
Sore harinya, Dimas mengajak Fiya untuk pergi ke sebuah tempat. Yang tak lain adalah pasar malam. Kebetulan pada saat itu, ada pasar malam di lapangan yang dekat dengan rumah Fiya dan Dimas, hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di sana.
Kedua remaja itu tidak di perbolehkan untuk pergi sendiri, jadi keluarga mereka memutuskan untuk ikut. Keluarga mereka berdua memberi kesempatan mereka untuk menaiki motor, sedangkan orang tua mereka sepakat naik mobil milik papa Brian.
Serasa di buntuti memang, tetapi namanya juga remaja baru gede kan, keluarga mereka tetap waspada. Dimas melajukan motornya secara pelan dan membuat dua keluarga yang menggunakan mobil merasa bosan. Sungguh, benar-benar lambat bagi keluarga mereka.
Perjalanan yang seharusnya di tempuh 10 menit, mereka menempuh hingga 20 menit, dua kali lipat lebih lambat dari laju motor yang biasa orang lain jalankan.
Layaknya pasangan, Fiya dan Dimas bergandengan tangan, bahkan Fiya menggandeng lengan Dimas. Kedua keluarga mereka hanya di buat iri oleh kemesraan anak-anak mereka dan mereka memutuskan untuk menyebar dan membiarkan Fiya dan Dimas berdua.
"Papa sama mama mau naik itu, kalian berdua jangan macam-macam. Kita ketemu lagi nanti di depan komedi putar." ucap papa Brian mewanti-wanti.
"Iya papa." jawab mereka berdua kompak.
Mereka terhenti di sebuah toko aksesoris yang menyediakan jepit rambut. Dimas mengambil jepit rambut yang berbentuk love berwarna merah dengan tambahan manik-manik yang menambah kesan kemewahan. Dimas mengambilnya dan memakaikannya di rambut Fiya.
"Fiya, hadap sini dulu."
Fiya hanya menurut dan mematuhinya. Di pakaikannya di atas telinga sebelah kiri. Dimas memakaikannya pelan dan kemudian memegang kedua pipi Fiya.
"So, beautiful." ucap Dimas yang membuat Fiya tersipu.
Fiya menunduk dan Dimas pun melepaskan tangannya dan segera membayar jepit rambut yang dibelinya. Kini mereka beralih ke toko aksesoris jam tangan.
"Kenapa ke sini?" tanya Fiya.
"Jam tangan kamu kan rusak." Sambil menunjuk tangan Fiya.
"Oiya, aku mau beli baterai jam tangan, ada kan pak." tanya Fiya kepada penjual jam tersebut.
"Jangan, mending beli yang baru aja. Kita couple lan yuk." ucap Dimas yang membuat Fiya terkekeh.
"Hehehe... Dim, biasanya yang ngajak couple lan itu cewek, kok lo si." ucapnya sambil menepuk bahunya pelan.
"Sekali-kali aku juga harus pengertian. Bang, coba liat jam tangan yang couple dan cocok buat kami ya..." ucap Dimas kepada penjual jam.
"Iya mas." jawab penjual jam tangan tersebut sambil mengambil jam tangan yang menurutnya cocok.
"Ini mas, coba liat-liat dulu." ucap nya sambil memberikan jam tangan tersebut.
Dimas menerimanya, sedangkan Fiya juga ikut melihatnya. Mereka mencoba di pergelangan tangan kiri mereka.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Dimas.
__ADS_1
Fiya berpikir sejenak dan matanya masih melihat ke arah jam tangan. Dia menarik tangan Dimas dan menjejerkannya.
"Kurang menarik. Bang, ada nggak yang bisa di kasih nama atau foto gitu." tanya Fiya.
"Ada mba, tetapi tidak di buat di sini. Kalau mau yang model kaya apa mba?" tanya sang penjual sambil memberikan beberapa lembar foto gambaran tentang jam yang di bahasnya.
Fiya mengambil foto desain jam yang diberikan. Dimas juga ikut melihatnya, hingga mereka menemukan desain yang cocok untuk mereka.
"Bang, yang ini ya, tulisan Best Friend dan ada inisial F buat di jam cowo dan yang cewe tulisan D." ucap Fiya sambil menunjukkan desain yang dipilihnya.
"Iya mba siap. Mau di ambil atau di kirim ke rumah." tanya sang penjual yang siap menulis permintaan Fiya.
"Ambil aja bang besok." potong Dimas.
"Iya mas, besok ke sini lagi ya." jawab sang penjual.
"Iya bang. Oiya, ini pasar malam mulai buka dari jam berapa ya bang?" tanya Dimas.
"Jam 4 sore mas." jawab sang penjual.
"Kalau abangnya jam berapa bukanya?" tanya Dimas lagi.
"Sama mas."
"150 ribu mas."
Dimas mengambil uang dalam dompetnya dan memberikannya kepada sang penjual. "Nih bang, lunas ya."
"Iya mas, terimakasih." jawabnya sambil menerima uang yang diberikan Dimas.
Setelah mereka menjauh, mereka pergi ke sebuah wahana melempar bola ke dalam botol dan Dimas memenangkan permainan lalu memberikan hadiahnya kepada Fiya, yaitu permen kapas besar berbentuk hati.
Mereka juga bermain capit boneka. Dimas dengan setia mengajarinya hingga Fiya mendapatkan satu boneka yang diincarnya.
Di saat mereka berjalan, mereka melihat keluarga Fiya yang tengah bermain Komedi putar. Mata Fiya tertuju pada mesin yang menjalankan komedi putar tersebut tengah diotak-atik oleh sesosok anak kecil dengan mata yang bengkak, berpakaian compang-camping penuh dengan darah.
Mata Fiya terbelalak saat melihat adiknya yang tengah menumpakinya. Dimas yang sedang berbicara tidak di hiraukannya dan dia pun berlari ke arah komedi putar tersebut.
"Sekarang, kita kemana? Ehh... Fiya.."
Dimas yang terlanjur bingung ikut mengejarnya. Fiya panik untuk saat ini dia melihat ke arah sekitar dan melihat para penjaga yang sedang bercanda.
"Mas, mas.. Tolong matikan komedi putarnya." ucap Fiya panik.
__ADS_1
"Oohh.. Mba mau naik." jawab sang penjaga dengan santai.
"Nggak mas, cepat." jawab Fiya panik.
Mama Ova dan papa Brian yang melihatnya, hanya bingung.
"Ada apa Khanza?" tanya mamanya.
Fiya tidak menjawab karena merasa panik. Mama Ova memegang pundak Fiya yang tubuhnya bergetar. Anak kecil tersebut yang merasa Fiya mengetahuinya, melancarkan aksinya.
Komedi putar tersebut yang awalnya berjalan lambat, sekitar berputar dengan cepat. Sang penjaga yang hendak lewat juga tertabrak oleh salah satu komedi putar berbentuk gajah dan membuathya terpental menghantam pembatas.
Seketika tempat itu ricuh. Para orang tua berteriak minta tolong ke sana kemari serta memberi peringatan kepada anak-anaknya untuk tetap berpegangan. Ada juga orang tua yang nekat untuk mengambil anak mereka.
Sedangkan Sofi, adik Fiya berada di bagian tengah dan membuat mereka panik seketika. Beberapa anak berhasil di selamatkan, namun ada juga yang terpental dan mengalami luka ringan.
"SOFI.. PEGANGAN YANG ERAT!!!!" teriak mama Ova.
Fiya nekat dan melompati pembatas komedi putar tersebut lalu berteriak kepada anak kecil yang tersenyum.
"Hei kau, hentikan... Hentikan komedi putarnya sekarang." teriak Fiya.
"Tidak akan." jawabnya.
Fiya bingung karena anak kecil itu semakin menaikkan tempo laju komedi putar tersebut, hingga adiknya terpental dan terluka parah. Darah mengalir di dahinya dan membuatnya meneteskan air mata. Mama Ova dan papa Brian membawa Sofi pergi ke rumah sakit diikuti oleh keluarga Dimas.
Fiya geram, namun Aldo datang di waktu yang tepat dan membantu Fiya untuk melawan anak kecil tersebut. Di bawanya di depan Fiya dan Fiya pun menatapnya dengan geram.
"Aldo, tolong hentikan komedi putar tersebut."
Aldo mengangguk dan menghentikannya. Perlahan komedi putar tersebut berhenti.
"Kenapa kau melakukan ini? Kau tau betapa bahayanya ini. Lihat, dan adikku juga menjadi korban. Semua gara-gara kau."
Anak kecil itu hanya menunduk. Fiya masih menangis dan Dimas merangkulnya untuk menenangkannya.
"Jika terjadi sesuatu kepada adikku, aku tidak akan pernah memaafkanku." ucap Fiya kesal dan pergi dari hadapannya.
Aldo diam di tempat dan melihat ke arahnya dengan kesalnya. Dimas mengikutinya dan menuju ke parkiran. Aldo juga ikut dengannya menuju ke rumah sakit.
"Kak, aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu." ucap Aldo yang di jawab anggukan oleh Dimas yang menyalakan motornya.
Fiya bersembunyi di punggung Dimas sambil menangis. Dimas memegang tangannya untuk menenangkannya.
__ADS_1
//**//