Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
24. Rencana Selamatan


__ADS_3

Begitu semuanya beres, Fiya pun menuju ke ruang guru sendirian. Awalnya Dimas dan Aldi berebut untuk menemaninya, namun dengan tegas Fiya menolak dan menyuruh kedua lelaki tersebut untuk diam di tempat sembari menemani mereka bertiga.


Begitu dia sampai, dia pun mengetuk pintu ruang guru dan langsung memasukinya. Para guru yang ada di tempat pun langsung menemuinya.


"Ada apa Fiya? Apa mereka kerasukan lagi? Tadi bapak dengar jeritan keras. Bapak hendak menengok kalian, tetapi kami menghalangi anak-anak yang hendak menengok ke UKS, takut mereka ganggu dan ikut ketularan dan nantinya membuat kamu repot. Maaf, saya sebagai guru tidak bisa membantu kamu menghadapi masalah itu." tanya pak Gilang.


"Tidak pak, tidak apa. Saya yang berterima kasih karena telah menghalangi anak-anak untuk datang ke UKS, masih ada Dimas dan Aldi di sana. Jadi, mereka yang membantu saya dan mereka sudah baik-baik saja." ucap Fiya dengan senyum seperti tidak ada beban.


"Syukurlah kalau begitu." ucap pak Gilang lega. "Sebenarnya saya ingin memberi tau sesuatu kepada para guru di sini, terutama kepada kepala sekolah."


"Kepala sekolah?" tanya pak Gilang dengan bingung.


"Iya, ini menyangkut sekolah ini dan keselamatan penghuni di sekolah ini."


"Oohh, begitu. Baiklah, akan bapak usahakan. Bapak akan beritahu dulu di grup guru, semua guru akan kumpul beserta dengan Kepala Sekolah."


"Iya pak."


Tak lama kemudian, para guru, staf TU, wakil kepala sekolah dan kepala sekolah datang ke ruang guru setelah mereka memberikan tugas kepada murid-muridnya. Fiya masih diam di tempat dengan gugup, takut mereka tidak akan percaya dengan omongannya.


"Ada apa Fiya? Apa ada masalah serius sehingga harus memanggil kami?" Pak kepada sekolah penasaran.


"Emm.. Begini pak. Saat di UKS, ada makhluk yang merasuki tubuh Jennie. Dia meminta agar sekolah ini meminta ijin kepada leluhur yang telah lama tinggal di sini."


"Caranya."


"Emm... Saya tidak ahli dalam bidang ini. Sebaiknya, kita minta bantuan pak Kayim setempat."


"Setelah itu, apa yang harus kami lakukan?"


"Setelah di bangun sekolah ini, apakah kalian mengadakan acara selamatan."


"Selamatan?" ucap para guru bingung.


"Iya pak, Selamatan."


"Baiklah kalau begitu. Bapak akan rencanakan waktunya bersama para guru. Kamu boleh kembali ke kelas. Eh.. Para pasien kamu udah sembuh." tanya pak kepala sekolah.


"Iya, sekarang sudah. Tadi ada sedikit masalah dan, alhamdulillah udah tuntas."


"Syukurlah kalau begitu. Di UKS ada siapa aja, pasien sama yang jaga?"


"Pasien Bianka, Jennie dan Feni, yang jaga sekarang, Dimas, Aldi."


"Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh kembali. Terimakasih infonya."


"Iya pak. Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."


Fiya pun keluar dari ruang guru dan kembali ke UKS. Begitu Fiya datang Fiya langsung duduk di sebelah Dimas.


"Habis ngapain?"


"Ya habis bilang sama guru lah. Aku mau tidur bentar. Udah jam berapa ini?"


"Jam setengah 12 siang."


"Aku merem bentar."


"Silahkan."

__ADS_1


Fiya pun memejamkan matanya dan tertidur sejenak. Dimas yang di sampingnya pun menyenderkan kepala Fiya ke pundaknya. Aldi yang tak tahan pun memilih keluar dari UKS.


"Kenapa dia?" tanya Fiya.


"Tak tau, sudah. Pasti kamu lelah tidurlah."


Fiya pun memejamkan matanya dan tertidur. Sekitar 30 menit kemudian, ada guru yang datang ke UKS. Fiya pun terpaksa bangun dan mengucek matanya.


"Lagi pada istirahat ya. Maaf bapak ganggu." ucap pak Gilang.


"Tidak apa pak. Ada apa ya pak?" Tanya Fiya.


"Ini makanan untuk kalian, dan mereka bertiga. Dimas kemana ya?"


"Saya Dimas pak." ucap Dimas.


"Oohh, yang satunya."


"Aldi?" ucap Fiya bingung.


"Iya, Aldi. Dimana dia?"


"Tidak tau pak."


"Kalau begitu, kamu Dimas, tolong carikan dia. Ini ada makan siang untuk kalian. Silahkan dimakan ya. Bapak masih ada urusan. Sampaikan kepada Jennie kakaknya sebentar lagi jemput."


"Oh, iya pak. Terimakasih banyak."


"Sama-sama, silahkan dimakan ya."


"Iya pak."


Pak Gilang pun keluar. Dan Dimas hanya bingung dan menatap Fiya.


"Iya... Begitulah.. Udah.. Sana cari Aldi. Aku bangunin mereka bertiga dulu."


Dimas mengangguk dan bergegas mencari Aldi. Fiya pun bangkit dari tempat duduknya dan membangukan para pasiennya dengan pelan lalu memberikan nasi kotak berisi ayam geprek kepada Jennie, Bianka dan Feni. Setelah itu, dia memilih memainkan ponselnya sambil menunggu Dimas dan Aldi.


Di sisi lain, Dimas mencari Aldi mulai dari kantin, kelas dan toilet. Saat Dimas sedang menuju ke toilet, dia pun berlari sambil merangkul Aldi.


"Lo kemana aja Bro?"


"Bukan urusan lo. Khanza dimana?"


"UKS. Lo di cariin sama Khanza tadi."


"Oohh.."


Aldi pun berjalan sedikit lebih cepat dan langsung menuju ke UKS.


"Gue yang cari, gue yang di tinggal." gerutu Dimas.


Di sisi lain, Juan datang bersama dengan Farhan. Juan langsung memeluk Jennie saat makan.


"Kamu tak apa?"


"Badanku remuk semua."


"Kakak sudah minta ijin guru untuk menjemputmu pulang. Habiskan dulu makananmu."

__ADS_1


"Kak, aku tak suka. Lebih baik kita pulang sekarang."


"Ya sudah kalau begitu. Farhan, kakak pulang dulu."


"Iya kak."


Juan dan Jennie pun keluar dari UKS. Farhan langsung menatap Fiya dengan tatapan seperti biasa, yaitu tak suka. Dia pun mendekatinya, Fiya hanya berjalan mundur dengan pelan. Saat dia terhenti, Farhan juga terhenti.


"Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Jennie, aku tidak akan memaafkanmu."


Fiya pun menatapnya tidak suka dan bingung.


"Kenapa dia mengancamku? Sejak kapan Jennie dan Farhan dekat." batin


Saat keluar, Dimas dan Aldi berpapasan dengannya dan hanya saling melirikkan mata tajam. Dimas dan Aldi pun masuk dengan tatapan bingung.


"Kenapa dia ke sini?" Tanya Dimas.


"Entahlah."


"Khanza, kau mencariku?" tanya Aldi.


"Di cari guru tadi, ini di suruh makan. Ayo makan dulu."


"Kamu yang beli?"


"Bukan, dari guru."


Mereka bertiga pun duduk lalu makan bersama. Di sela-sela makannya, Fiya pun melihat ke arah Feni yang sedang membereskan makannya.


"Bungkusnya situ aja Fen, biar aku yang membersihkan."


"Tidak apa. Aku sudah lebih baik sekarang. Kau lanjutkan saja makannya. Biar aku yang bersihkan."


"Sungguh? Kau sudah baikan?"


"Iya Safiya Khanza Ayunindya, temanku, sahabatku dan penyelamat pengembali nyawaku dan orang-orang."


"Iya, baiklah."


Fiya pun kembali makan, dan setelah semua habis, dia menaruh bungkus nya di plastik dan membuangnya di tempat sampah.


"Khanza." panggil Bianka.


"Kenapa? Loh, kok kamu bangun, mau kemana?"


"Aku ijin mau pulang. Terimakasih banyak bantuanmu."


Fiya mengangguk sambil tersenyum, setelahnya dia masuk ke UKS lagi dan membantu Feni membereskan ranjang pasien.


"Fen, sebaiknya kamu istirahat di rumah hari ini. Kita bisa belajar bareng lagi lain waktu."


"Iya, kalian belajar saja. Tanpa aku pun tak apa. Lagian mereka harus mengejar materi satu semester kan? Bentar lagi mau ujian kenaikan kelas."


"Iya."


"Iya udah. Kita langsung ke kelas atau kamu masih mau di sini?"


"Ke kelas saja."

__ADS_1


Setelah beberes, merekapun ke kelas bersama dan mengikuti pelajaran yang tersisa.


//**//


__ADS_2