
...Jangan pernah bermimpi atau berkhayal bahwa orang yang selalu ada untukmu adalah jodohmu. Ingat, takdirmu ada di tangan Tuhan yang tidak akan bisa di ubah oleh siapapun, termasuk dirimu sendiri....
...~Safiya Khanza Ayunindya~...
_______________________
Tiga hari sudah Fiya tak sadarkan diri dari kejadian tersebut. Akibat lemahnya Fiya, Arya pun juga tidak bisa melihat makhluk lagi. Setiap sore, dia selalu menjenguk Fiya di rumah sakit sekaligus menjaga Farhan yang belum juga sadar.
Sementara itu, Bastian yang sudah tau Fiya sedang sakit meminta dengan keras untuk di antarkan ke rumah sakit, namun orang tuanya melarangnya.
"Aku ingin menjenguk kak Khanza..." rengek Bastian.
"Nggak sayang, jangan dulu." larang mamanya.
"Aku ingin ketemu sama Kak Khanza. Kalian nggak sayang sama Bastian." teriak Bastian.
"Di rumah sakit peraturannya anak di bawah 12 tahun di larang ke rumah sakit, nanti kamu ikut sakit."
"Kasihan kak Khanza sendirian di sana, pasti kak Khanza ketakutan."
"Bastian, kita tidak boleh menemuinya lagi Bastian." ucap sang papa.
"Papa dan Mama yang tidak boleh, tapi aku boleh ya pah.. Mah... Aku ingin bertemu dengan kak Khanza." pinta Bastian yang kemudian langsung menangis.
Mama Ifa langsung memeluknya penuh dengan kasih sayang karena ia juga merasa kasihan kepada Bastian yang harus ikut terpisah dengan Fiya. Kedua orang tua Jennie melarang siapapun berhubungan dengan Fiya tak terkecuali dengan adik Farhan, sehingga dengan terpaksa kedua orang tua Farhan menyetujuinya.
...*****...
Di rumah sakit sendiri, Fiya pun akhirnya sadar dan membuka matanya. Mama Ova yang selalu di sampingnya dan senantiasa berpuasa untuk kesembuhan putri satu-satunya sangat senang saat Fiya tersenyum kepadanya.
"Fiya sayang... Akhirnya kamu sadar nak..." ucap sang mama sambil mencium dan berlinang air mata.
Fiya juga tersenyum dan menghapus air mata yang terjatuh dari kelopak mata sang mama.
"Sudahlah mah, yang penting Fiya bisa bangun lagi. Oiya, bagaimana dengan keadaan Farhan, dia baik-baik saja kan?" tanya Fiya.
"Setidaknya pikirkan diri kamu dulu, kenapa kamu malah menanyakan tentang orang lain? Dia baik-baik saja sekarang, namun dia masih belum sadar. Sebaiknya kamu diam dan tunggu dokter sebentar lagi."
Fiya mengangguk dan memilih untuk diam. Dia melihat ke kanan dan kirinya namun hanya ada Dimas dan Arya yang tersenyum ke arahnya dan ia pun membalasnya.
Tak lama sang dokter memeriksanya dan memerintahkan semua yang ada di dalam untuk keluar ruangan. Mereka mengangguk dan kemudian keluar bersama secara bergantian.
"Dokter, tolong panggilkan Arya ke sini. Aku ingin berbicara pribadi dengannya." pinta Fiya ketika sang dokter telah selesai memeriksanya.
"Baik, akan saya panggilkan."
__ADS_1
Tak lama Arya pun datang bersama dengan Dimas. Arya langsung duduk di kursi tepat di sebelahnya dan Dimas yang memilih tetap berdiri di samping Arya.
"Ada apa kamu memanggilku secara pribadi?" tanya Arya.
"Kamu masih bisa melihat Dimas?" tanya Fiya.
Arya menggeleng. "Nggak, semenjak kejadian itu aku nggak bisa lagi liat Dimas."
Fiya mengangguk dan dia pun berusaha untuk duduk, di bantu oleh Arya dan Dimas.
"Terimakasih, aku berapa hari di sini?" tanya Fiya.
"Tiga hari." jawab Arya singkat.
Fiya membelalakan matanya dan melihat kalender di handphonenya. Dia menghela nafas panjang sambil menggaruk belakang telinganya.
"Aku merasa aneh, kok bisa tubuh Farhan di halangi 5 makhluk sekaligus, padahal sebelumnya tidak ada makhluk di sekelilingnya." ucap Dimas.
"Bagaimana mungkin?" tanya Fiya ke arah Dimas. Arya melihat ke arah pandang Fiya dan mengerti ada makhluk lain selain mereka berdua.
"Apa maksud kamu Khanza?" tanya Arya yang penasaran dengan apa yang di maksudnya.
"Kata Dimas, sebelumnya raga Farhan tidak ada makhluk sama sekali." ucap Fiya.
Aldi mengangguk dan mengerti sekarang, hingga dia pun menceritakannya.
Farhan sangat senang ketika mengetahui raganya tidak di ganggu oleh makhluk lagi. Di saat itu pula Arya ada di rumah sakit tersebut bersama dengan mama Ifa.
Sang dokter yang rutin memeriksanya entah mengapa pada hari itu menghela nafas panjang dan membuat semua orang heran dan penasaran dengan apa yang terjadi sesungguhnya.
"Emm.. Dok putra saya baik-baik saja kan? Kenapa dokter terlihat resah begitu?" tanya mama Ifa.
"Putra anda memang baik-baik saja, namun ada kemungkinan bila ia bangun nanti akan ada satu kekurangan di dalam dirinya, seperti tidak bisa melihat ataupun hilang ingatan akibat dari benturan keras di kepalanya tersebut. Dan pada saya periksa untunglah syaraf matanya tidak kena, namun entah dengan ingatannya nanti." jelas sang dokter.
"Jadi.. Ada kemungkinan Farhan akan hilang ingatan?" tanya mama Ifa dengan cemas.
"Betul bu, jadi saya harap ibu nanti tidak kaget dan di harapkan tetap tenang apabila itu terjadi. Semoga saja itu hanya sebuah kemungkinan dan untuk hal itu saya akan serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Kalau begitu saya permisi."
Mama Ifa mengangguk dan kemudian melihat kembali ke arah Farhan. Farhan juga sedih bahwa dirinya nanti tidak ingat masa lalu bersama dengan Fiya. Arya yang mendengarnya hal tersebut memilih keluar dari ruangan dan menemani Farhan.
"Kamu harus sabar, jika kamu tidak ingin, setidaknya masih ada Khanza yang selalu mengingatmu. Jangan khawatir, dia akan selalu bersamamu." Arya menguatkan Farhan yang termenung sendirian di depan ruangannya.
FLASHBACK OFF
Fiya kaget dan tak percaya dengan apa yang di bicarakan oleh Arya. Fiya menghela nafas panjang dan kemudian langsung menunduk.
__ADS_1
"Aku ingin menjenguk Farhan." Fiya beranjak dari tempat tidurnya, namun langsung di cegah oleh Arya dan juga Dimas.
"Jangan! Kamu baru bangun, belum sampai satu jam udah main minta turun aja. Nggak boleh." larang Arya.
"Emang butuh waktu satu jam harus bangun. Badan aku tuh pegel semua tau nggak! Aku juga ingin jenguk Farhan, minggir!! Kalian siapa aku berani-beraninya larang aku."
Fiya berpegangan di bahu Dimas dan Arya sambil dan berjalan sambil menuntun infus yang menyambung di tangannya.
Begitu pintu di buka, mama Ova dan papa Brian langsung menemuinya dan menuntunnya.
"Loh, kamu mau kemana? Sebaiknya istirahatlah." ucap sang mama sambil mengelus kepalanya.
"Mah.. Pah.. Badan aku tuh pegel. Udah tiga hari nggak jalan-jalan, jadi biarin aku jalan-jalan yah.. Di temani sama Arya." pinta Fiya.
"Kamu jangan ke ruangan Farhan ya.." larang sang papa.
"Loh pah, memangnya kenapa? Apa dia kembali parah?"
"Bukan sayang, tetapi keluarga Jennie melarang orang tua Farhan untuk menemui Farhan dan begitu pula kami tidak boleh menjenguk Farhan. Jadi, jangan coba-coba ke sana ya..."
Mama Ifa sangat berharap agar Fiya menurut, namun permintaannya gagal karena Fiya kukuh dan ingin tetap menjenguknya.
"Memangnya keluarga Jennie itu siapa mereka? Mereka baru tunangan kan bukan besan, tujuanku hanya ingin menjenguk sahabatku jadi, jangan coba-coba menghalangiku."
Fiya langsung meninggalkan mereka di tempat. Arya hanya linglung dan kemudian melihat ke arah orang tua Fiya.
"Saya yang akan menemaninya."
Begitu Arya di ijinkan dia langsung menuntun Fiya hingga ke ruangan Farhan yang tidak jauh dari ruangan Fiya. Mereka berdua langsung hanya menunggu di luar dan melihatnya dari kaca yang ada di tengah pintu tersebut.
Melihat Farhan masih terbaring, rasanya lemas bagi Fiya. Fiya melirikan matanya ke kanan dan ke kiri di balik kaca tersebut, namun dia tidak melihat raga Farhan di dalam ruangan tersebut.
"Aneh, kalian melihat Farhan?" tanya Fiya.
"Farhan di dalam bukan?" tanya Arya bingung.
"Maksudnya jiwa Farhan. Apakah kalian tidak melihatnya?" tanya Fiya.
"Jiwa Farhan sudah kembali ke raganya Fiya. Semenjak pertarungan itu, tiba-tiba jiwa Farhan masuk ke dalam raga Farhan. Namun, hingga saat ini dia tidak sadar. Dan apabila sadarpun, dia tidak akan ingat."
Pernyataan Dimas membuat Fiya bersedih. Fiya menaruh tangan kirinya di pintu tersebut dan tanpa ia sadari dia menangis.
"Farhan... Aku mohon bangunlah, aku akan berusaha agar kau terus mengingatku. Ku mohon, cepat sadarlah. Aku ingin bertemu denganmu."
Ucapan Fiya bagaikan sebuah mantra dan jari-jari Farhan pun bergerak-gerak dan bagian kelopak matanya. Fiya yang merasa putus asa di luar memilih kembali ke ruangannya.
__ADS_1
//**//