Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
48. Kecelakaan Dimas ( Fiya POV dan Dimas POV )


__ADS_3

...Kehilangan sahabat lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang teman biasa. Karena sahabat hanya ada satu yang setia, dan yang lain hanya berperan sebagai penghianat....


...~Safiya Khanza Ayunindya~...


_____________________


Safiya Khanza Ayunindya


.


.


.


Sebuah berita televisi membuatku langsung melihatnya dan memotong pembicaraanku. Perasaan yang membuatku langsung cemas dan gelisah langsung memburuku. Sungguh perasaan yang aneh dan tak seperti biasanya.


"Berita terkini. Baru saja terjadi kecelakaan di ruas jalan xxxx. Kecelakaan terjadi akibat balap liar seorang anak remaja.... Bla.. Bla.. Bla.."


Aku terus melihat berita tersebut secara detail tanpa tau keadaan sekelilingku. Aku hanya fokus kepada korban itu. Mataku terbelalak saat melihat jam tangan korban yang sama persis dengan yang Dimas pakai. Seketika tubuhku bergetar dan langsung meneriaki namanya.


"DIMAASSSS..." teriakku, dan tak sadar ternyata air mataku terjatuh.


Ragaku tak kuat untuk berdiri hingga aku terduduk di lantai sambil menangis. Pikiranku kalut tak karuan, tak bisa berpikir apa-apa. Banyak yang menanyaiku entah itu siapa, tetapi sungguh aku tak bisa berpikir apa-apa.


Semua keluarga pergi ke rumah sakit dan aku hanya memikirkan Dimas, Dimas dan Dimas. Hujan deras mengguyur kota secara tiba-tiba, menambah pikiranku yang kacau. Aku pun melihat ke arah jam tanganku. Aku panik dan kaget saat melihat jam tanganku yang terhenti entah sejak kapan.


"Kenapa jam tanganku berhenti?" batin.


Aku pun melepaskan jam tanganku dan berusaha memperbaikinya. Aku buka penutup jam tanganku dan merubah baterainya. Aku ubah waktunya, tetap saja tidak berdetak. Hingga tak sadar kami sampai. Aku keluar dari mobil paling akhir. Keluargaku berlari ke ruang gawat darurat. Beberapa polisi juga menunggu kedatangan kami di luar ruangan tersebut.


Papa Kenzo langsung berlari ke arahnya dan mencengkeram baju salah satu polisi yang ada di tempat.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi putra saya dokter!!" ucap papa Kenzo dengan emosi.


Beberapa polisi lain membantu memisahkan papa Kenzo dan polisi yang di cengkeramnya. Dan dengan penuh pertanyaan aku terus menatap keduanya tanpa berhenti dengan air mataku yang terus menetes.


Adik Dimas yang tak kuasa juga memelukku secara tiba-tiba. Dan tak lama, polisi itu pun berbicara, dan membuat perhatian kami benar-benar tertuju kepadanya.


"Maaf, korban meninggal di tempat." ucap polisi tersebut.


"Deg"


Jantung ku terasa berhenti seketika, aku lemas, begitu juga Sintya yang ikut terduduk saat aku terduduk. Aku menangis sejadi-jadinya di tempat. Sintya pun bangkit dan memeluk mamanya yang sedang di peluk oleh mamaku.


Namun tiba-tiba, mama Lastri menarikku untuk berdiri dan "Plak..". Tangannya menampar pipiku, tepat di tempat yang sama, pada waktu adikku meninggal dan di tampar oleh mamaku sendiri.


Aku memegang pipiku perlahan dan melihat ke arahnya. Wajahnya penuh dengan kemarahan dan tidak suka kepadaku. Memang 'apa salahku hingga aku harus mendapat perlakuan ini?'


"Gara-gara kamu.. Hiks... Satya menjadi celaka... Hiks... Gara-gara jam ini, semua ini terjadi pada putraku..." ucap mama Lastri sambil memperlihatkan jam yang sudah retak dan pengikat yang terputus.


"Semenjak anakku dekat dengan kamu, kamu selalu membawa kesialan... Hiks.. Semua karena kamu... Anak pembawa sial..."


Kata-kata itu langsung membuat hatiku perih. Aku menangis dan menatapnya tidak percaya. Orang yang selalu aku anggap sebagai ibu keduaku, ternyata aku salah menganggapnya.


"Sekarang... Kamu pergi dari sini... Begitu juga keluarga kamu... Hiks.. Kamu tidak ada tempat di sini... Pergi!!"


Mama Lastri menujuk ke arah ke belakangku. Aku perlahan mundur dan pergi dari rumah sakit itu. Aku tak bisa berkata apa-apa. Orang tuaku memanggilku, namun aku hiraukan karena sudah sangat sakit hati.


"Dimas, mengapa kau tega meninggalkanku di sini sendiri. Aku belum sempat memberitahu isi hatiku, namun kenapa kau pergi? Kenapa?.. Kau tau, sekarang aku kesepian, pasti banyak yang mulai membenciku sekarang. Aku tak memiliki apa-apa lagi di dunia ini. Tak ada sahabat dan pasti teman-teman yang lain juga membenciku, sama seperti mama kamu yang sangat membenciku. Ini sungguh tak adil.. Aku ingin menyusulmu saja Dimas... Hiks.." ucap ku dalam hati sambil teriak.


Aku menembus hujan yang begitu dingin dan terus menggenggam jam tangan yang Dimas pakai. Aku berlari tanpa arah, tanpa tau waktu yang pasti sudah sangat larut. Aku terus berlari dan tanpa sadar aku menyebrangi jalan, namun tiba-tiba, aku lemas dan ragaku tak kuat untuk berdiri. Tak jauh dari jarakku, ada sebuah mobil yang tidak terlihat jelas di mataku karena mataku juga ikut kabur, hingga akhirnya aku pun tak sadarkan diri.


...*****...

__ADS_1


Satya Dimas Adriansyah


.


.


.


Setelah hantaman keras, aku tak merasakan sakit apapun. Aku pun bangkit dan melihat kerusakan yang terjadi pada motorku. Aku sedikit lega bahwa aku selamat, namun pandanganku teralihkan kepadanya kaki, kepala, wajah yang rusak tergeletak di belakangku. Aku pun berjongkok, dan aku hendak menarik tangannya, namun tidak bisa aku pegang.


"Tembus." ucapku.


Aku memegangnya dan melihat jam yang tergeletak di sampingnya. Aku mengambilnya, namun tak bisa ku ambil. Aku memandang tanganku sendiri yang kelihatan pucat.


Aku perlahan mundur, dan tak lama sebuah motor polisi menghampiriku, dan aku dapat di tembusnya. Aku melihat diriku sendiri dan kemudian aku berjalan perlahan mundur dan kemudian hanya melihat orang-orang sekitar yang mulai mengerumuni tubuhku.


"Aku bukan lagi manusia."


Aku pun berjalan mengikuti ragaku yang sudah terpisah dengan nyawaku. Hingga mobil mobil ambulan datang membawa ragaku ke rumah sakit. Aku berdiri di depan ruang gawat darurat, banyak anak kecil berlalu lalang di depanku, juga banyak arwah-arwah penasaran yang berkeliaran di sekitarku. Ini adalah hal baru bagiku, dan saat aku melihat mereka, aku jadi teringat dengan Fiya.


"Bagaimana dengan Fiya? Aku yakin dia tidak baik-baik saja."


Tak lama keluargaku datang, dan aku langsung bersembunyi karena belum mengetahui cara berteleportasi seperti Aldo. Aku melihat keluargaku dari kejauhan, semuanya menangis tak terkecuali dengan Fiya.


Aku juga merasa kasian dan bersalah saat mamaku menamparnya. Namun, yang kulakukan hanyalah diam tanpa bisa berkata apa-apa. Diam dan tak bisa menolong Fiya. Dan mungkin, beginilah posisi adik Fiya saat Fiya di tampar oleh mamanya sendiri.


Aku mengikuti Fiya yang sedang menangis, bahkan aku pun dapat mendengar isi hatinya. Aku merasa sangat-sangat bersalah dan tidak tenang karena meninggalkan Fiya begitu saja.


"Maaf Fiya, aku tak berniat meninggalkanmu. Maafkan aku, karena aku juga tak menyangka hidupku hanya cukup sampai di sini. Jadi, kumohon tenanglah."


Aku berkata dalam hati, namun tiba-tiba dia kehilangan arah dan hendak menyebrang, namun tiba-tiba dia pingsan bersamaan dengan datangnya mobil yang hendak menabraknya. Dan mobil itu terhenti di waktu yang tepat bersamaan dengan Fiya yang pingsan.

__ADS_1


//**//


__ADS_2