Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
28. Merasakan hal berbeda.


__ADS_3

...Jika kalian terjebak cinta di antara dua orang kepada orang yang sama lebih baik kalian menghindar sebelum kalian menghadapi masalah yang lebih besar....


...~Safiya Khanza Ayunindya~...


.......


.......


Baru saja Fiya terpejam beberapa menit, sudah ada kegaduhan yang membuat Fiya dan Feni bangun dari tidur mereka.


"Fiya, kamu nggak papa." tanya Aldi panik.


Fiya yang risih pun menghempaskan tangan Aldi yang menyentuh kepalanya. Fiya pun membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Aldi dan Dimas yang menyadarinya sama-sama membungkuk untuk mengikat tali sepatu Fiya. Aldi mengikat di sebelah kanan dan Dimas mengikat di sebelah kiri.


Feni hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian mengikat tali sepatunya sendiri. Dimas yang selesai mengikat tali sepatu Fiya, kini bergantian mengikat tali sepatu Feni. Feni tersenyum karena kebaikan dan kepekaan hati Dimas.


"Terimakasih."


Fiya yang melihatnya sedikit tidak suka, atau dengan kata lain lebih sering disebut cemburu. Aldi yang sudah mengikat tali sepatu Fiya pun berdiri lalu memberikan satu tangannya di depannya. Fiya menatapnya dan mengalihkan pandangannya dengan menggandeng tangan Feni.


"Ayo Fen, kita ke kantin."


"Tunggu dulu Za.."


Fiya menariknya dengan paksa dan membuat jalan Feni tersandung-sandung.


"Za.. Za.. Khanza.. Lepasin."


Feni melepaskan tangan Fiya dengan kasar. Fiya pun menatapnya.


"Kenapa lo ngehindar, bukannya seneng ya dilayanin dua orang pangeran?"


"Nggak, aku nggak suka sama sekali."


"Jangan bohong."


"Aku nggak bohong Fen. Udah ahh.. Males.. Kamu nggak tau apa yang terjadi antara gue sama mereka."


Fiya dengan kesal meninggalkannya sendirian. Mereka berdua tak menyadari bahwa sedari tadi Dimas memperhatikannya. Feni hendak mengejar Fiya, namun tangannya di pegang oleh Dimas.


"Satya." ucap Feni kaget saat melihat orang yang melihatnya.


"Biarkan saja dia sendiri dulu." Dimas melepaskan tangannya.


"Ta-tapi dia marah.."


"Aku yang lebih mengenalnya. Jadi, tidak usah di khawatirkan. Emm.. Ke kantin, aku yang bayar. Kita belum bicara banyak sebelumnya."


"Hmm.. Baiklah."


Dimas dan Feni pergi ke kantin. Sementara itu, Aldi sendiri mencuci tangannya di kamar mandi dan kembali ke kelas. Aldi melihat Fiya sedang duduk di bangkunya sedang membaca novel sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone nya. Aldi pun bergegas duduk di sebelahnya dan mengambil salah satu earphone dan di pasangkan di telinganya. Fiya kaget saat melihat tangan kekar melintas di depannya dan mengambil satu earphone nya yang berada di sebelah kiri. Fiya hanya melirik dengan waspada.


"Hei.. Apa yang kau lakukan"


Aldi memasangkannya di telinga sebelah kirinya. Dia tak mempedulikan perkataan Fiya dan memilih memejamkan matanya.

__ADS_1


...Sedalam dalam cintamu kuselami...


...Warna warna terindah yang ada di bumi...


...Terlukis di jiwa t'lah membelai kalbu...


...Sedalam cintamu tercipta untukku...


...(Indra Lesmana feat Nania - Sedalam Cintamu)...


Fiya mengguncang tubuh Aldi dan Aldi pun menatapnya.


"Ja-jangan menatap ku seperti itu."


"Kenapa? Apakah jantungmu menjadi berdetak lebih kencang?"


"Hentikan omong kosong mu Aldi. Oiya, Dimas dan Feni dimana dia? Kau melihatnya?"


Fiya sengaja mengalihkan pembicaraan. Fiya melihat ke arah pintu keluar dan Aldi juga melihat ke arah keluar. Bersamaan dengan itu Dimas dan Feni datang. Dimas yang melihat Fiya sedang melihatnya langsung memegang tangan Feni. Semua teman-temannya merasa heran dan bingung dengan sikap Dimas yang berbeda kepada Fiya.


"Heh dia kenapa?"


"Nggak tau tuh, marahan mungkin."


"Tau ah.."


Mereka ngerumpi sendiri, sedangkan Fiya hanya bingung saat Dimas melewati tempat duduknya di sebelah Fiya.


"Fi, gue duduk sama Feni, lo sama Aldi."


Dimas menukar tasnya dengan Aldi. Aldi hanya tersenyum puas sambil menunduk.


Dimas tak mempedulikannya dan lebih memilih berbicara dengan Feni. Fiya hanya bingung dengan sikap Dimas yang tiba-tiba berubah.


"Gu-gue? Kenapa dia menjadi seperti ini?" batin.


Dia pun kembali membaca novel dan tak lama pun guru datang ke kelas mereka untuk mengajar pelajaran selanjutnya.


...*****...


Sepulang sekolah tiba. Fiya sedang memasukkan semua bukunya ke dalam tasnya. Dimas pun menepuk pundak Aldi. Aldi langsung melihat ke arahnya.


"Lo antar Fiya, gue mau antar Feni. Nggak papa kan Fi."


Sebenarnya ada rasa tidak enak hati di dalam benaknya, namun dia harus menutupinya.


"Iya Dim, nggak papa kok."


"Ya udah kami duluan."


Dimas menarik tangan Feni agar Feni berjalan sedikit cepat. Aldi dengan setia menunggu Fiya yang masih membereskan bukunya.


"Udah?"


"Udah kok yuk."

__ADS_1


Aldi mengangguk dan Fiya pun berjalan meninggalkan ruang kelas bersama dengan Aldi.


"Kalau terus begini, gue akan ada banyak kesempatan untuk mendekati Khanza." batin Aldi.


Saat sampai di parkiran, Fiya tak mendapati motor milik Dimas. Dia sedih, namun selalu dia tutupi karena ada Aldi.


"Ayo Za, kamu nunggu apa?"


Dengan berat hati, Fiya menaiki motor Aldi dan meninggalkan parkiran sekolah. Pikiran Fiya kalang kabut memikirkan Dimas, hingga tak terasa dia sudah sampai di rumah.


"Makasih ya Al."


"Iya, sama-sama. Aku pulang ya."


"Emm.. Hati-hati."


Aldi pun meninggalkan rumah Fiya. Fiya melihatnya hingga menghilang dari pekarangan rumahnya baru dia masuk ke rumahnya.


Sementara itu, Dimas masih di jalan bersama Feni. Dia sengaja memperlambat jalannya. Tak ada kata-kata yang terucap oleh mereka berdua, hanya ada kecanggungan diantaranya.


"Aneh, aku sama Aldi bisa langsung klop. Ini kenapa canggung banget, padahal nggak dingin-dingin amat orangnya." batin Feni.


Dimas yang merasakan kecanggungan tersebut pun memecahnya.


"Rumah kamu dimana?"


"Jalan Anggrek no 9."


Dimas tak lagi lambat, dia pun mempercepat laju motornya hingga ke rumahnya.


"Makasih Sat."


"Iya, sama-sama."


"Mau mampir dulu?"


"Lain kali aja. Gue pamit ya."


"Iya. Hati-hati."


Dimas segera menyalahkan motornya kembali dan melajukan motornya bukan untuk ke rumah. Melainkan ke sebuah taman hingga malam. Dia berbaring di atas tanah berbantalkan tangan kanannya. Menatap langit yang berhiaskan bulan dan bintang.


"Bintang, hanya bersinar pada malam, begitu juga dengan bulan. Matahari, hanya bersinar pada pagi hingga sore. Tak ada bulan, tak ada pula bintang. Tak ada aku, juga tak ada dia. Entah kapan aku bisa mengungkapkan perasaan ini. Anganku terlalu takut untuk kehilangan mu dan aku tak siap itu. Aku tak habis fikir, siapa yang membuat mu bahagia diantara aku dan dia. Bagaikan kau langit, aku bulan dan dia matahari. Andaikan aku bisa bertanya kepadamu, siapa yang akan kau jadikan planet bumi diantara kami? Kira-kira siapa yang akan kau jawab. Aku atau dia?."


Tak sadar, air matanya menyetes. Dia melihat air mata tersebut di telunjuknya dan di sejajarkan dengan bulan. Menghela nafas panjang dengan pandangan mata masih melihat gelapnya langit malam.


...*****...


Fiya sedang di balkon kamarnya. Melihat bulan sambil memikirkan Dimas. Dimas tak lepas dari pikirannya. Pikirannya selalu tertuju kepada Dimas seorang.


"Aku merasa ada hal aneh sekarang. Aku sekarang tak tau kau dimana dan sedang apa. Rasanya aku enggan untuk tau kabarmu saat ini. Hati nuraniku mengatakan kau butuh ketenangan. Namun, apakah itu benar? Aku bisa merasakan, kau berbeda dari hari yang biasanya. Biasanya kau yang paling semangat saat bersamaku, biasanya kau juga yang bersemangat menyelamatkanku jika aku dalam masalah. Lalu, ada apa denganmu hari ini? Apa aku membuat kesalahan?"


Dia menjeda kalimatnya dan mengusap air matanya yang menetes sambil menatap rembulan yang bersinar terang.


"Bulan, aku berpesan kepadamu. Tolong sampaikan kepadanya, aku sangat merindukannya setiap waktu. Seperti di saat sekarang. Tolong sampaikanlah kepadanya agar menemuiku. Dan tolong sampaikan padanya agar dia tidak meninggalkanku. Aku merindukannya, sangat.. Sangat... Merindukannya. Bulan.. Dan jika bisa tolong sampaikan aku juga mencintainya."

__ADS_1


Dia menunduk dan menangis. Lalu, segera dia hapus dan menuju ke ranjangnya. Mengambil bingkai foto kecil berisi foto masa kecil Fiya dan Dimas yang selalu dia jaga hingga saat ini. Memandanginya sambil berbaring, hingga tak sadar dia tertidur pulas.


//**//


__ADS_2