Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
99. Waktu yang terasa terulang kembali


__ADS_3

Arya mengantar Fiya pulang. Pikiran Fiya sungguh kacau dan terus menerus memikirkan salah satu kado untuk Bastian yang masih menjadi misteri baginya.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Arya.


Fiya bangun dari lamunannya dan melihatnya secara gugup.


"Aku.. Aku... Aahhh... Ya... Kamu kasih kado apa ke Bastian?" Fiya berkata tanpa perlu basa basi lagi.


"Aku kasih dia skuter. Memangnya kenapa?"


"Jadi gini, ada yang ngado sebuah amplop dan isinya adalah tiket ke kebun binatang, tapi nggak ada nama pengirim ataupun nama yang memberikan kado tersebut. Lalu siapa kira-kira." pikir Fiya.


"Dimas? Dia masih di sini kan?" pikir Arya.


"Bukan, Dimas kasih kado pesawat dengan remot kontrol. Iya kan Dim?" tanya Fiya sambil menengok ke belakang.


"Iya..." jawab Dimas.


"Lalu, siapa kira-kira? Nggak mungkin Farhan kan?" pikir Fiya.


"Mungkin dari temen Bastian, tapi lupa nggak di kasih nama." pikir Arya positif.


"Oiya, Bastian ingin kamu ikut minggu besok, karena minggu lusa tiketnya udah hangus."


"Maaf Za, minggu besok aku ada janji, kamu berangkat aja sama Dimas, walaupun dia tidak kelihatan, tapi dia akan lebih berhati-hati terhadap kalian. Maaf..."


"Baiklah kalau begitu... Aku akan mengatakannya kepada Bastian, bahwa kamu tidak bisa ikut."


Sementara itu, di rumah Feni ia terus memandangi plester yang menutupi luka kecilnya tersebut. Walaupun itu hanya sekedar luka kecil, namun baginya itu adalah momen langka. Karena tidak semua orang menyadari luka kecil yang dimiliki oleh orang lain dan tidak peduli luka yang dimiliki orang lain walaupun dirinya sudah mengetahui luka yang ada di dalam dirinya yang sebenarnya.


"Hari minggu ini, kita harus bertemu."


Bayangan Arya tiba-tiba terlintas di pikiran Feni ketika ia memandang plester tersebut dan membuatnya sedikit gelisah.


"Dia mengajakku bertemu? Secepat ini? Tapi untuk apa... Benar-benar sudah gila..." gerutu Feni.


Feni pun memutuskan untuk bangkit dan membaca buku novel yang sempat di pinjamnya beberapa hari yang lalu.


...*****...


Di hari minggunya, Fiya dan Bastian bersiap-siap untuk pergi ke kebun binatang. Pengawal Bastian juga ikut untuk menjaganya dikarenakan Arya tidak ikut bersama dengan Fiya.


"Om, Tante, Khanza ijin bawa Bastian sebentar."


"Pergilah, tante percaya padamu." ucap mama Ifa sambil membelai rambutnya.


"Tetapi aku tidak percaya dengannya. Harus ada orang lain yang ikut dengannya."


"Tapi pah, papa tidak bisa ikut dengannya karena ada meeting kan di kantor."


"Farhan... Farhan!!" teriak sang papa Wendi.


"Ada apa lagi pah.." ucap Farhan dengan malas.


"Kamu ikut adik kamu dan Khanza ke kebun binatang. Jika kamu ikut, papa akan kasih kamu uang 10 juta."

__ADS_1


"Hanya ikut mereka saja bukan. Baiklah.. Aku siap-siap dulu."


Dan dengan terpaksa, mereka yang sudah bersiap-siap harus menunggu lagi. Merekapun memutuskan untuk menunggu di dalam mobil.


...******...


Di sisi lain, Feni dan Arya bertemu di sebuah taman. Arya lebih dulu datang ke tempat yang mereka sudah janjikan. Arya terus melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sembari menunggu Feni. Tak lama, orang yang ditunggu pun datang.


"Maaf aku terlambat." ucap Feni gugup.


"Tak apa."Tatapan Arya langsung melihat ke arah sepatu Feni.


"Ada apa ya Ar?" tanya Feni yang langsung melihat ke arah kakinya.


"Kamu cuma punya satu sepatu ya... Lebih baik sekarang kita pergi sebelum kaki kamu terluka lagi."


Angga menarik tangan Feni dan berjalan dengan pelan lalu menggiringnya masuk ke dalam mobilnya menuju ke suatu tempat.


...*****...


Sekitar 15 menit, Farhan masuk ke mobil yang di kendarai Fiya. Fiya dan Bastian duduk di belakang. Farhan yang masuk dan melihat Fiya yang tidak peduli langsung mengagetkan dirinya.


"Bastian, sini kamu di depan."


"Nggak, aku maunya di belakang sama kak Khanza. Kak Arya aja terkadang nggak masalah kalau kak Fiya duduk di belakang bareng aku." tolak Bastian mentah-mentah.


"Anak kecil udah berani ngebantah, nyusahin lagi." Ucap Farhan.


"Farhan, sebaiknya kamu tidak mengatakan hal itu kepada anak kecil. Anak kecil bisa terluka dengan apa kata kamu. Kata-kata kamu tadi bisa buat dia tertekan dan depresi." larang Fiya.


Fiya yang melihat tingkah laku Farhan yang aneh hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tanpa peduli lagi, Fiya kembali bermain bersama dengan Bastian. Tak lama, pintu belakang terbuka, Farhan langsung duduk di samping Bastian. Dan yang menduduki kursi supir adalah supir pribadinya. Tanpa membantah dan berdebat lagi, mereka pun jalan.


"Kok kakak duduk di belakang?" tanya Bastian.


"Kakak nggak mau jadi supir, kakak bukan supir pribadi kalian."


"Emm... Atau kakak punya kejutan buat Bastian yah... Karena itu kakak bilang sama kak Arya untuk tidak pergi bersama kami... Pasti seru... Terimakasih kakak..."


Bastian spontan memeluk Farhan. Farhan sedikit tersentak karena memandangnya dengan penuh tidak suka. Fiya yang melihatnya merasa terharu dan ingin menitikkan air mata, karena teringat akan permintaan Farhan yang ingin dekat dengan adiknya.


Hal itu pun sebenarnya di rasakan di dalam hati Farhan, namun yang Farhan rasakan adalah perasaan yang belum bisa diungkapkan dan masih menjadi teka-teki bagi dirinya. Dirinya pun juga menerima pelukan Bastian tanpa mengeluh sama sekali.


Sesampainya di kebun binatang, mereka bertiga beserta para pengawalnya langsung masuk ke kebun binatang tersebut. Melalui tiket yang mereka dapatkan, mereka masuk dengan mudah tanpa harus mengantri di kasir.


Mereka berkeliling, namun Farhan tidak menikmatinya bersama dengan Fiya dan Bastian, seolah-olah hanya mereka berdualah yang bermain di tempat tersebut. Bastian pun akhirnya menarik tangan Farhan untuk mengajaknya bermain.


"Kakak, aku ingin menaiki kuda, ayo kita ke sana." pinta Bastian.


"Kamu sama Kak Khanza aja kan juga bisa, kenapa harus ajak kakak juga." jawab malas Farhan.


"Nanti aku bilangin papa, kalau kakak nggak jaga aku."


"Ahh.. Bawel..."


Ancaman Bastian membuat Farhan menurut dan mereka bertiga menaiki kuda yang waktu itu pernah mereka naiki bersama dengan engan orang yang berbeda namun jiwa yang sama yang pernah mereka lalui.

__ADS_1


Farhan memilih untuk duduk, Fiya dan Bastian asik menunggang kuda yang sedang makan rumput. Seorang pemandu datang mendatangi Farhan dan membujuknya untuk naik. Dan dengan terpaksa dia pun menaikinya.


Fotografer yang sama memotret kembali mereka berdua. Bagi Fiya, semua ini terasa seperti waktu yang terulang kembali dan yang membedakan hal tersebut adalah orang yang bangun di alam sadar dan kembali melewati ini semua.


Di saat Fiya terbengong melihat Farhan, tiba-tiba, kuda yang di tumpakinya marah dan berlari dengan kencang karena sang fotografer lupa mematikan lampu kameranya.


"Tolong..... Berhentilah wahai kuda.. Tolong.!!!!" teriak Fiya dengan keras.


"Khanzaaaaaa..!!!" teriak Farhan yang mulai panik.


Dan, tanpa pikir panjang Farhan menepuk paha kuda yang di tumpanginya dengan sedikit keras agar melaju dengan cepat menyamai kuda Fiya.


"Pegangan dengan erat!! Hyaaa.. " teriak Farhan sambil memukul lagi.


Dengan paniknya Fiya menuruti apa katanya, namun malah membuat kuda itu berlari semakin cepat dari sebelumnya. Farhan pun semakin mempercepat laju kudanya dan akhirnya bisa menyamai dengan judul Fiya.


Farhan pun melompat ke kuda Fiya dan mengontrol kuda tersebut. Fiya melihatnya, jantungnya benar-benar tak terkontrol karena panik dan juga dekat dengan Farhan. Dia melihat ke arahnya, begitu pula dengan Farhan.


Farhan pun berhasil menghentikan kuda yang ditumpanginya dan kemudian turun dari kuda tersebut. Fiya juga turun di bantu oleh Farhan.


"Kamu tidak apa kan?" tanya Farhan.


"Nggak papa kok, terimakasih.."


Sang pemandu memberikan minum kepada Fiya. Dan Fiya berusaha untuk mengontrol jantungnya yang berpacu lebih cepat. Sang pemandu sangat merasa bersalah dan meminta maaf atas keteledoran yang dibuatnya.


Setelah insiden tersebut, mereka memilih untuk pergi ke taman di kebun binatang tersebut untuk beristirahat. Mereka bertiga menggelar tikar dan Bastian memilih untuk bermain pesawat hadiah dari Dimas.


"Emm... Liam, makasih banyak udah nolong aku tadi."


"Kamu panggil aku apa tadi? Liam..."


Fiya mengangguk karena berusaha pula untuk memastikan Farhan sudah ingat kepada dirinya atau belum.


"Memangnya ada masalah? Kamu juga yang memanggilku dengan sebutan Nindya. Aku bingung pada saat itu, namun itulah yang terjadi."


"Lo kalo ngarang ceria unik banget sih... Lo cocok tuh kalau jadi penulis. Ini bukan cerita lo yang lo buat dan membual seenaknya. Gue kaga percaya."


"Memang lo menganggap ini semua bualan gue, dan haluan gue, tapi gue harap lo ngerti bahwa gue nggak bual. Gue inget semuanya termasuk dengan gelang yang lo pakai itu. Liat ini..."


Fiya mengangkat tangan kirinya yang terdapat gelang dan ada motif matahari. Dia melihat gelang yang di pakainya sendiri dengan heran.


"Lo pasti heran kan kenapa ada gelang itu. Karena lo pernah bilang kalau gue matahari yang menyinari lo, sehingga lo jadi bunga matahari yang membutuhkan sinar mentari. Dan apabila kamu ingat semua ini, pasti ini seperti waktu yang terulang kembali."


"Cih... Bunga matahari.... Gue nggak percaya..." Farhan melepaskan gelang tersebut dan melemparnya kepada Fiya. "Lo ambil aja, mana ada gue jadi bunga matahari lo. Cuma laki-laki gila yang memakai hal itu." Farhan pun berdiri.


"Mungkin kamu lupa berapa lama kamu koma, dan selama itulah kau selalu membutuhkan dan meminta bantuanku. Kau bahkan bilang menganggapku sahabatku. Memang, mengembalikan ingatan orang dari alam bawah sadar memanglah sulit."


Farhan meninggalkannya di tempat dan Fiya pun meneteskan air matanya. Bastian yang melihat Farhan pergi pun langsung kembali ke tempat Fiya duduk. Fiya langsung mengusap air matanya dan menghindari Bastian.


"Loh kakak kenapa menangis. Pasti Kak Bastian marahin kakak ya..."


"Enggak sayang, kakak hanya kelilipan tadi. Kak Farhan bilang dia lelah, sebaiknya kita juga pulang yuk sebelum senja."


Bastian mengangguk dan kemudian membantu Fiya membereskan peralatan yang di bawanya. Begitu mereka sampai di mobil, Farhan dan Fiya hanya saling diam hingga Bastian merasa bosan dan memilih untuk tidur. Bastian bersandar pada Farhan, namun Farhan tidak nyaman. Akhirnya Fiya pun turun tangan dan membuatnya tertidur di pangkuannya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2