
5 hari berlalu dan Fiya pun sudah kembali ke sekolah dan melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Khanza... Gue kangen banget sama lo..." peluk Feni.
"Lo tuh suka banget ya.. Bolak balik ke rumah sakit.. Nggak bosen.." lanjutnya.
"Ya bosen lah.. Kali nggak, emang rumah sakit rumah ibarat istana. Istana kan bikin betah, nah rumah sakit kan sama aja kaya rumah setan." jawab Fiya.
Kebetulan Fiya dan Farhan berpapasan di depan kelas mereka. Hanya lirikan dan saling cuek satu sama lain. Tak ada perkataan yang mewakili perasaan mereka, namun Dimas tak tinggal diam. Ibaratkan Farhan yang sudah menjadi raganya, dia pun masuk ke raga Farhan. Seketika, tangan Farhan langsung ia arahkan untuk memegang tangan Fiya. Fiya pun melihat ke belakang dan berhenti berjalan.
"Kenapa?" tanya Fiya.
"Pulang bareng gue."
Farhan langsung melepaskan tangannya dan kemudian pergi meninggalkannya. Begitu pula Dimas yang juga keluar dari tubuh Farhan.
Farhan tak merasa aneh dan kembali berjalan seperti biasanya menuju ke kelasnya. Fiya yang melihat hanya bingung dan tercengang dengan sikap aneh Farhan.
"Eh.. Bengong mulu, jadi ke perpustakaan nggak?" tanya Feni.
"I-iya ayo.."
Mereka berdua pun kembali berjalan tanpa saling bertanya apapun. Mereka sudah tak sedikit peduli dengan sikap aneh Farhan namun, masih ada keraguan yang terdapat di benak mereka.
Hingga pulang sekolah pun tiba. Kini Fiya yang rela menunggu di parkiran sekolah, karena ia yang keluar dari kelas paling awal dari biasanya. Aldi yang melihatnya duduk di atas motor Farhan seketika langsung melajukan motornya di dekatnya.
"Pulang kan? Yuk sama aku." ajak Aldi.
"Maaf Al, aku pulang sama Farhan." jawab Fiya yang tentu saja membuat Aldi geram.
"Oh.. Ya udah, aku duluan."
Aldi pun menyalakan motornya dan meninggalkan Fiya tepat pada saat Farhan datang ke motornya.
"Ngapain lo di motor gue? Lo nunggu siapa?" tanyanya.
Dimas yang melihatnya dari kejauhan panik, karena takutnya Fiya akan di tinggal oleh Farhan dengan sikap dinginnya yang membuat Fiya tidak suka padanya.
"Duh.. Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Kan lo ngajak gue pulang, kalau gue nolak nanti lo bisa ngejekin gue lagi." keluh Fiya.
"Siapa yang ajak lo pulang? Perasaan gue nggak ngajak lo, lo aja yang kepedean."
Fiya mendengus kasar sambil mengerutkan dahinya. Dia berjalan sambil menunduk dan melihat tali sepatunya lepas. Fiya pun hendak berjongkok untuk mengikatnya, Dimas yang mencuri kesempatan saat Farhan lengah dan langsung membantu Fiya mengikat tali sepatunya.
Fiya sedikit kaget dan tersentak. Bertepatan dengan itu, Jennie dan Bianka datang. Jennie sangat geram dan langsung menarik pundak Farhan yang berjongkok di depan Fiya.
"Lo kenapa peduli banget sama dia si ketimbang sama gue?" tanya Jennie.
"Gue nggak peduli sama lo karena lo tuh manja, sok cantik dan sok kaya. Lo nggak usah deketin gue lagi." ucap Farhan.
"Gue bakal aduin lo ke mama sama papa." ancam Jennie.
"Silahkan aja lo aduin. Kalau lo punya sikap dewasa, pasti lo punya pemikiran sendiri dan ubah sikap lo yang berlebihan itu."
Fiya hanya diam di belakang Farhan. Farhan langsung menarik tangannya untuk naik ke motornya. Farhan menggunakan helmnya dan kemudian menyuruh Fiya naik. Setelahnya, mereka melalui Jennie dan Bianka.
"Iiihh... Dasar dukun." umpat Jennie.
Di perjalanan, mereka berdua berhenti di sebuah jembatan. Lebih tepatnya, jembatan yang pernah di datangi Dimas sebelumnya. Melihat di seberang, jembatan kota yang begitu panjang dan ramai. Fiya melihat ke arah seberang dengan angin sepoi sepoi dan menikmati angin segar di siang hari tersebut.
Dimas pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar dari tubuh Farhan dan kemudian menghilang. Pandangan Farhan tetap menatap Fiya walaupun kebingungan tersimpan di dalam hatinya.
Fiya pun menoleh ke arahnya, dan Farhan menjadi gelagepan karena terus memandanginya.
"Memangnya apa yang gue lakuin? Tapi si nggak masalah, gue juga nggak suka sama dia."
"Lo kan tunangannya, dia juga cantik, kaya, seperantara sama lo. Biasanya kan, cowo sukanya cewe kaya dia."
"Lo salah. Gue nggak suka sama dia, gue sama Jennie itu dijodohkan, bukan karena kemauan kami."
"Mustahil lo nggak suka sama dia. Ujungnya juga bakal nanti saling merindukan momen yang pernah di lalui. Lihat saja... Em.. Pulang yuk.." ajak Fiya sedikit ragu.
"Pulang sendiri aja."
Fiya mengangguk dan memegang handphonenya untuk menelepon supirnya.
"Nggak, bercanda. Ayo naik.."
__ADS_1
Farhan mencubit hidungnya dan menggerakkan ke kanan dan ke kiri, setelahnya ia juga mengelus rambutnya lalu naik ke motornya. Fiya sedikit tercengang dan kemudian langsung naik ke motor Farhan.
"Lo tadi sadar?" tanya Fiya.
"Kadang sadar, kadang enggak."
"Lo punya kepribadian ganda ya. Aneh banget."
"Nggak, gue nggak punya."
"Mending lo ke psikiater biar nentuin kamu tuh sehat atau nggak dan mastiin kalau lo tuh waras."
Farhan langsung menghentikan motornya mendadak dan membuat kepala Fiya terbentur oleh helm yang di pakai Farhan.
"Aahhh.. Bisa pelan nggak si." gerutu Fiya.
"Lo mending turun sekarang. Gue lagi males debat sama lo."
"Licik banget si jadi lakik, katanya tadi mau anterin. Gue kan cuma nyaranin karena lo tuh nggak beres."
"Gue bukan nggak beres karena bukan nggak waras ya.. Gue waras tetapi karena gue keras...."
Farhan menghentikan perkataannya dan kembali melajukan motornya dengan cepat. Fiya kaget dan otomatis dia bersembunyi di punggung Farhan dan memegang erat pinggang Farhan.
"Gue nggak mungkin bilang kalau gue kerasukan arwah Dimas, yang ada nanti timbul suatu masalah yang terjadi pada Khanza nanti."
Farhan melajukan motornya hingga ke rumah Fiya. Farhan pun melepaskan helmnya. Farhan yang merasa perutnya sesak pun menyentil tangan Fiya dari pinggangnya. Seketika Fiya mendongak dan turun dari motor Farhan.
Fiya pun merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah Farhan. Farhan yang melihatnya tersenyum kecil dan juga ikut merapikan rambutnya.
"Nggak usah pegang rambut gue lo."
"Di bantuin malah nyolot. Ya udah sana masuk. Gue balik, salam buat mama sama papa lo."
Fiya mengangguk, dan Farhan pun kembali memakai helmnya dan meninggalkan pekarangan rumah Fiya. Aldo dari tadi memperhatikan sambil senyam senyum. Fiya yang melihatnya kaget dan mendekatinya yang dari tadi cekikikan.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Fiya.
"Udah bisa move on ya kak. Punya gebetan baru."
__ADS_1
Fiya pun mengejar Aldo hingga masuk ke dalam rumah, namun sialnya karena Aldo adalah seorang arwah, dia bisa menghilang kapan saja.
//**//