Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
101. Ke mall


__ADS_3

..."Kamu tidak akan pernah kesepian bersama dengan orang yang tepat."...


...~Farhan Liam Ma'ruf~...


_________________


Di rumah Fiya lebih tepatnya di kamar Fiya. Fiya merenung sendirian sambil melihat kedua gelang dari Farhan. Dia mengelusnya dan menghela nafas panjang.


"Kenapa selalu begini? Setiap orang yang memberiku sesuatu, pasti berakhir hanya sebagai kenangan. Tidak bisakah mereka yang memberiku kenangan untuk bertahan denganku selamanya. Aku lelah..."


Fiya merasa putus asa. Dia menyangga kepalanya di atas meja. Dimas yang paham perasaannya mengelus kepalanya dengan lembut.


"Maaf ya, nggak selalu ada buat kamu. Kalau kamu merasa semua barang ini menyakitimu, lebih baik buang saja. Jangan menyimpan kenangan yang membuatmu sakit hati. Itu nggak baik."


"Kenangan indah mereka tersimpan di dalamnya, bagaimana aku bisa membuangnya. Ku simpan dalam lemaripun rasanya ingin selalu aku peluk."


"Kenangan biarlah jadi kenangan. Entahlah itu indah atau tidak, namun kamu harus belajar dari kenangan bahwa semua kenangan hanya membuat kita sakit hati. Dan yang paling penting sekarang hanyalah, kamu harus terus berjalan tanpa mengingat masa lalu. Jika kamu terus mengingat masa lalu, bagaimana kamu akan berjalan?"


Memanglah benar apa yang dikatakannya. Perkataan Dimas memanglah yang terbaik untuk Fiya. Suport dan dukungan yang selalu Dimas berikan selalu berhasil menenangkannya. Dimas pun juga berharap, Farhan akan segera kembali ingat dan kembali mengisi hari-hari kosong Fiya.


...******...


Fiya mengirim pesan kepada Farhan untuk bertemu dengan Farhan di atap sekolah. Dan tepat pada jam istirahat, Fiya pergi ke atap dan sudah mendapati Farhan di tempat tersebut.


"Lo kangen sama gue?" tanya Farhan.


Fiya menatap Farhan sekejap dan langsung berlari ke arahnya. Fiya menatapnya dengan lekat dan penuh dengan pengharapan.


"Aku minta maaf soal kemarin. Aku terlalu marah saat itu, dan aku harap kamu bisa ingat semuanya Liam. Sebagai gantinya, kamu ikut aku mall hari ini, dan aku akan beliin kamu sepatu."


"Oke... Bagus kalau lo sadar. Eh iya... Lo kenapa selalu panggil gue Liam?" tanya Farhan penasaran.


"Kamu yang minta. Kamu panggil aku Nindya, ya aku panggil kamu Liam lah. Aku nggak ngarang soal semua ini. Arya pun tau semuanya."


"Arya? Pasti lo udah kerja sama dengan Arya untuk ngarang ini semua kan?" tanya Farhan tidak percaya.


"Silahkan tanya aja sama Arya. Dia benar-benar tau apa yang terjadi sama kamu selama kamu koma si rumah sakit. Dia tau persis semuanya."


Fiya pun langsung pergi dari tempat tersebut. Farhan hendak mencegahnya, namun dia tidak jadi mencegahnya dan membiarkan Fiya pergi.

__ADS_1


"Mungkinkah ingatanku ada yang salah. Aku akan membuktikan itu sendiri, semua yang di katakannya benar atau tidak." batin.


Sesuai janji mereka, mereka berdua pergi ke sebuah mall yang lumayan besar. Mereka berdua langsung menuju ke tempat sepatu. Fiya memilihkan sepatu untuk Farhan, berlari ke sana kemari sambil menunjuk-nunjuk sepatu yang cocok untuk Farhan, namun Farhan selalu menggeleng.


Fiya pasrah dan kemudian membiarkannya untuk memilihnya sendiri. Farhan mengambil yang ia suka dan mencobanya. Fiya yang memutuskan untuk menentukan yang cocok dengan dirinya. Farhan mencoba beberapa sepatu, namun selalu gelengan yang di jawab oleh Fiya.


"Hei.. Mau sampai kapan lo geleng-geleng terus, kapan ngangguk dan jawab iyanya... Ini sudah 10 kali gue ganti loh.." gerutu kesal Farhan.


"Tadi di pilihin nggak mau. Lagian kamu pilihnya yang aneh-aneh dan nggak cocok. Kalau orang-orang pada ngomong 'gaya lo aneh' ntar yang di salahin siapa kan aku yang jadi kena omelan kamu." gerutu Fiya pula.


"Okeh.. Okeh... Coba lo pilihin, gue yang duduk. Gue cape."


Fiya beranjak dari tempat duduknya dengan semangat. "Oke." Dan langsung berlari menghampiri sepatu untuk Farhan.


Hanya butuh waktu beberapa menit, Fiya menemukan sepatu untuk Farhan. Fiya langsung memberikannya kepada Farhan. Farhan mengangkat kedua bahunya dan lekas mengenakan sepatu yang diberikan Fiya.


"Sekarang bagaimana?"


"Perfect... Aku akan membayarnya."


Farhan mengangguk. "Hmm.. Baiklah.. Lo juga harus tanggung jawab kasih gue makan. Gue lapar." ucap Farhan sambil memegang perutnya.


"Baiklah, aku akan memilih tempatnya. Dengan syarat, kamu pakai gelang ini lagi."


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fiya khawatir.


"Eh..nggak papa kok. Mungkin karena gue telat makan siang. Jadi sedikit pusing."


"Baiklah, kita akan makan di suatu tempat sekarang. Yang kenyang pula biar kamu nggak pusing."


Fiya tanpa sadar menarik tangan Farhan menuju ke parkiran. Fiya memaksa untuk memegang stirnya, namun di larang keras oleh Farhan. Karena takut Farhan akan pusing lagi, Fiya rela mengalah.


Fiya mengarahkan sebuah restoran yang pernah ia datangi bersama dengan arwah Farhan dulu. Lagi-lagi sebuah bayangan muncul di dalam pikirannya yang semakin membuatnya bingung.


"Bayangan apa lagi itu?" batin.


Farhan pun lekas keluar mobil masuk ke restoran tersebut. Persis seperti dahulu tempat mereka duduk sebelumnya. Fiya menatapnya sekejap, namun pandangannya harus teralihkan karena ada pelayan.


"Sudah lama sekali tidak ke sini nona." ucap sang pelayan.

__ADS_1


"Iya mba, pesan 2 Chiken Parmesan, 2 air putih, 2 jus Orange dan 2 milk shake."


"Oooh.. Baik nona silahkan di tunggu."


"A-aku.." ucapan Farhan terpotong karena sang pelayan sudah lebih dulu pergi.


"Kan gue belum pesen, kenapa di biarin pergi." gerutunya kesal.


"Biar cepet, samaan aja. Keburu kamu pingsan nanti. Aku juga yang repot kan ujung-ujungnya."


Farhan memilih untuk diam sambil melihat-lihat sekelilingnya. Dia juga melihat ke arah luar jendela.


"Aku merasa aku pernah ke tempat ini sebelumnya. Namun, kapan? Tempat ini sangat familiar sekali rasanya." batin.


Fiya juga melihat ke arah luar jendela. Dan tiba-tiba cuacanya berubah menjadi hujan deras. Farhan masih melihat ke arah luar. Dan Fiya mencuri kesempatan untuk melihat Farhan.


"Kamu pasti merasa familiar dengan tempat ini?"


"Bagaimana kamu tau?" tanya Farhan.


"Karena kamu pernah ke tempat ini tepat saat mencari adik kamu yang di culik."


"Culik?"


"Iya, kamu tidak akan ingat sekarang. Mungkin lain kali waktu yang akan menjawabnya."


Bersamaan dengan itu, makanan pun datang. Fiya membantu sang pelayan menaruh makanan tersebut di mejanya.


"Mbak, bisa liat dia?" pertanyaan yang sama seperti yang Fiya tanyakan dulu.


"Bisa Nona. Memangnya kenapa?" tanya sang pelayan.


"Tidak apa. Terimakasih atas layanannya."


Sang pelayan tersebut mengangguk dan meninggalkan meja Fiya. Farhan yang sedari tadi diam, semakin bingung di buatnya.


"Maksud kamu apa si? Kok aneh banget."


"Udah, jangan di pikirin. Makan aja dulu. Aku akan berusaha membantu kamu untuk mengingat semuanya dan untuk menyelesaikan masalah kamu tentang keluarga Jennie yang sebenarnya."

__ADS_1


Fiya langsung melahap pesanannya tersebut. Kini Farhan benar-benar seperti sudah tidak waras dan merasa hidupnya penuh dengan pertanyaan. Sungguh rasanya sangat pusing apabila Farhan terus memikirkannya.


//**//


__ADS_2