
Begitu mereka sampai di rumah Bastian. Orang tua Bastian langsung membopong Bastian dari gendongan Fiya. Mama Ifa langsung mengelus punggungnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Semua ini pasti karena kamu Khanza..." ucap papa Wendi sambil marah-marah.
Fiya hanya bisa menunduk karena dia sangat kelelahan sehingga ia pun jatuh pingsan. Arya dengan sigap membopongnya dan membawanya ke dalam rumah. Arya membawa Fiya ke kamar tamu rumah Bastian. Arya pula menelepon dokter untuk menangani Fiya. Sedangkan Feni sendiri ribut di dalam ruang tamu rumah Farhan.
"Om, tante.. , bukannya om dan tante berterimakasih kepada Khanza, tapi om dan ante malah menyalahkan Khanza. Khanza terlebih dahulu yang datang dan menyelamatkan Bastian hingga dirinya terluka. Apa tante tau itu? Dan lihat, dia sampai sangat lemah dan berusaha untuk tetap bertahan agar Bastian tetap tenang. Tapi, apa yang kalian katakan. Kalian hanya menyalahkan Khanza padahal yang membuat Bastian di culik ini adalah karena kalian semua tidak mengawasi anak kalian dengan baik-baik."
Mama Ifa hanya bisa diam dan memikirkan perkataan Feni. Karena Feni kesal, ia pun menuju ke ruangan dimana Fiya sedang istirahat.
Feni pun juga ikut menemani Fiya sambil melihat di sekelilingnya. Setiap sudut rumah Farhan dia lihat dengan teliti. Sebuah foto di kamar tamu tersebut mengalihkan perhatiannya dan ia pun mengambil sebuah bingkai foto kecil berisi foto Farhan dan Arya.
"Eh ini lo kan. Kok lo cetak foto ni orang?" tanya Feni.
"Mana gue tau, kan bukan gue yang cetak."
"Loh, ini rumah lo kan?"
"Ini rumah Farhan, bukan rumah gue. Rumah gue agak jauh dari sini. Rumah gue deketnya sama apartemen Farhan. Puas lo."
Feni hanya mengangguk-angguk sambil kembali berjalan di depan ruangan tersebut. Tak sengaja ia tersandung oleh meja yang di laluinya sehingga ia hendak terjatuh. Dan beruntungnya, Arya dengan sigap menangkapnya. Tatapan mereka saling bertemu dan jantung mereka pun langsung tak terkontrol.
Tiba-tiba, pintu kamar langsung terbuka dan mereka pun langsung berdiri dan menemui sang dokter yang menangani Fiya.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Feni.
"Dia mengalami syok dan juga luka ringan di pergelangan tangannya. Beruntunglah sayatan tersebut tidak mengenai urat nadinya, sehingga darahnya tidak keluar banyak. Saya sudah menyiapkan resep obat untuknya. Dan kalau begitu saya permisi."
"Baik dok. Terimakasih banyak atas bantuannya. Saya akan antarkan." ucap Arya.
Arya mengantarkan sang dokter hingga ke teras sekaligus membeli obat untuk Fiya. Feni yang ada di ruangan tersebut langsung masuk ke dalam kamar Fiya tanpa mempedulikan orang tua Farhan yang juga berada di tempat yang sama.
Tiba-tiba, langkahnya di dahului oleh Bastian yang langsung masuk ke kamarnya. Dengan langkah imutnya, dia langsung duduk di samping Fiya yang sudah sadar diri pingsannya.
Fiya tersenyum ke arahnya dan langsung memeluknya dengan erat. Bastian juga mengelus luka yang sudah di balut perban di tangan sebelah kanan Fiya. Sedangkan Fiya hanya bisa mengelusnya menggunakan tangan kirinya.
Bastian pun naik di ranjang tersebut dan tidur di sebelah kiri Fiya sambil memeluk dirinya. Feni yang melihatnya hanya bisa tersenyum senang.
"Itu adik orang kenapa bisa luluh banget. Padahal kakaknya cuek banget sama kamu." ucap Feni apa adanya.
"Nggak papa, lagian lebih lucu adiknya kok. Nggak masalah dia suka atau nggak. Karena kita tidak bisa menilai orang dari fisiknya saja."
__ADS_1
Tak lama mama Ifa kembali sambil membawakan bubur dan juga jus dan air putih menggunakan nampan. Mama Ifa meletakkan nampan tersebut di meja dan menarik kursi untuk di dudukinya.
"Khanza, makasih ya udah selalu jaga Bastian sampai kamu luka begini. Dengan melihat kamu tante jadi tau, kesetiaan kamu, perjuangan kamu dan kepedulian kamu terhadap orang lain sangatlah besar. Andai saja Farhan bisa kenal kamu lebih dekat, tante akan merestui kalian."
Farhan yang melihatnya dari kejauhan tersenyum puas. Fiya juga salfok dengan kelakuan Farhan.
"Baiklah, aku akan segera sadar, mama bersabarlah..." ucap Farhan yang berhasil membuat Fiya tertawa.
"Farhan sudah bertunangan tante."
"Ya kan baru bertunangan, jika jodoh Farhan itu sebenarnya kamu kan kita nggak tau."
"Nggak tante, aku nggak setuju." perhatian mereka berdua teralihkan kepada Feni.
Feni pun berjalan mendekati mereka dan duduk di pinggiran ranjang.
"Kenapa?" tanya mama Ifa.
"Farhan itu kasar sama Khanza, nanti Khanza di sakiti sama dia, aku nggak setuju."
Mama Ifa tersenyum dan mengelus rambut Feni dan Fiya secara bersamaan.
"Melihat kalian berdua, tante jadi teringat dengan kakak Farhan."
"Iya, tante akan cerita sambil menyuapi kamu Khanza. Kamu makan selagi masih hangat sambil menunggu Arya pulang bawa obat kamu."
"E-enggak usah tante, aku belum lapar."
"Jangan mencoba ngelawan tante."
Fiya pun terpaksa mengangguk dan kemudian menerima suapan dari mama Ifa.
"Dulu sebelum mama punya Farhan, mama punya anak kembar perempuan. Namun sayangnya, mereka meninggal setelah beberapa hari pulang dari rumah sakit. Kalau tante membayangkan, pasti mereka sudah sebesar kalian sekarang." Mama Ifa bercerita sambil menyuapi Fiya.
"Sabar tante, sekarang tante punya dua jagoan, yaitu Bastian dan Farhan. Tante juga boleh anggap kami anak tante. Soalnya asik kalau punya ibu banyak dan penyayang." ucap Feni.
"Hahaha... Kamu ada-ada aja. Oiya, tante belum kasih tau orang tua kamu Khanza, nanti mereka khawatir. Tante tinggal dulu sekaligus menyiapkan makan malam. Feni, tolong suapi Khanza ya..."
"Ta-tapi tante."
Mama Ifa memberikan mangkuk berisi bubur tersebut kepada Feni. Feni menerimanya dan langsung menyuapkannya ke Fiya.
__ADS_1
"Udah lah nggak papa. Pasti keluarga ini akan bertanggung jawab penuh atas apa yang kamu lakukan. Jangan khawatir... Dan jangan terus bergerak, liat anak orang di samping kamu."
Fiya menengok ke sebelah kirinya dan melihat Bastian terlelap di samping Fiya sambil memeluknya. Fiya tersenyum senang dan kemudian mengelus kepalanya.
"Nih.. Akkk.."
Fiya tersenyum dan membuka mulutnya dan kembali melihat ke arah Bastian.
"Mungkin yang di omongin tante siapa namanya?" tanya Feni.
"Tante Ifa.."
"Nah iya... Tante Ifa, kita reinkarnasi anak kembarnya tante Ifa. Buktinya lo aja nempel banget sama Bastian ibarat lo kakak Kandungnya. Cuma bedanya kita berdua terlahir di keluarga yang berbeda." pikir Feni.
"Lo pikir ini drakor. Mana mungkin si... Udah sini lagi buburnya, enak banget."
Feni pun menyuapinya kembali. Tak lama pula Arya datang dan senang melihat Fiya sedang makan. Namun, matanya yang belum di kembalikan oleh Fiya, membuat Arya sedikit bingung karena bisa melihat Farhan dan Dimas.
"Mata gue kenapa si? Kok gue terbayang-bayang Dimas dan Farhan." batin.
Tak perlu berpikir panjang lagi, dia memberikan obat tersebut kepada Fiya. Arya duduk di tepi ranjang, dan Feni berpindah di tempat duduk yang diduduki mama Ifa sebelumnya.
"Khanza, sebenarnya lo apaan mata gue si. Kok gue nisa liat Farhan sama Dimas."
Fiya tersenyum dan kemudian mengambil air minum di bantu oleh Feni.
"Gue akan bicara soal beberapa rahasia gue yang belum kalian ketahui. Tetapi, kalian jangan kaget dan simpan ini baik-baik, jangan sampai orang lain ketahui."
Mereka berdua pun fokus akan mendengarkan Fiya, namun percakapannya terganggu karena orang tuanya datang ke rumah Farhan dan membuat heboh seisi ruangan.
"Ya allah nak... Kenapa bisa begini?" ucap mama Ova khawatir.
"Nggak papa mah, aku cuma luka dikit kok. Mama sama papa jangan berisik ya... Bastian lagi tidur."
Orang tua Fiya mengangguk mengerti, kemudian sang pembantu rumah tersebut memanggil orang tua Fiya.
"Tuan, Nyonya. Kalian di suruh menemui nyonya di belakang."
"Oiya, tunggu sebentar." jawab mama Ova.
Mama Ova mengelus Fiya sebentar dan kemudian langsung keluar dari ruangan tersebut, begitu pula dengan papa Brian sebelum meninggalkan Fiya.
__ADS_1
//**//