsung membanting tubuhnya ke kasur. Arya pun meregangkan otot-ototnya yang pegal karena menopang tubuh Farhan yang berat.
Arya akan berbalik dan berniat pulang, namun langkahnya terhenti saat mendengar Farhan sedikit mengigau. Dua pun berbalik kembali dan mendekatkan wajahnya untuk mendengar apa yang dibicarakannya.
"Kenapa tadi aku membelamu Khanza??... Kenapa aku peduli kepada mu Hah??... Aku membencimu, tetapi kenapa akhirnya aku harus peduli kepadamu?... Aku harap waktu itu... Aku.. Aku.. Tidak.... Men-men... Curi.. Ciuman pertama mu... Namun... Itu mustahil, tapi... Kenapa harus kamu yang mendapatkan ciuman pertamaku... Aku yakin... Aku adalah orang kedua yang mendapatkan ciuman mu bukan... Aku yakin... Aku orang kedua setelah Dimas... Hehehe.. Menyebalkan..."
Arya yang mendengarnya sungguh tak percaya. Dia pun mundur dan kemudian pulang ke rumahnya.
"Sepertinya bos suka sama Khanza, namun mustahil bos bisa menyukai seseorang yang membencinya... Atau mungkin ini efek karena orang yang sudah memasukinya beberapa hari terakhir." batin.
Dimas yang mendengar Farhan sedang mengigau tersenyum.
"Terkadang, orang yang tidak sadarkan diri itu lebih jujur. Selamat Farhan, kau yang pertama dan semoga perasaanmu segera berubah agar aku cepat pergi dari sini."
Dimas pun menghilang dari tempat tersebut ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya. Lebih tepatnya ke sebuah jembatan yang pernah dia datangi saat mencari Fiya.
Malam menghiasi langit, begitu juga dengan bintang yang memperindah suasana tengah malam tersebut. Dimas mengingat ingat hari-harinya bersama dengan Fiya yang begitu singkat. Namun, dia tidak mengeluh dan menerima semua kenyataan pahit yang harus ia jalani sekarang dengan penuh kerelaan dan keikhlasan untuk melepaskan Fiya di waktu yang akan datang.
//**//
__ADS_1