
Fiya begitu kaget dan khawatir ketika Arya memberitahukan bahwa Bastian hilang. Farhan yang sempat ketinggalan, mengejarnya dan menggenggam tangannya.
"Ada apa Nindya?" tanya Farhan.
"Bastian hilang."
"APA!!" Dengan kompak, Farhan, Aldo, dan Dimas berteriak.
Begitu Arya sampai di rumah sakit, Fiya langsung masuk ke mobil Arya. Ponsel Fiya berbunyi saat ia masuk ke dalam mobil Arya. Tanpa melihat dari siapa, dia langsung mengangkatnya.
"Hallo, ada apa mah?" tanya Fiya.
"Kamu datang saja ke perumahan kosong yang ada di dekat sungai, sekarang." ucap orang yang menelepon Fiya.
Fiya bingung, dia pikir itu nomor mamanya, namun ternyata bukan.
"Siapa Za?" tanya Arya.
"Entah siapa, namun dia menyuruhku untuk datang ke perumahan kosong dekat sungai. Atau Jangan-jangan, Bastian di sana."
"Baiklah, ayo kita segera ke sana."
Sekitar satu jam, mereka berkeliling dan akhirnya menemukan jejak perumahan yang di maksud orang misterius yang menelepon Fiya tadi.
Mereka berlima turun dari mobil. Mata Fiya selalu berpejam saat melihat makhluk di sekelilingnya yang berlalu lalang di depannya. Arya sendiri, selalu mengelus kedua lengannya karena merasa merinding.
Bagi Fiya, tempat tersebut tidak kosong, banyak yang menghuni bagaikan lingkungan perumahan seperti biasanya. Fiya pun memutuskan untuk selalu menunduk. Farhan tau maksud Fiya yang sedang ketakutan, dan ia pun menggandeng tangannya. Fiya melihat ke arah Farhan dan kemudian kembali berjalan.
"Aaaaakkk....."
Fiya mendengar teriakan Bastian pun langsung berlari menuju ke arah sumber suara.
"Bastian... Bastian...." teriak Fiya.
Arya yang melihatnya hanya bisa menguktinya dan melihat di sekeliling rumah tersebut.
"Bastian... Bastian..." teriak Arya dan teman tak kasat mata Fiya.
Setelah beberapa lama, merekapun akhirnya menemukan Bastian yang sedang terikat di sebuah ruangan luas mirip seperti gudang. Posisi Bastian sedang di ikat. Fiya hendak berlari menuju ke arahnya, namun seorang makhluk menghadangnya. Arya yang melihatnya terhenti langsung berlari, namun dengan sigap Fiya menghadangnya.
"Jangan melewati itu!" larang Fiya.
"Memangnya kenapa?" tanya Arya bingung.
"Ada makhluk, kamu tak melihatnya."
"Ma-maksud kamu, kamu lihat makhluk? Dimana?" tanya Arya.
"Aku mohon, siapkan mental kamu jika kamu ingin melihat. Sekarang, pejam mata kamu."
__ADS_1
Arya menurut dan memejamkan matanya. Fiya menaruh telapak tangan kirinya di depan mata Arya sambil mengucapkan sebuah mantra. Fiya pun melepaskannya setelah menyelesaikannya.
"Sekarang, kamu buka mata kamu pelan-pelan."
Begitu Arya membuka matanya, dia hendak di hajar oleh sang makhluk, dan dengan sigap ia menghindarinya.
"Kok tiba-tiba ramai, perasaan tadi nggak." gerutu Arya sambil melawan para makhluk.
"Ceritanya panjang Arya, kamu harus lawan mereka dan serang mereka di titik terang kelemahannya."
"Titik terang kelemahannya?"
Arya kembali fokus dan melihat makhluk tersebut dengan teliti. Dia melihat sebuah titik yang berkedip dan kemudian dia pun langsung memukul bagian tersebut. Dia terkejut saat melihat makhluk itu menghilang. Fiya juga berusaha melawan makhluk-makhluk tersebut bersama dengan Aldo, Dimas dan Farhan.
"Berhenti.." ucap seseorang yang tak tau berada di mana.
Orang misterius menggunakan jaket hitam dan kepala yang tidak tutupi kemudian keluar dan mendorong sebuah kursi yang di duduki oleh Feni dengan keadaan terikat. Di sejajarkan di samping Bastian. Fiya semakin khawatir karena Bastian sudah mulai ketakutan.
"Kau siapa?" tanya Fiya tegas.
Orang tersebut pun membuka penutup kepalanya, dan mereka yang melihatnya kaget karena orang itu tak lain adalah Aldi.
"Aldi?" panggil Fiya kaget.
"Safiya Khanza Ayunindya, orang pembawa sial. Memang lo itu pembawa sial buat gue. Lo nggak tau perasaan gue, dan nggak balas budi buat gue. Gue yang selalu ada setelah lo kehilangan Dimas, dan itu juga nggak berpengaruh buat lo. Seharusnya juga, masalah gue dengan adek gue udah kelar, tapi lo rusak semuanya dengan bantu adek gue. Dan lo dengan senangnya bahagia di atas penderitaan gue."
"Gue butuh lo!! Gue butuh cinta lo!! Tapi balasan lo apa ke gue. Yang gue dapatkan hanya penolakan dan berjauhan. Gue yang selalu berusaha untuk ngedapetin elo dan nyingkirin semua temen-temen lo dan orang terdekat lo yang lo cintai, tapi semuanya sama saja."
"Maksud lo apa Di? Lo waras kan? Lo butuh cinta gue? Sejak kapan? Gue nggak cinta sama lo karena gue nggak tertarik dengan lo, dan mustahil gue rebut lo dari sahabat gue sendiri. Itu sama halnya dengan gue ngancurin hidup gue sendiri."
"Pokoknya gue nggak terima. Lo harus nerima cinta gue, atau lo mau kehilangan mereka berdua." ancam Aldi.
"Dasar psikopat. Tentu gue milih temen-temen gue. Dan sekarang lepasin mereka."
Aldi membuka kain yang menutupi mulut Fiya dan Bastian. Mereka berdua pun berteriak.
"Kak Khanza.... " teriak Bastian.
"Khanza, tolongin gue." teriak Feni yang membuatnya tidak berdaya.
"Aldi, gue mohon lepasin mereka. Gue mohon jangan sakiti mereka. Gue mohon."
"Dengan syarat lo harus nerima cinta gue."
Fiya berfikir dengan keras. Sedangkan ketiga teman-temannya langsung mencegahnya.
"Kamu nggak boleh lakukan hal itu. Kamu milik Farhan." larang Dimas.
"Dimas?" ucap Arya heran saat melihat Dimas di samping Fiya.
__ADS_1
"Nindya, aku mohon. Kamu adalah sebuah kelebihan untuk menutupi semua rasa kekuranganku, ku mohon, jangan. Kita ambil cara yang lain, walaupun itu membuat nyawaku ini melayang sekalipun." ucap Farhan dengan tulus.
"Bos Farhan?"
"Nggak, gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayangi lagi. Walaupun gue tau kematian itu pasti. Dan kali ini, lo nggak boleh lakuin apapun."
Fiya menyingkirkan tangan yang di pegang oleh Farhan dan maju mendekati Aldi.
"Gue nggak akan terima apapun dari lo. Dan gue harap lo bisa kabur dari sini."
"DUAARR...."
Suara tembakan terdengar jelas, dan membuat Aldi geram sambil mengepalkan tangannya.
"Semuanya!! Kalian keluar dan untuk para makhluk, tampakan diri kalian di hadapan para polisi dan lawan mereka." perintah Aldi yang langsung di jawab anggukan oleh semua orang dan makhluk pengikutnya.
Alih-alih Dimas dan yang lainnya saling bertarung dan Fiya mengalihkan perhatian untuk melepaskan Bastian dan juga Feni. Begitu Bastian terlepas, Fiya langsung membopongnya dan kemudian beralih kepada Feni. Feni pun langsung memeluk dirinya.
"Maaf, gue nggak percaya sama lo."
"Lo gendong Bastian. Gue urus mereka dulu."
Fiya pun melawan para makhluk. Fiya yang terkena tonjokan langsung terjatuh. Feni khawatir, dan yang lainnya langsung membantu Fiya.
Dari belakang, Fiya berusaha melindungi Bastian. Ada seorang makhluk yang mengincar Bastian menggunakan sebuah pisau, dia pun sigap melindungi Bastian hingga tangannya terluka.
"Khanza!!" teriak yang lain.
Tanpa mereka sadari, Aldi membawa cairan pengirim arwah menuju ke tempatnya. Aldi hendak menyiramkan cairan tersebut kepada Dimas, namun Aldo langsung menghalaunya dan cairan itupun terkena dirinya.
"Aldo..." teriak Fiya.
Aldo langsung terbaring di lantai. Tubuhnya berkedip seakan akan dia akan menghilang. Mereka tak sadar tidak ada yang mengawasi Aldi sehingga Aldi pun kabur dari tempat tersebut.
Fiya yang melihat Aldo lemah langsung memangku kepalanya. Dia memegang tangan Aldo sembari menangis.
"Aldo.. Jangan pergi dulu ya... Kamu menemani kakak kan..."
"Maaf kak, tugasku untuk melindungi kakak... Su-sudah selesai... Lagipula...A-aku sudah terkena cairan itu... D-dan aku tidak bisa terus di sini.... Kakak... Bahagia ya di bumi. Semoga kak Khanza dan kak Farhan segera bertemu dan di persatukan... A-a-aku pamit..."
Aldo menghilang tepat di hadapan Fiya. Fiya menangis histeris di tempat. Feni hanya bisa menangis melihat sahabatnya kehilangan orang yang selalu di sisinya, walaupun Feni tidak tau kejadian yang sebenarnya.
Fiya mendongak dan melihat ke arah Bastian yang sedang di gendong oleh Feni. Fiya pun berdiri dan membopongnya serta mengelus kepalanya yang masih sesegukan.
"Kamu takut ya sayang... Maaf kakak terlambat. Sekarang mari kita pulang."
Fiya sebenarnya masih syok dengan kepergian Aldo, namun untuk Bastian, Fiya harus tetap kuat agar Bastian tidak merasa takut dan juga terbebani.
//**//
__ADS_1