
Fiya kini sudah berada di rumahnya. Dia membuka pintu tanpa memberi salam. Dia bergegas menuju ke kamar yang di tempati Aldo terlebih dahulu sebelum ke kamarnya.
"Tok.. Tok... Tok.. "
Tanpa menunggu jawaban, Fiya langsung membuka pintunya dan mendapati Aldo sedang tidur siang.
"Sedang tidur siang rupanya. Aku harus bagaimana? Sudahlah aku akan memberitahukannya nanti, sebaiknya aku mandi" ucapnya dengan lirih.
Dia pun ke kamarnya lalu menaruh ranselnya. Sebelum dia mandi, dia memilah baju untuk di pakainya ke rumah Dimas. Setelah merasa cocok, dia pun menaruhnya dan bergegas mandi.
Dia memakai celana jeans panjang dan kaos berwarna putih, serta kemeja kotak kotak berwarna hitam yang terbiarkan terbuka. Sedangkan rambut panjangnya terbiarkan tergerai dan ia juga memakai tas kecil berwarna merah maroon serta sepatu berwarna abu-abu.
Begitu dia siap, dia langsung keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Aldo. Masih dalam posisi yang sama, Fiya hanya menghela nafas panjang lalu mengambil sebuah buku dan pena yang tersimpan selalu di tas kecilnya.
Kakak akan ke rumah Kak Dimas, jika kamu ingin menyusul, datang saja. Kakak akan tinggalkan roti dan beberapa camilan di lemari . Makan saja jika kau lapar.
Fiya.
Setelah meninggalkan pesan dan meletakkan keperluannya di lemari, dia pun keluar dari kamar Aldo.
"Kenapa kamu ada di kamar tamu?" tanya seseorang yang tak lain adalah mamanya.
"Emm.. Itu mah, aku hanya mencari pena yang tersedia di sini, kirain masih ada ternyata nggak. Setelah aku cari akhirnya aku dapet satu"
"Memang punya kamu habis?"
"Yang di kamar abis mah, oiya aku mau ke rumah Dimas"
"Iya sana, nih bawa"
Mama Ova memberikan rantang makanan kepada Fiya. Fiya melihatnya dengan heran lalu menerimanya.
"Ini apa mah"
"Sop ayam"
"Kan pasti mamanya bikin mah"
"Udah bawa aja"
"Ya udah deh, Khanza berangkat. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Fiya berjalan kaki menuju rumah Dimas, karena jaraknya yang tidak jauh hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk sampai di rumah Dimas.
Begitu dia sampai di depan rumah Dimas, dia mendapati Sintya sedang di luar rumah sedang bermain dengan kucing.
"Assalamualaikum Sintya."
"Wa'alaikumsalam, kak Khanza. Mau jenguk kak Dimas ya, udah kangen."
"Nggak, ini kakak anterin sop ayam buat kakak kamu dari mama."
"Oohh, iya masuk yuk kak."
"Ayo"
Fiya dan Sintya pun masuk. Fiya langsung duduk di ruang tamu. Sementara Sintya mengambil minum untuk Fiya.
"Siapa yang datang?"
"Kakak ipar."
"Khanza?"
Sintya mengangguk.
"Ini dari mama Ova mah"
"Apa ini?"
"Sop ayam dari mama Ova"
"Kebetulan. Nih, bawa sekalian ya sama camilan nya, mama mau antar makanan buat kakak kamu."
"Oke mah."
Sintya kembali ke ruang tamu dan mendapati Fiya sedang sibuk memainkan ponselnya. Sintya pun meletakkan minuman dan makanannya di meja.
"Di minum kak"
__ADS_1
"Terimakasih banyak. Oiya Sintya"
"Iya, kenapa kak?"
"Kucing kamu ya"
"Itu kucing datang sendiri kemaren, waktu kucingnya dateng kucingnya kotor, terus aku mandiin dan kasih makan. Terus betah di sini, ya udah aku pelihara."
"Nggak ada yang nyariin?"
"Nggak kak."
"Khanza, mama minta tolong."
Di tengah perbincangan mereka berdua, mama Lastri memanggilnya dan dia pun segera beranjak menuju ke kamar Dimas dimana mama Lastri berada.
"Iya, kenapa mah?"
"Dimas nggak mau makan, coba kamu bujuk dia."
"Iya mah."
"Mama tinggal ke dapur dulu ya, mau cuci piring."
"Iya mah."
Begitu mama keluar dan menutup pintu, Fiya langsung duduk di ranjang tempat tidur Dimas dan mengambil makanan yang ada di meja. Fiya memperhatikan Dimas yang masih berkutik dengan handphone yang di pegangnya.
"Makan gih, nanti cepat sembuh."
"Udah sembuh kok."
"Handphonenya bisa di letakan dulu nggak?"
"Bentar lagi, tanggung ini."
Fiya merasa kesal lalu meletakkan piring yang sudah di pegangnya tadi dan akhirnya terpaksa merebut ponsel Dimas. Sebelumnya tidak berhasil, namun pada akhirnya Fiya bisa meraih ponselnya.
"Hei"
Dimas meraih ponselnya kembali dan ternyata permainannya sudah kalah.
"Hah sial"
Tatapan mereka bertemu dan jantung mereka pun tak bisa mereka kendalikan. Dimas yang masih tersadar pun tertawa melihat Fiya.
"Jangan memandangku terlalu lama."
"Apaan si, ya nggak lah."
"Mau kemana?"
"Mau pulang."
"Kau bahkan tak menyuruhku untuk makan."
"Aku sudah membujukmu tapi apa tadi, kamu nggak mau kan."
"Iya, aku makan. Mana nasinya"
"Nih, makan sendiri"
Fiya memberikannya sedikit kasar dan lalu duduk di sampingnya.
"Kan aku nggak nyuruh di suapin"
"Ya udah makan sendiri"
"Nasi apaan ini lembek banget"
Dimas pun mengaduk lalu mengangkat nasi yang sudah menjadi bubur tersebut dengan heran.
"Jangan bawel di makan napa"
"Aku nggak ma..."
Karena Fiya kesal, ia pun menyendokkan makanan ke mulutnya yang tidak berhenti berbicara.
"Bawel banget, tinggal makan aja apa susahnya si"
"Sup ayam buatan mama kamu ya"
__ADS_1
"Iya, enak ya"
"Hmm... Bilang sama mama kamu makasih ya"
"Pasti lah"
"Aldo masih di rumah kamu atau ikut ke sini"
"Nggak kok, dia di rumah"
"Oohh, kirain ikut"
"Nggak kok"
Setelah Dimas menyelesaikan makannya, Fiya menaruh piringnya di dapur dan kembali ke kamar Dimas. Begitu dia masuk, Dimas sedang memegang kotak berukuran sedang di pangkuannya.
"Hadiah untuk siapa itu?"
"Anak PMR."
"Oohh, siapa namanya?"
"Kalau nggak salah Safiya Khanza Ayunindya."
"Oohh, sini biar aku yang kasih."
"Baiklah, terimakasih."
"Sama-sama. Aku pulang ya."
"Nanti lah, main game yuk."
"Game apaan?"
"Tunggu bentar, aku siapin dulu."
Dimas menyiapkan peralatan Play Station, dia mencolokkan beberapa kabel dan juga memasang permainan, Fiya hanya memperhatikan. Tak tau benda apa saja yang dia pasang.
"Sudah siap, yuk main."
"Play Station?"
"Hmm.."
"Aku nggak bisa."
"Aku ajarin, sini duduk."
"Hmm.. "
Dimas menepuk tempat di sampingnya, Fiya sedikit canggung, namun dia tidak terlalu merasakannya.
"Sini duduk, tunggu apa lagi"
"Baiklah"
Fiya pun duduk di sampingnya. Dimas memberikan tombol untuk permainannya. Dia melihat tombol-tombol yang ada pada benda yang kini ada di tangannya.
"Apa yang harus aku pencet? Tombol mana saja yang harus aku pencet? Aku harus memulainya dari mana" batin.
Melihat Fiya yang hanya melihat benda tersebut, Dimas pun mengajarinya dan memegang kedua tangannya dan mengarahkan jari-jarinya untuk me memencet setiap tombol tersebut.
"Tinggal pencet aja, kamu nggak usah ragu. Tuh kan menang"
Fiya memerhatikan setiap wajahnya yang tengah berbicara. Setelah itu pun dia membiarkan Fiya untuk bermain sendiri.
"Mudah kan?"
Fiya hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Sintong...." panggil Dimas kepada adiknya.
"Kenapa kak?"
"Ambilin kakak minuman sama camilan ya, buat kak Fiya juga"
"Biar aku yang ambil Sin"
"Nggak kamu duduk aja"
"Oke kak, tunggu bentar ya"
__ADS_1
Lagi-lagi dilarang oleh Dimas dan terpaksa duduk tenang di depan layar tv. Bukan hanya Play Station yang mereka mainkan, mereka juga melihat Film horor dan masih banyak lagi yang mereka lakukan.
//**//