
"Apa lo bilang? Aldi yang lakuin hal itu?" ucap Fiya kaget dan tak percaya dengan apa yang dia dengar dari pernyataan Dimas dan Aldo.
"Kalian bercanda? Lilin? Foto? Apa maksud semua itu?" lanjut Fiya.
"Aku juga nggak tau, tapi kita harus secepatnya mencari tau."
"Memangnya, dimana kalian mengikuti Aldi?" tanya Farhan.
"Entahlah, tempat itu sepi dan terpencil. Seperti perumahan yang tidak berpenghuni." ucap Dimas.
Fiya nampak berfikir sejenak sambil melamun. Farhan yang melihatnya pun menepuk pundaknya sehingga Fiya menoleh kepadanya.
"Ada apa?"
Fiya hanya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk membuka buku yang tergeletak di atas meja belajarnya. Dimas dan Aldo memilih untuk meninggalkan mereka berdua.
"Kamu nggak usah terlalu memikirkan aku, pikirkanlah dirimu sendiri. Minggu depan kamu akan ada penilaian akhir semester kan, kamu harus belajar dengan giat. Jangan terlalu memikirkan aku, jika takdirku tiada, aku tak masalah dan jika takdirku untuk hidup aku akan membalas semua kebaikanmu."
"Kamu harus bertahan. Apakah kamu mau yang aku lakukan ini sia-sia. Tidak bukan? Kamu harus bertahan dan jangan pernah menyerah."
"Sudah, kamu belajarlah. Jangan tidur terlalu malam."
Farhan mengacak rambutnya. Fiya ingin menghindarinya namun Farhan langsung menghilang setelah mengacak rambutnya.
"Haisshh... Rambut ku jadi berantakan." keluh Fiya sambil membenarkan rambutnya.
...*****...
Semakin hari, Fiya semakin sibuk. Setiap pulang dari sekolah, ia harus ke rumah Bastian. Hingga, membuat teman-teman dekatnya curiga, terutama dengan Aldi. Sehingga, pada siang itu, Aldi mengikuti mereka.
"Itu, bukannya temen lo?" tanya Arya yang melihat dari spion mobilnya.
"Sepertinya, ia mulai curiga denganku. Kita ke perpustakaan terlebih dahulu."
Arya pun membelokan mobilnya ke arah kanan menuju ke perpustakaan kota. Arya memarkirkan mobilnya dan mereka berdua pun lekas masuk ke dalam. Kebetulan Arya membawa laptopnya sekaligus membuat projek yang sedang Fiya rancang sebagai bukti kepada Feni.
"Dia sama siapa?" batin.
Dan pura-pura tak sengaja, Fiya ke arahnya dan kemudian menepuk bahunya dari belakang hingga membuatnya berjingkrak kaget.
"Aldi, lo ke sini juga?" tanya Fiya.
"Eh.. Iya Khanza. E-elo ngapain di sini?"
"Gue kan bilang lagi bikin materi buat PMR. Lo mau gabung Yuk, sekalian sambil ngasih agenda buat tahun depan sebelum kita purna." ajak Fiya.
"Maaf Khanza, gue nggak bisa bantu. Gue lagi banyak keperluan. Oiya, lo sama siapa kesini?"
"Ih itu A.. Angga..." ucap Fiya berbohong.
__ADS_1
"Oohh... Ya udah, gue pergi dulu ya..."
Fiya mengangguk dan akhirnya bisa bernafas lega. Dia pun kembali ke arah Arya yang sedang fokus mengetik.
"Arya kita pergi sekarang?" tanya Fiya.
"Jangan, kemungkinan dia masih ada di luar, tunggulah sebentar lagi."
Memanglah benar perkiraan Arya, Aldi masih berada di sekitar perpustakaan tersebut hingga 30 menit lamanya, Fiya dan Arya baru memutuskan untuk keluar.
"Syukurlah dia sudah pergi. Sebaiknya kita bergegas ke rumah Bastian, pasti dia sudah menunggu."
Fiya mengangguk dan kemudian lekas masuk ke mobil Arya dan kemudian mereka melesat meninggalkan perpustakaan kota tersebut.
Begitu Fiya sampai di rumah Bastian, secara kebetulan Bastian keluar dari rumahnya dengan wajah cemberut. Fiya pun lekas turun dan kemudian memeluknya.
"Kamu kenapa cemberut, kamu marah sama kakak ya... Maaf ya.. Tadi kakak di kejar sama seseorang." Fiya mengelus rambutnya, namun tidak ada jawaban dari Bastian.
"Yah... Bastian ngambek, padahal kakak bawain sesuatu karena Bastian udah rajin belajar. Kalau Bastian terus ngambek, kakak pergi aja deh..."
Bastian menarik tangan Fiya yang hendak berdiri dan kemudian tersenyum lebar ke arahnya.
"Aku nggak marah kak, kakak ada hadiah apa?" tanya Bastian penuh dengan semangat.
"Langsung semangat kan... Kakak bawa mainan sama jajanan buat kamu. Sekarang kita masuk yuk..."
"Lo cocok banget jadi guru. Hampir semua mapel lo ajarin ke dia, mulai dari agama, hitung menghitung, pendidikan kewarganegaraan, sejarah, bahasa, ilmu pengetahuan alam, dan lainnya. Pasti lo juara di sekolah."
"Ya nggak gitu juga. Gue udah terbiasa dengan semua yang gue lalui. Sebenarnya, semua itu nggak perlu di hafalin cuma kita praktekin dan sering kita temui di kehidupan sehari-hari, sehingga mudah untuk mengajarkannya kepada orang lain."
"Lo bilang mudah, gue yang ketar ketir. Oiya, makhluk yang ngikutin lo masih ada di sini?"
Fiya mengangguk sambil menaruh jari telunjuknya di bibirnya agar Arya tetap diam. Fiya sedang menunggu jawaban yang Bastian kerjakan dan tak lama pun selesai.
"Waah... Bastian pinter, kalah sama kakaknya. Kakak kasih nilai seratus buat kamu."
"Wahh.... Kak kenapa si kalau jawaban bener semua di kasih nilai seratus, kenapa nggak di kasih nilai seribu kak?"
"Hahahaha... Sayang, dengerin. Kalau guru kamu kasih nilai seribu, itu kebanyakan sayang. Dalam penilaian, semua di hitung dalam prosentase. Nah... Dalam prosentase yang sempurna itu kan 100 nilainya, jadi guru kasih nilai seratus kalau jawaban kamu sesuai dengan jawaban guru. Seperti itu."
"Terus prosentase itu apa kak?"
"Kita akan bahas besok ya sayang, kita sudahi dulu pembelajaran hari ini. Oiya, Bastian kakak besok nggak bisa ke sini nggak papa ya, besok kakak mau ngajar anak pramuka. Kakak akan kembali hari sabtu ya.."
"Iya kak nggak papa..."
"Oiya, hari minggu, kamu akan kakak ajak jalan-jalan. Oke..."
"Asiikkk.... Jalan-jalan.... Oke kak. Terimakasih."
__ADS_1
Bastian memeluk Fiya dengan sangat erat dan Fiya pun tersenyum melihatnya dan mengacak rambutnya di pelukannya.
"Ya udah, kakak pamit ya. Salam buat mama dan papa kamu."
"Iya kak, kakak hati-hati."
Fiya pun pulang dan Arya lagi yang mengantarnya. Fiya duduk dengan tenang di mobil sambil membaca buku yang di bawanya dari perpustakaan.
"Cita-cita lo apa Za?" tanya Arya memulai pembicaraan.
"Entahlah, paling di suruh ke perusahaan papa." pikir Fiya asal.
"Oiya, kalau ada Bastian, jangan bahas soal makhluk ya, nanti dia malah jadi takut sama gue."
"Iya. Em... Itu Aldo dimana?"
Fiya yang sedang membaca buku pun melihat ke belakang. Dan Aldo, Farhan dan Dimas hanya tersenyum ke arahnya.
"Lo jangan tanya lagi. Dia bodyguard setia gue. Dia duduk di belakang. Lo mau liat?" tanya Fiya.
"Nggak, serem kali bisa liat hantu."
Karena Arya merinding dengan pernyataan Fiya, dia menambahkan laju mobilnya lebih cepat sehingga mereka tak lama sampai di rumah Fiya.
"Khanza, gue langsung pulang aja ya. Takut gue ngrepotin lo lagi."
"Ya nggak papa kali."
"Bukan gitu kok, gue masih ada urusan. Salam aja buat ortu lo."
"Oke, makasih udah anterin."
Arya mengangguk sambil mengklakson mobilnya. Fiya pun lekas masuk rumah dan langsung berlari menuju ke kamarnya. Fiya kaget karena begitu ia sampai, mamanya sudah ada di kamarnya.
"Loh.. Mamah.."
"Kenapa kaget? Habis darimana kamu?"
"Habis ke perpustakaan kota mah, nih Fiya bawa buku."
"Projek kamu udah selesai?"
"Lagi-lagi di intrograsi mah... Mah... Belum lah. Besok insyaallah."
"Kamu mandi, habis itu makan malam."
Fiya mengangguk dan meletakkan tasnya di tempatnya dan duduk terlebih dahulu sebelum mandi. Sedangkan mamanya memutuskan untuk keluar dari kamar Fiya. Fiya akhirnya bisa menghela nafas panjang setelah mamanya keluar dari kamarnya.
//**//
__ADS_1