Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
35. Garis Kuning 1


__ADS_3

Sudah hampir pukul 3 sore dan para siswa dan siswi pun mulai berdatangan ke tempat semula. Mereka di beri kesempatan untuk berdiskusi tentang tanaman obat yang mereka dapatkan. Fiya dan teman-temannya berjalan kesana dan kemari sembari melihat-lihat tanaman yang mereka dapat.


Setelah Fiya mengecek, Fiya pun mengambil microfon yang tergeletak di atas speaker bluetooth yang tergeletak di tengah lapangan. Fiya menyalakannya dan mengecek keadaan microfonnya. Feni yang sebagai wakilnya pun siap di sampingnya.


"Cek.. Cek.." ucap Fiya sambil mengecek microfon yang di pegangnya.


"Baiklah, sudah kembali semua?" tanyanya.


"BELUM.." jawabnya dengan kompak.


"Sambil menunggu teman-teman kalian kembali, silahkan masing-masing salah satu anggota kelompok maju ke depan untuk mengecek anggota kalian lengkap atau tidak, di hitung dan jangan lupa tanya nama ya.."


"Iyaaa kak.." jawab sebagian anggota.


Fiya mematikan microfonnya dan mengalihkan tugasnya kepada para anggotanya. Fiya mengecek kelompok-kelompok yang sudah kembali dan belum kembali. Dan hanya tersisa kelompok 3 dan 5.


"Tinggal 2 kelompok lagi Za." lapor Aldi.


"Iya"


Guru juga mendekati mereka bertiga dan bertanya kepada Fiya.


"Tinggal berapa kelompok Za?" tanya guru olahraga.


"Dua pak." jawabnya.


Guru olahraga itu pun melihat jam tangan berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu 10 menit mendekati jam 3 sore."


"Iya pak."


"Kamu nggak usah panik ya kalau mereka nggak macam-macam."


"Iya pak terimakasih."


Tak lama kemudian kelompok 3 datang dengan membawa beberapa tanaman obat yang dibilang cukup besar, sedangkan anggota perempuannya hanya membawa tanaman yang kecil. Para siswa yang melihatnya tertawa dan tidak percaya dengan tanaman yang mereka bawa. Guru olahraga yang melihatnya langsung mengambil microfon yang tergeletak dan menyalakannya.


"Eh.. Mas.. Mbak.. Sini.." sambil melambaikan tangannya untuk mendatanginya.


Para anggota kelompok itu pun melihat ke arah guru Olahraga dan mendatanginya.


"Kamu dapat itu dimana?' tanya sang guru olahraga.


"Di sana pak, nggak jauh kok." jawab salah satu anggota.


"Ini terlalu besar, ngapain di bawa, yang kecil-kecil kan banyak."


"Kalau bawa yang kecil udah banyak sama kelompok lain pak, kita kan ambil yang berbeda."


"Nama kalian siapa, coba kenalin ke bapak satu-satu." tanya pak guru penasaran.


"Saya Putra, ini Cahyo, kalau yang perempuan tadi kalau nggak salah ada Mona, Nesya sama Nella." ucap Putra sambil menunjuk teman-temannya.


"Loh, kok kalau nggak salah. Yang bener kalau mau ngenalin. Nanti kalau ngenalin cewe ke orang tua kalian masa kalau nggak salah namanya ini, lah kok ngenalinnya kaya gitu."


Semua yang mengidap humor rendah tertawa, sementara Fiya hanya tersenyum sambil menggeleng.

__ADS_1


"Maaf pak." ucap Putra sambil menunduk.


"Loh, kok minta maaf sama bapak. Minta maaf sama temen-temen kalian dong."


"Gimana pak?"


"Lah kok nanya gimana, ya begini, maaf teman-teman kalau saya salah memperkenalkan kalian, masa iya, maaf calon istriku daku salah memperkenalkanmu dengan orang tuaku."


Kata-kata "Ciiieeeee...." dan tawa bersamaan membuat tempat itu ramai.


"Tadi ada yang namanya Mona mana" tanya pak guru sambil melihat ke arah anggota perempuan.


Salah satu diantara ketiganya pun mengangkat tangannya.


"Saya pak."


"Oh kamu. Tapi bukan Monalisa kan ya."


"Bukan pak." jawabnya menahan senyum.


"Yang namanya Nella?"


Nella mengangkat tangannya tanpa menjawab.


"Bukan artis dangdut Nella Kharisma kan?" tanya pak guru olahraga.


"Bukan pak." jawabnya.


"Bisa nyanyi." tanya pak guru.


"Ya sudah kalau begitu kalian boleh duduk. Silahkan Khanza dilanjutkan." ucap pak guru olahraga sambil memberikan microfon kepadanya.


"Baik pak." jawabnya sambil menerima microfon tersebut.


Fiya mengambil alih tempat pak guru olahraga berdiri dan mulai berbicara.


"Sekarang tinggal menunggu kelompok 5. Kalian lanjutkan dulu ya tentang tanaman obat kalian."


"Iya kak."


"Nah, untuk kelompok 3, terimakasih antusias kalian, sampe tanaman itu dibawa sampe akarnya. Tetapi, karena tanaman yang kalian ambil tidak dibawa pulang, nanti atau besok yang ambil sampai ke akarnya di tanam lagi biar nggak merusak alam. Kalian paham."


"PAHAMMMMM."


"Baiklah, silahkan dilanjutkan."


Fiya mematikan microfon tersebut dan meletakkannya di atas speaker. Lalu kembali bergabung dengan teman-temannya.


...*****...


Vella, Daisy, Ayu, Gilang dan Bagas masih mencari tanaman obat. Ayu menyeka keringatnya dan masih mencari obat-obatan.


"Ini tanaman obat kan Yu?" tanya Bagas sambil mengangkat tanaman obat yang didapatnya.


"Iya, itu tanaman obat." jawab Ayu.


"Tuh kan Yu, bener yang tadi kita omongin, kita dapat lebih banyak tanaman obatnya."

__ADS_1


"Iya, tapi kita udah terlalu jauh, tanaman obat kita udah banyak kan, lebih baik kita balik yuk."


"Iya yuk, cape ini banyak nyamuk lagi." ucap Vella sambil menepuk nyamuk yang mengerumuninya.


Mereka semua mengangguk setuju, namun tak lama, Fiya datang menghampiri mereka berlima.


"Kak Khanza." panggil Daisy.


"Ternyata kalian di sini. Mari ikut kakak, kita sudah di tunggu di perkemahan."


Mereka mengangguk, namun berbeda dengan hati nurani Ayu. Hati nurani Ayu mengatakan bahwa dia bukanlah Fiya. Perasaan tidak enak juga menyelimuti dirinya.


"Kak, kakak hanya sendiri." tanya Bagas.


Hanya anggukan yang Khanza jawab.


"Tuh kan, kak Khanza aja berani datang sendiri, berarti nggak ada apa-apanya kan." ucap Bagas dengan semangat.


Perasaan tak enak sungguh menyelimuti Ayu sekarang. Perasaan gelisah sekaligus khawatir yang ia pikirkan saat ini.


"Kenapa kak Khanza hanya mengucapkannya sedikit? Tidak mungkin kak Khanza datang sendiri. Banyak orang-orang yang di sekitar kak Khanza yang mengkhawatirkan kak Khanza,jika pun dia pergi pasti kak Aldi dan Dimas sudah jelas akan ikut." pikirnya sambil melihat punggung Fiya.


Tiba-tiba Ayu tersandung dan hampir terjatuh, namun beruntungnya Gilang dengan sigap memeganginya.


"Aduh." Semuanya pun melihat ke arah Ayu yang sedang di pegangi oleh Gilang.


"Eh.. Ayu, hati-hati kalau jalan, jangan bengong." ucapnya dengan penuh perhatian.


"I-iya maaf."


Pandangan Ayu melihat ke arah depan dan sudah tidak mendapati Fiya menuntun jalan mereka.


"Loh, kak Khanza mana?" tanyanya.


Mereka sontak melihat ke arah kanan dan kiri mereka.


"Kak.. Kak Khanza..." teriak mereka secara bergantian.


Kini hati nurani Ayu benar-benar sudah percaya bahwa tadi bukanlah Fiya. Dia memegang dadanya yang sudah merasa dag digunakan dug tak karuan.


"Teman-teman, tadi kita tidak lewat arah sini kan?"


Mereka kembali melihat sekeliling dan mengingat ingat tempat yang mereka tadi lewati.


"Oiya, tadi kita nggak lewat sini." ucap Vella.


"Atau jangan-jangan tadi...." ucap Daisy yang mulai gemetaran.


"Bukan kak Khanza." lanjut Bagas yang mengerti maksud perkataan Daisy.


Anggota kelompok 5 mulai merasakan bulu kuduk mereka berdiri, dan hawa dingin sekaligus merinding menyelimuti mereka.


"Yang aku katakan juga apa. Sekarang apa yang harus kita lakukan sekarang" ucap Ayu.


"Kita kembali ke jalan yang tadi dan tetap berpikir positif, perbanyak berdoa oke." ucap Gilang dengan pikiran positifnya dan agar teman-temannya juga tidak takut.


//**//

__ADS_1


__ADS_2