
...Sahabat yang sesungguhnya, tidak akan meninggalkanmu walaupun dalam kondisi bahaya sekalipun. ...
...~Safiya Khanza Ayunindya~...
______________________
Sore harinya, Fiya dan Dimas kembali pergi ke pasar malam bersama Feni dan Aldi. Feni dan Aldi memutuskan untuk berpencar dan melihat sekeliling. Sedangkan tempat pertama yang Fiya dan Dimas incar adalah komedi putar.
Fiya tepat berdiri di depan garis polisi dan dia pun melewatinya. Dimas hanya mengikuti Fiya mengelilingi Komedi putar tersebut. Fiya mendengar anak kecil menangis di samping mesin komedi putar yang terhenti dan sepi.
"Kau lagi.." ucap Fiya.
Anak kecil yang sama yang membuat adik Fiya tiada itu mendongak.
"Kak, aku minta maaf soal kemarin. Aku kesepian dan ingin mempunyai seorang teman.' ucap anak itu.
"Kalau kau ingin seorang teman, bukan di sini tempatnya. Pergilah ke alamu, di sanalah kamu dan teman-teman mu tinggal. Akan ada banyak teman nanti." ucap Fiya.
"Tapi, apakah kakak memaafkan ku." tanya anak itu.
Fiya berjongkok dan menyamakan tingginya dengan anak tersebut dan mengusap kepalanya.
"Iya, kakak memaafkanmu. Semua sudah menjadi takdir."
Anak itu berubah pakaian menggunakan baju koko berwarna putih dan pacaran yang indah dan bersinar dari wajahnya. Dia memeluk Fiya dan kemudian melambaikan tangannya menuju ke pintu yang bersinar.
Mereka berdua beralih ke aksesoris jam tangan yang kemarin mereka datangi. Mereka melihat sang penjual tengah berberes beres dagangannya dan membuat mereka bingung.
"Loh bang, bukannya masih sore ya, kok di beresin." tanya Dimas.
Sang penjual yang sibuk pun terhenti dan melihat ke arah Fiya dan Dimas.
"Eh.. Mas yang kemaren pesan jam ya. Sebentar ya mas." ucap sang penjual.
"Ini lagi diberesin yan bang." tanya Dimas sekali lagi.
__ADS_1
"Iya mas, gara-gara insiden kemarin, pasar malam ini jadi sepi." ucap sang penjual dengan raut muka sedih.
Fiya dan Dimas hanya diam sambil menunggu sang penjual itu selesai berberes. Sang penjual mengambil jam tangan yang mereka pesan di kantung kresek yang sudah disiapkan lalu memberikannya kepada Dimas.
"Silahkan mas, mbak, di periksa dulu."
Fiya membuka kantung paper bag yang kecil tersebut dan membuka kotak jam tangan, begitu juga Dimas. Mereka salah mengambil jam, Fiya mengambil milik Dimas dan begitu juga sebaliknya. Dimas pun membuka kotak tersebut dan memakaikannya di pergelangan tangan Fiya. Fiya juga memakaikannya di pergelangan tangan Dimas.
"Wah bang, bagus. Terimakasih ya bang." ucap Fiya.
"Iya, sama-sama mba." jawab sang penjual.
Mereka pun pergi. Fiya terus memandangi jam tangannya sambil mengelus-elusnya. Mereka juga bergandengan tangan sambil berjalan-jalan di sekitar pasar malam. Mereka baru bertemu dengan Aldi dan Feni. Pandangan Feni mengarah kepada jam tangan yang di pakai Dimas dan Fiya.
"Oohh.. Ada yang couple jam tangan ternyata." ucap Feni.
Aldi melihat ke pergelangan tangan Fiya dan Dimas. Menyimpan rasa kekecewaan juga tentunya. Mereka memutuskan untuk ke rumah Fiya.
Hingga malam harinya Fiya dan teman-temannya melaksanakan tahlilan untuk adik Fiya. Tahlilan selesai tepat pukul delapan malam dan merekapun berpamitan untuk pulang.
Pagi-pagi sekali Fiya bangun dan turun untuk sarapan. Hanya sendirian, tak ada yang menemaninya. Tak ada sapaan dari kedua orangtuanya. Fiya merasa kesepian tanpa ada yang menemani. Aldo yang melihat dari balik tembok juga ikut merasa sedih, dan dia pun menghampirinya.
"Kakak sendirian ya, aku temenin ya." ucap Aldo.
Hanya anggukan yang di jawab oleh Fiya. Tak lama pula, Dimas datang dan ikut duduk di samping Fiya.
"Makan sendiri aja, mama kamu mana?" tanya Dimas yang membuat Fiya kaget.
"Datang pake salam dulu kek, jangan kaya hantu, tau-tau udah di depan muka." ucap Fiya kesal.
"Iya maaf-maaf." jawabnya merasa bersalah.
Setelah sarapan pagi, mereka pun berangkat. Mereka berpapasan dengan mama Ova. Fiya hendak bersalaman, namun mama Ova langsung melaluimya. Fiya langsung menunduk, dan Dimas yang memahaminya langsung mengelus kepalanya.
"Udah nggak papa, yuk berangkat."
__ADS_1
Fiya hanya mengangguk dan kemudian lekas mengikuti Dimas membonceng motornya. Fiya selalu diam dan tak bicara, mengingat apa yang membuatnya terluka. Dimas berusaha menghiburnya, karena dia tau hatinya sedang buruk.
Sesampainya di sekolah, Fiya menjadi bahan gunjingan oleh teman-temannya. Rasanya geram dan tidak senang tentunya.
"Mungkin semenjak keluar dari hutan, dia selalu membawa aura buruk, terus yang jadi korbannya adiknya. Kalau nggak dia melet tuh cowok baru terus yang jadi tumbal adiknya. Uh.. Kejam banget ya.." ucap salah satu siswi yang melewatinya.
Fiya yang mendengarnya mengepalkan tangannya erat dan penuh dengan amarah. Dimas yang masih setia di sampingnya pun meraih tangannya dan menggenggamnya. Namun, Fiya berlari ke belakang sekolah dan Dimas juga mengejarnya karena takut terjadi sesuatu kepadanya.
Fiya tak sengaja menabrak Farhan. Farhan bingung dan Dimas juga hendak menabraknya pula.
"Tuh dua orang dari kemaren kaya di kejar setan aja." ucap Farhan heran.
Fiya duduk di bangku taman sekolah sambil menangis tersedu-sedu. Dimas pun duduk di sampingnya dan meraih pundaknya. Fiya langsung berbalik dan memeluknya. Perasaan Dimas juga ikut merasa tersayat, karena Fiya menangis.
"Dim, apa bener ya. Setiap orang yang di dekatku mereka menjadi sial gara-gara aku, aku membawa pengaruh buruk dengan orang-orang di sekitarku. Apa itu benar.. Hiks.. Hiks.." ucapnya sambil menangis.
"Semua itu nggak bener Fiya. Mereka bilang begitu karena nggak kenal deket sama kamu. Mereka taunya dari orang lain yang syirik sama kamu. Kamu itu sebenarnya orang yang menyenangkan, baik hatinya, lembut dan selalu menolong orang. Mereka saja yang tidak pernah menyadari, bahwa kamu itu istimewa dan berharga di mata orang-orang yang menyayangi kamu. Sama seperti arti dalam namamu. Kamu menyimpan sebuah rahasia di dalam diri kamu. Kamu pengen tau arti nama kamu itu apa?" tanya Dimas.
Fiya melepaskan pelukannya mengusap air matanya. Dimas menggenggam tangannya erat dan mengelusnya. Fiya pun mengangguk.
"Safiya Khanza Ayunindya, artinya adalah sahabat terbaik yang istimewa dan cantik serta memiliki sebuah kelebihan. Kamu mau tau aku bisa tau arti nama kamu dari mana?" tanya Dimas yang dijawab anggukan oleh Fiya.
"Itu tercermin dalam diri kamu yang sesungguhnya. Kamu itu memang sahabat dan teman yang istimewa bagi yang menyadarinya. Dan aku pun termasuk sahabat yang beruntung karena memiliki sahabat yang istimewa seperti kamu. Kamu nggak usah sedih dan jangan dengerin apa kata mereka. Sebaiknya kita ke kelas sebelum bel masuk berbunyi."
Dimas berdiri dan menggandeng tangan Fiya. Fiya mencegahnya pergi dan membuat Dimas berbalik. Fiya juga berdiri dan langsung memeluknya.
"Terimakasih, kamu adalah satu-satunya sahabatku yang tulus dan setia. Yang selalu ada untukku di dalam suka maupun duka. Terimakasih banyak."
Dimas melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Fiya dengan ibu jarinya.
"Udah, jangan nangis lagi. Ntar mata kamu bengkak, nanti kamu nambah cantik. Hantu juga pasti terpesona sama kamu gimana. Udah, yuk ke kelas."
Dimas berhasil membuat Fiya tersenyum dengan lebar, dan merekapun ke kelas bersama-sama.
//**//
__ADS_1