
FLASHBACK ON
Satu minggu sebelum ulang tahunnya. Farhan mencari informasi bersama dengan rekan terpercaya ayahnya yang tentu saja dia kenal dan akrab karena papahnya. Dia terus berusaha mencari-cari alasan tentang kecelakaan orang tua Arya dan mencari tau alasan kecelakaan dirinya sendiri.
Di saat ia tengah mencari tau siapa yang menyebabkannya kecelakaan, sang detektif yang dekat dengannya itu menceritakan mengenai kisah kecelakaan yang menimpa orang tua Arya.
"Dulu, kecelakaan Arya sebenarnya bukan karena kecelakaan tunggal, melainkan rekayasa. Bukan juga rem yang blong." ucap sang detektif Jordan.
"Lalu?"
"Kecelakaan itu di manipulasi untuk mendapatkan keuntungan. Dan saya juga curiga, mana mungkin perusahaan sebesar perusahaan Michael grup itu di berikan kepada orang asing, bukan untuk anaknya sendiri. Memang, sang CEO nya adalah Yuda, tapi tidak mungkin diberikan hak miliknya kepada Yuda sepenuhnya. Saya curiga ada yang salah, dengan itu, tapi saya tidak punya bukti."
Dengan ungkapan sang detektif membuat Farhan kembali berfikir dan memutuskan untuk menyelidikinya sendiri.
Beberapa hari setelahnya, akibat kecelakaannya terungkap, dan hal itu disebabkan oleh Aldi, namun Aldi sekarang sudah tiada dan akhirnya ia pun mengiklaskannya demi kebaikan arwah Aldi agar tetap tenang. Dan kini ia fokus tentang ksekarang. Lebenaran orang tua Jennie bersama dengan detektif papanya.
FLASHBACK OFF
Kini semuanya hanya saling pandang satu sama lain melihat layar tersebut dan berbincang tentang hal tersebut. Keluarga Jennie hanya bisa melongo dan tegang melihat hal tersebut.
"Dan... CCTV itu hanya menangkap video tanpa adanya suara, bisa jadi sang mobil yang ada di belakangnya tersebut mengklasonnya dan membuat sang pengemudi di depannya kaget. Bisa di lihat di sini, lampu mobil bagian depan yang menabrak mobil tersebut bercahaya dengan terang. Jadi, bisa di simpulkan di sini, sang mobil mengklaksonnya dengan keras."
Mereka mengiyakan perkataan Farhan sembari melihat video tersebut.
"Dan.. Yang jadi pertanyaan di sini. Siapakah pemilik mobil tersebut? Saya dan rekan saya juga sudah menyelidikinya di kantor kepolisian, namun, tidak ada plat nomor yang sama dengan plat nomor itu di daerah sini. Dan, itu merupakan plat nomor palsu untuk menghindari kecurigaan khalayak umum tentang kejadian tersebut."
"Sekarang kita lewati dan lihat berkas-berkas tadi. Ada dua berkas yang saya temukan di perusahaan Michael Grup dua hari yang lalu. Saya menemukan berkas asli dan berkas yang palsu. Menurut saksi yang membuat surat wasiat dari almarhum Michael sendiri berisikan hak milik perusahaan ada di tangan Arya, dan CEO berpegang teguh memegangnya dan membiayai Arya, namun berkas satunya di tulis hak milik perusahaan ada di tangan Yuda sekaligus memegang perusahaan sepenuhnya."
Keluarga Jennie mulai panas dan panik mendengar perkataan Farhan.
"Jadi, bisa di simpulkan sampai di sini, semua adalah kejadian palsu yang di rekayasa oleh om Yuda sendiri,sehingga dengan mudah ia mendapatkan perusahaan Michael Grup. Semua bukti berkas, sudah di tangan saya. Dan untuk kejadian kecelakaan tersebut mengenai plat nomor yang palsu, akan saya serahkan kepada polisi. Silahkan pak polisi."
Polisi yang ada di sekitar mereka mengangguk dan langsung menangkap papa Yuda yang hendak pergi dari hadapan mereka.
"Pak Yuda, anda saya tangkap karena kasus me manipulasi hak milik orang lain."
__ADS_1
"Pak.. Saya tidak melakukannya..."
Papa Yuda berusaha memberontak polisi. Jennie yang melihatnya kaget dan langsung naik ke panggung menemui Farhan yang sedang bersalaman dengan rekan-rekan yang membantunya.
"Terimakasih atas bantuan bapak."
"Sama-sama tuan, ternyata tuan lebih bijaksana dari umur tuan."
"Begitulah pak, karena seseorang saya harus bijaksana."
"Baik, kalau begitu saya permisi. Tuan Arya, tolong ikut saya untuk keterangan lebih lanjut."
Arya mengangguk dan langsung memeluk Farhan. Setelahnya ia langsung ikut sang polisi yang mengajaknya.
"Farhan! Jadi lo yang nyuri berkas papa gue?" bentak Jennie.
"Lo harus sadar diri dulu. Orang tua lo yang nyuri atau gue yang nyuri. Orang tua lo ambil dengan mencuri kan, ya otomatis di balas dengan mencuri."
"Lo itu tunangan gue, semua orang lain pun tau."
"Ada satu hal lagi yang saya beritahukan."
Semua orang kembali fokus kepada Farhan.
"Tunanganku sekarang bukan lagi Jennie. Tunangan ku sekarang adalah....."
"Deg..deg...deg..deg..." suara detakan jantung terasa hingga ke gendang telinga Fiya. Farhan melihat ke arah Fiya dan semakin menambah pacuan detak jantungnya.
"Safiya Khanza Ayunindya."
Farhan menatap Fiya lekat. Sedangkan Fiya hanya kebingungan dan ragu dengan keadaan di sekelilingnya.
"Emm... Mungkin dia belum siap untuk sekarang. Tetapi, aku akan selalu mengingatmu dari dalam lubuk hatiku. Oke, aku akan menyanyikan satu lagu untuk orang istimewaku sekarang."
Semua bertepuk tangan dan Jennie akhirnya turun dari atas panggung karena rasa malu dan kesal. Mama Ifa dan papa Wendi yang melihatnya tersenyum dengan senang dan merangkul satu sama lain.
__ADS_1
"Tolong... Katakan pada dirinya... Lagu ini kutuliskan untuknya... Namanya slalu ku sebut dalam doa... Sampai dia mampu... Jawab maukah dengan ku..." (Budi Doremi - tolong).
"Cieee... Cie..." ledek teman-temannya kepada mereka berdua. Fiya hanya tersipu dan di ledeki oleh Feni yang sudah ada di sampingnya.
Fiya pun mengangguk senang sambil malu-malu. Bastian yang melihatnya langsung naik ke atas panggung dan memeluknya juga memeluk Farhan.
Orang tua Farhan juga naik ke atas panggung dan memeluk Fiya dengan erat dan memberikan sambutan yang hangat untuknya.
"Papa bangga sama kamu. Dan papa sekarang tidak meragukan lagi kemampuan kamu untuk menjadi pewaris perusahaan papa."
"Ini semua juga berkat Nindya yang selalu mendukungku. Mah pah, boleh kan aku membawanya ke penghulu suatu hari nanti."
"Mama sangat menyetujuinya. Karena dia adalah menantu impian mama sesungguhnya."
Merekapun melanjutkan acara hingga pukul delapan malam. Dan setelah acara tersebut selesai, Farhan mengantarkannya pulang ke rumahnya.
"Besok aku pinjam Fiya sebentar." ijin Dimas.
"Baiklah, akan aku ijinkan. Karena, besok juga aku masih ada urusan di kantor polisi." jawab Farhan.
"Tapi, bagaimana kamu tau semuanya Farhan?" tanya Fiya heran.
"Aku merasa ada yang ganjal dengan kejadian kecelakaanku. Dan setelah aku selidiki itu adalah mobil milik almarhum Aldi. Karena Aldi sudah tiada, aku memilih untuk mengiklaskannya dan menarik tuntutan. Dan tiba-tiba sang detektif yang dekat dengan papaku mencurigai tentang kejadian kecelakaan orang tua Arya, dan akhirnya aku memilih untuk menyelidikinya lagi."
"Jadi seperti itu, dan... Apa kamu sudah ingat semuanya?"
Farhan mengangguk dan Fiya hanya melongo tidak percaya.
"Sejak kapan?"
"Di rumah tua."
Fiya hanya menggeleng tidak percaya dan hanya senyuman yang diberikan oleh Farhan. Dimas yang di belakang juga ikut senang melihat Fiya kembali tersenyum bersama dengan Farhan.
//**//
__ADS_1