Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
74. Hantu penjaga tubuh Farhan


__ADS_3

Keesokan harinya, acara berlangsung dengan lancar. Dan lagi-lagi para anggota OSIS kembali sibuk dengan urusan mereka, begitu pula anggota PMR yang senantiasa ikut serta membantu mereka.


Sedangkan Fiya ditugaskan untuk meletakkan beberapa taplak meja untuk kembali diletakkan ke gudang sekolah dimana semua peralatan untuk pertemuan ditaruh di tempat tersebut. Fiya sendirian bagi mata orang biasa, namun sebenarnya dia selalu dikawal oleh Dimas dan Farhan.


"Dimas, Farhan, gue minta tolong ke kalian berdua, istirahat aja. Dan lo Farhan, balik sana ke tubuh lo. Udah hampir lima hari lo nggak bangun-bangun."


"Gue takut kembali ke rumah sakit. Banyak setannya."


"Rumah sakit memang tempatnya. Lo gimana si, sana jauh-jauh."


"Oiya, nanti siang gue mau jenguk lo di RS, nggak enak gue sama ortu lo." lanjut Fiya.


"Nggak usah, nanti lo malah dimarahin orang tua gue. Lagipula gue juga ada di sini."


"Ya kan gue juga ingin jenguk tubuh lo. Kok lo larang gue si." protes Fiya.


"Kalau lo mau risiko dimarahin ya silahkan. Tapi gue saranin jangan kesana." larang Farhan.


"Kenapa lo larang gue, suka-suka gue dong." bantah Fiya.


Di luar ternyata Jennie dan Bianka sedang mengawasi Fiya dari balik pintu. Ia terheran-heran karena Fiya berbicara seorang diri, padahal ia tak melihat siapapun.


"Dukun..." panggil seseorang yang tak lain adalah Jennie.


Fiya tak menolehnya dan membuat Jennie jengkel, sehingga dia pun mendekatinya. Dia menarik pundak Fiya sehingga Fiya berbalik.


"Kenapa?" jawab Fiya malas.


"Lo bicara sama siapa? Lo masih waras kan?" tanya Jennie.


"Ya waras lah, emang lo. Lo ngapain disini?" jawab Fiya.


"Lo jangan coba-coba alihkan perhatian gue deh. Lo bisa liat hantu atau gimana si?" tanyanya semakin penasaran.

__ADS_1


"Kalau lo udah tau, ngapain nanya."


Jennie dan Bianka mundur perlahan dan kemudian melihat sekeliling mereka. Mereka berdua langsung merinding dibuatnya.


"Lo jangan coba-coba nakutin kami ya.." ucap Jennie.


"Iya lo.." tambah Bianka.


"Kan kalian yang nanya. Gue udah jawab kalian yang ketakutan sendiri. Minggir, gue masih banyak pekerjaan."


Fiya pun berjalan melewati mereka berdua dan kembali membantu yang lainnya.


...*****...


Pulang sekolah, Fiya memutuskan untuk menjenguk Farhan di rumah sakit. Dia membawa parsel buah untuk orang tua Farhan. Dia pun mengetuk pintu rumah sakit dan kemudian langsung masuk ke kamar dimana Farhan dirawat.


"Assalamualaikum tante.." ucap Fiya.


Fiya tercengang saat melihat sesosok makhluk yang berdiri di dekat raga Farhan. Makhluk tersebut berdiri tepat di pojok ranjang Farhan di bagian samping kepalanya. Badannya besar, tinggi dan hitam, matanya juga juga bersinar memerah. Dan juga memiliki gading yang cukup besar. Fiya merasa tubuhnya gemetaran hingga parsel yang dibawanya terjatuh. Dia pun berjalan mundur dan kemudian langsung keluar dari kamar tersebut.


"Apa yang terjadi? Mengapa kau keluar secara tiba-tiba?" tanya mama Ifa tegas.


"M-m-maaf tante, t-tiba-tiba saya tidak enak badan."


"Kalau tidak enak badan sebaiknya jangan kesini. Dan saya juga tidak mau kamu ada di sini untuk menjenguk Farhan. Saya tidak memperbolehkan kamu sekalipun datang ke ruangan anak saya."


Fiya mengangguk dan meneteskan air matanya. Tak lama, Farhan dan Dimas pun datang menemuinya. Fiya mendongak karena tau mereka berdua datang. Dan akhirnya Fiya pun berlari menuju ke atap. Farhan dan Dimas pun juga turut mengikutinya. Sesampainya Fiya di atap, Fiya pun menangis sejadi-jadinya.


"Jadi ini alasan lo kenapa larang gue untuk pergi menjenguk raga lo." bentak Fiya yang hanya di dengarkan oleh mereka berdua.


"Aku yang larang Farhan buat nggak beritau kamu." Dimas pun angkat bicara. Fiya pun menatapnya dengan penuh amarah.


"Jelaskan, mengapa kau melarangnya?"

__ADS_1


"Karena aku tau kamu akan membantunya. Aku tidak mau kamu kenapa-napa Fiya." jawab Dimas.


"Jadi, kamu mau aku membiarkan Farhan terus terbaring di sana selamanya. Dan membiarkan makhluk tersebut melarangnya untuk kembali ke dalam raganya." bentak Fiya lagi sambil mengusap air matanya.


"Aku tau aku salah, kami berdua hendak memberitahumu. Tetapi jadwal kamu terlalu padat. Aku takut kamu akan khawatir." jawab Dimas.


"Kalian berdua tak harus melakukan apapun. Gue akan berusaha sendirian." ucap Farhan yang hendak pergi.


"Kita akan melakukan ini bersama-sama. Aku akan membantumu. Kau tidak akan bisa menanganinya sendirian. Lagipula itu juga sebuah kiriman dari seseorang." ucap Fiya.


"Kiriman?" tanya Farhan dan Dimas secara bersamaan.


"Dari siapa Fiya?" tanya Dimas.


"Entahlah.. Aku pun juga belum tau. Tapi setidaknya kita akan mencari tau ini bersama-sama." jawab Fiya.


Farhan yang merasa tidak enak hati pun akhirnya memeluknya. Fiya sedikit kaget, jantungnya juga berdegup tidak karuan.


"Terimakasih banyak Khanza. Gue nggak nyangka lo sebaik ini." ucap Farhan.


Fiya yang jantungnya sudah semakin kencang berdegup akhirnya mendorongnya dan mengibaskan tangannya di depannya.


"Pa'an si...." ucap Fiya malu-malu.


Di belakang Farhan tanpa mereka sadari ada sesosok makhluk lagi. Fiya membelalakan matanya. Farhan dan Dimas yang bingung pun melihat ke arah pandang Fiya. Farhan kaget karena tepat di belakangnya, ada hantu tanpa kepala. Hantu tanpa kepala tersebut hendak menyerang Farhan, namun Dimas segera melawannya.


"Dimas... Hati-hati..." teriak Fiya.


Fiya hendak berlari ke arahnya, namun tangannya dipegang oleh Farhan. Fiya melihat tangannya, dan kemudian terpaksa melepaskannya. Farhan yang melihatnya mengepalkan tangannya sendiri dan juga mengikutinya ke arah Dimas dan hantu itu bertengkar.


Fiya berlari ke arah Dimas dan menghentikan pertengkaran antara Dimas dan juga makhluk tersebut. Fiya sungguh tak kuasa melihatnya, karena tulang yang menonjol terlihat di lehernya, begitu pula darah yang terus mengalir di baju hantu tersebut tiada henti.


"Aku tau apa masalahmu. Kau butuh kepalamu bukan? Sekarang ayo kita cari. Tapi dengan satu syarat kau tidak boleh memberontak dan ikuti arahan dariku selagi mencari kepalamu. Sekarang kau diam dan ubahlah wujudmu sebagai manusia normal terlebih dahulu." ajak dan perintah Fiya tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Hantu tersebut pun langsung menurut. Makhluk tersebut yang tadinya menyeramkan berubah menjadi seorang pria tampan. Fiya pun melongo saat melihatnya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak hanya Fiya saja yang melongo, Farhan dan Dimas juga ikutan melongo karena merasa ketampanan mereka tertandingi oleh sang hantu tersebut.


//**//


__ADS_2