Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
47. Kecelakaan


__ADS_3

...Perempuan, bukanlah sebuah permainan yang bisa kau mainkan kapan saja. Seorang wanita juga butuh ketulusan, bukan hanya sekedar janji belaka. Kau belum tau ketulusan hati wanita sesungguhnya. Buktikan pula kalau kau mampu menjaganya, bukan malah merusaknya dan membuangnya begitu saja seperti sampah....


...~Satya Dimas Adriansyah~...


__________________________


Dimas tengah bersiap di arena balap liar bersama dengan Aldi. Memakai helm dengan lengkap dan bersiap untuk memacu arena balapan liar yang sudah dipenuhi dengan orang-orang yang siap melihat pertarungan sengit yang mereka lakukan.


FLASHBACK ON


Di atap sekolah


"Aldi." teriak Dimas sambil berjalan ke arahnya ketika dia sampai di atap sekolah.


Aldi pun menoleh ke arahnya sambil tersenyum licik. Dia menaruh tangannya di sakunya dan memindahkannya ke dadanya.


"Akhirnya datang juga." ucapnya.


Dimas mendekat hingga tepat di hadapannya. Dimas juga melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap kedua matanya dengan tajam.


"Kenapa Lo memanggil gue ke sini?" tanya Dimas.


Aldi menatapnya sejenak dan kemudian melepaskan tangannya dan mengubah pandangan tajamnya melihat ke arah lain.


"Semakin hari lo makin deket sama Khanza, semenjak ada lo, gue jadi jauh sama Khanza.", ucap Aldi.


"Terus mau lo, gue harus ngejauhin Fiya, itu nggak akan mungkin. Fiya udah deket sama gue dari umur 5 tahun, lo yang udah menjadi penghalang buat gue." ucap Dimas.


"Gimana kalau kita balap motor, siapa yang menang, dia yang mendapatkan Khanza." ucap Aldi tanpa basa basi.


"Mendapatkan hati wanita, tidak dengan adu balap motor, tetapi dengan ketulusan hati bukan karna adu pertandingan ataupun balapan. Kalau lo maunya gitu gue nggak mau."


Dimas pun berbalik dan meninggalkan Aldi, namun perkataan Aldi membuat langkahnya terhenti.


"Lo takut lo kalah kan? Dasar cemen lo." ucap Aldi yang mulai memanasi hati Dimas.


Dimas pun membalikkan badannya dan kembali ke arahnya lagi.


"Bukan gue cemen atau apa, kalau lo memang laki-laki sejati, hadapi dia langsung. Nggak usah pake taruhan segala yang membahayakan diri sendiri. Gue kasih kesempatan lo buat deketin dia, terus lo pikir sendiri nanti, siapa yang ada di dalam hatinya." ucap Dimas.

__ADS_1


"Kalau gue yang ada di hatinya?" tanya Aldi dan berjalan dua langkah mendekatinya.


"Gue akan menghargainya, karena kebahagiaan Fiya adalah kebahagiaan gue juga, tetapi kalau lo membuat dia menangis satu tetes, gue yang akan memilikinya." jawab Dimas dengan ancamannya.


"Lo nggak usah pake alesan deh, bilang aja lo nggak bisa dan serahin Khanza ke gue." ucap Aldi kembali.


"Gue nasihatin sekali lagi, hati Fiya bukanlah permainan yang bisa kau rebut dengan sebuah pertandingan. Kalau lo mau milikin Fiya silahkan aja, gue nggak akan ngehalangin lo, tetapi itu juga tergantung Fiya hati siapa yang ia simpan di dalam hatinya. Gue juga bukan laki-laki pengecut ataupun apa, kalau lo nggak percaya, iya udah ayo kita bertanding, karena belum tentu dia yang menang dalam pertandingan bisa mendapatkan hati Fiya yang setulus bunga salju yang rela hidup di dalam kedinginan." ucap Dimas panjang lebar dengan nasihat bijaknya.


FLASHBACK OFF


Dimas dan Aldi sama-sama menguji gas kecepatan mereka dan saat bendera di naikkan, mereka melaju sekencang mungkin dan melebihi batas rata-rata. Mereka melewati lika-liku jalanan yang nampak sepi. Mereka sengaja memilih jalanan yang sepi agar tidak membahayakan orang lain.


Aldi melihat ke arah Dimas, sedangkan Dimas hanya fokus ke arah depan dan mendahului Aldi. Aldi tak mau kalah dan menyusulnya. Aldi beradu dalam diam, namun menyimpan sebuah rasa dendam.


Dimas melaju sekencang mungkin dan tak sadar ada sebuah truk yang menghadangnya dan tepat melintas di depannya.


" Tttttuuuuutttttt... Bruugghh... Duuaaarrrr..."


Suara klakson truk yang terdengar sangat keras, dibarengi dengan suara hantaman motor yang menabraknya membuat semua warga yang mendengarnya langsung mendatangi sumber suara tersebut.


...*****...


"Kamu tau nggak kak Dimas dimana?" tanya Fiya kepada Sintya.


"Dia nggak bilang ke kakak, katanya dia mau nemuin temennya." jawab Sintya.


"Kok dia nggak bilang ya."


Fiya pun meminum tehnya, tiba-tiba gelasnya terjatuh dari tangannya. Ingatannya langsung tertuju kepada Dimas.


"Khanza, kamu kenapa?" tanya mama Ova panik.


"Nggak papa mah, tapi..."


Ucapan Fiya terhenti dan melihat ke arah televisi yang menyiarkan berita terkini. Pandangan keluarga juga melihat ke arah televisi.


"Berita terkini. Baru saja terjadi kecelakaan di ruas jalan xxxx. Kecelakaan terjadi akibat balap liar seorang anak remaja.... Bla.. Bla.. Bla.."


Pandangan mereka teralihkan kepada telepon papa Kenzo yang menerima telepon dari Dimas.

__ADS_1


"Siapa pah?" tanya mama Lastri.


"Satya." jawab papa Kenzo dan lekas mengangkatnya.


Semua pandangan mata tertuju ke arah papa Kenzo. Namun, Fiya masih memandang berita dengan seksama.


"Hallo, Ada apa Sat?" tanya papa Kenzo.


"Hallo, ini benar dengan nomor bapak Kenzo." tanya sang penelepon.


"Iya benar. Loh, anda siapa ya, ini ponsel putra saya kan?" tanya papa Kenzo dengan bingung.


"Saya polisi yang menemukan ponsel putra bapak. Putra bapak mengalami kecelakaan, dan saat ini sedang di bawa ke rumah sakit Handayani. Silahkan bapak datang ke rumah sakit untuk memeriksanya. Kalau begitu saya tutup."


Telepon terputus dan papa Kenzo tergeletak di lantai. Begitu juga Fiya yang ikut menangis berteriak nama Dimas.


"DIMAASSSS..." teriaknya sembari menangis.


Mama Ova langsung menemuinya dan memegang pundaknya. Sedangkan papa Brian dan Mama Lastri menanyai papa Kenzo yang tergeletak lemas.


"Dimas.... Kecelakaan." ucap papa Kenzo dengan jedanya.


Fiya menangis sejadi-jadinya di tempat dan kemudian, tanpa basa-basi lagi mereka semua menuju ke rumah sakit dimana Dimas berada.


Suasana malam dengan langit yang tadinya cerah, tiba-tiba mendadak hujan dengan deras. Papa Brian membawa mobilnya dengan kecepatan semampunya. Papa Kenzo duduk di sebelah mama Lastri di kursi tengah. Sedangkan Fiya dan Sintya duduk di bangku paling belakang.


Perasaan cemas mulai menghampirinya. Air matanya terus mengalir deras di pipinya, persis seperti cuaca di luar mobil. Sangat deras, bahkan hampir membuat kota banjir.


Fiya terus melihat jam tangannya yang sudah berhenti berdetak entah sejak kapan, membuat perasaan Fiya kalut tak beraturan. Mama Lastri juga menangis sesegukan di pelukan suaminya.


"Itu nggak mungkin Satya kan pah .... Hiks... Satya....." ucap mama Lastri dalam tangisnya.


"Nggak... Pasti bukan.. Mama tetap berpikir positif ya, tidak akan terjadi apa-apa dengan Satya." ucap papa Kenzo menenangkan istrinya.


Hingga habis 30 menit lamanya, mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Mereka langsung menuju ke ruang ICU dan menemui polisi yang ada di luar ruangan tersebut.


"Bagaimana kondisi putra saya dokter.." ucap papa Kenzo dengan emosi yang sudah membara sambil mencengkeram kerah sang polisi tersebut.


//**//

__ADS_1


__ADS_2