Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
71. Teman tak kasat mata


__ADS_3

Fiya sampai di rumahnya dan ia pun mengikuti Aldi sambil menunduk.


"Assalamualaikum tante..." teriak Aldi.


Mama Ova pun keluar dan membukakan pintunya. Ia langsung terkejut saat melihat Fiya menggunakan pakaian yang kotor. Mama Ova langsung memegang pundaknya dan mencoba membersihkannya sisa-sisa yang menempel di bajunya.


"Kenapa bisa kotor seperti ini? Jelaskan kepada mama!!" ucap mama Ova dengan tegas.


Fiya hanya diam dan tertunduk. Pandangan mama Ova pun melihat ke arah Aldi dan menghela nafas panjang lalu kembali melihat Fiya.


"Kamu masuk dan mandi. Mama akan ke sekolah. Aldi, antar mama ke sekolah."


Aldi mengangguk dan Mama Ova pun langsung pergi bersama dengan Aldi. Tak ada yang bisa Fiya lakukan selain menuruti mamanya.


Setelah ia mandi dan keramas, Fiya melihat Dimas tengah terduduk di ranjangnya. Dimas pun berdiri saat ia sudah keluar dari kamar mandi. Fiya melotot ke arahnya dan Dimas hanya terduduk.


"Ya ampun Dimas.... Untung aku udah pake baju. Kenapa nunggu di kamar aku si? Lagi-lagi jangan loh." perintah Fiya yang dijawab anggukan oleh Dimas.


Di saat yang bersamaan, Farhan juga datang langsung ke kamarnya.


"Ngapain juga lo kesini?" tanya Fiya tak suka.


"Kenapa tadi lo diem aja? Kenapa lo tadi nggak berkutik di depan guru-guru? Lo b*d*h atau kenapa?" tanya Farhan tanpa basa basi.


"Lo sekarang peduli sama gue, baru tau ya gimana perasaan gue pada saat gue di bully sama lo."


"Gue minta maaf ke lo soal yang dulu. Itu entah dorongan dari gue atau nggak gue juga nggak tau. Gue sungguh-sungguh minta maaf ke lo."


"Karena lo dalam keadaan sekarat sekarang, oke, gue maafin lo."


"Isshh..."


"Apa!! mau jambak rambut gue lagi? Atau mau tonjok gue?" tantang Fiya.


"Lo aneh banget, di depan gue lo berani, sedangkan di depan mereka lo diem. Lo kenapa si sebenernya?" tanya Farhan dengan menyilangkan tangannya di dada.


"Gue punya cara tersendiri. Jadi lo tenang aja. Kalian berdua mau makan?" tanya Fiya.


"Hah.. Hantu bisa makan?" tanya Farhan terheran-heran.


"Ya bisa lah. Tapi nggak sama lo yang masih punya raga."


"Lah, tadi nawarin kami?" protes Farhan.


"Aahhh... Terserah lah..."

__ADS_1


Dimas sedari tadi hanya terdiam dan tersenyam senyum melihat tingkah mereka berdua yang selalu bertengkar. Fiya pun keluar dari kamarnya dan kemudian dia pun kembali dan juga membawa tiga gelas beserta dengan sepoci jus segar menggunakan nampan


Fiya langsung duduk di karpet dan meletakkannya di depannya. Dimas pun juga duduk di samping sebelah kirinya. Fiya dengan senang hati menuangkan jus tersebut di ketiga gelas yang tersedia dan kemudian memberikannya kepada Dimas. Fiya juga memberikannya kepada Farhan, namun Farhan tidak duduk di sebelah kanannya. Akhirnya dia menengok ke belakang dan melihat Farhan yang diam di kasurnya.


"Hei... Lo.."


Farhan langsung melihatnya. Fiya pun mengangkat gelasnya dan memberinya isyarat untuk duduk bersamanya.


"Kenapa?" jawab Farhan malas karena tidak ingin berpikir.


"Udah ikut ke sini. Atau kembali ke raga lo di rumah sakit yang banyak arwah-arwah penasaran ngebuntutin lo."


Perkataan Fiya membuatnya kembali teringat dengan kejadian saat di rumah sakit ketika ada tuyul yang selalu mengganggunya. Dan akhirnya ia pun bangkit dan duduk di sebelah kanan Fiya. Fiya pun memberikan jusnya dan langsung diterima oleh Farhan.


"Kok gue bisa pegang gelas ya, padahal gue nggak punya jiwa." ucap Farhan yang heran sambil melihat gelas yang di pegangnya.


"Aku nggak heran si, bahkan ada kok makhluk yang bisa menerbangkan gelas tanpa di pegang. Kaya memiliki kekuatan super gitu... Hebat kan si hantu..." jawab Fiya.


Farhan hanya menggeleng dan kemudian meminum jus buatan Fiya. Dimas yang melihat mereka berdua yang semakin akrab juga sedikit senang.


"Emm.. Fiya, pasti yang lihat kita disini heran kenapa gelasnnya terbang ya kan..." tanya Dimas.


"Enggak... Hanya orang tertentu saja yang bisa melihatnya. Mata biasa yang melihatnya gelasnya tetap tergeletak di bawah, namun isinya kosong." jawab Fiya.


"Entahlah.. Aku pun juga tidak tau."


"Lalu bagaimana lo bisa tau?" tanya Farhan yang juga ikutan bingung.


FLASHBACK ON


Fiya sewaktu kecil dan sebelum mengenal Dimas. Selalu bermain dengannya. Makan pun juga berbagi dengannya. Dan, namanya juga tak jauh mirip seperti nama Fiya, namanya adalah Fina.


Dan, pada waktu itu, pada saat makan bersama dengan Fina di depan televisi ayahnya bingung karena ada dua bungkus makanan ringan yang dibuka dan tergeletak di lantai tepat di sampingnya.


"Kamu makan banyak sekali?" ucap papa Brian tiba-tiba.


Fiya yang masih polos pun melihat ke arah makanan yang di pegangnya dan melihat ke arahnya.


"Aku baru makan sedikit papa, ini satu bungkus saja belum habis." jawab Fiya.


"Itu kan udah kosong, jangan bohong kamu ya..." ucap sang papa.


"Itu kan punya temen aku pa.. Papa nggak liat disini juga ada temen aku ya.."


Papa Brian hanya bingung dan seketika dia pun merinding mendengar perkataan dari putrinya tersebut.

__ADS_1


"Teman?" tanya ayahnya bingung.


"Iya pah.. Oiya, aku belum kenalin dia ya. Kenalin nih, namanya Fina, temen aku pah."


Fina pun melambaikan tangannya kepada papa Brian dan Fiya tersenyum. Fiya melihat ke arah papanya yang kelihatan linglung.


"Papa, dia dadah ke papah kok papa nggak balas."


"Maaf sayang, papa tinggal dulu."


Fiya sebenarnya bingung, namun ia hanya mengangguk dan kemudian kembali memakan camilan yang dipegangnya.


"Kok papa kaya nggak liat kamu si?" tanya Fiya sedikit bingung.


"Aku kan teman tak kasat mata yang tidak bisa dilihat sembarang mata." jawab Fina.


"Teman tak kasat mata? Kok aku bisa liat kamu?"


"Karena kamu istimewa dan hadir untuk menemani aku yang tidak punya teman."


FLASHBACK OFF


Fiya menceritakannya kepada Farhan dan Dimas. Tiba-tiba Aldo pun muncul saat Farhan dan Aldi sedang mendengarkan Fiya sambil manggut-manggut memahami ceritanya.


"Dan.. Pengganti sahabat tak kasat mataku dari kecil adalah Dimas." ucap Fiya sedih.


"Wah... Lagi asik cerita apa nih?" ucap Aldo tiba-tiba.


"Masa kecil kakak, waktu bersama dengan Fina dulu. Mau ikut dengarkan?" ajak Fiya.


Aldo pun mengangguk dan lekas duduk di depannya.


"Pada waktu pertama kali masuk TK... Aku kerap dipanggil sebagai anak yang tidak waras, mempunyai kekurangan dan lain-lain karena aku sangat aktif dan senang bermain dengan teman tak kasat mataku. Pada saat aku bermain di taman kanak-kanak itu aku paling suka bermain prosotan dan lainnya. Pada waktu itu aku juga pernah terjatuh dan yang pertama kali menolong adalah Dimas. Kami bertiga sering bermain bersama. Dimas juga paling mengerti ada orang lain di sekitar kami waktu itu. Dan, pada waktu itu pula dia pamit karena aku sudah memiliki teman, aku menangis saat itu, namun Dimas berhasil menghiburku hingga aku tak sadar ia pergi untuk selamanya."


Mata Fiya tak kuasa menahan air matanya dan dia pun menangis. Dia mengusap air matanya dengan kedua tangannya dan mengedipkannya beberapa kali agar air matanya tidak menetes deras.


Dimas dan Farhan mengelus kepalanya bersamaan, sedangkan Aldo yang ada di depannya hanya menopang kepalanya dan melihat ke arahnya dengan tatapan iba.


"Sekarang... Teman tak kasat mata itu kembali hadir menjadi kalian, maksudku Aldo dan Dimas. Dan untuk kamu Farhan, jangan menyerah dan segera kembalilah ke ragamu." pikir dan pinta Fiya.


"Dan... Memiliki teman tak kasat mata itu memang sungguh menyenangkan dan lebih pengertian. Terimakasih kalian telah menemaniku hingga akhir khayat kalian."


Air mata Fiya benar-benar pecah. Dimas yang tak tega pun akhirnya memeluknya sambil mengusap kepalanya. Suasana seketika hening, Aldo dan Farhan hanya diam dan menunduk karena rasa ingin memeluknya terwakilkan oleh Dimas.


//**//

__ADS_1


__ADS_2