
...Orang yang seharusnya selalu di sampingmu adalah keluarga. Jadi, lakukan hal yang sederhana dan buatlah hari-hari mu bersama keluarga menjadi menyenangkan tanpa ada perdebatan....
...~Safiya Khanza Ayunindya ~...
_________________________
Berat rasanya bagi Fiya untuk pulang ke rumahnya. Begitu dia sampai dan turun. Dia berpura-pura masuk dan keluar kembali setelah Dimas berlalu dari rumahnya. Keluar tanpa arah dan pergi ke suatu tempat yang membuat Fiya tenang.
Hingga sore hari, Fiya tidak pulang ke rumah dan membuat orang rumah cemas. Mama Ova menghubungi orang tua Dimas, dan keluarganya pun ke rumahnya.
"Satya, kamu tau Khanza dimana?" tanya mama Ova cemas.
"Bukannya dia pulang. Aku juga menunggunya hingga masuk ke rumah tadi siang." jawabnya.
"Satya, sebaiknya kamu coba telfon teman-teman kamu." ucap papa Kenzo.
Dimas mengangguk dan menjauh dari kerumunan orang tuanya dan menghubungi beberapa temannya. Namun, tidak ada yang melihat Fiya berada.
"Maaf, mereka tidak mengetahui keberadaan Fiya." ucap Dimas merasa bersalah.
Mama Ova hanya bisa menangis. Dimas hanya bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Mengingat mama Ova sudah kehilangan Sofi, pasti hasrat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak akan pernah pudar.
"Hiks... Seharusnya aku tidak melakukan semua itu.. Seharusnya aku tidak mengatakan yang tidak-tidak kepada Khanza... Dasar b*d*h.. Mulut tidak bisa terkontrol.
Mama Ova memukul mukul kepalanya dan mulutnya sambil menangis. Dimas yang tidak bisa tinggal diam pun memutuskan untuk keluar dan mengendarai motornya.
"Eh... Satya.. Satya... Kamu mau kemana?" ucap mama Lastri sambil berteriak.
Papa Kenzo yang melihat istrinya hendak mencegahnya pergi langsung memegang tangannya.
"Tunggu dulu, mungkin dia tau, dimana Fiya berada."
Mama Lastri pun mengangguk dan membiarkan Dimas pergi. Dimas keluar dari rumah Fiya. Dimas melajukan motornya secepat mungkin, karena waktu sudah hampir malam. Dimas mencarinya selama dua jam, dan hampir pukul 8 malam, namun belum menemukan Fiya. Dimas berhenti di jembatan dan melihat jam tangan yang di pakainya dan mengelusnya.
"Dimana kau Fiya? Aku tak mungkin pulang sebelum menemukanmu." ucap Dimas.
__ADS_1
Dimas tertunduk dan masih dengan setia melihat jam tangannya. Dilihatnya, waktu yang terus berjalan tanpa henti, hingga ia menemukan sesuatu.
"Masih ada satu tempat yang belum aku kunjungi."
Dimas pun meraih helmnya dan menjalankan motornya ke suatu tempat. Dimas pun memasuki sebuah taman kota yang sering dia kunjungi. Dimas melihat Fiya duduk di sebuah bangku taman sambil menangis. Tidak peduli makhluk-makhluk yang melihat dan mengganggunya, namun Fiya tetap menangis.
Dimas langsung duduk di sampingnya dan memeluknya. Fiya menangis sejadi-jadinya di pelukan Dimas. Dimas mengelus kepalanya dan mencium puncak kepalanya.
"Kenapa kau kesini.. Hiks.. Aku ingin sendirian... Hiks..." ucap Fiya sambil menangis sesegukan.
"Keluargamu mencarimu semenjak sore. Mama kamu juga khawatir di rumah. Kau harus pulang. Walaupun apapun yang mama kamu bilang, dia tetap ibu kamu, mama kandung kamu yang mengandung kamu selama 9 bulan. Kamu nggak boleh seperti ini. Walaupun mama kamu ngebentak kamu, nyakitin hati kamu, tetapi, hati kecilnya masih mempedulikan kamu. Jadi, sekarang ayo kita pulang. Mata kamu udah bengkak banget itu." Sambil mengusap air matanya.
"Aku ingin naik taksi aja." ucap Fiya.
"Baiklah, akan aku pesan."
Dimas mengeluarkan handphonenya dan menghubungi taksi online. Hanya 5 menit, taksi online yang di pesan pun datang. Sang supir menurunkan jendela mobilnya.
"Dengan mas Satya ya?" tanya sang supir.
Sedangkan Fiya langsung masuk ke dalam taksi tersebut, dan duduk di kursi belakang. Tak mendengarkan ucapan supir dan Dimas.
"Memang kenapa ya mas?" tanya sang supir itu lagi.
"Em... Saya cuma mau memastikan agar dia tidak kabur lagi. Kalau boleh, bapak ambil motor saya, saya yang mengendarai taksi bapak." ucap Dimas.
"Memang mana motornya mas."
"Itu di depan. Ini kuncinya." Sambil menunjuk motornya dan memberikan kuncinya.
"Oohh.. Iya boleh mas..."
Sang supir itu pun keluar dan Dimas mengambil alih kemudi. Fiya yang berada di dalam taksi bingung yang melihat Dimas masuk ke dalam taksi.
"Loh, kok kamu Dim yang di sini?" tanya Fiya bingung.
__ADS_1
"Udah, pake sabuk pengaman kamu. Kita pulang sekarang." ucap Dimas santai.
Tanpa berkata-kata lagi, Fiya memilih diam dan menggunakan sabuk pengamannya. Dimas memakan waktu setengah jam untuk sampai di rumahnya. Begitu mereka sampai, Fiya tengah tertidur di belakang kursi penumpang. Dimas yang tak tega membangunkannya langsung menggendongnya.
Hingga sampai di dalam rumah, semua orang khawatir dan dengan susah payah Dimas memberikan isyarat untuk tidak berisik. Terutama untuk mama Ova.
"Sstt... Khanza lelah, biarkan di istirahat. Dimas, antarkan Fiya ke kamar." ucap papa Brian.
Dimas mengangguk dan membawanya ke kamar diikuti oleh mama Ova dan yang lainnya. Setelah Fiya di baringkan, mama Ova langsung duduk di sampingnya dan mengelus kepalanya serta mencium keningnya beberapa kali. Masih dengan menggunakan pakaian seragamnya, mama Ova melepaskan sepatu dan kaos kakinya.
"Terimakasih Satya, berkat kamu Khanza di temukan." ucap mama Ova.
"Sama-sama mama." ucap Dimas.
"Ya sudah kalau begitu. Ova, kami pamit pulang ya." ucap mama Lastri sambil memeluk mama Ova.
"Terimakasih ya Las." ucapnya di pelukan mama Lastri.
"Sama-sama." jawab mama Lastri sambil mengelus pundaknya.
...*****...
Keesokan harinya, Fiya bangun kesiangan dan masih menggunakan pakaian seragamnya. Kanan dan kirinya kosong, tak ada siapapun. Semuanya masih terasa sama. Rasa malas untuk berangkat ke sekolah pun tak ada hingga akhirnya Fiya memilih untuk membolos.
Setelah dia keluar dari kamar mandi, dia melihat mama Ova tengah menggantikan sprei tempat tidur Fiya. Pandangan mama Fiya teralihkan pada kamar mandi yang sudah ada Fiya. Mama Ova pun menghampirinya dan memeluknya.
"Mama minta maaf sayang... Mama sangat sayang sama kamu... Jangan kabur dari rumah lagi ya... Hiks.. Maafkan mama karena memarahi kamu dan berucap kasar sama kamu." ucap mama Ova di pelukan Fiya.
Fiya yang mendengar kata-kata mamanya hanya bisa menangis. Dan dia pun segera mengusap air matanya sendiri dan melepaskan pelukan mamanya.
"Iya mah, nggak papa... Aku juga salah karena nggak bisa menyelamatkan adikku sendiri." ucap Fiya.
"Nggak sayang, semua itu takdir. Udah.. Jangan di bahas lagi. Mama udah bawain sarapan. Kamu makan ya... Nggak usah buru-buru, sekarang udah jam 8, mama udah ijin sama wali kelas kamu kalau kamu nggak berangkat. Tadi juga Satya ke sini, mastiin keadaan kamu dan mama juga udah bilang ke dia kalau kamu nggak berangkat. Mama ke bawah dulu ya." jelas mama Fiya.
Fiya pun mengangguk dan membiarkan mama Ova keluar dari kamarnya. Fiya tertegun saat melihat mamanya sudah kembali seperti semula dan sudah lebih baik. Dia pun berjalan dan mengambil makanan yang sudah disiapkan mamanya.
__ADS_1
//**//