
...Membuat perubahan itu sulit. Tapi semuanya akan terjadi tanpa kau sadari....
...~Safiya Khanza Ayunindya~...
______________________
Farhan pun kembali ke apartemen setelah mengantarkan Khanza. Dia dikejutkan dengan kedatangan Arya yang sudah berada di apartemennya untuk menunggunya.
"Pagi bos, habis kemana?" tanya Arya.
"Nganter dukun." jawabnya ketus.
Farhan berjalan ke kamarnya dan Arya mengikutinya, jelas terdengar du di telinga Farhan langkah kakinya masuk ke kamarnya dan duduk di sofa. Farhan kembali keluar dan mengambil minuman dingin untuk mereka berdua. Dengan senang hati, Arya langsung meminumnya.
"Sejak kapan lo peduli sama cewe?" tanya Arya tanpa pikir panjang dan basa basi.
Farhan duduk di sampingnya dan menyenderkan kepalanya serta menutup matanya untuk beristirahat.
"Gue nganterin dukun karena udah hampir dua hari dia di sini. Orangtuanya juga mencari sampai di beritakan di televisi. Gue akhirnya mengantarkan dia ke rumahnya. Dan gue nggak mau gue juga ikutan terkena getahnya."
Arya yang mendengarnya santai kaget dan menepuk pundaknya. "Apa lo bilang? Khanza di sini, bagaimana mungkin?"
Akhirnya Farhan menceritakan semua yang terjadi pada Fiya. Namun, tak sepenuhnya ia ceritakan.
"Kira-kira seperti itulah ceritanya."
Arya kembali mengambil mengambil minimum dan meneguknya karena tenggorokannya yang merasa kering, padahal bukan dirinya yang bercerita panjang lebar.
"Tunangan lo nggak ngerasa aneh gitu dengan lo?" tanya Arya.
"Gue si bodoamat, suka sama dia aja enggak. Dia bukan tipe gue." Farhan ketus yang juga ikut meminum minuman yang ada di depannya.
...*****...
Farhan Liam Ma'ruf
.
.
.
Heh.. Nih anak datang lagi ke apartemenku, sungguh membuat istirahatku tak nyaman. Dan aku belum ngenalin dia ke kalian.
Arya Eko Purnomo adalah sahabatku dari aku kecil hingga gede seperti sekarang. Dia menjadi bodyguard sekaligus teman dekatku. Semua masalah selalu aku ceritakan kepadanya, dan dialah yang paling tau sifatku, mungkin...
__ADS_1
Dia di utus papaku untuk selalu menjagaku, sebenarnya aku bosan terus di awasi. Namun, dia paling tau jika aku terkena masalah dan harus menyembunyikannya kepada kedua orang tuaku, dia akan merahasiakannya.
Dia sekolah di tempat yang berbeda dengan diriku, karena jika dia sekolah bersama denganku, kami tidak akan terus bertengkar dan mungkin saling saing ketampanan.
Wajahnya tak terlalu jauh denganku, tampan, putih, rambut yang di beri sedikit poni di depannya, dan kata orang-orang mirip sekali seperti ku. Mungkin... Tapi aku tak percaya karena kami beda darah dan orang tua.
Dari kecil kami selalu dikira anak kembar, tapi dengan isengnya Arya meledekku dan membuatku tidak nyaman karena tingkahnya yang sedikit jahil.
FLASHBACK ON
Aku dan Arya membeli minuman di supermarket sekaligus membeli persediaan makanan untuk kulkas yang tersedia di kamarku.
Jangan pernah kalian pikir hanya wanita yang pergi ke supermarket atau minimarket, kalian salah. Para pria juga membutuhkannya, memangnya hanya wanita yang bertahan hidup, pria juga..
Sudahlah lupakan..
Kami pergi ke kasir dan Arya yang meletakkan semua belanjaannya di meja. Seorang pegawai minimarket tersebut melihat kami dengan tatapan bingung. Bolak-balik memperhatikan kami secara detail.
"Kalian kembar?" tanyanya tiba-tiba yang membuatku sedikit bingung.
Arya mendorong pundakku agar aku melihat ke arahnya. Di gerakkan wajahku ke kanan dan ke kiri. Aku yang sudah tidak nyaman pun lekas membuang tangannya dari wajahku.
"Ishh... Lo apa-apaan si?" gerutuku.
"Dia bilang kita mirip." ucapnya tanpa merasa bersalah. "Kita kembar tak seiras karena beda bapak ibu kan?" lanjutnya.
"Sabar mba, dia orangnya kaya es di antartika, jadi jangan kaget ya mba." ucap Arya sambil mengejekku.
"Kita kembar karena kita sama-sama ganteng mba. Kalau ada yang bilang kembar, dia takut tersaingi." ucapnya ngawur yang membuatku semakin malas dan langsung membawa barang yang sudah siap di berikan lalu keluar dari supermarket tersebut dan membiarkan Arya yang membayar semua belanjaannya.
FLASHBACK OFF
Aku meneguk minumanku kembali dan kemudian meletakkan minumanku di meja setelah meneguknya hingga habis.
"Gue traktir lo, tapi jangan bilang ke ortu gue." ucapku memperingatkan.
"Iya bos, gue tau. Kita pergi sekarang?" tanya Arya.
"Besok keburu lupa. Cepetan bangun, kita kemana sekarang?" tanyaku karena bingung akan mengajaknya kemana.
"Kan lo yang ajak, gue si terserah. Yang penting ke tempat normal, jangan yang kaya di drakor."
Aku tak paham apa yang di bicarakan Arya. Sedangkan Arya hanya terkekeh. Aku berfikir keras sehingga aku nyantel dan langsung mengangkat tanganku.
"Kau ini benar-benar... Gue masih normal." jawabku dengan keras.
__ADS_1
"Maap bos maap. Kaga usah belanjain gue lah bos, lain kali aja." Arya mengangkat tangannya karena hampir aku pukul.
Aku menurunkan tanganku dan kembali duduk di tempatku. Lalu, aku pun mengeluarkan ponselku dan mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Handphonenya tak lama berbunyi dan dia pun langsung melihatnya. Aku meletakkan ponselku dan melihatnya yang wajahnya sudah berseri.
"Wah.. 5 juta bos, terimakasih banyak. Lo sahabat baik gue."
Arya hampir memelukku, namun aku menyingkirkan tangannya yang hampir menyentuh bajuku.
"Bonus lo karena semaleman lo begadang nyari alamat Khanza, selebihnya untuk menutupi rahasia gue dan rejeki buat lo. Sana pergi."
Aku menyuruhnya pergi dan dia tersenyum lebar lalu lekas keluar dari ruanganku setelah mengucapkan terimakasih kepadaku.
Sedangkan diriku, menyalakan televisi. Namun, suara di luar kamarku membuatku sedikit terganggu dan tak lama pintu pun terbuka. Aku pun berdiri dan melihat ke arah sumber suara yang berisik.
"Ih.. Lepasin, gue mau mau ketemu sama tunangan gue."
Siapa lagi kalau bukan Jennie yang datang. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Arya dan langsung menggandeng lenganku.
"Yank, Dia kasar sama aku."
Aku memutar bola mataku malas dan melepaskan tangannya dari lenganku. Aku pun memalingkan diriku darinya.
"Arya, tolong bawa dia keluar dari kamar gue. Akan ku kirimkan dia uang agar dia diam. Dia datang hanya untuk uang. Cepat..."
Perintahku dan Arya pun membawanya pergi. Aku mengeluarkan ponselku dan mengirimkan uang 10 juta kepadanya.
...*****...
"Ih... Lepasin..." ucap Jennie memberontak.
Setelah Arya berhasil membawanya keluar dia melepaskan tangannya. Jennie membenarkan tas selempang yang di bawanya dan mengambil ponselnya yang berbunyi.
"Sebaiknya lo pergi dari sini, jangan ganggu Farhan dulu." ucap Arya memperingati yang tidak didengarkan oleh Jennie.
"Bodo.."
Jennie sedikit menjauhinya dan kemudian mengetikkan sesuatu di chat nya bersama dengan Farhan.
^^^Jennie ^^^
^^^Gue nggak butuh uang lo^^^
Pesan singkat tersebut tak di balas oleh Farhan. Jennie mengembalikan kembali uang itu dan kemudian pergi dari apartemen Farhan dengan kesal.
Di dalam kamar, Farhan menerima sebuah pesan dan melihat uangnya dikembalikan ke rekeningnya, lalu melemparkam handphonenya ke ranjangnya dengan keras.
__ADS_1
//**//