Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
49. Apartemen


__ADS_3

...Jodoh. ...


...Kita tidak tau jodoh yang tepat untuk kita siapa. Entah itu yang sekarang sedang bersamamu, atau yang sekarang sedang kau benci. Atau yang kau anggap hanya sebagai teman, bahkan seseorang ada yang belum bertemu denganmu. Karena jodoh itu sebuah.. ...


... RAHASIA TUHAN. ...


...~Safiya Khanza Ayunindya~...


____________________


Fiya terbangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya dan melihat sekelilingnya. Dia melihat ke kanan dan kirinya bahkan hingga sudut ruangan tersebut.


"Apa aku di syurga." batin.


Dia melihat ke arah lampu tidur yang terdapat dua jam tangan tergeletak di sampingnya. Fiya pun mengambilnya dan melihatnya. Mengelusnya dan melihat dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Aku akan segera menemuimu." ucap Fiya lirih.


Dia juga melihat makanan dan paper bag yang tergeletak di sofa merah yang tersedia di kamar bernuansa kuning keemasan tersebut. Fiya pun bangkit dan mengambil paper bag tersebut. Tanpa basa basi, dia langsung memakan makanan di meja yang tak lain adalah nasi goreng.


"Eh.. Makanan gue kenapa lo makan!!" teriak seseorang.


Fiya pun tersedak dan kemudian langsung minum air putih yang tersedia di sampingnya. Dia juga kaget saat orang yang meneriakinya sudah di sampingnya.


"Loh, setan Farhan. Kok lo di sini. Lo di syurga juga." ucap Fiya yang mendapat selentikan di kepalanya.


"Ah aduhhh.." rintih Fiya.


Farhan berdiri di depannya dengan menggunakan pakaian seragamnya dan juga tak lupa memakai jaket hitam yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Surga.. Surga... Gue belum mati ya, ini apartemen gue. Udah numpang, makan makanan orang segala, sana lo masakin buat gue." ucap Farhan sambil membentak Fiya.


Entah apa yang memasukinya, tiba-tiba dia menunduk dan menangis teringat akan hal Dimas.


"Eh.. Pake drama nangis segala. Sana masak sendiri." ucap Farhan tidak suka.


"Lo kenapa mesti selamatin gue? Kenapa lo nggak ngebiarin gue di jalanan dan kedinginan biar gue mati. Hiks.. Kenapaaaaa... Hiks.. Kenapaaaa..." ucap Fiya sambil menangis.


"Gue udah nggak kuat lagi idup di dunia ini. Hiks.. Gue... Hiks.. menjadi merasa serba salah terus di sini.. Hiks... . Lo malah selamatin gue.. Hiks... Gue nggak mau idup... Lagiiiiii...." lanjutnya.


Farhan hanya bingung dengan perkataan Fiya yang menangis sambil sesegukan. Farhan pun menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Lo aja nggak mau gue di sini... Hiks... Gue memang merepotkan..hiks.. , gue nggak ada tempat... Hiks.. yang tepat di dunia ini....hiks...Nggak ada temen, nggak punya saudara....hikss...di jauhi keluarga gue sendiri. Di benci temen-temen gue...hiks.. , terus gue idup buat apa..hikss... Mending gue mati..." ucap Fiya dengan serius karena berputus asa.


Fiya keluar menuju balkon. Farhan pun tak tinggal diam dan mencengkeram tangan Fiya dengan kuat.


"Lo nggak boleh nekat.. Dasar gila.." umpatnya.


"Gue memang gila... Hiks.. Gue emang nggak waras.... mending lepasin gue sekarang...hikss..."


Fiya memberontak dan mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Farhan.


"Lo bisa berpikir positif nggak si, kalau lo mati di sini, bisa-bisa apartemen ini anggker kemudian bangkrut gara-gara lo. Lo mau bikin keluarga gue menderita, terus doain lo masuk neraka... Dan.. Nggak bisa ketemu sama Dimas di surga."


Kata-kata Farhan membuatnya lemas tak berdaya. Fiya tak mampu lagi berdiri dan kemudian terduduk lemas di lantai. Tangisan Fiya tambah keras membuat Farhan sedikit merasa iba.


"Mending lo duduk, lo lanjutin makan. Gue mau masak lagi tapi gue udah telat. Kalau lo mau berangkat sekolah, mending lo pulang gue antar." ucap Farhan yang di jawab gelengan oleh Fiya.


"Kalau nggak mau, lo tetep di sini. Gue takut lo nekat bunuh diri, terus gue yang harus repot-repot urusin khasus lo. Udah bangun cepetan..."


Farhan menarik tangan Fiya dan Fiya pun melepaskannya lalu berjalan kembali ke arah sofa sendiri.


"Lo berangkat aja. Oiya, maaf ya, beberapa hari ini gue numpang di sini. Kalau gue udah ngerasa baik, gue pulang ke rumah dan membayar tagihan apartemen ini. Dan, sebagai balasannya dulu, gue mau jadi pembantu pribadi lo beberapa hari sebelum gue membaik." ucap Fiya.


"Terserah lo aja, gue nggak maksa, selagi lo nggak mencoba bunuh diri di apartemen gue. Gue berangkat dulu. Inget, jangan macem-macem. Lo mau ganti baju, itu di paper bag, semoga aja muat." ucap Farhan sambil mengangkat jari telunjuknya mengarah ke arah paper bag.


Fiya tertegun saat melihat ruangan bagaikan rumah mewah impian. Di sebelah kanan yang terdapat dapur dan di sebelah kiri yang terdapat ruang tamu kecil dan berbatasan dengan pintu keluar.


Fiya pun berinisiatif membersihkan ruangan tersebut yang cukup berantakan. Dia menggelung rambutnya mulai membersihkan piring kotor dan menaruhnya di tempatnya. Kemudian dia membersihkan ruang depan dan beralih ke kamarnya.


"Lemari pakaian Farhan, buka nggak ya.."


Dia pun membuka lemari pakaian Farhan. Begitu dia membukanya, beberapa pakaiannya terjatuh menimpa Fiya. Tanpa mengeluh, dia pun membereskannya dengan rapi.


Setelah lemari bagian atas selesai, Fiya membuka laci yang ada di bawah lemari dua pintu tersebut. Namun, tempat yang di bukannya ternyata barang terlarang yang seharusnya tidak dia lihat, sehingga dia tidak jadi membereskan laci tersebut.


Setelah semua rapi, Fiya pun memutuskan untuk membersihkan diri. Dia baru sadar bila dia menggunakan pakaian tidur, padahal seingatnya pakainya basah karena menerobos hujan yang deras.


"Oohh.. Siapa yang mengganti pakaianku?" pikir Fiya di dalam hatinya.


Pikirannya mulai kalang kabut tak karuan, namun segera dia tepis. Selesai mandi, dia memakai pakaian yang ada di paper bag yang di tunjukkan Farhan. Yaitu kemeja panjang berwarna putih dan celana jeans di atas lutut sedikit , dan membiarkan rambutnya di gerai karena basah. Setelahnya, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah menonton televisi kesukaannya.


Pukul setengah satu siang, Fiya bangun dan memasak makan siang. Karena bukan hanya Fiya yang tinggal, jadi dia memasak untuk dua porsi. Dia memasak sayur kangkung dan sarden yang tersedia di lemari kulkas.

__ADS_1


Tepat pukul setengah dua siang, Farhan datang dan sudah mendapati Fiya sedang menunggu di meja makan sambil menyiapkan makan siang.


"Bau harum apa ini?" batin Farhan.


Farhan langsung menuju ke meja makan dan menaruh tasnya di sampingnya.


"Ternyata pinter masak juga lo. Kalau lo mau jadi asisten pribadi gue nggak masalah tuh." ucap Farhan.


"Masalah masak sih gampang. Gue bukan seperti gadis jaman sekarang yang taunya cuma rebahan doang. Emang lo yang cuma bisa masak nasi goreng doang." ejek Fiya balik.


"Ah... Terserah lo. Gue makan duluan." ucap Farhan sambil mengambil nasi dan lauk ke piringnya.


"Jangan di habisin, gue juga laper."


Fiya pun duduk di depannya dan kemudian memakan makanannya. Farhan menyuapkan nasinya ke mulutnya dan dia kagum dengan rasanya.


"Wiihh... Hebat juga masakan lo, kalau gini kan gue bisa irit, nggak perlu makan di restoran lagi." puji Farhan.


"Kalau keadaan gue udah membaik, gue pasti pulang. Oiya... Btw, tadi malem siapa yang gantiin baju gue?" tanya Fiya sedikit ragu.


"Em.. Uhuk.. Uhuk.." Farhan tersedak saat mendengar perkataan Fiya dan dia pun lekas minum dengan air di sampingnya.


"Kenapa lo bahas itu sekarang si? Intinya bukan gue, pelayan di sini yang gue suruh buat gantiin baju lo." ucap Farhan.


Fiya bisa bernafas lega dan kemudian melanjutkan makannya. Selesai makan Dimas pun ke kamarnya dan memutuskan untuk berganti baju.


Dia kaget saat melihat lemarinya yang sangat rapi. Dia pun meneriaki nama Fiya yang sedang asik makan camilan.


"Khanza..."


Fiya pun masuk ke kamarnya dan melihat Farhan yang sedang membuka lemarinya.


"Lo bersihin lemari gue. Lo buka laci ini nggak." ucap Farhan sambil menunjuk laci yang ada id bawahnya.


"Buka dikit, tapi nggak di beresin. Ada lagi?" tanya Fiya.


"Nggak ada, sana keluar."


Fiya menurut dan kemudian duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi yang tersedia di ruangan tersebut. Farhan sendiri, hanya bisa pasrah dan kemudian mengambil baju seperlunya.


"Dasar anak itu." umpatnya lirih.

__ADS_1


//**//


__ADS_2