Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
9. Pertengkaran lagi


__ADS_3

Safiya Khanza Ayunindya


.


.


.


.


Aku kembali ke kelas bersama dengan Dimas. Aku langsung duduk di tempatku begitu juga dia. Feni memberikan kantong kresek itu kepadaku.


"Makasih ya"


Feni mengangguk dan tersenyum. Kemudian aku menuangkan bakso itu ke mangkuk. Aku paling tidak suka makan langsung dari plastik dan Feni pun tau itu. Dia adalah sahabat satu-satunya yang mengerti diriku, jika aku pesan dimanapun pasti harus ada mangkuknya, kalau tidak aku tidak mau memakannya.


Setelah menuangkan bakso ke mangkuk aku menaruh plastik bekas bakso di kresek. Aku melihat Dimas yang kini tengah memandangiku. Jujur, aku salting. Bagaimana aku tidak salting jika terus ditatap cowo yang selalu di dekat kita bukan?


Akhirnya aku memberanikan diriku bertanya kepadanya untuk menetralkan jantungku yang sudah berdentuman sedari tadi.


"Kamu udah makan"


Dia menggeleng. Aku pun tersenyum kecil.


"Pasti dia berbohong dan cuma ingin cari perhatian" batin.


Aku memotong bakso dan memberikannya padanya. Dia menerimanya, namun sejujurnya aku sangat malu. Karena bukan hanya teman-temanku yang melihat ku, namun para makhluk juga meledekku.


Dia merebut sendok yang sedang di pegang ku. dan mengambil bakso yang ada di mangkukku. Aku hendak mengambilnya namun dia menjauhkan mangkuk yang dipegangnya.


"Ehh.. Jangan dimakan semua, bagi dong. Kalau mau, beli aja sana iisshh"


"Ini aja udah enak"


"Dimas..."


Aku merengek dan aku kesal padanya. Dia pun menyendokkan bakso ke mulutku, aku ingin merebutnya namun selalu dia jauhkan.


"Akk"


"Kenapa si ni anak ihhh" batin.


"Dimas Isshh.. Sini koh"


"Akk.."


Akhirnya dengan malas aku membuka mulutku karena saking laparnya perutku yang sudah keroncongan sedari tadi.


"Kalau kurang ke kantin bareng yuk, sekalian ngembaliin mangkuk"


"Sendiri aja sana, aku udah kenyang. Makasih"


"Ngambek"


"Udah ah.."


Aku berbohong karena sudah terlanjur kesal dan aku pun pindah ke belakang dan duduk bersama Feni. Sebenarnya aku senang diperlakukan seperti itu, tetapi tempat yang membuatku tak nyaman sehingga membuatku tak ingin selalu dekat dengannya.


Apa yang akan dipikirkan mereka nanti kalau Dimas dekat denganku. Dimas pun berdiri dan pergi. Aku tak menghiraukannya biarlah dia berbuat semaunya.


Tak berapa lama kemudian dia kembali ke kelas. Aku sedang membaca buku. Aku melirik kecil kepadanya. Tak lama guru datang ke kelasku.


Waktu pulang sekolah pun tiba. Aku kebetulan adalah ketua PMR di sekolahku. Dan hari ini juga adalah hari dimana ekstrakulikuler PMR di laksanakan.


"Fiya tunggu"

__ADS_1


Seseorang meraih tanganku dan aku pun menengok ke belakang. Ternyata dia adalah Dimas.


"Kenapa lagi"


"Aku minta maaf soal tadi"


"Iya nggak papa"


"Hari ini kamu pulang bareng aku ya"


"Pasti lah, untuk apa aku menolak tumpangan gratis. Rumah kamu masih yang itu kan"


"Iya, tapi aku ada urusan bentar"


"Tapi sepertinya kamu yang harus menunggu jika sebentar"


"Memangnya kenapa"


"Aku ada ekstrakulikuler PMR, dan aku adalah ketuanya, jadi maaf ya, kamu nunggu ngga papa?"


"Iya, pasti aku tungguin"


"Ya udah, aku duluan ya.. "


Aku berlari dan menuju ke ruang OSIS. Aku perlu mengambil catatan kehadiran di sana. Aku mengambilnya sendiri, karena Feni sedang piket di kelas. Setelah aku mengambilnya, dia kembali ke kelas dan Feni sudah menunggunya di sana.


Feni juga adalah wakil ketua PMR. Kami di pilih menjadi ketua dan wakil karena kami adalah yang paling rajin dan paling suka merawat pasien. Juga karena aku bisa melakukan apa yang harus di lakukan setelah seseorang kerasukan. Walaupun sebenarnya hanya memberikan air, namun aku tetap bersyukur karena di beri tanggung jawab.


Aku juga suka menjadi ketua PMR. Banyak pengalaman yang aku lewati dan membuatku terasa lebih rileks walaupun terkadang makhluk juga ada yang menggangguku, tapi aku tak mempedulikannya.


Aku memberikan waktu 15 menit untuk istirahat, namun di saat aku hendak memulai kegiatanku, aku harus menundannya karena ada keributan di lapangan basket sekolah.


"Ada apa itu"


"Sepertinya ada yang bertengkar kak" ucap salah satu murid kelas 10.


*****


Satya Dimas Adriansyah


.


.


.


.


Aku bersyukur Fiya tak terlalu marah kepadaku. Setelah aku menemuinya, aku langsung menuju ke lapangan basket dan sudah mendapati Farhan di sana.


"Oohh... Sudah datang ternyata."


"Ada apa lo manggil gue"


"Kita lanjutkan pertengkaran tadi pagi"


"Nggak ada kerjaan banget."


Dia benar-benar melakukannya. Dia memulainya dan mengenai wajahku. Dia mengenai sudut bibir ku yang sebelah kiri dan aku mendesis kecil.


Aku pun membalasnya dan satu pukulan aku layangkan kepadanya.


"Bbuukk"


Aku mengenai mata sebelah kanannya hingga lebam.

__ADS_1


"Bbukk"


Dia membalasku di bagian perut hingga aku terjatuh. Beruntung Feni datang di waktu yang tepat sehingga pertengkaran kami terhenti.


"Hei, kalian ini kurang kerjaan atau gimana? Kenapa kalian ribut?"


Tak lama seorang guru dengan pakaian olahraga


"Dimas!! Farhan!! Ikut bapak ke kantor"


Aku dan dia pun pergi mengikuti guru tersebut. Kami sampai di ruang BK. Kami berdua hanya mengangguk. Kurang lebih hanya 30 menit kami diceramaih dan akhirnya kami pun di suruh ke UKS.


*****


Safiya Khanza Ayunindya


.


.


.


.


Beruntungnya di saat yang tepat guru olahraga datang dan membuat mereka berdua terdiam. Aku menghembuskan nafas kasar dan kembali ke kelas.


Pertengkaran mereka membuatku bingung. Mengapa mereka bertengkar? Apa yang membuat mereka bertengkar? Apa masalah mereka sebenarnya? Atau kejadian tadi pagikah yang membuat mereka bertengkar? Tidak, kalau terus begini, mereka bisa terkena masalah yang lebih besar.


"Khanza!!"


Feni menyadarkan ku dari lamunanku. Aku menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Kenapa Fen"


"Tanya lagi, kita mau mulai nggak nih"


"Ahhh...sekarang kita mulai saja."


Baru aku akan membuka kegiatan itu, aktivitas ku terganggu lagi karena guru olahraga masuk ke kelasku. Aku pun berjalan ke luar untuk menemuinya.


"Ada yang bisa saya bantu pak"


"Kamu ketua PMR, tolong obatin mereka berdua ya. Atau nggak bapak minta dua atau tiga orang untuk menangani mereka"


"Iya pak, saya mengerti"


"Kalau begitu cepat ya"


"Iya pak"


Setelah pak guru itu pergi aku kembali ke dalam dan mengambil tas ku.


"Kita sekarang pindah ke UKS putra, sekalian belajar mengobati pasien secara langsung."


"Ada yang terluka kak"


"Dua anak tadi terluka, tadi guru meminta untuk mengobatinya."


"Baik kak"


Kami semua pun berjalan menuju ke UKS putra. Beruntung anak yang hadir hanya 6 orang saja jadi UKS tidak terlalu ramai. Aku membuka pintu UKS dan sudah mendapati mereka berdua di ranjang. Aku pun menaruh tasku di lantai lalu menatap mereka tidak suka.


"Kenapa kalian ke sini" ucap Farhan tegas.


Aku mendekat kepada mereka berdua dan melihat beberapa luka lebam di wajah mereka.

__ADS_1


//**//


__ADS_2