
Di hari minggu, Fiya mengajak Bastian ke taman bermain. Mereka berdua di awasi oleh beberapa baby sister dan juga Arya atas perintah papa Wendi dan Mama Ifa. Dimas, Farhan dan Aldo hanya melihat Fiya dan Bastian yang bermain dengan riang gembira layaknya kakak dan adik.
Farhan menghela nafas panjang. Teringin sekali bermain bersama dengan mereka bersama. Dimas paham perasaan Farhan dan ia pun menepuk bahunya sehingga Farhan melihat ke arahnya.
"Gue paham maksud lo. Lo mau ngerasain bermain bersama mereka? Lo masuk aja ke raga Arya." saran Dimas.
"Nggak, ngeliat mereka seneng aja gue udah seneng."
Fiya dan Bastian terlalu asik bermain bola, sehingga bola yang di lempar Bastian terlempar hingga ke jalan. Bastian pun berlari menghampiri bola tersebut. Dari kejauhan, mobil melaju dengan cepat menuju ke arahnya. Fiya dengan segera berlari dan reflek mendorong Bastian yang langsung di tangkap oleh sang baby sister. Sedangkan dirinya terhenti dan melihat ke arah mobil yang melaju ke arahnya.
"Kak Khanzaasaaa....." teriak Bastian.
Farhan tak tinggal diam, dia langsung masuk ke raga Arya dan berlari menarik Fiya hingga terjatuh di pinggiran jalan. Posisi Arya memeluk Fiya dan menjadikan lengannya sebagai tumpuan kepalanya. Fiya mendongak perlahan melihat wajah orang yang menolongnya. Dan tatapan mereka bertemu.
"Kamu nggak papa?" tanya Arya yang dimasuki jiwa Farhan.
"A-aku nggak papa kok."
Dirinya pun lega dan dia pun memeluk Fiya dengan erat. Fiya canggung dan dia pun akhirnya memutuskan untuk duduk di pinggir jalan. Seseorang memberikannya minum dan tanpa mereka sadari di sekelilingnya sudah ramai dengan orang-orang yang mengerumuninya. Arya pun berdiri dan kemudian menuntun Fiya ke sebuah kursi taman. Dari jauh, Bastian langsung memeluknya dan menangis di pelukan Fiya.
"Eh.. Bastian... Kamu nggak papa?"
"Hiks.. Seharusnya aku yang tanya kakak... Hiks... Apa kakak baik-baik saja?" ucap Bastian dengan isak tangisnya.
"Sayang... Kakak nggak papa kok. Kakak baik-baik aja. Kalau Bastian baik-baik saja, tentu saja kakak juga baik-baik saja. Kamu jangan khawatir."
Farhan yang masih di raga Arya mengacak rambut Fiya gemas dan langsung keluar dari tubuh Arya. Fiya yang melihatnya melongo tak percaya.
"Farhan?" batin.
"Eh.. Khanza.. Lo nggak papa? Tadi gue liat lo hampir ke tabrak, kok lo udah di sini aja? Atau gue yang halu?" tanya Arya bingung.
"Ih.. Masa kakak nggak inget kalau..."
"Bastian sayang, lebih baik sekarang kita pulang yuk." potong Fiya mengalihkan pembicaraan.
"Yah.. Padahal kan masih pagi kak. Masa mau pulang, kita jalan-jalan dulu yuk..."
"Tapi Bastian...."
"Bastian, kak Khanza capek, tau kan tadi. Jadi, biarkan kak Khanza istirahat dan pulang ya..." ucap Arya sambil mengelus kepala Bastian.
"Iya udah. Kak Arya, kita antar kak Khanza yuk, kan Kak Khanza sering anterin kita, sekarang kita yang anter kak Khanza ya kak." ucap Bastian dengan semangat.
"Iya, ayo..."
Fiya hanya pasrah dan mengikuti mereka di mobil. Bastian membukakan pintu belakang mobil untuk Fiya dan kemudian membuka pintu sendiri di sebelah Arya. Fiya tersenyum dengan kepintaran Bastian.
"Pintar sekali. Kita jalan."
"Em." Bastian mengangguk semangat dan Arya melajukan mobilnya.
__ADS_1
Begitu Arya sampai di rumahnya, Bastian langsung turun dan membukakan pintu untuknya dan Fiya pun turun.
"Terimakasih banyak..." ucap Fiya sambil mengelus pipinya.
"Sama-sama kakak. Kakak istirahat ya..."
"Iya sayang. Oiya, kakak ijin satu minggu nggak ngajarin kamu ya... Kakak mau ulangan semesteran."
"Iya kakak nggak papa. Tapi, kakak sesekali kunjungin aku ya, atau Bastian yang ke rumah kakak nanti."
"Iya sayang. Ya udah, kamu pulang sama kak Arya ya... Hati-hati."
"Iya kakak."
Bastian memeluk Fiya dan Fiya pun berjongkok untuk memeluknya pula. Fiya melepaskan pelukannya dan mencium keningnya. Bastian pun juga mencium pipi Fiya. Fiya tersenyum, kemudian ia berdiri dan melambaikan tangannya kepada Bastian. Arya menyalakan mobilnya dan memencet klaksonnya. Fiya tetap pada posisinya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Begitu mobil Arya tak kelihatan. Fiya pun masuk ke rumahnya dan kedua orangtuanya yang kebetulan di rumah langsung memandanginya begitu dia sampai. Tanpa ragu Fiya pun mendekati mereka berdua dan menyalaminya.
"Habis sama Arya lagi?" tanya sang mama.
"Iya mah." jawab Fiya masih santai.
"Siapa anak kecil itu?" tanya sang papa.
Fiya langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi wajah yang kaget sekaligus bingung.
"Jawab papa!!" bentak sang papa.
"Siapa dia? Darimana kamu bisa kenal dia?" tanya sang papa.
"Dari taman bermain waktu itu pah. Dia nggak sengaja lempar bola dan aku membelikannya eskrim supaya dia tidak menangis." jawab Fiya.
"Terus, setiap hari pulang sore kemana?" tanya sang papa lagi.
"Bikin projek buat PMR pah. Nih... Udah jadi."
Fiya memberikan modul buku berisi seputar tentang PMR dan papanya pun manggut-manggut saat melihatnya.
"Sekarang kamu masuk ke kamar. Belajar, besok kamu ada ulangan semester kan?"
"Iya pah."
Tanpa mengulur waktu lagi, dia langsung ke kamarnya dan menutup pintu dengan menghela nafas lega. Kemudian, dia pun langsung duduk di tepi ranjang sambil meregangkan otot lehernya. Dia mengingat kejadian dimana kala Bastian hampir tertabrak begitu juga dengan dirinya yang hampir tertabrak. Fiya menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
Farhan duduk di sampingnya dan kemudian merangkul Fiya. Fiya melihat ke arahnya dengan tatapan perhatian. Perasaan nyaman juga mulai tumbuh di dalam hatinya. Begitu pula dengan Farhan.
"Lo kenapa lagi? Ada yang sakit?" tanya Farhan.
"Lo kenapa jadi perhatian ke gue gini? Aneh." gerutunya sambil melepaskan tangan Farhan di pundaknya.
"Makasih ya, udah nyelamatin adik gue. Dan lo juga hampir mempertaruhkan nyawa lo demi adek gue."
__ADS_1
"Aneh banget, lo tipe orang yang cuek dan pasti sulit buat ngucapin terimakasih. Tapi, akhir-akhir ini lo kenapa?"
"Nggak papa si, gue cuma bilang aja."
"Seharusnya gue yang ucapin trimakasih. Berkat lo gue hidup dan nggak kenapa-napa. Udah ih... Kenapa suasananya jadi canggung gini? Gue mau ambil camilan dulu bentar."
Fiya langsung bangkit dan keluar dari kamarnya dengan cepat. Sedangkan dirinya memilih untuk keluar menuju ke balkon yang ada di sebelah kamar Fiya.
"Lo suka sama Fiya?" tanya Dimas yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iya, gue suka karena dia ramah, baik hati, sopan, saling membantu, dan rajin beribadah, pintar pula." puji Farhan.
"Jadi, lo cinta sama dia?" pikir Dimas.
"Entah itu cinta atau sekedar pujian belaka, gue nggak tau. Yang gue rasakan adalah menyukai akhlaknya."
"Perlahan, hati lo akan terbuka untuk Fiya. Gue selalu dukung yang terbaik buat lo."
Saat Fiya kembali dengan membawa beberapa gelas, dia tak mendapati Farhan dan yang lainnya di dalam kamarnya, sehingga dia berpindah ke ruang perpustakaannya dan langsung menuju ke balkon.
"Ternyata kalian di sini." ucap Fiya sambil menuangkan minuman di gelas yang tersedia.
"Khanza, habis ulangan semesteran kan libur, lo nggak liburan?" tanya Farhan.
"Kayaknya nggak deh. Mending sama kalian aja, aku udah seneng kok."
"Kan ada Feni?" pikir Dimas.
"Itu akan kami pikirkan nanti."
Fiya pun duduk di kursi yang tersedia sambil minum jus yang tadi dibawanya.Tak sengaja Fiya sedang minum, Farhan melihat siku nya terluka walaupun hanya tergores sedikit. Dia pun tergerak ke luar dan ke kamar Fiya lalu membawakan obat luka. Begitu Farhan sampai di sampingnya, ia membuka kotak p3k yang di bawanya.
"Kalau sakit jangan teriak ya.."
Fiya pun menoleh ke arahnya yang sedang menaruhkan obat merah pada kapas, lalu Farhan pun berjongkok. Pandangan Fiya fokus ke arahnya.
"Emang kenapa?" tanya Fiya.
Farhan pun mengangkat sikunya. Fiya melihat luka kecil tersebut dan membiarkan Farhan mengobatinya sambil meniupnya, begitu pula dengan Farhan yang mengobatinya dengan perlahan.
"Lo belajar dari mana?" tanya Fiya.
"Kamu ingat waktu aku dan Dimas berantem waktu pertama kali. Gue perhatiin dari itu walaupun cuma sebentar."
"Oohh..."
"Cieee... Ternyata diem-diem merhatiin walaupun lagi nggak suka. Apalagi sekarang." ledek Aldo.
Fiya melihat ke arahnya dengan tersipu malu, sedangkan Dimas hanya tertawa mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Aldo. Dan Farhan sendiri masih fokus mengobati luka Fiya.
Setelah ia selesai, ia pun menaruh kembali kotak obat tersebut di tempatnya dan kembali berbincang dengan yang lainnya di balkon. Fiya yang merasa bosan pun memilih untuk belajar di kamarnya.
__ADS_1
//**//