Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
10. Mengobati Dimas dan Farhan


__ADS_3

Fiya mendekati mereka dan menatap mereka berdua. Dimas hanya menundukkan kepalanya.


"Baik, sekarang kita ada dua pasien di sini. Mereka akan menjadi bahan praktek kita sekarang"


Dimas dan Farhan melongo dengan ucapan Fiya.


"Bahan praktek? " batin Dimas dan Farhan.


"Eh, maksud lo apaan, gue di suruh ke sini buat diobatin bukan jadi bahan praktek lo" keluh Farhan.


"Siapa suruh kalian terluka, kan kebetulan juga biar semua anak PMR tau cara obatin luka kayak kalian ini. Dan kebanyakan kan luka yang sering dialami oleh para laki-laki di sekolah ini adalah luka lebam jadi kan lumayan ada bahan praktek di sini"


"Sialan kau"


Fiya tersenyum dan membalikkan badannya untuk memulai kegiatan di siang menjelang sore ini.


"Baik, kita mulai sekarang. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh"


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh"


"Kakak di sini akan langsung saja praktek karena pasti para pasien ini sudah kesakitan, juga karena waktu kegiatan rutin kita terganggu karna mereka. Luka-luka yang ada di wajah mereka itu termasuk luka lebam, jadi kakak akan membagi kelompok menjadi dua. Kelompok satu akan kakak yang pandu sedangkan kelompok dua kak Feni yang akan pandu kalian"


"Lahh kok gue"


"Kan ada dua pasien, kelas 11 cuma kita yang ada mereka masih belum tau apa-apa"


"Iya lah serah"


"Sekarang, bagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok juga harus ada yang membuat dokumentasi satu orang saja. Kalian mengerti"


"Mengerti" jawab semua anggota.


"Baiklah, lakukan sekarang"


Dengan cepat mereka membagi kelompok. Beruntung hanya 6 anak yang hadir jadi tidak terlalu mengundang keramaian.


"Sudah?"


"Sudah kak"


"Baiklah. Untuk kelompok sebelah kanan, akan dipandu oleh kakak dan kelompok sebelah kiri dipandu oleh kak Feni"


"Pasiennya ka?" tanya salah satu anggota.


"Pasien tim kakak adalah pasien yang di sebelah kiri, yaitu kak Dimas, dan untuk tim Kak Feni yaitu kak Farhan."


"Lahh, Za, kenapa harus dia"


"Ntar gue kasih bonus deh, hari minggu gue ajak lo ke mall"


"Nggak adil dong, gue kan ikut jadi pemerannya juga" ucap Farhan tak terima.


"Eh, lo juga udah habisin tenaga kita sama obat di sini, mau bonusan segala" jawab Feni.


"Udah diem, ini udah jam setengah tiga, kasian anak-anak. Dek, setiap kelompok sudah di bagi kan? Nah sekarang masing-masing kelompok ambil air es taruh di baskom ambil di ruang guru, minta dengan sopan dan handuk kecil di lemari"

__ADS_1


"Iya kak"


Sementara para tim mengikuti perintah Fiya, Fiya mengambil beberapa obat di lemari P3K yang tersedia. Kurang lebih 15 menit, mereka berkumpul kembali.


"Sudah kumpul semua kan, untuk bagian dokumentasi. Mana yang dokumentasi, satu anak kan masing-masing kelompok?"


"Iya kak"


"Siapa aja, coba angkat tangan"


"Eyyy, cepetan dong, udah sakit banget ini"


"Siapa suruh berantem" jawab Feni.


"Udah Fen, nggak usah di ladenin. Untuk kalian berdua yang satu ada yang ngevideo yang satu ada yang foto ya"


"Oke kak"


"Sekarang kita mulai saja, pertama yang harus kita lakukan adalah mengompres area memar dengan es atau air hangat, lalu posisikan area tubuh yang mengalami memar lebih tinggi, bila perlu tutup dengan perban. Obat-obatan lainnya itu seperti mengoleskan anirca topical, menggunakan bromelain, oleskan krim vitamin K, menggunakan gel lidah buaya dan perbanyak vitamin C. Ini penting juga buat kalian berdua. Kalian mengerti" ucap Fiya sambil menatap mereka tajam.


Mereka mengangguk paham.


"Kita mulai sekarang, Ayo Fen"


Feni mengangguk dan menyuruh timnya masing-masing untuk membawakan peralatan yang tadi di bawa mereka.


"Lakukan secara perlahan sambil di tekan lembut agar tidak terjadi penyumbatan. Untuk penjelasan lebih lanjutnya, kakak akan jelaskan nanti setelah ini selesai. Kalian perhatikan dulu dan siapkan pertanyaan yang ingin kalian tanyakan"


"Iya kak"


"Untuk Dimas, karena kedua sudut bibir kamu luka, kamu harus makan makanan yang lembut dan minum dari sedotan. Kurangi berbicara agar cepat sembuh, kamu mengerti"


Dimas mengangguk lemas. Fiya pun kembali mengobati lukanya.


"Selain di sini, dimana lagi"


Dimas menggeleng sambil menunduk.


"Kalian berdua, nanti di rumah di kompres pakai es ya, alasannya adalah, nanti kakak jelaskan."


Fiya berdiri namun tangannya di cegah oleh Dimas.


"Kenapa lagi"


Dimas menunjuk perutnya, Fiya memutar bola matanya malas.


"Buka baju kamu"


Semuanya tertuju ke arah Fiya. Fiya pun melihat sekelilingnya dengan heran.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu. Dia luka di bagian perutnya, sekarang buka bajunya dan kompres sendiri. Kamu tiduran sekarang"


"Tapi.. Fi.."


"Udah di bilang jangan ngomong"

__ADS_1


"Calon mak mak galak" ucap Farhan.


"Apa lo bilang, ulangi coba."


"Mana ada PMR galak sama pasien"


"Kalau gue nggak galak sama kalian, bocah bandel kaya kalian yang buat rusuh sekolah bisa semakin jadi nantinya. Lagian kenapa si berantem, kaya nggak bisa diomongin baik-baik."


"Brisik lo"


Farhan meninggalkan UKS lalu membanting pintu UKS dengan keras.


"Itu nggak boleh di contoh ya adek-adek."


"Iya kak"


"Coba liat luka kamu, mana"


Dimas menggeleng, Fiya menghembuskan nafas kasarnya dan mendorong Dimas hingga dia terbaring di kasur.


"Diem, angkat bajunya"


Dimas menurut lalu membuka bajunya sedikit.


" Nah, adek-adek, ini luka yang jarang di temui. Kalau di biarin lama-lama, darahnya bisa tersumbat. Dimas kamu berbaring yang bener, biar aku yang obatin. Di rumah, lanjutkan Kompres dengan air es. Dan segera periksa ke dokter untuk memastikan luka kamu tidak parah."


Dimas mengangguk mengerti dan ingin tersenyum, namun luka di sudut bibirnya yang membuatnya tetap diam.


"Kamu memang galak karena kamu khawatir Fiya, aku mengerti kamu. Kamu memang perhatian seperti yang kamu lakukan sekarang ini"


Kini para anggota PMR hanya bisa di buat iri dengan perlakuan Fiya saat ini kepada Dimas. Mereka hanya diam dan memperhatikan.


"Udah selesai, kamu pegang sendiri. Kalau udah dingin basuh lagi dengan air hangat, Feni bantu dia. Aku akan mulai materi lagi. Emm.. Sebelumnya kalian pulang agak sore nggak papa, sekitar jam 4 tan"


"Aassiiikkk, boleh kak"


"Loh kok gitu"


"Lagipula di rumah nggak ngapa-ngapain kak, jadi nggak papa. Daripada di rumah cuma rebahan nggak ada ilmunya kan lebih baik di sekolah"


"Tapi bilang dulu sama ortu kalian ya"


"Oke kak"


"Kakak beri waktu 5 menit dari sekarang, kalau kelamaan bisa sampai berjam-jam"


"Siap kak"


Fiya juga mengeluarkan ponselnya dan memberitahu mamanya, bahwa dia akan pulang terlambat.


"Sudah?"


"Sudah kak"


"Oke sekarang kakak akan menjelaskan mengenai beberapa obat yang tadi kakak jelaskan, kalau perlu di catat"

__ADS_1


Mereka mengeluarkan alat tulis yang mereka sediakan untuk PMR dan mulai mendengarkan Fiya.


__ADS_2