
Keesokan harinya, Aldo kembali ke rumahnya. Dia sudah berada di kamar kakaknya. Beruntung kakaknya sedang bersekolah, jadi dia bisa mengacak kamar kakaknya dengan tenang dan teliti.
Sementara itu, Fiya ke sekolahnya sendirian lagi. Dia menghembuskan nafasnya kasar sambil berjalan pelan ke kelasnya. Tiba-tiba ada yang menyentil kepalanya dari belakang. Fiya pun memegangi bagian kepala yang disentil dan melihat orang tersebut.
"Heh... Lagi-lagi kau." ucap Fiya dengan nada malasnya.
"Kenapa? Mana pangeran yang menyelamatkanmu itu? Dimana dia? Sakit kah? Dasar payah, terkena pukulku saja lemah."
"Diam kau, beraninya kau berbicara buruk tentangnya. Kau harus sadar bahwa dirimu itu lebih buruk darinya."
Fiya meninggalkannya dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Namun Farhan mengejarnya dan meraih tangannya, tetapi Fiya langsung menepisnya.
"Beraninya kau memegangku. Kau ingin membuat masalah lagi denganku, Hah!!"
"Oohh, semenjak kedatangan temanmu itu membuatmu menjadi berani, hmmm.. Boleh saja."
"Jangan pernah berfikir bahwa aku akan takut, kalau tak ada dia pun, aku nggak akan pernah takut, apalagi dengan dirimu. Jika kau berani membuat masalah denganku, awas saja. Apalagi jika suatu saat nanti kau meminta bantuanku."
"Heh.. Dasar wanita sombong, aku takkan pernah meminta bantuanmu, apalagi kau adalah dukun. Kalau kau mau, maka sant*t saja aku."
"Yah... Jika memang itu maumu, baiklah, aku akan kirim setelah pulang sekolah nanti."
"Aku tidak takut dengan ancaman palsumu itu."
Dia lagi-lagi menarik rambut Fiya lalu melepaskannya dengan kasar. Namun seseorang melihatnya dan kembali membantunya.
"Beraninya kau menyakiti perempuan. Apa masalahmi dengannya, sehingga kau berani menyakitinya. Jika kau ada mental lawan saja aku!!"
"Oohh... Ada pangeran lain yang membantunya ternyata. Sini kalau berani."
Fiya menatap mereka berdua tidak suka. Fiya terus memandangi tingkah mereka yang masih saling menatap.
"Ini nggak boleh terjadi lagi. Aku harus menghentikannya, kalau tidak dia akan bernasib sama seperti Dimas nanti." batin.
Farhan akan memulai aksinya dan dengan segera Fiya mendorong badan mereka sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah diantara mereka. Fiya menatap mereka berdua secara bergantian.
"Jangan dilanjutkan!! Dan untuk Farhan, jangan mencoba untuk menyakiti siapapun dan jangan membuat keributan, dan jangan merasa sok jagoan. Lakukanlah hal yang bermanfaat bagi diri kamu sendiri. Dan ingat, aku berkata seperti ini bukan untuk memaafkanmu walau ku tau kau takkan pernah minta maaf kepadaku, tapi ini adalah peringatan untukmu. Dan satu hal lagi, jika kau sudah bosan berada di sini, keluar saja dari sekolah ini agar kau tidak berbuat seenaknya di sekolah ini. Dan jika kau ingin tetap di sini jangan selalu membuat masalah. Ingat itu baik-baik."
Fiya berbicara panjang lebar. Farhan hanya memutar bola matanya malas dan kembali menatapnya.
"Memangnya lo siapa berani ngatur gue?"
"Oohh, bicara lo gue sekarang" batin.
"Gue memang bukan siapa-siapa lo. Gue juga bukan anak guru, anak kepala sekolah, juga bukan anak dari yayasan ini. Tapi, sikap lo itu yang membuat nama baik sekolah ini turun dan tercemar, lebih baik kau sadar diri saja. Ayo pergi."
Fiya menarik tangan orang yang melindunginya dengan sadar dan tidak sadar. Baru beberapa langkah, Farhan kembali berteriak.
"Hei.. Sadarlan!! Kau juga membuat sekolah ini angker dan membuat beberapa orang menjadi tidak sadar dan kerasukan. Ingat!! Itu juga karenamu"
"Salah, aku hanya membantu mengembalikan jiwa yang tidak tenang untuk kembali ke alamnya." batin.
__ADS_1
Dia hanya bergumam dan tidak mempedulikannya. Fiya kembali menarik tangan siswa tersebut menuju ke lift. Siswa tersebut hanya bingung karena Fiya masih menggenggamnya. Setelah mereka masuk lift, siswa itu pun menarik tangan yang di genggam Fiya sedari tadi dan membuat Fiya terperanjat kaget.
"Kita mau kemana lagi?"
"Ahh.. Maaf.. "
"Sudah tak apa, kita belum berkenalan sebelumnya."
Fiya menatapnya ragu, tetapi kemudian siswa itu memberikan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Fiya. Dan dengan ragu-ragu Fiya pun menerimanya.
"Aldi"
"Khanza"
Fiya tersenyum kecil, begitu juga dengan Aldi. Untuk memecah kecanggungan akhirnya Fiya pun berbicara.
"Emm.. Anak baru ya? Mau aku antarkan kemana? Em... Apakah guru sudah memberitahukan dimana kelasmu?"
"Aku ada di kelas 11 IPA 1"
"Oh... Itu kelasku"
"Benarkah?"
"Iya benar, itu kelasku. Wah.. Ternyata kita sekelas. Kita ke sana sekarang?"
"Baiklah."
Mereka pun berjalan beringingan menuju ke kelas mereka.
"Aku pindah dari SMA 3, karena aku baru pindah 1 bulan yang lalu di daerah blok B."
"Oohh, begitu."
"Dari kelihatannya, kau pintar. Apakah benar?"
"Tidak kok, hehehe, sebentar lagi kita akan sampai."
"Hmm.."
Dan akhirnya mereka pun sampai di kelas. Aldi masih mengikutinya. Sontak, kelas heboh lagi dengan kedatangan Fiya bersama murid baru.
"Siapa lagi dia?"
"Entahlah?"
"Apa setiap hari akan ada murid baru terus datang ke kelas kita? Khanza memakai dukun apa sampai banyak yang pindah ke sini?"
"Entahlah"
Mereka masih menatap Fiya dengan tidak suka. Fiya juga menatap mereka juga termasuk dengan Feni.
__ADS_1
"Apa kalian liat-liat, kalau mau bergosip silahkan saja."
Mereka semua benar bergosip satu sama lain. Fiya pun menaruh tasnya dan membalikkan badannya yang masih ada Aldi di belakangnya.
"Ya ampun sampai lupa. Kau bisa duduk di belakang Feni"
"Memangnya di sini sudah terisi?"
"Sudah, tetapi anaknya tidak berangkat, dia sedang sakit. Maaf ya.. "
"Oohh begitu. Tak apa.. "
Dia pun berjalan ke belakang dan duduk di samping Feni. Feni juga berkenalan dengannya, sedangkan Fiya duduk di bangkunya dan mulai membaca novel.
"Oh iya, aku lupa, hari ini ada buku baru di perpustakaan." batin.
Dia pun menengok ke belakang dan Feni masih sibuk bercengkrama dengan Aldi. Tanpa ragu dia pun memotong pembicaraan mereka.
"Emm.. Fen, gue mau ke perpus dulu ya, ada novel baru di perpus, gue mau pinjem."
"Emm.. Boleh aku ikut, sekalian jalan-jalan."
"Emm.. Tentu saja boleh, tetapi mungkin kita akan sedikit telat masuk kelas bagaimana?"
"Kenapa nggak waktu istirahat aja Za?"
"Waktu istirahat terlalu ramai, aku nggak terlalu suka ramai dan yang pasti novel baru itu akan habis di baca."
"Udah ra nggak papa, kalau nggak bisa hari ini kan bisa besok. Lagian bentar lagi masuk."
"Hmm.. Ya udah deh, apa boleh buat. Kita akan meminjamnya waktu istirahat."
"Kau sangat suka novel?" tanya Aldi penasaran.
"Hmm... Aku suka."
"Kenapa?"
"Suka aja."
"Eh Za, bu guru datang."
Fiya pun menghadap ke depan dan mulai memperhatikan guru yang membuka pembelajaran.
"Pagi ini akan ada murid baru, tetapi mungkin dia berhalangan hadir, karena sampai sekarang dia belum datang."
"Dia sudah di sini bu." ucap Fiya.
Aldi pun mengangkat tangannya dan berdiri.
"Oohh, sudah di sini rupanya. Baiklah, perkenalkan diri kamu"
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya Aldi Bayu Kusumo. Panggil saja Aldi, pindahan dari SMA 3."
//**//