Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
25. Belajar bersama di rumah Fiya


__ADS_3

Pulang sekolah akhirnya tiba. Feni di jemput oleh papanya, sedangkan Dimas, Aldi dan Fiya menuju ke rumah Fiya. Menempuh waktu sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai.


"Assalamualaikum." teriak Fiya.


Mama Ova pun membuka pintu sambil menjawab salam.


"Wa'alaikumsalam. Uh... Di kawal dua pangeran. Mari silahkan masuk."


Mereka bertiga pun masuk. Dimas dan Aldi duduk di ruang tamu.


"Aku ganti baju dulu ya."


Mereka berdua hanya mengangguk dan kemudian memainkan ponselnya masing-masing.


"Silahkan diminum. Kamu namanya siapa?"


"Saya Aldi bu."


"Murid baru juga ya."


"Iya bu."


"Sekelas sama Khanza?"


"Iya."


"Oohh.. Ya sudah, ibu ke dapur dulu. Kalau kalian butuh apa-apa jangan sungkan minta sama ibu. Ibu ke belakang dulu."


Tak lama kemudian Fiya datang menggunakan dress rumahan selutut berwarna biru bermotif kotak-kotak dengan pita di pinggangnya. Dia turun sambil menggendong adiknya dari lantai atas.


"Namanya siapa Za" tanya Aldi.


"Sofiya"


"Panggilnya?"


"Sofi."


"Oohh.."


"Sofi turun, salim sana."


Sofi pun menurutinya dan menyalami mereka berdua.


"Cantik kaya kakaknya."


"Telimakacih."


Aldi mencubit pipinya pelan dan pandangannya teralihkan saat melihat seseorang lewat di depan pintu kamar.


"Aldi, kenapa kamu bengong. Cepat buka bukunya."


"Iya Za, maaf."


Dia pun membuka bukunya, namun tentunya dengan masih heran dengan sesosok anak yang ada di kamar tersebut.


"Apakah dia makhluk? Sepertinya aku pernah melihatnya." batin.


"Adikmu cuma satu kan Za" tanyanya.


"Iya lah."


Aldi hanya mengangguk dan mendengarkan penjelasan Fiya. Hingga pukul setengah 4 sore mereka memutuskan untuk menyudahi pembelajaran. Mereka berpindah ke ruang keluarga untuk menonton televisi.


"Fi, ada play station kan?"


"Ada, tapi udah lama nggak ke pake. Nggak tau masih bagus atau nggak."


"Coba sini."

__ADS_1


Fiya pun mengambilnya dan kemudian memberikannya kepada Dimas. Dimas pun memasang kabel tersebut ke stop kontak dan kemudian mulai memainkannya.


"Nih coba."


Dimas memberikan satu remot kontrol kepada Fiya, dan Fiya pun mencobanya.


"Ini gimana mencetnya. Aku nggak bisa main."


"Tinggal di pencet juga."


Aldi pun turun tangan dan membantu Fiya. Dia mendatangi Fiya memegang remot kontrol tersebut sambil menggerakkan jari-jari Fiya. Dia memegangnya dari belakang Fiya. Fiya pun melihat ke arahnya dan kemudian memberikan remot kontrol tersebut kepadanya.


"Ehm.. Ehm.. Kamu yang main. Aku ke belakang dulu mau minta jus. Bentar ya."


Akhirnya Aldi dan Dimas yang bermain. Mereka bermain tanpa mengenal lelah, satu sama lain ingin tidak terkalahkan.


Fiya pun datang sambil membawa tiga gelas jus dan beberapa camilan. Fiya memilih duduk di sofa sambil melihat mereka berdua bersaing. Fiya juga mencuri kesempatan untuk memotret mereka berdua dari belakang.


Hingga hampir 1 jam mereka bermain hingga jus yang ia minum dan camilan yang ia bawa habis dan membuatnya merasa bosan, dan akhirnya dia pun menjahili mereka berdua. Fiya mendekati mereka dan menekan pinggang mereka berdua hingga mereka berdua terperanjat kaget dan melihat ke arah Fiya tajam. Tatapan mereka kembali ke layar dan sayangnya permainan itu sudah kalah.


"Yess.. Kalah.. Kalah.. Kalah.."


"Fiya, kenapa kamu jail banget si."


"Ya kan aku yang punya rumah, malah aku yang di cuekin."


Aldi pun menarik tangan Fiya dan menyuruhnya duduk di kursi.


"Baiklah nona, saya minta maaf. Mau makan apa nona."


Aldi mengambil sepiring buah yang masih utuh dan menyandingkannya kepada Fiya. Dimas pun mengambil buah anggur dan kemudian menyuapinya.


"Saya juga minta maaf nona. Sini akkk..biar nggak ngambek lagi."


Fiya mengambil anggur yang di tangan Dimas dan mengambil yang berada di piring yang di pegang Aldi.


"Kalian makan dulu. Nih.. Akkk."


"Udah sore, kalian belum pulang."


"Nanti aja. Rumah aku kan deket."


"Kamu Al?" tanya Fiya.


"Aku pulang malam si nggak masalah."


"Kalian sebaiknya pulang. Anak laki-laki pun juga nggak boleh pulang kemalaman."


"Tuh dengerin. Udah kalian sana pulang. Besok jangan lupa belajar lagi."


"Besok berhenti dulu lah Fi, aku cape."


"Oke baiklah, terserah kalian saja. Besok libur, tapi lusa inget loh, harus belajar."


"Siap nona." jawab mereka berdua kompak.


"Ya udah, Fiya, mama Ova. Kami pamit."


"Iya, kalian berdua hati-hati."


"Iya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Fiya dan mamanya.


*****


Beralih ke Farhan dan Jennie.


Farhan sedang duduk di ruang tamu di sebuah rumah besar yang tak lain adalah rumah Jennie. Dia datang bersama kedua orang tuanya karena memaksakan dia di jodohkan dengan Jennie.

__ADS_1


Jennie sangat senang akhirnya dia bisa memiliki Farhan dan hari ini pun mereka mengadakan acara pertunangan sederhana dan hanya di hadiri oleh dua keluarga tersebut.


Farhan menyematkan cincin tersebut di jari manis Jennie dan begitu pula Jennie. Senyum kebanggaan terpancar di wajah Jennie, sedangkan Farhan hanya menunjukkan senyumnya yang terpaksa.


FLASHBACK ON


"Kamu akan di dijodohkan dengan anak sahabat papa. Dia sekolah bareng dan dia juga populer."


"Aku nggak mau di jodohkan pah. Memangnya era apa sekarang. Sekarang era modern dan nggak ada gunanya lagi buat di jodohkan papa."


"Baiklah jika kamu tidak mau menuruti apa kata papa, baiklah. Semua warisan, apartemen, kartu ATM dan mobil akan papa sita."


Papa Wendi pun bangkit dari duduknya dan meninggalkannya sendirian.


FLASHBACK OFF


Suara tepuk tangan membangunkan Farhan dari lamunannya saat Jennie selesai menyematkan cincin di jarinya.


"Selamat nak. Kalian sudah bertunangan. Papa harap kalian bisa mempertahankan hubungan ini."


"Iya Pa." jawab mereka berdua.


Sekitar dua jam keluarga Farhan pun pamit dan meninggalkan rumah Jennie. Mereka menuju ke parkiran bersama.


"Farhan kamu pulang ke rumah kan." tanya mama Rosa.


"Aku masih ingin di apartemen."


Farhan langsung meninggalkan mereka berdua dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Jennie. Begitu sampai di jalan dia mempercepat laju mobilnya dan kemudian memukul stirnya kasar.


Dia tak pulang ke rumah, dia memutuskan untuk pergi ke Disco, namun di sana dia merasa lebih gundah dan memilih pulang ke apartemennya.


Dia membanting tubuhnya kasar di ranjangnya dan kemudian melepaskan cicinya dan melihatnya lalu bangkit menaruhnya di meja dengan kasar. Dia pun beralih menuju ke meja rias dan menggebrak mejanya dengan keras.


"Jika bukan karna itu aku tidak akan bertahan. Sialan.. Kenapa? Apakah setiap orang yang memiliki marga besar harus selalu di jodohkan? Apakah aku tidak layak memilih pasangan ku sendiri."


*****


Di sisi lain


Fiya memandangi foto yang sempat ia curi saat kebersamaannya dengan Dimas dan Aldi. Papanya masuk ke kamarnya dengan heran saat melihat putrinya senyam senyum sendiri sambil memandangi ponselnya.


"Kenapa nih senyam senyum sendiri?"


"Ahh.. Papa. Nggak papa kok."


"Emm.. Pasti karena tadi siang dimanja sama dua pangeran ya kan." Goda mama Ova saat datang ke kamarnya sambil membawa camilan.


"Mama Isshh.."


"Dua pangeran?" tanya papa bingung.


"Iya pah, kaya pengawal lagi, ganteng-ganteng banget."


"Mamahhhhh..."


Papanya hanya tertawa melihat putrinya yang wajahnya sudah memerah akibat ulah mama nya yang menggodanya.


"Tapi ingat loh Fi, jangan sampai membuat salah satu mereka jatuh cinta sama kamu."


"Maksud papa?"


"Iya, kalau misal mereka berdua menyukai kamu dan kamu menyukai salah satu di antara mereka, bisa jadi perpecahan nanti. Jadi, sebisa mungkin jangan sampai ya nak. Kalau bisa jauhi mereka satu per satu. Mana mungkin kan kamu menyukai mereka berdua sekaligus. Rasa cinta itu memang wajar nak, tapi sebisa mungkin kamu harus menghindarinya sebelum rasa cinta itu tumbuh menjadi lebih besar."


"Papa..... Bagaimana itu mungkin? Aku tidak bisa menjauhi mereka, apalagi Dimas. Dimas adalah sahabatku."


"Maka jauhi yang satunya agar tidak terdapat kecemburuan dan kesalahan pahaman ya nak. Mama mewanti-wanti itu. Sudah sekarang belajar, jangan sampai nilai kamu anjlok karena kepikiran mereka berdua."


"Iya mah,pah."

__ADS_1


Mama dan papahnya pun turun. Fiya hanya menghela nafas panjang sambil melihat foto yang di ambilnya tadi siang dengan tatapan tidak rela.


//**//


__ADS_2