Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
82. Guru mengaji Bastian


__ADS_3

Waktu adzan asar pun tiba, Fiya mengajak Bastian untuk sholat bersama. Farhan, Dimas dan Aldo yang melihat mereka dari kejauhan tersenyum senang.


"Khanza, gue pulang dulu sebentar, nanti gue jemput lagi di sini." ucap Arya.


"Iya, lo pulang aja nggak papa."


Arya mengangguk dan Fiya pun mengajak Bastian untuk wudhu dan bersiap sholat asar.


"Nggak nyangka, ternyata Khanza lebih baik dari yang gue pikirin. Yang gue pikirin ke dia sebelumnya adalah kedengkian dan kebencian." gumamnya.


"Lo beruntung Farhan, dan gue harap lo bisa jaga dia di dunia ini setelah gue pergi dari dunia ini. Dia terlalu sempurna untuk aku miliki sehingga aku di panggil terlebih dahulu oleh Allah, karena dia bukan milikku, tetapi milikmu."


Farhan dan yang lainnya memandanginya hingga Fiya selesai melaksanakan ibadah sholatnya. Usai sholat, Fiya menyalami Bastian dan mengusap kepalanya dengan senyuman.


"Sekarang, kita tinggal berdoa untuk kesembuhan kakak kamu, supaya kakak kamu cepat sadar."


"Nggak mau, kak Farhan jahat sama aku."


"Bastian, kamu nggak boleh seperti itu. Kakak kamu nggak jahat, dia sebenarnya baik. Karena kamu nggak terlalu dekat, jadi kamu berpikiran negatif. Udah yuk, sebaiknya kita doain kak Farhan biar cepet sembuh."


Bastian mengangguk dan kemudian mengangkat kedua tangannya, begitu pula dengan Fiya.


"Ya Allah, bangunkan kak Farhan. Aku ingin melihatnya lagi, juga dengan kak Khanza. Ya Allah, sembuhkan kak Farhan ya... Aku menunggunya di rumah. Aminnn.."


Fiya tersenyum mendengar doa Farhan. Dan doa pun berdoa di dalam hatinya.


"Ya Allah, Tuhan pencipta alam semesta dan segala isinya. Aku selalu meminta yang terbaik untuk orang-orang di sekelilingku. Aku juga berdoa untuk orang-orang yang telah kembali kepadamu dan sudah meminta bantuan kepadaku. Bahagiakan dan angkat segala dosa mereka. Doa untuk Dimas dan Aldo, semoga mereka berdua cepat menuntaskan tugas mereka dan untuk Farhan, sembuhkanlah dan hilangkanlah makhluk yang ada di sisinya saat ini agar dia cepat sadar. Aminnn..."


Fiya mengusapkan kedua tangannya di wajahnya dan Farhan pun mengikutinya. Kemudian, Fiya pun mengajarkan mengaji. Beberapa doa dan ayat suci serta pengenalan huruf arab, Fiya ajarkan kepada Bastian.


"Kamu nggak pernah pergi ke masjid buat ngaji ya?"


"Jarang kak, soalnya juga mama atau papa nggak nyuruh."


"Oohh...begitu ya... Ya udah, sementara sama kakak dulu ya. Yuk lanjut lagi."


Bastian mengangguk dan kembali membaca iqra. Setelah mereka selesai dan Arya kembali ke rumah Farhan, Fiya pun pamit untuk pulang.


"Bastian, kakak pamit ya, besok kakak ke sini lagi ngajar les kamu. Kamu siapkan mapel PKN ya... Kakak pulang sekarang."


"Iya kak, kakak hati-hati."


Fiya melambaikan tangannya kepada Bastian, dan Bastian pun membalasnya. Fiya masuk ke dalam mobil Arya dan menyenderkan kepalanya di sandaran mobil dengan menghela nafas panjang.


"Lo kenapa?" tanya Arya.

__ADS_1


"Masalahnya, gue bohong sama Feni kalau gue lagi ngerjain projek buat bimbingan PMR, gue harus bagi waktu lagi..."


"Oh masalah itu, lo tenang aja, akan gue bantu."


"Ih lo yakin, emang lo bisa?"


"Lo tenang aja. Gue akan bantu lo."


Fiya hanya tersenyum kecut sambil mengangguk dan kemudian memilih untuk melihat ke luar jendela.


Sesampainya Fiya di rumah, Fiya langsung di intrograsi oleh mamanya. Arya pun terpaksa ikut masuk sambil *******-***** tangannya ragu.


"Bener kalian habis belajar?" tanya sang mama.


"Iya mah, aku belajar di rumah Arya kok."


"Belajar apa memangnya?"


"Belajar bikin PPT, tapi belum jadi. Arya kan ahlinya jadi aku belajar sama dia."


"Memang PPT tentang apa?"


"Ya ampun mamah, mamah kaya tau aja aku bikin apa. Bukannya kami di suruh makan malah di kasih intrograsi dadi mamah. Mamah curigaan banget si ama anak sendiri. Seolah-olah Fiya pencuri di rumah sendiri." keluh Fiya.


"Iya baiklah, awas saja jika kamu berbohong."


"Tidak usah, kamu di sini saja dengan Arya. Mama akan buatkan teh untuknya agar tidak menunggu."


"Ti-tidak usah tante. Saya langsung pamit pulang saja." jawab Arya gugup.


"Jangan coba-coba untuk pulang, atau mama akan lebih curiga lagi kepada kalian."


Mama Ova tersenyum dan Fiya hanya menggelengkan kepalanya dengan candaan yang diucapkan oleh mamanya. Dan dia pun kembali duduk di samping Arya.


"Kira-kira sampai kapan drama ini berlanjut. Aku ingin segera mengakhirinya."


"Sabarlah sebentar lagi. Kita akan segera mengakhirinya. Tapi, kenapa kau ingin Farhan segera bangun?"


"Entahlah, aku tidak tau. Tapi yang pasti, aku tidak ingin dia kesepian seperti sekarang ini. Dan mungkin sekarang, dia sedang kesepian dan berjuang untuk hidup kembali. Dan, aku ingin masalahnya tuntas. Aku juga ingin permintaan Bastian terkabulkan. Aku hanya ingin itu." ucap Fiya sambil melihat Farhan yang ada di seberang tempat duduknya.


"Kamu pernah berfikir, kamu ketemu Bastian dan Farhan itu adalah takdir. Takdir membuat kalian dekat, namun ada tantangan di dalamnya. Nah... Gue tanya nih, kalau Farhan tau yang bantuin dia idup itu lo gimana?"


"Hahaha... Kenapa lo nanya begitu? Ya gue bodo amat lah, mau tau atau nggak ya terserah dia. Gue nggak mengharapkan apa-apa dari dia. Kalau lo terus bilang ini gue tinggal."


"Gitu aja ngambek, mending gue nge-game."

__ADS_1


"Silahkan aja, nggak ada yang larang kan. Kalau gitu gue tinggal ke atas, mau ganti baju dulu."


Arya mengangguk dan memilih untuk bermain game. Setengah jam sudah mereka berdua menunggu dan mereka pun di panggil untuk makan malam. Bersamaan dengan kedatangan papa Fiya yang pulang dari kantornya.


"Eh.. Ada tamu lagi."


"Iya om."


Arya pun menyalaminya begitu juga dengan Fiya. Mama Ova hanya menggelengkan kepalanya sambil meletakkan makanannya.


"Fiya jangan duduk, bantu mama siapkan makanannya."


"Iya mah iya... Sensitif banget si, mama lagi PMS ya.."


"Nggak, buruan ayo."


Fiya pun lekas bangkit dan berlari menuju ke dapur untuk melaksanakan perintah dari sang mamanya tercinta dan menghidangkan makanan untuk keluarganya dan juga Arya.


Selesai makan malam, Arya pun pamit dan Fiya juga pamit untuk ke kamarnya. Begitu ia ke kamar, ia langsung duduk di kursi meja belajarnya dan membuka bukunya.


"Khanza, apa lo nggak ngerasa keberatan dengan ngebantu gue?" tanya Farhan merasa tidak enak.


"Lo udah cerita kan kalau orang tua Jennie yang menyebabkan orang tua Arya meninggal kan. Lo mau terus hidup sebagai arwah begini?"


"Gue butuh bukti sebelum gue kembali Khanza!!" bentak Farhan.


"Kalau lo terus hidup seperti ini, bagaimana lo bisa cari bukti. Dengan nyawa lo yang terancam, lo bisa naik ke atas kapan aja. Lo mau jadi arwah penasaran yang penuh dendam." bentak Fiya balik.


"Fiya, lo harus sabar. Aku dan Aldo udah nemu kok siapa pelakunya dan lo harus berhati-hati dengan dia mulai sekarang juga dan detik ini juga."


"Memang, siapa yang lo maksud?"


FLASHBACK ON


Hari ini, Dimas dan Aldo memilih untuk mengikuti Aldi. Mereka pergi ke sebuah tempat yang sepi dan juga tua. Seperti sebuah perumahan, namun tidak berpenghuni. Dimas dan Aldo merasa ketakutan, karena setiap melangkah, mereka terus diawasi oleh makhluk sesamanya, namun begitu menyeramkan. Hingga akhirnya mereka berhenti di suatu tempat.


Mereka menyelesaikan masuk dan melihat Aldi duduk di sebuah lantai berkarpet. Di depannya juga ada sebuah meja yang terdapat lilin dan foto-foto yang tertera di depannya. Mereka berdua melihat foto Fiya yang ada di bagian paling atas dan di bawahnya ada foto Dimas, Aldo, Farhan dan Feni. Mereka berdua saling bertatapan dan bingung dengan apa yang di lihat mereka.


"Tujuanku hanya satu, tapi halangan yang di peroleh begitu banyak. Satu per satu sudah mulai aku singkirkan. Dan aku juga hanya menunggu satu orang saja untuk pergi dari dunia ini selamanya. Dan untuk aku jadikan tumbal."


Pernyataan Aldi membuat mereka kaget dan membelalakan matanya. Aldo tak sengaja menyentuh sebuah guci dan membuatnya terjatuh sehingga mereka berdua langsung memilih untuk pergi dari sana. Aldi yang melihatnya lekas ke sumber suara dan melihat ke kanan dan kirinya.


"Dasar makhluk." gumam Aldi.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


//**//


__ADS_2